Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28.
Sinopsis–28.
Gimana... Readers, kita lanjut apa di stop nih? Wow, gak terasa ya kita sudah sampai di episode 28. Dan gak di sangka-sangka, kalau ceritanya makin seru dan menarik aja. Oke biar gak penasaran Markijut Balakabe alias (Mari Kita Lanjut Baca Lagi Kalau Begitu), Hehehehehe🤭🤭🤭.
...----------------...
Sekarang mereka jadi pusat perhatian, sejak datang ke gedung itu. Dan ternyata benar apa yang pernah di ucapkan Alexa, beberapa jam yang lalu. Untuk deretan pria-pria normal, mereka pasti akan berlomba untuk mendapatkan sesuatu. Dan inilah yang mereka rasakan saat ini, terlebih wanita yang bernama Verlyn. Ia hanya menyunggingkan sudut bibir dan melirik sesekali sembari melanjutkan langkahnya masuk lift, menuju ruangan asisten pribadinya yang ada di lantai 4 gedung itu.
Saat keluar dari lift, seseorang kembali menatap lekat mereka secara bergantian.
"Siapa... wanita yang bersama dengan nona Alexa, kenapa langkahnya kayak familiar banget? Aku... pernah melihatnya, tapi di mana?!" ucap orang itu sembari bergelayut dengan pikirannya sendiri, menatap langkah kedua wanita berjalan mendekatinya.
"Good job?! " ucap Verlyn setelah memeriksa berkas laporan yang di kerjakan oleh sekertaris nya.
"Maaf... anda siapa ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?" Dengan ekspresi bingung, wanita itu pun mulai membuka suara untuk bertanya.
"Aku... Verlyn Germanotta Violetta atasan kamu, dan aku ingin bertemu dengan David?!" ucap wanita itu langsung to the poin memperkenalkan dirinya pada wanita di hadapannya.
"Hah! Ka—kamu, ta—tapi?!"
Break.
Wanita itu langsung pingsan begitu saja, tanpa menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu.
"Astaga... Verl, kamu udah bikin anak orang pingsan?!" sahut Alexa sembari menepuk-nepuk wajah wanita itu untuk membuatnya tersadar.
"Maaf... aku orangnya gak suka, basa-basi?!" dengan santainya wanita itu pun menjawab, sembari memainkan kuku-kuku tangannya.
"Buruan... Verl bantu aku bangunin dia, kasihan kan udah di bikin pingsan kayak gini?!" ajak Alexa masih berusaha menyadarkan wanita yang tergeletak di lantai karna pingsan.
"Gampang?!" sarkas Verlyn langsung meraih segelas air putih yang ada di atas meja kerja wanita itu. Dan...
Byiuuurrrrr.
"Hantu...!!" seketika wanita itu langsung mendapati kesadarannya kembali setelah air dalam gelas tumpah mengenai wajahnya. Matanya langsung terbelalak sempurna, lantaran Verlyn tanpa basa-basi menyiramkan air itu tepat di atas wajah wanita itu.
"Hai... aku manusia, bukan hantu?!" ujar Verlyn mempertegas ucapannya sembari melirik tajam ke arah wanita itu.
"Hah!" lirih wanita itu merasa bingung dan frustasi sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Cepat... berdiri, dan panggil David ke sini?!" tegas Verlyn melirik tajam wajah sekretarisnya sembari menaikkan satu alisnya.
"Pa—pak David masih ada meeting di ruang rapat nona?" jawab Elvina langsung bangkit sembari menunduk menatap lantai.
"Ya udah... ikut aku sekarang ke ruang meeting, ayo Xa?!" lanjut Verlyn melenggang pergi menuju ruang meeting dengan Elvina mengikuti langkah wanita itu dari belakang dan tak lupa juga mengajak Alexa untuk ikut bersama.
Sebelum masuk, Elvina terlebih dahulu mengetuk pintu dari luar.
Tok. Tok. Tok
"Siapa?!" ujar David bertanya.
"Elvina pak?" jawab Elvina berteriak dari luar.
"Oh... silahkan masuk El, pintunya tidak di kunci?!" setelah David memberi izin, barulah Elvina menggerakkan tangannya untuk membuka pintu dan mempersilahkan kedua wanita itu untuk masuk mendahuluinya kemudian menyusul dari belakang sambil menutup pintu kembali dengan rapat.
"El.... kamu ajak siapa masuk, ke sini?!" tanya David pada sekretarisnya sembari mengerutkan keningnya menatap ke arah kedua wanita itu.
"Astaga... Vid, sombong banget sih kamu. Ini... aku, Alexa?!" sahut Alexa membuka suara.
