Luna Heart namanya, cantik, sexy dan cerdas. Dibesarkan oleh keluarga kaya semenjak dia ditemukan di depan pintu rumahnya. Semenjak orang tua angkatnya meninggal dia mulai ditindas, diusir, bahkan dibunuh. Tuhan maha besar, dia ditemukan masih bernafas oleh seorang ibu. Kebaikan ibu ini dia tebus dengan cara menjual dirinya ke kota.....
Hallo reader, ini karya baruku. support ya, dalam bentuk, like, comment, gift, vote....trimakasih love you all ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN SUKA ITU ADA
Sekitar jam sembilan pagi ketika aku dan Yudha habis sarapan, bibi banyak berpesan padaku. Salah satunya adalah,
"Nona, seorang wanita akan selalu bertemu dengan jodohnya, kemanapun nona menghindar." kata bibi menaruh dessert di atas meja.
Yudha dengan telaten menyuapiku. Hari ini aku bahagia di manja dan diperlakukan lebih. Kemana dendamku atau kemarahanku selama ini. Ternyata aku rapuh dan menyerah begitu saja kepada seorang lelaki yang sudah beristri.
"Yudha, aku merasa semua ini salah. Kau adalah suami nyonya Hanun. Aku tidak pantas menyukaimu atau punya niat merebutmu. Terlepas dari tingkah nyonya Hanun kau tetap suaminya. Aku tidak mau julid terhadap nyonya Hanun atau menghinanya, apapun yang dia lakukan."
"Sayank, kenapa berkata begitu. Aku mencoba bertanggung jawab kepada mu, kepada anakku. Aku tidak tahu kemana nasib membawaku, ini murni anugrah, aku sangat yakin."
"Nona, nyonya dan tuan sudah pisah ranjang. Jadi tidak ada namanya pelakor atau perebut suami orang. Kalau nyonya baik tidak mungkin akan terjadi kekhilafan seperti ini. Tuan orang baik dan setia, sepanjang nona pergi tuan diam saja di rumah menunggu nona. Apalagi waktu nona dibilang sudah wafat, tuan seperti orang gila." kata bibi meyakinkan.
Aku menatap Yudha mencoba mencari kebenaran dari sinar matanya, ach...dia sungguh memukau. Aku terpesona dan berharap perkataan bibi benar adanya.
"Sayank, cinta mengajariku melihat dengan cara memejamkan mataku dan aku mengerti tanpa perlu penjelasan dari bibirmu. Aku tahu kau perlahan akan mencintaiku, kau adalah belahan jiwaku." ucap Yudha seraya memegang tanganku dan menciumnya. Dia tidak peduli ada bibi yang melihatnya.
"Dulu kau sayang dan sangat mencintai istrimu, aku setiap saat kau hina, kenapa tiba-tiba kau mencintaiku, apa karena sekarang aku cantik, berkelas atau karena aku ada apanya?"
"Maaf sayank, dulu aku sangat mencintai istriku, setelah dia selingkuh aku masih mencintainya tapi aku tidak mampu memenuhi kebutuhan rohaninya." kata Yudha ber jeda, dia menunggu reaksiku. Aku tidak respon perkataannya karena aku sudah tahu.
"Aku merasa mencintaimu setelah sering tidur denganmu, setelah kau hilang pertama kali. Dimana aku takut dan hampir gila kehilanganmu."
Aku tersenyum mengingat itu, Yudha langsung memelukku, menciumku. Bibi serta merta keluar dari ruang makan. Yudha seperti kasmaran.
"Cinta itu sederhana tuan Yudha, jika tuan tidak mampu membuat nona Luna tertawa, jangan membuatnya terluka. Cinta itu seharusnya saling mengikat dan menguatkan, jika kalian tulus ikhlas dalam kebersamaan niscaya cinta kalian akan langgeng." suara bibi lirih terdengar. Rupanya bibi seperti mata-mata yang mengintai kami dan selalu berpihak kepada Yudha.
"Bibi ngagetin aja, orang lagi dempet." protes Yudha. Aku tersenyum geli melihat wajah Yudha.
"Idiihh...tuan tidak tahu waktu, sudah hampir jam sepuluh, kalau telat bibi tidak di percaya lagi. Lepaskan nona supaya dia tidak ngebut di jalan."
Yudha melihat jam tangannya dengan berat hati dia berdiri, aku ikut berdiri. Aku lebih takut dan malu kalau telat pulang daripada tetap bercinta dengan
Yudha.
"Apa boleh buat tidak ada yang bisa menentang waktu, sang waktu terus berjalan untuk memisahkan kita. Demi keselamatanmu pulanglah tepat waktu jangan ngebut."
Aku berjalan ke parkiran, sekali lagi Yudha memberi kecupan ringan kepadaku.
"Jangan khawatir sayank, tidak ada jejak drakula di lehermu, aku cuma memberi jauh dibawah leher...." bisik Yudha cengengesan. Spontan aku mencubit lengannya.
"You crazy!!" celetukku.
