Demi harta warisan, Gadhiata rela menikahi gadis cupu pilihan sang kakek. Pernikahan sandiwara yang akan mereka jalani apakah berjalan sesuai rencana? Apa Hanum sang calon istri akan diam saja saat mengetahui dia hanya dipakai sebagai alat? Bagaimana jika Hanum marah, apakah gadis cupu itu akan menjadi suhu? Hanya untuk membalas dendam pada perlakuan Arrogant Gadhiata selama ini padanya yang memandang sebelah mata.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Suami Satu Malam
Dinikahi Milyader
Suamiku Pria Tulen
Dea I love you
My boss my Husband
Pernikahan Tanpa rasa
Menikahi pria dewasa
Cinta yang terbelah
Wanita Pilihan CEO
The Lost Mafia Boy
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena
KANINA yang Ternoda
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat Kakek
Crazy Rich Bagian 28
Oleh Sept
Hanum kembali mengerjap, jarinya perlahan bergerak menyisir dan menyentuh kulit bibirnya. Ia menggeleng keras, setelah bangun dari mimpi sesaatnya.
"Ish! Kenapa aku memimpikan pria sombong itu? Astaga! Apa-apaan dengan isi kepalaku?"
Dia kembali menggeleng keras, bagaimana mungkin Hanum bermimpi dikecupp oleh calon suaminya itu. Pria paling sombong yang Hanum kenal. Dan lumayan tidak ia sukai. Sebab sifat pria itu dari awal semula yang memandang rendah padanya.
Gadis tersebut kemudian mengambil napas panjang, "Mungkin karena aku memikirkan rencana pernikahan ini. Jadi kebawa sampai mimpi buruk begini!" ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur.
Hanum lantas mengambil air minum, baru bangun dari mimpi buruk membuatnya merasa haus. Sembari meletakkan gelas lagi di atas nakas, matanya menatap segala persiapan pernikahan yang ada di dalam kamarnya.
"Ibu ... Hanum besok menikah!" ucapnya lirih. Gadis itu lalu mengambil ponsel, lalu melihat wajah ibunya yang hanya terbaring di atas ranjang.
"Tunggu Hanum, Bu."
Ia mengusap layar ponselnya, kemudian memeluknya dengan erat. Seolah ia sedang memeluk ibunya.
***
Matahari malu-malu menampakkan sinarnya, mendung lembut sedang menutupi sebagian langit ibu kota. Masih pagi, tapi kemacetan yang terjadi cukup parah.
Gadhi sedang duduk di kursi belakang, tatapan matanya kosong menatap gedung-gedung tinggi yang sesekali menampakkan iklan tentang perusahaan mereka.
"Tuan, apa Kita makan terlebih dahulu?" tanya sekretaris Jo sambil menoleh sedikit ke belakang. Ia tatap bosnya yang terlihat kusut itu.
Padahal ini hari pernikahan, tapi Gadhi terlihat seperti orang yang habis bergadang berhari-hari. Ini gara-gara obat kuat kemarin, membuat Gadhi harus terjaga dengan siksaan yang cukup meresahkan.
Matanya merah, wajahnya, lingkar mata sembab seperti kurang tidur, memang masih tampan tapi tidak begitu seperti biasanya. Gadhi seperti habis keluar dari Goa.
"Tuan ... apa Kita makan terlebih dahulu?" tanya sekretaris Jo yang sejak tadi tidak diajak Gadhi bicara. Pria itu menyimpan dendam begitu mendalam pada sekretarisnya tersebut.
"Ehem ... ehem ... Tuan belum makan dari kemarin. Apa sekaran Kita Cari makan sebelum ke gedung pernikahan?"
"Bisa diam?" celetuk Gadhi dingin.
Seketika sekretaris Jo langsung menelan ludah. Pria itu lalu kembali fokus pada kemudi dan aspal hitam di depannya. Gadhi sedang dongkol, pria itu terlihat masih marah. Alhasil sekretaris Jo memilih diam, kalau tidak ia akan terlihat salah selalu di matanya.
***
Ballumax Luxury Hotel
Di sebuah salah satu ballroom paling mewah dan besar, semua tamu undangan sudah berkumpul. Meski tidak banyak, padahal kapasitas bisa ribuan, hanya saja kakek Mahindra hanya mengundang orang-orang paling penting saja.
Kakek hanya mengundang kerabat dekat, rekan bisnis, investor, pejabat dan beberapa tamu penting lainnya. Sedangkan dari pihak mempelai perempuan, kakek sama sekali tidak menghadirkan keluarga Hanum.
Ibu Hanum bahkan masih ia simpan rapi di salah satu rumah sakit terbaik. Ini adalah kemauan pria tua tersebut. Dan Hanum harus setuju, sebab gadis itu sudah tanda tangan perjanjian dengan pendiri global Tourshine Groups tersebut.
Dari banyaknya tamu yang datang, terlihat Nyonya Suha sudah hadir. Ia menggandeng lengan suaminya, Akas. Mungkin takut, karena sejak tadi Akas ia perhatikan menatap Nyonya Geni diam-diam. Padahal Suha jauh lebih muda, tapi ia takut suaminya terlibat scandal dan mengulang sejarah kelam.