"Oh... kamu Xa, tumben? ada apa?!" tanya David mengangkat kepalanya sebentar menatap Alexa, lalu melanjutkan obrolan mereka kembali tanpa memperhatikan siapa yang datang bersama dengan perempuan itu.
"Nona... ma—"
Hanya menggunakan gerakan tangan, Elvina seketika menghentikan ucapan dan bergegas pergi dari ruangan itu.
"Apa yang kalian obrolkan?!" Verlyn membuka suara kemudian berjalan santai menghampiri mereka.
"El... astaga! Siapa yang mengizinkan mu masuk ke sini! Alexa. Kamu yang membawa wanita ini masuk ke sini!!" tanya David marah tatkala seorang wanita tiba-tiba menyela obrolannya.
"Kamu... yang sopan dong, Vid? Kamu... gak tahu dia, siapa?!" ujar Alexa akhirnya menegur pria di hadapannya.
"Emang... dia siapa, berani mencampuri urusan ka—"
"Verlyn? Atasan kamu?!" jelas Alexa memberitahu dengan ekspresi sedikit marah.
"Hmm... jangan bercanda kamu, Xa? Mana... mungkin orang yang jelas-jelas udah meninggal, bisa hidup lagi?!" ujar David tidak percaya.
"Kamu... masih ingat 1 tahun 101 hari yang lalu? Di... ponselmu, ada seseorang yang menelepon untuk di jemput di sebuah rumah sakit, tapi kamu tidak datang. Kamu masih ingat?!" lanjut Alexa mengingatkan pria di hadapannya.
"Iya... aku masih ingat, terus kenapa?!" tanya David menatap tajam wajah Alexa dengan ekspresi marah.
"Dia... adalah Verlyn, David?!" sarkas Alexa dengan suara menggema nya.
"Hmm... jadi kamu percaya, dengan wanita penipu ini?!" ujar David masih tidak mau percaya dan malah menunjuk wajah atasannya sendiri dengan senyuman mengejeknya.
Verlyn yang tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya.
PLAK.
"Sejak... kapan kamu mulai kurang ajar seperti ini, David!!" menampar wajah pria itu dengan ekspresi sangat marah.
"Kamu—"
"Apa!" bentak Verlyn dengan tatapan dinginnya.
David yang ingin terkena pukulan, langsung menatap wajah wanita itu secara seksama. Sehingga David dapat melihat dengan jelas bahwa, wajah atasannya memang ada kemiripan dengan wajah wanita itu. Sehingga akhirnya David menyadari, bahwa dirinya telah salah menilai seseorang. Karna sesungguhnya wanita yang berdiri di hadapannya, memang benar adalah atasannya. Dengan perasaan bersalah, pria itu akhirnya membungkam mulutnya sendiri sembari menundukkan kepala menatap lantai.
"Kenapa... diam, udah percaya kamu sekarang? Mana... tadi mulut besar mu itu yang berani membentak ku, bahkan bersuara tinggi di depan ku? Kamu... bukannya percaya, malah marah-marah dengan Alexa?!" ujar Verlyn penuh ketegasan, membuat pria di hadapannya tak berani lagi untuk menatap wajah atasannya meskipun hanya sekali.
Bukan hanya David, tapi para manager-manager yang semula ikut meeting juga melakukan hal yang sama. Tak berani menatap, melirik, bahkan bersuara sekalipun mereka sepertinya tidak bisa lagi.
"Aku... tanya, apa yang barusan kalian obrolkan?!" tegas Verlyn kembali bertanya.
"Te—tentang penyewaan apartemen yang turun drastis, nona?" sambil tetap menundukkan kepala, salah satu manager itu perlahan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan atasannya dengan suara gemetar.
"David... yang di ucapkan Joni barusan apa itu, benar?" Verlyn mengalihkan pandangan ke arah asistennya lalu kembali bertanya sambil menatap tajam wajah pria itu.
"Be—benar nona?!" jawab David juga dengan suara terbata-bata.
"Jadi... seperti ini tanggung jawab mu ketika aku tidak ada, David? Andai... kata, aku benar-benar sudah tidak ada di dunia ini lagi? Mau... kamu bawa kemana perusahaan ini, kinerja mu sangat buruk sekali David?!" tegas Verlyn kembali menegur asistennya.
"Ini... karna, banyaknya pengeluaran dan persaingan nona?!" jawab salah satu manager itu yang mulai membuka mulut untuk menimpali ucapan atasannya.
