dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
"Afifah, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Raka pada Afifah.
Afifah menggeleng. Wanita itu tidak ingin berbohong. Setidaknya pada Raka, Afifah ingin mengungkapkan segalanya. Setidaknya di depan Raka, Afifah tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.
Raka tidak bisa berbuat banyak. Hanya Afifah sendiri yang bisa mengontrol perasaannya. Hanya Afifah sendiri, yang bisa mengubur luka di hatinya.
"Aku sudah lelah! Aku tidak sanggup lagi jika harus melihat Arga selama satu bulan nanti."
Ya, Afifah masih mempunyai urusan di pabrik tempat Arga bekerja. Setidaknya wanita itu masih akan tinggal di pabrik Arga selama masa kontrol dan training di subcon kurang lebih satu bulan.
Namun, begitu esok harinya Afifah kembali ke pabrik tempat Arga bekerja, wanita itu pun mendapatkan kabar kalau Arga sudah tidak lagi bekerja di sana.
"Apa? Arga sudah tidak lagi bekerja di sini?" tanya Afifah.
Raka yang memberitahu Afifah. Kebetulan Raka mendapatkan informasi dari salah seorang pegawai di sana. Dan pada hari itu pula, Afifah tidak berjumpa lagi dengan Arga. Afifah tidak melihat batang hidung Arga.
"Benar. Arga sudah tidak bekerja di sini. Sepertinya keributan kemarin membuat atasannya marah. Mulai hari ini Arga tidak akan datang lagi ke sini. Kamu bisa menjalani masa training di sini dengan tenang tanpa gangguan Arga lagi."
Afifah benar-benar merasa lega. Separuh bebannya terasa terangkat. Pundaknya terasa ringan. Memang ia mulai merasa lelah dengan drama yang terus terjadi antara dirinya dan Arga. Tapi setidaknya sekarang, ia tidak perlu lagi melihat wajah mantan suaminya yang menyebalkan itu.
"Memang tidak seharusnya aku merasa bersyukur atas penderitaan orang lain, tapi untuk kali ini aku merasa sangat lega Arga sudah dipecat. Pria itu memang pantas mendapatkan pelajaran. Aku tidak terlalu jahat, kan?" sahut Afifah.
"Tidak apa-apa, Afifah. Sekali-sekali kita harus tega. Apalagi pada orang yang sudah menyakiti kita. Lagi pula bukan kamu penyebab Arga dipecat, kan? Arga sendiri yang berulah sampai dirinya dipecat. Dia sendiri yang memetik hasil perbuatannya sendiri," timpal Raka.
Akhirnya satu bulan pun berlalu. Training di subcon pun akhirnya selesai. Selama satu bulan ini pula, Raka terus mencoba mencari perhatian Afifah. Dengan alasan menjalani training bersama, Raka berusaha mencari kesempatan untuk menjemput dan mengantar pulang Afifah setiap hari.
Tak hanya itu, Raka juga masih sering membelikan makanan dan minuman seperti biasa dengan alasan yang tak biasa. Bahkan beberapa kali pria itu juga mengajak Afifah untuk pergi menemani dirinya ke acara-acara pribadi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Beruntungnya Afifah menanggapi dengan baik. Memang tidak semua kebaikan Raka diterima. Raka juga masih sering ditolak. Tapi tak jarang juga Afifah menerima perhatian Raka.
Lambat laun, hubungan mereka pun menjadi semakin dekat. Afifah tidak lagi membangun tembok dan menjaga jarak.
"Afifah, kamu dipanggil ke ruangan Pak Raka!" ujar seorang pegawai pada Afifah.
"Ada apa?"
"Tidak perlu membawa laporan apa pun. Kata Pak Raka, kamu harus ikut meeting bersama dengan bos dari head office."
"Meeting? Meeting apa?" gumam Afifah kebingungan.
Wanita itu pun bergegas menuju ke ruangan Raka. Tangan Afifah sudah basah karena keringat dingin. Lututnya pun mulai lemas begitu ia mendekati ruangan Raka.
"Aku salah apa, ya? Aku tidak akan dipecat, kan?" gumam Afifah panik, takut dirinya akan mendapatkan masalah saat dipanggil atasan.
Ternyata dugaan Afifah salah besar. Afifah tidak mendapatkan teguran, atau mendapatkan masalah. Justru Afifah dipanggil oleh pihak atasan, karena wanita itu akan mendapatkan promosi jabatan.
