Cerita ini merupakan cerita fantasi yang berunsur kisah manusia serigala di dalamnya. Mengisahkan seorang wanita bernama Elleona yang hidupnya selalu menemui masalah, dari pack tempat tinggalnya hancur, keluarganya habis di serang, ia di-reject mate-nya sendiri, hingga masalah-masalah yang selalu saja ia temui seakan kebahagiaan enggan untuk menghampiri.
Lalu, apakah Elleona akan berakhir bahagia?
atau
Elleona tidak akan pernah bahagia hingga akhir hidupnya?
Silahkan baca novel gratis ini dengan perlahan. Akan bosan di awal dan semoga tidak di akhir, selamat membaca :)
Salam kenal,
ptrmyllln
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELLEONA 27
80 sampai 90 jempol dan juga 15 sampai 20 komentar hehehe ...
Kehidupan dunia nyata lebih sibuk dibandingkan dunia maya, mohon pengertiannya 🙏
***
Setelah membasuh mukanya, Elleona kembali ke ruang tamu untuk menemui alpha Revanio.
Langkah kakinya terhenti kala tidak menemukan sosok yang akan ia temui itu.
"Kemana alpha?" tanya Elle bingung.
'Keluar, mungkin?'
Elle mengendikkan bahunya acuh, ia mencium udara segar di ruangan ini, udara yang bercampur aroma coklat yang pekat.
Tiba-tiba Lea langsung mengambil alih tubuh Elle. Serigala itu berkeliling ruangan sambil menikmati aroma coklat tersebut.
'Hah~ ini sangat menyenangkan!' ujar Lea, ia berlari di satu tempat dengan gerakan mengeliling.
'Kau benar, Lea, rasanya seperti kau menemukan mata air di gurun yang panas.'
'Setelah ini kau masih tidak percaya kalau alpha adalah mate pengganti?'
Di dalam sana, Elle termenung. Ia percaya? Tidak tau, tetapi jika alpha Revanio memang benar adalah mate pengganti yang diberikan Moon Goddess untuknya, mengapa alpha Revanio tidak menunjukkan apapun? Bukankah tentu ada sifat yang berbeda ketika menemukan mate?
'Itulah yang aku pikirkan, Elle. Mengapa alpha seperti tidak merasakan apapun? Apakah mate pengganti tidak seperti kita menemukan mate sebelumnya?'
Elle menggeleng pelan, alpha Revanio sangatlah misterius, ia sulit ditebak, sebentar dingin sebentar panas. Bahkan kadang ia perhatian dengan Elle. Apa maksudnya ini? Elle tidak tau.
"Elleona! Elleona!"
Seseorang memanggil Elle dari luar, tanpa menunggu lama Elle langsung menemui orang itu.
"Elle! Astaga, aku mendengar kau terkena pedang Raina! Apa kau terluka, sayang?"
Valery, ternyata ibu dari triplet Jhonson yang menjadi orang peneriakan tadi.
"Ibu--"
"Astaga! Lihatlah lenganmu!" Valery menyingkap lengan baju yang Elle gunakan. "Perban sekecil ini bagaimana bisa mengobati lukamu?! Katakan, apa Raina belum meminta maaf padamu?!" wanita itu menarik tangan Elle agar duduk di sofa.
"Pasti belum kan? Tentu saja, aku sedang menghukumnya." Dengan telaten Valery mengganti perban yang Elleona pakai.
"Ibu tidak perlu menghukumnya, kesalahan seperti ini biasa dalam bermain pedang, Ibu." ujar Elle.
"Tetapi kau belum ahli dalam berpedang, Elleona. Raina sudah sangat mahir bahkan ia digelari dewi pedang, tapi bahkan dengan teledornya pedangnya mengenai tubuhmu!" ujar Valery lagi.
"Ibu, tidak selamanya apa yang Raina inginkan berjalan mulus. Raina tidak sengaja, Ibu, waktu itu ia terlibat sedikit perang mulut dengan alpha Alex. Mungkin itulah yang membuatnya tidak fokus," kata Elle mencoba menenangkan Valery.
"Kau tau, Elleona, seorang kesatria tidak mungkin memiliki keteledoran seperti itu."
"Ibu ... bukan salah Raina." Elleona tersentuh dengan sikap Valery padanya. Valery menjadikannya benar-benar seperti anaknya sendiri.