"Alasanmu... itu tidak masuk akal, Widya? Waktu... aku yang menangani perusahaan ini, juga banyak persaingan? Tapi... aku tetap berhasil membawa nama perusahaan kita ke peringkat empat, itu pun aku harus membagi waktu karna aku memang seorang model?" tegas Verlyn panjang lebar menegur asisten pribadinya beserta para manager-manager apartemennya.
Deg.
Lagi-lagi perasaan bersalah kembali menusuk relung hati pria itu. Secara dengan sekali pandang, wanita itu sudah langsung tahu siapa nama managernya dan malah sangat lantang dalam menyebutkan nama-nama manager apartemennya.
"Berikan... berkas-berkas itu pada ku, biarkan aku sendiri yang menuntaskan pekerjaan kalian yang sangat buruk itu?!" lanjut wanita itu, sembari meminta semua berkas-berkas laporan itu dan mulai membaca satu persatu isinya.
Tak lama kemudian, sebuah gambaran terlukis jelas di wajah wanita itu ketika menyunggingkan sudut bibirnya. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada, wanita itu langsung membuat strategi bersama dengan para bawahannya untuk menstabilkan pendapatan penyewaan apartemennya kembali.
Verlyn memang memiliki kebiasaan buruk, tetapi jika hal itu menyangkut pekerjaan. Maka wanita itu tidak akan tinggal diam, karna selain berbakat. Verlyn adalah wanita yang sangat profesional, dalam pekerjaannya. Bahkan tidak pernah tanggung-tanggung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengembangkan ketiga bisnisnya itu.
Bersamaan dengan naiknya nama perusahaannya nanti, semoga Verlyn juga berhasil menemukan anak wanita pelakor itu dan membuat orang-orang yang pernah menyakiti Devina membayar luas perbuatan mereka.
"Ya Tuhan... kenapa aku bisa setolol, ini?Orang... yang jelas-jelas masih hidup, malah aku anggap sudah mati?! " batin David merutuki kesalahannya.
***
Tak berselang beberapa menit, meeting akhirnya selesai. Verlyn beserta temannya kini sampai di lantai 7, tepatnya ruangan kerja miliknya yang bercode khusus ketika ingin membuka pintu. David meskipun di selimuti perasaan bersalah, namun ia tetap mengikuti langkah atasannya hingga sampailah mereka di ruangan ini.
"Wow... Verl, ruangan mu ini sangat menakjubkan? Meski... kamu baru saja masuk, tapi suasananya tetap bersih dan wangi banget?!" ujar Alexa melangkah masuk, sembari menghirup aroma bunga aloevera yang di timbulkan oleh pewangi ruangan ini.
"Ya... karna ruangan ku ini, sudah di lengkapi oleh pembersih ruangan otomatis? Jadi... meskipun kita jarang masuk, ruangan ini tetap terjaga kebersihannya?!" timpal Verlyn memberitahu sembari duduk di atas kursi singgasananya.
"Dan... satu, lagi? aku paling tidak suka jika ada orang yang masuk, dan mengganggu privasi ku? Meskipun itu hanya ruangan kerja, tetap tidak boleh?!" lanjut wanita itu tanpa basa-basi.
"Berarti... ini, bisa di bilang? Mantan pelakor tapi sangat anti, jika ada orang lain yang mengganggu privasinya. Begitu... maksudnya Verl?!" canda Alexa menimpali ucapan temannya.
"Yap! Ini dua jempol buat kamu Xa, karna jawaban mu tepat sekali?" sarkas Verlyn menaikkan dua jempolnya untuk memberikan apresiasi untuk temannya yang sangat konyol itu.
"Termasuk... David, gitu?!" ujar Alexa melirik ke arah asisten pribadi temannya.
"Ya... kalau David lain, kalau kamu mau ambil silahkan gak perduli juga tuh?!" pungkas Verlyn dengan entengnya sambil bersandar pada senderan kursi singgasananya.
"Gak... perduli, atau karna emang ada orang lain di hati kamu? Ya... contohnya, polisi tampan itu?!" ujar Alexa kembali menggoda temannya.
"Iih... jangan seberangan ya kamu, orang baru ketemu juga hari ini? Masa... udah langsung, jatuh cinta aja?!" sarkas Verlyn mengelak namun ekspresinya nampak tidak bisa berbohong, karna wajahnya tiba-tiba bersemu merah mendengar godaan temannya.
"Oh ya... Xa, ini ada kartu debit untukmu? Tolong... terima ya, dan mudah-mudahan isinya cukup untuk melunasi semua utang-utang ku pada kamu?!" lanjut Verlyn langsung mengalihkan pembicaraan sambil menyodorkan kartu debit kepada temannya, yang sengaja di ambil dari laci yang juga bercode khusus.