Ya, Afifah memang wanita pekerja keras. Wanita itu sudah membuat banyak pencapaian selama bekerja di pabrik tersebut. Karena itulah, Afifah pun mendapatkan promosi jabatan dan akan menempati posisi yang dipegang oleh Raka saat ini. Sementara Raka sendiri, pria itu akan mendapatkan promosi jabatan yang lebih tinggi.
"Isilah form ini!" titah Raka pada Afifah. Raka menyodorkan lembar kertas pada Afifah.
"Formulir apa ini?" Afifah membaca seksama formulir tersebut.
"Selamat, Afifah! Kamu mendapatkan kenaikan jabatan!" ucap Raka.
Afifah tak dapat menahan tangis haru, begitu ia mendengar kabar dari Raka. Tak seperti hidup Arga yang berantakan, hidup Afifah jauh lebih baik dari hidup mantan suaminya.
"Aku mendapatkan promosi?"
"Benar, Afifah! Kamu sudah bekerja dengan baik selama ini. Selamat atas hasil kerja kerasmu!"
Afifah menyambut form yang diberikan oleh Raka dengan senyum sumringah. Begitu Afifah keluar dari ruangan Raka, pria itu langsung mengeluarkan kotak cincin kecil yang ada dalam sakunya.
"Aku harus mengatakannya pada Afifah hari ini juga!" gumam Raka sembari memandangi cincin kecil yang ada di genggaman tangannya.
Nampaknya pria itu akan membuat kemajuan pesat dalam hubungannya dengan Afifah mulai hari ini. Tak ingin lagi mengulur waktu, Raka pun memberanikan diri untuk mengutarakan niat baiknya pada Afifah untuk meminang janda itu untuk dijadikan istri.
"Afifah, kamu tidak akan menolak niat baikku ini, kan?"
Di tempat lain, Afifah saat ini tengah membagi kabar gembira yang ia peroleh kepada sahabatnya, Yuyun. Afifah benar-benar tidak menyangka, ia akan mendapatkan promosi jabatan begitu cepatnya.
"Selamat, Afifah! Kamu benar-benar keren!" puji Yuyun.
"Aku juga tidak menyangka. Setelah berpisah dari Mas Arga, aku pikir hidupku akan berantakan saat menjadi janda. Tapi ternyata menjadi janda tidak buruk juga. Mulai sekarang aku bisa mengejar kebahagiaanku," sahut Afifah dengan senyum sumringah.
"Ayo, nanti aku traktir kamu makan malam sepuasnya!" ujar Afifah ingin membagi rezekinya pada Yuyun.
Namun, nampaknya rencana Afifah untuk pergi makan malam bersama dengan Yuyun akan terancam batal. Pasalnya saat wanita itu hendak pulang, Raka menghadang jalan Afifah.
"Afifah, hari ini kamu sibuk tidak?" sapa Raka pada Afifah yang hendak pergi bersama dengan Yuyun. Yuyun pun langsung menyingkir agar tidak mengganggu percakapan antara Raka dan Afifah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Apa ada pekerjaan yang belum selesai?" tanya Afifah.
"Bukan soal itu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Kamu mau meluangkan waktu sebentar untukku, kan? "
"Pergi saja! Aku lupa kalau hari ini aku ada acara bersama teman! Besok saja kita pergi makan bersama," ujar Yuyun pada Afifah.
"Aku mengganggu janji kamu dengan Yuyun, ya?" tanya Raka merasa tak enak hati.
"Tidak perlu sungkan, Pak!" sahut Yuyun dari kejauhan. "Afifah, aku pulang duluan! Pak, saya pulang duluan!" pamit Yuyun segera melarikan diri, menjauh dari temannya.
Afifah dan Raka pun bergegas meninggalkan pabrik. Raka membawa Afifah menuju ke sebuah taman yang penuh dengan lampu indah dan berhiaskan bunga.
Afifah pun mulai bingung. Suasana romantis di tempat itu membuat Afifah mulai menerka-nerka maksud ajakan Raka padanya untuk mengunjungi tempat seperti itu.
Raka nampak gugup. Entah janda itu akan menerima cintanya atau tidak, yang penting Raka sudah berusaha dan mencoba. Bagaimanapun hasilnya nanti, yang jelas Raka sudah berusaha sebaik mungkin untuk merebut hati Afifah.
"Untuk apa Bapak mengajak saya ke sini?"
Raka mengeluarkan kotak perhiasan kecil yang ia simpan di saku. Sembari menghirup nafas dalam-dalam, pria itu pun memberanikan diri menggenggam erat jemari Afifah.
"Sejatinya seorang laki-laki itu menikahi, bukan memacari. Jadi Afifah, bersediakah kamu menikah dengan ku?"
****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk