Masa remaja Natasya yang indah, harus berakhir menyedihkan. saat mahkota yang selama ini dijaganya, direnggut oleh laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sahabat sekelasnya Farrel.
Bagaimana kisah perjalanan pernikahan dini mereka berdua? yang dipenuhi bumbu-bumbu pertengkaran, hingga cinta itu benar-benar hadir diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi yang Aman
"Anakku, dia terlihat begitu mungil dan sangat lucu, aku tidak sabar lagi ingin melihatmu terlahir ke dunia ini nak."
Gumam Farrel tanpa sadar, tatapan Mata nya lekad pada layar monitor. ketika dokter tengah melakukan USG. Farrel merasa sangat bahagia, apapun jenis kelamin sang anak nantinya, tidak menjadi masalah baginya. yang terpenting Natasya dan bayinya sehat-sehat. sudah cukup membuat Farrel merasa bahagia.
"Ibu dan bayinya, sangat sehat." terang dokter sambil terus memeriksa Natasya yang terbaring.
"Alhamdulillah." jawab Natasya dan Farrel berbarengan, mereka berdua merasa lega dan tersenyum saling pandang.
"Maaf dok, saya ingin menanyakan sesuatu yang masih mengganjal dipikiran saya." ucap Farrel yang semula masih terlihat ragu-ragu.
"Masalah apa pak Farrel, disini anda bebas untuk bertanya." ucap dokter.
"Begini dok, akhir-akhir ini kami sering melakukan hubungan suami-isteri, apakah tidak berpengaruh terhadap bayi kami nantinya."
Dokter tersenyum menanggapi pertanyaan Farrel, yang juga banyak ditanyakan pasangan muda lainya.
"Selama dalam melakukan nya tidak memakai posisi yang berbahaya, tidak masalah." Jawab dokter, seraya menerangkan pada pasangan muda ini, cara-cara yang aman untuk berhubungan intim selama kehamilan. Farrel memperhatikan dan mendengarkan seksama sambil mengangguk-anggukan kepala nya pelan.
"Kalau begitu kami permisi dulu dokter, dan terimakasih atas infonya yang sangat berarti ini." balas Farrel tersenyum lalu menyalami dokter.
Setelah menembus resep dan vitamin yang diberikan oleh dokter, pasangan muda ini pun melanjutkan perjalanan Menuju pusat perbelanjaan. meskipun Natasya tidak pernah menuntut macam-macam ini dan itu pada suaminya Farrel, namun Farrel mengerti apa yang disukai dan dinginkan seorang perempuan cantik seperti Natasya.
"Sayang, kamu silahkan pilih-pilih perhiasan ini sesukamu." ucap Farrel ketika mereka memasuki toko pusat perhiasan mewah.
Natasya tersenyum, meskipun tidak dapat dipungkiri, jika dia sangat bahagia melihat perubahan dan perhatian dari suaminya. dihati Natasya sesungguhnya dia tipe wanita yang sangat sederhana dan kurang menyukai barang-barang mewah.
"Gimana ya mas, Natasya bingung milih nya." jawabnya polos.
"Okey, kalau begitu biar mas yang pilihin buat kamu." ucap Farrel sambil memperhatikan satu persatu perhiasan dan Berlian mewah dengan harga yang fantastis, yang terpajang di etalase tersebut. tanpa sengaja mata Farrel tertarik melihat kalung berlian berukiran huruf "F" ditengah-tengah nya. dan memasangkan keleher jenjang indah Natasya.
"Bagaimana sayang, apa kamu menyukai nya?"
Natasya memperhatikan pantulan wajahnya dicermin, bibir gadis itu terukir senyuman manis. menatap kalung yang sangat ingah dan mahal di leher nya. ditambah lagi huruf "F" yang merupakan awal nama dari suaminya tercinta Farrel.
"Sangat indah dan bagus sekali mas." ucap Natasya dengan mata berbinar-binar bahagia.
Melihat Natasya yang sangat menyukai pemberianya, Farrel langsung membayar. mereka pun berjalan sambil bergandengan mesra menikmati sore, melangkah memasuki sebuah restoran Jepang, yang merupakan makanan kesukaan Farrel.
Pasangan ini makan sambil saling menyuapi, seakan dunia milik berdua. tanpa memperdulikan pandangan dan tatapan orang-orang disekitarnya. yang menatap Kagum pada keromantisan mereka berdua.
"Sayang kamu pasti capek, seharian ini kita menghabiskan waktu dan jalan-jalan berduaan saja." ucap Farrel setelah mereka selesai makan.
"Iya mas, kita langsung pulang saja ya."
"Iya, sebaiknya kita hubungi Mama dulu. kalau kita langsung pulang kerumah kita." terang Farrel mengeluarkan ponselnya.
"Baiklah mas."