Arman enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.
Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.
"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"
Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.
Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.
"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.
Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
...Allah itu, kalau sudah mencintai seorang hamba maka yang pertama di berikan bukan dunia, melainkan ketika Allah mencintai seseorang hamba maka yang pertama Allah berikan adalah ampunan dari semua dosa yang pernah ia kerjakan....
...-Ustadz Adi Hidayat-...
.
.
.
.
Sepulang dari kantor dan mampir untuk makan, Syifa dan Arman kembali ke rumah orang tua Syifa. Entah apa lagi rencana Arman namun ketika Syifa bertanya maka jawaban Arman hanya--
"Aku akan menunjukkan jika suami mu lebih baik dari pada mantan kekasih mu."
"Astaghfirullah, Mas. Mas mau apa lagi sih, aku bisa mengatasi Ayah kok, kita pulang saja ya," ucap Syifa dengan raut wajah khawatir.
"Telat, kita sudah sampai di rumah." Arman menunjuk kearah luar jendela di mana mobilnya sudah berhenti tepat di halaman rumah Ayah Syifa.
Melihat kenyataan yang ada di hadapannya, Syifa tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa mengikuti sang suami keluar dari dalam mobil.
"Assalamualaikum," ucap Arman saat masuk kedalam rumah yang kebetulan tidak terkunci.
"Eh tumben kesini, sore-sore. Aku baru saja mau mandi," sahut Devan yang baru saja keluar dari kamar.
"Kak, Ayah mana?" tanya Syifa.
"Lagi bengong di kamarnya, jangan di senggol lagi mode siaga dini, maklum udah uzur. Udah tua bukannya tobat minta ridho Allah ini malah berdamai dengan Fir'aun kutu kupret," jawab Devan dengan santainya.
"Astaghfirullah, jangan seperti itu Kak. Aku akan menemui Ayah." Syifa hendak beranjak namun Arman menahan langkanya.
"Biar aku saja yang bicara dengan Ayah. Kamu tunggu di sini," sanggahnya.
Melihat Syifa yang hanya terdiam sambil menganggukan kepala Arman pun segera beranjak menuju kamar sang mertua. Di depan pintu kamar ia mengetuk pintu sebentar sampai terdengar jawaban dari dalam.
Tanpa menunggu waktu lagi Ia pun sekarang masuk dan ia bisa melihat ayah mertuanya sedang duduk di depan jendela besar yang ada di kamar itu. "Assalamualaikum Ayah."
Ayah menatap Arman dengan raut wajah yang terlihat malu. Ia tahu Syifa pasti sudah menceritakan semuanya kepada Arman. "Waalaikumsalam, apa kau kesini karena di suruh Syifa?"
Arman mendekat dan langsung duduk di samping Ayah. "Bukan Syifa, tapi saya sendiri yang mau kesini. Tadi siang Syifa sudah cerita kalau Ayah ingin berbisnis tapi saya tau Devan san Syifa tidak setuju."
"Mereka itu selalu saja suudzon kepada orang. Ayah tidak punya maksud apa-apa apalagi sekarang Syifa sudah menjadi istri kamu dan dia adalah hak kamu. Ayah hanya ingin mengembangkan bisnis di masa tua tapi mereka malah salah tanggap dengan keinginan ayah, Arman sekarang usia Ayah sudah lima puluh tahun, masa masih di atur," tutur Ayah yang begitu menggebu-gebu.
Arman mencoba untuk mengerti dan berusaha untuk tidak menyalahkan Firman ataupun Ayah mertuanya sendiri. Namun sebagai seorang anak menantu tentu saja ia ingin Ayah mertuanya mengandalkannya dalam situasi apapun.
"Jika Ayah mau berbisnis, saya bisa mengatur semuanya. Di kawasan YY, perusahaan saya memiliki sebuah kantor cabang dan jika Ayah bersedia silakan pimpin kantor cabang itu, pekerjaannya juga tidak berat ayahnya perlu memantau perkembangan proyek yang sudah dirancang oleh tim," jelas Arman.
Ayah yang sejak tadi merengut karena kesal kini menatap sang anak menantu dengan wajah berseri-seri. "Serius?"
"Iya Ayah, mulai sekarang kalau Ayah menginginkan sesuatu katakan saja kepada saya. insya Allah jika saya sanggup maka saya akan mengabulkan permintaan Ayah."
Ayah yang nampak terharu langsung merangkul sang anak menantu seraya tertawa bahagia. "Haha, maaf ya Ayah hanya malu kepada kamu, terimakasih untuk semuanya Arman."
~
Setelah berbicara cukup panjang dengan Ayah mertuanya Arman pun segera keluar dari kamar itu untuk menemui Devan dan juga Syifa yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Syifa segera berdiri ketika melihat kedatangan sang suami. "Bagaimana Mas apa Ayah marah atau mungkin Ayah meminta hal yang aneh-aneh kepada Mas Arman?"
Arman menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kepada sang istri. "Tidak, Ayah tidak seperti itu, sekarang semua sudah beres."
"Wah aku curiga nih, apa yang kamu tawarkan kepada Ayah. Haha, Man aku juga dong," sahut Devan tiba-tiba.
"Aman, besok kita bicarakan," ucap Arman kepada kakak iparnya.
~
Bersambung 💕
masih Utuhh ktnya sehari lemmes 🤣🤭
kata syifa selamat selamat dach ahhahaaa