"I'm crazy about you." sahut Yudha penuh kemenangan.
Mobil Rubicon itu melaju dengan kecepatan sedang. Aku tidak begitu peduli tentang keselamatanku karena saudara papa belum begitu tahu kalau aku masih hidup.
Tapi perkiraanku meleset, sebuah motor memepet mobilku. Karena aku dulu sering touring dengan mobil sport waktu masih di luar negeri jadi aku tahu cara mematahkan laju mobil lawan yang mau menyalip atau mau menyerempet.
Mobilku aman saat sepeda motor trail touring mengenggol mobilku. Tadinya aku kaget dan merasa orang itu mabuk tapi ketika dia mengulangi perbuatan nya, akupun menyenggol motornya saat menikung. Kebetulan jalan raya sudah mulai sepi, jadi aku gampang membuat dua orang pengendara trail itu jatuh mencium aspal.
Aku ngebut pulang, sampai di rumah aku sudah disambut tatapan tajam dari Dhevalee.
"Sini kau, jangan bikin ulah lagi. Kita tidak bisa tidur gara-gara mikirin kau." kata Dheva membuat aku menunduk merasa salah. Untung Yudha memberi aku jacket jubah untuk menutupi perutku yang berisi jejak drakula.
"Maaf tante, Dheva, aku tadi hampir mati dikejar penjahat, untung aku membawa mobil itu, jadi saat mereka menyenggol mobil tidak jatuh, malah dia yang jatuh."
"Makanya jangan kelayapan, gimana kalau Dirga sampai tahu, aku dikira tidak bisa mengawasimu.Jangan bikin ulah dech." ketus suara bibi.
"Maaf tante, aku terlalu kangen sama bibi membuat aku nekat kesana. Aku banyak utang budi sama bibi kalau tidak ada bibi aku mungkin sudah mati."
"Banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan. Hari ini rencanakan untuk bertemu dengan pengacara. Dirga telah menyewa pengacara terkenal hebat untuk mendampingimu nanti."
"Kamu mandi dulu ganti baju yang benar, baju sopan." timpal Dhevalee. Aku heran kenapa Dhevalee sekarang berubah sikapnya padaku. Dia selalu menyuruhku begini begitu tanpa msu mempertimbangan perasaanku."
Agak dongkol juga sama Dhevalee, tapi aku menelan kesal karena ada tante. Tidak baik juga menyanggah omongan Dhevalee yang mengkhawatirkanku. Aku melangkah menuju kamar di ikuti Dhevalee, manusia ini seperti nenek gayung yang cerewet.
"Dhevalee, kenapa kau over protektif kepadaku?" tanyaku setelah kami berada di kamar.
"Kau ingin tahu? karena aku tidak ingin kau seperti Valeria, aku hanya punya kau. Mengertilah, aku tidak sanggup kehilangan lagi."
"Aku merasa kau bukan sayank padaku tapi kau ingin menjualku dengan Dirga." kataku dengan nada tinggi.
"Yaelah Luna, kau satu-satunya orang yang aku sayangi, sku tidak menjualmu sayang....aku dan tante ingin yang terbaik buatmu." Dhevalee memelukku sambil menangis. Kami menangis.
"Maafin aku Dheva, aku juga sayang padamu, jika tidak ada kau siapa lagi yang melindungiku, menasehatiku dan selalu memperhatikan kesehatanku. Aku butuh kau seperti jantung butuh detak." kataku sendu.
"Mandilah, sudah ada baju yang harus kau pakai. Aku letakan di atas tempat tidurmu." kata Dheva menghapus air mataku. Aku terenyuh atas perlakuan Dhevalee yang ke ibuan.
"Trimskasih Dheva, kau adalah kakakku selain Valeria. Aku menyayangi kaluan."
Aku masuk ke kamar mandi, rupanya hari ini sudah terencana. Bathub sudah berisi air, essensial dan kelopak mawar mereka menginginkan aku mandi besar dan berdandan sempurna hari ini. Apa Dhevalee juga akan berdandan sempurna atau aku saja. Tapi untuk apa? semoga saja tante tidak punya niat aneh-aneh yang bisa membuatku malah terpuruk. Hanya bertemu pengacara kondang harus berdandan glamour?.
Tepat satu jam aku melakukan make over, hasilnya aku seperti Dewi. Aku merasa sangat cantik dan sexy dengan sedikit perut buncit yang sengaja ditonjolkan. Aku sebenarnya lebih sreg memakai setelan celana bumil.
"Waow...kamu sangat cantik, aku memang pintar memilih baju untukmu." Dhevalee masuk ke kamarku.
"Dheva, kenapa kau tidak pakai gaun, kau bebas pakai jeans.Aku jadi curiga, siapa pengacara itu yang butuh penampilan terbaik dari client nya?"
"Kita makan siang di restoran hotel bintang lima, wajar dong kalau perlu penampilan terbaik." kilah Dhevalee.
Perasaan ku tidak enak seperti akan ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Ntahlah....
****
semangat
makasih
sukses