"Terus saja membela Raina, anak itu memang tidak pernah berhenti membuat orang tuanya khawatir." Dengan simpul terakhir, Valery selesai menganti perban Elleona. "Selesai,"
"Terima kasih, Ibu." ujar Elleona, ia menatap Valery terharu.
"Tidak mau memeluk Ibu untuk ucapan terima kasih?"
Elleona tersenyum senang, ia memeluk Valery.
"Ibu, terima kasih," ujarnya lagi.
Valery memurus lengan Elle yang lain. "Kau putriku juga, tidak perlu berterima kasih." Valery meleraikan pelukannya. "Aku akan menyuruh Revanio melatihmu berpedang agar kau bisa memiliki ilmu beladiri."
"Tidak perlu, Ibu. Raina sudah mengajariku," ujar Elle.
"Revanio juga sangat ahli berpedang, sudah ribuan perang yang ia pimpin selalu menang. Jadi, dia akan mengajarimu."
Elle hanya bisa mengangguk. Alpha Revanio ternyata memang sehebat itu.
"Tapi, saat ini ia sedang membantu ratu elf berperang, setelah ia pulang aku akan mengabarinya."
"Iya, Ibu."
Pantas saja ia tidak menemukan alpha, ternyata sang alpha sedang membantu ratu elf berperang. Jantung Elle berdebar, semoga saja alpha memenangkan perang ini.
***
"Hah~ harum sekali aroma tempat ini, bukankah cocok untuk klan serigala daripada elf, Juno?"
"Benar, Tuanku Darrius."
Darrius Altalino Rotee, adalah Alpha dari pack Black Moon yang merupakan orang yang ingin merebut tanah Elf. Darrius datang bersama betanya, Juno.
"Bukankah mereka terlihat santai? Padahal sebentar lagi apa yang mereka beli tidak akan dapat mereka pakai," uajr Darrius. Saat ini mereka sedang memperhatikan kegiatan klan Elf dari luar gapura. Gapura yang menjadi tanda bahwa sebentar lagi akan memasuki pasar klan Elf.
"Hamba takut itu hanyalah akalan mereka saja, Tuanku Alpha. Bisa saja mereka hanyalah ilusi yang mereka buat, mengingat elf juga merupakan penyihir," ucap Juno mengingatkan.
Darrius tertawa. "Aku tidak bodoh, Juno. Taktik kuno seperti itu sudah sangat pasaran."
Alpha dari Black Moon pack itu mengangkat tangannya memberikan instruksi. Dalam sekali ayunan para pengikutnya langsung bertehamburan keluar dari tempat persembunyian. Mereka menyerang para penduduk elf yang sedang melakukan jual beli itu.
Dengan sigap, penduduk elf melawan mereka. Dari luar saja mereka kelihatan santai tetapi di dalam mereka sudah mempersiapkan segalanya.
Peperangan semakin menjadi, pasukan Black Moon pack semakin bertambah banyak. Penduduk elf diarahkan agar tidak terluka, maka dari itu mereka tidak menyerang tetapi menghindari serangan.
"Kalau begini pasukan kita akan kelelahan, Alpha, para elf itu tidak mengeluarkan tenaganya!" seru Juno.
Darrius menggeram, ia belum masuk peperangan dikarenakan sang ratu elf belum muncul. Namun jika seperti ini mau tidak mau ia harus turun tangan.
"Beta Juno, kita harus memusnahkan tikus itu!"
***
Di sisi lain sang Ratu dan para petinggi kerajaan sedang memantau peperangan bersama Alpha Revanio.
"Mereka sudah dibekali sihir anti kebal, goresan pedang sedikit tidak akan masalah untuknya," ujar salah satu petinggi.
"Alpha, kapan kita akan bergabung? Darrius dan betanya sudah memasuki arena perang," tanya petinggi lainnya.
"Sekarang."
Lalu Alpha Revanio pun meninggalkan tempat itu bersama petinggi lainnya.
"Kau akan ke mana?" tanya Revanio ketika melihat Emilie mengikutinya.
"Aku juga akan berperang, ini adalah daerahku tentu saja aku akan ikut mempertahankannya."
"Seorang ratu tidak boleh terluka, apa Anda yakin dalam peperangan ini Anda bisa menghindar?" tanyanya lagi.