"Ya... ellah Verl, kayak siapa aja sih? Udah... simpan aja, aku ikhlas kok bantuin kamu?!" pungkas Alexa langsung menolak kartu debit pemberian temannya itu, lalu menyerahkannya kembali pada wanita yang duduk di atas singgasananya.
"Ayo... terima, aku tidak mau ya punya utang sama orang? Ya... walaupun utang budi mu, tidak bisa ku beli dengan uang? Tapi... setidaknya aku sudah berniat untuk melunasi sebagai utangku, sama kamu? Walaupun... Itu, dalam bentuk rupiah. Okey? Jadi... jangan pernah sekalipun menolak, apa yang aku berikan padamu?!" tegas Verlyn tetap menyerahkan kartu debit tersebut kepada temannya. Tanpa ingin di tolak, dan tanpa ingin di bantah.
Alexa yang merasa tidak enak pun, akhirnya terpaksa menerima kartu debit pemberian temannya untuk sekedar menghargai sikap baik dan usaha temannya itu. Karna jarang-jarang kan ada orang yang mau membayar utangnya secara langsung, karna kebanyakan orang kalau sudah berutang. Susah sekali untuk membayar utangnya, mereka menunggu dulu dirinya di tagih baru mau membayar utang.
Tapi seorang Verlyn berbeda teman-teman. Meskipun wanita itu memiliki kebiasaan buruk, dalam merebut suami orang. Tapi dia sangat anti dari semua hal-hal itu. Tidak suka hal privasinya di ganggu orang, apalagi berutang lama-lama dengan orang. Selagi masih ada tenaga untuk bekerja, kenapa tidak membayar hutang kalau sudah punya uang. Benar gak teman-teman sekalian.
Oke-oke, dari pada pusing mikirin masalah utang lebih baik kita lanjut ceritanya lagi teman-teman 😉😉😉.
Dan tentang code-code khusus itu. Yap! Verlyn memang sengaja menyimpan kode pin khusus pada semua benda yang ada di ruangannya, bukan tanpa sebab. Melainkan karna ingin mengingat selalu kepedihannya, tentang di mana hari itu keluarganya di hancurkan oleh wanita pelakor.
.
.
.
...----------------...
"Bodoh... kamu David, bisa-bisanya gagal mengenali atasanmu sendiri?! "
Sementara David, lagi-lagi hanya bisa mengumpat dalam hati merutuki kebodohannya.
"No—nona?" suara bariton pria itu kembali terdengar ketika ia mencoba untuk meminta maaf kepada wanita yang kini telah duduk di singgasananya.
"Ada apa?" Verlyn dengan tatapan dingin melirik tajam ke arah asistennya pun menjawab.
"To—tolong... maafkan saya, a—atas sikap keterlaluan saya, ke—kepada anda barusan nona?!" ucap David meminta maaf dengan suara berantakannya lantaran hatinya kini masih di liputi rasa bersalah.
"Oke... karna mood ku hari ini bagus, maka kamu aku maafkan? Tapi—" ujar Verlyn akhirnya memberi maaf pada David, namun ada satu kalimat yang sengaja wanita itu tahan di mulutnya. Sehingga membuat David dan Alexa seketika mengerutkan kening karna bingung dengan kalimat menggantung wanita itu.
"Tapi... apa, nona?" pada akhirnya David memilih sedikit lebih berani untuk mengajukan pertanyaan.
"Xa... tunjukan sketsa wajah orang-orang yang kamu gambar kemarin, kepada David sekarang? Dan... kamu David, aku baru akan memaafkan mu jika? Wajah... orang-orang dalam sketsa itu, sudah berhasil kamu dapatkan data-datanya? Itu... sebagai syarat, sebelum kamu mendapat maaf dariku. Paham?!" tegas Verlyn dengan lantangnya langsung meminta David untuk menjalankan sebagian dari rencana yang telah di susun rapih, sebelum dirinya datang ke perusahaan untuk bertemu dengan asisten pribadinya.
Verlyn memang sudah mengenali wajah orang-orang itu. Namun untuk menjalankan misi balas dendam, wanita itu masih kekurangan data. Oleh karna itu? Verlyn mengutus asisten pribadinya untuk mencari latar belakang mereka terlebih dahulu.
Sementara Alexa, langsung membuka tasnya dan menyerahkan sketsa wajah itu kepada David.
"Baik... Nona, kalau begitu saya berangkat sekarang?!" ucap David langsung melenggang pergi dari ruangan itu, setelah menerima sketsa wajah itu dari tangan Alexa.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah guys, untuk hari ini cukup sekian dulu cerita dari author. dan nantikan episode selanjutnya yang nantinya akan semakin seru dan menarik, oke👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