Beda lagi dengan Gradi, tanpa sungkan atau merasa bersalah karena sudah menjebak sepupunya beberapa waktu lalu, pria itu datang sambil menggandeng cewe cantik dan cukup fashionable. Gradi menang casanova sejati, baginya sangat mudah mengaet wanita di luar sana. Cukup tunjukkan kartu keramat yang ia punya, maka semua akan mendekat seperti semut yang tahu di mana ada gula.
***
"Di mana Gadhi?" tanya Kakek Mahindra sejak tadi belum berjumpa dengan calon pengantin pria.
"Ada, Tuan. Sedang di ruang ganti," jawab sang asisten sambil menundukkan.
"Untuk apa dia di sana? Panggil sekarang, aku ingin mengenalkannya pada yang lain!"
"Baik, Tuan."
Asisten pun menurut, ia lalu pergi ke ruang ganti pengantin wanita. Yang mana kata pengawal Gadhi tadi menuju ke sana.
***
Di dalam ruang ganti pengantin.
Madam Li sedang memastikan bahwa semua sudah sempurna. Ia berkali-kali menatap tiara yang ada di atas kepala Hanum, kemudian merapikan veil agar lebih rapi dan perfect.
KLEK
Madam dan Hanum saling menatap siapa yang datang, sedangkan asisten yang lain, sibuk membenarkan gaun Hanum yang panjang tersebut.
"Tuan Muda kenapa ke sini? Tunggu sebentar lagi ... kami belum siap!" ucap madam Li.
Gadhi hanya menatap dingin, kemudian langsung duduk.
"Tinggalkan kami berdua!" ujarnya kemudian.
Hanum langsung menatap madam Li, ia seolah meminta bantuan agar jangan ditingalkan berduan dengan calon suaminya itu.
"Kalian tidak mendengar perintahkanku?"
Semua saling menatap dan pergi satu persatu. Kini hanya tinggal Hanum, Gadhi dan Madam. Sedangkan sekretaris Jo, pria itu berjaga di luar ruang ganti pengantin.
"Madam, anda juga harus pergi!" titah Gadhi dengan wajah serius.
Seketika, reflek Hanum memegang lengan madam Li. Tapi, karena Gadhi menatap tajam pada madam Li, alhasil wanita itu menepis tangan Hanum.
"Hanya 5 menit, Tuan. Kami harus segera siap-siap," ucap Madam Li.
Gadhi tidak menjawab, malah meminta madam Li menutup pintunya. "Tolong tutup pintunya!"
'Aduh! Ada apa dengan mahluk ini? Apa obatnya masih berpengaruh? Harusnya sudah tidak, kata madam semua sudah kembali normal. Tapi dari caranya menatapku ... ya ampun. Aku ingin keluar dari ruangan ini!' Hanum membantin. Ingin lenyap saja dari ruangan itu.
"Kau mau apa?" tanya Hanum panik saat Gadhi berjalan mendekat ke arahnya.
Tok tok tok
Mendengar pintu diketuk, Gadhi mendesis kesal.
KLEK
"Maaf Tuan, tuan besar memanggil."
Gadhi membuang napas panjang, lalu pergi meninggalkan Hanum.
'Hampir saja!' batin Hanum kemudian duduk dengan lemas. Pasca kejadian itu, Hanum selalu merasa horor bila berduan dengan Gadhi. Tiba-tiba dalam benaknya muncul hal-hal yang aneh yang cukup membuatnya bergidik ngeri.
***
Gadhi langsung menemui Kakek Mahindra, pria itu dibawa kelilingi oleh sang kakek. Dipertemukan dan dikenalkan banyak orang besar, dan cukup berpengaruh. Melihat itu, Akas wajahnya mengeras. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Sama seperti sang istri, keduanya bagai sayur dan garam saling melengkapi. Sama-sama punya penyakit hati yang sulit untuk diobati.
"Kakek harap kamu bisa meneruskan impian Kakek!" ucap kakek saat keduanya sudah duduk di salah satu meja bundar yang besar.
"Satu lagi ... semua saham atas nama Kakek, akan sepenuhnya berpindah menjadi aset anak kalian nanti. Jadi ... jangan berpikir sekali saja untuk bercerai. Jika sampai hal itu terjadi, Kakek sudah menuliskan pada kuasa hukum. Semua akan kakek sumbangkan ke yayasan. Jika sampai kalian benar-benar berpisah!" ucap kakek tegas.
BERSAMBUNG
Eh mbuh bang Gadhi, sekarepmu. Hehehe
IG Sept_September2020
eh, konspirasi..
.....
si sulung aku umur 8 th baru punya adek.
aku menyaksikan sendiri,walau bukan aku yg mengalami.ada keluarga yg boleh dikata mampu dan berkecukupan tapi masih juga resahndan ingin menguasai harta saudaranya yg lain.padahal sdh dibagi rata oleh orangtua mereka dulunya.sampai memutuskan tali silaturahmi dg saudara2nya yg lain.