Emilie tidak menjawab, ia berpikir bahwa Alpha Revanio memiliki maksud lain. Dalam kepalanya berpikir bahwa pria itu masih memiliki rasa padanya. Emilie tersenyum lalu berkata, "Aku adalah seorang ratu, bukankah seorang ratu harus terluka agar dapat dicap seorang ratu?"
Revanio mengangguk pelan. Ia mengijinkan Emilie ikut dalam perang.
***
Sebuah anak panah mengenai Darrius jika saja Darrius tidak mengelak.
"Wow, orang yang ku tunggu akhirnya tiba, Ratu Emilie tersayang."
Benar, anak panah itu berasal dari Emilie. Jangan ragukan kehebatan klan elf dalam membidik, apalagi Emilie adalah seorang ratu.
"Ratu Emilie masih cantik seperti terakhir kita bertemu," ujar Darrius. "Oh? Alpha Revanio juga berada di sini?" Darrius terkejut melihat sosok Alpha Revanio yang berada di belakang Emilie. "Apakah ini artinya akan ada cinta lama yang kembali?"
Darrius dan Juno tertawa. "Alpha, mau kau kemanakan lagi wanita cantik yang berada di packmu itu?" tanya Darrius meremehkan.
"Wanita cantik?" beo Emilie.
"Ratu, Anda tidak mengetahui itu?" lagi-lagi Darrius tertawa. "Dengar-dengar wanita itu adalah mantan mate dari alpha--"
"Darrius!" potong Alpha Revanio.
"Kenapa? Anda takut wanita di sampingmu akan cemburu?"
"Diam, Darrius! Kita selesaikan perang ini, aku ingin melihat apakah mulutmu masih bisa berbicara setelah aku memusnahkan mu!"
Lalu Emilie membidik anak panahnya lagi. Peperangan itu kembali panas. Entah mengapa pasukan Darrius tiba-tiba berjatuhan dengan tubuh membiru serta mulut mengeluarkan busa.
"Sial!" umpat Darrius. Ini adalah racun, entah bagaimana ia melupakan hal yang satu ini. Jika seperti ini maka otomatis mereka akan kalah.
Darrius menginstruksikan Juno agar mundur dengan perlahan. Namun niat mereka sudah terbaca dari awal. Revanio sudah memperhitungkan pasukan Darrius agar mundur jika pasukan mereka bertumbangan. Revanio mengaktifkan perisai seperti ucapannya kemarin.
"Buatlah penduduk elf beraktifitas seperti biasanya, mereka pasti akan berfikir bahwa ini adalah taktik yang biasa dilakukan." ujar Revanio. "Jika Darrius dan pasukannya sudah memasuki area pasar elf, maka kita akan ikut bergabung. Pasar elf sudah dipasang racun mawar hitam, dengan begitu pasukan Darrius perlahan akan bertumbangan. Pada saat itu ia akan mundur dan aku akan memasang perisai agar tidak ada yang bisa keluar."
"Kau tidak bisa kemana-mana lagi, Darrius. Perlakuan jahat akan dibalas dengan hal yang jahat pula," ucap Alpha Revanio.
"Terkutuklah kau Alpha Revanio! Aku takkan mati dengan racun murahan seperti ini!" teriaknya.
Darrius semakin menggila, ia berubah menjadi serigala yang sudah seperti monster. Ia menghabisi klan elf dengan sekali cakaran.
"Sekarang!" titah Emilie pada pasukan pemanah dari atas goa.
Anak panah meluncur ke arah Darrius dan juga langit. Anak panah itu bukan sembarang anak panah, anak panah tersebut sudah berisi cairan racun mawar hitam pekat. Dalam perisai yang Revanio buat, racun itu sudah berkumpul dan membentuk gumpalan asap.
Darrius yang mulanya menggila kini melemah akibat racun itu, betanya Juno sudah membiru akibat racun itu. Kini hanya Darrius saja yang tersisa.
Dalam hitungan detik Darrius tumbang menyisakan busa yang keluar dari serigala itu.
"Kita memenangkannya!" seru Emilie.
Sorak gembira dari klan elf menjadi penutup sebelum Alpha Revanio tumbang.
"ALPHA REVANIO!"
Jangan lupakan, Revanio juga serigala yang bisa terkena racun meskipun sudah memakai penangkal racun itu sendiri.
***
Hrs'a ada keterangan dlm kurung apa itu pack, mate, alpa, rougu dll,,, bikin bingung di awal bc..
Cb lanjut lg..