"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Berandai-Andai
Ammar memberhentikan motornya tepat di sebuah restoran
"Kenapa?" tanya Zofa di belakang
"Ayo kita makan siang dulu" ujar Ammar yang membuat ia syok
Zofa turun dari motor matanya menatap ke arah restoran mewah sembari meneguk salivanya dengan susah payah
"Kamu bener mau ngajak aku makan di sini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya
Ammar mengangguk "Iya" ia melepas helmnya dan turun dari motor
Ammar melihat ke arah Zofa yang diam mematung, pandangan masih fokus pada bangunan megah itu, restoran bintang lima yang selama ini tak pernah ia kunjungi sama sekali, bukannya keluarga Zofa tak mampu membeli satu porsi makanan di sana, melainkan mereka lebih menyayangkan uangnya daripada membeli satu makanan seharga sepuluh porsi atau lebih jika dibanding harga makanan di warteg, bagi mereka lebih baik beli di warteg atau warung makan pinggiran, uangnya bisa digunakan buat kebutuhan lain
"Ayo, buka dulu helmnya" ujar Ammar yang kini berdiri di hadapan Zofa
Bukannya membuka helm ia malah menyingkirkan tubuh Ammar ke samping agar tak menghalangi penglihatannya
"Zofa" panggil Ammar
"Kamu beneran mau ngajak aku makan di sini?" matanya masih fokus ke depan
"Iya ayo lepas dulu helmnya"
"Pesen apa aja boleh?"
"Iya"
"Berapa aja?"
"Iya"
Zofa mengalihkan pandangannya menatap ke arah Ammar
"Bener ya jangan tarik ucapanmu lagi" ujar Zofa sumringah, ia hendak melangkahkan kakinya namun Ammar memegang lengannya dan menariknya pelan
"Lepas dulu helmnya" ujar Ammar, ia membantu Zofa melepaskan kaitan helm yang ia kenakan
"Hehehehe lupa"
Kini Zofa telah duduk di sebuah ruangan, bahkan Ammar tak tanggung-tanggung memesan ruangan VIP, sungguh ia tak menyangka uang Ammar lumayan banyak
Tak lama pelayanan menghampiri ruangan Ammar, ketika pelayan menyerahkan menu pada mereka dengan antusias Zofa memilih makanan yang hendak ia tampung di perutnya
"Lobsternya satu porsi, sosis jumbo yang ini, terus sama ini, ini, ini, dessert nya ini, ini sama ini, terus minumannya ini aja"
"Kamu mau yang mana?" tanya Zofa, ia menghadap ke arah Ammar yang sedari tadi memperhatikan Zofa tanpa kedip
"Oiii mau makan gak sih, gak kenyang kalau mandangin wajah aku terus" tegur Zofa sembari mengibaskan buku menu di hadapan wajah Ammar
"Ehh" Ammar meraih buku menu milik Zofa padahal jelas-jelas di hadapannya telah disediakan untuknya
"Saya mau steak yang ini sama minumnya jus mangga" ujar Ammar sembari menyerahkan buku menu tersebut
"Baik tuan nyonya, harap di tunggu pesanannya" ujar pelayan ramah
Zofa tak henti hentinya tersenyum, katakanlah bahwa ia katrok karena memang begitu kenyataannya
"Kamu dah sering ke sini?" tanya Zofa pada Ammar, namun pandangan melihat ke sekeliling ruangan bahkan sampai atap-atapnya
"Lumayan" ujar Ammar
"Berarti kamu kaya dong, kamu nafkahi aku aja uangnya lebih banyak dari gaji aku"
"Tidak, kekayaan itu hanya milik Allah SWT" ujar Ammar
"Wah wah wah image orang alim mah beda" ujar Zofa kagum
Beberapa menit berlalu para pelayan datang dan menyajikan makanan di hadapan mereka
"Lumayan cepet juga nyajiinnya" gumam Zofa
"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya"
Siapa yang tak mengenal Ammar di sana, kakak dari sang pemilik restoran, tentu mereka memberikan servis terbaik mereka
"Wahhh, eeemm bismillahirrahmanirrahim" ujar Zofa yang langsung menyambar makanan
A few moments letter
"Alhamdulillah kenyang, perutku bundar, lama-lama bisa kayak pak kepala aja" ujar Zofa sembari mengelus-elus perutnya
"Pak kepala siapa?" tanya Ammar
"Atasan kantor" ujar Zofa, hadehh lagi-lagi ingatan itu muncul di otaknya
"Kalau udah siap kita pulang"
Zofa mengangguk "Ini bener kamu bisa bayar tadi aku lihat sekilas kebanyakan makanan yang aku pesen harganya rata-rata ratusan loh" ujar Zofa, sudah dapat di pastikan total harganya kisaran jutaan
"Gak bisa" ujar Ammar santai
"Hah" Zofa terkejut bukan main, wah wah parah ini alamat suruh nyuci piring setahun, atau jangan-jangan dirinya yang menjadi jaminan, mana tadi Zofa yang mesen paling banyak sedangkan Ammar hanya steak dan jus mangga
Ammar terkekeh pelan melihat reaksi Zofa
"Kamu jangan main-main ya, tadi kamu sendiri loh yang bilang mau traktir" ujar Zofa tak terima, kalaupun ia bisa bayar itu akan memakan banyak uang tabungannya yang telah susah payah ia kumpulkan
"Ya ya saya gak main-main kok, udah yuk pulang" ujar Ammar
"Bener?" tanya Zofa was was
"Iya bener ayo pulang"
Zofa menurut kini mereka keluar dari ruangan
"Silahkan tuan" ujar para penjaga pintu ramah kala telah membukakan pintu untuk kedua pasangan
"Terimakasih salam buat bos kalian" ujar Ammar, Zofa yang tak paham hanya cuek saja
"Assalamualaikum bang Ammar mbak Zofa" sapa Azril kala mereka berpapasan depan restoran
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak
"Kamu juga makan di sini?" tanya Zofa pada Azril
Azril hanya diam saja, namun sebelum ia membuka mulut Zofa sudah berbicara padanya lagi
"Mahal-mahal lo makanan di sini" bisik Zofa keras agar Azril dapat mendengarnya
"Iya...."
"Hati-hati nanti di suruh cuci piring" Zofa memberi peringatan pada adik iparnya
Azril menatap ke arah Ammar sembari mengerutkan dahinya
"Makasih makanannya" ujar Ammar sembari menepuk pundak Azril
"Kenapa masih bilang makasih sih bang, kan aku dah bilang makan aja sepuasnya di sini tanpa membayar sepeserpun, kita ini sesama keluarga jangan sungkan" ujar Azril, bagi keluarganya yang berkunjung ke sini sudah dipastikan terbebas dari biaya apapun termasuk parkir
"Tunggu dulu, biar ku cerna ucapan kalian" ujar Zofa sembari mengangkat rendah tangannya
Ammar dan Azril saling pandang hingga lima menit berlalu
"Jadi..... Ini restoran kamu?" tanya Zofa sembari menunjuk ke arah Azril
Azril mengangguk, astaga Zofa lupa apa beberapa hari yang lalu ia sudah mengunjungi rumah mewah Azril, pantas saja kaya seorang pemilik restoran mana bercabang-cabang pula
"Pantesan dia mau ngajak ke sini secara cuma-cuma, orang GRATIS" gerutu Zofa
Ammar menekan kedua bibirnya untuk menahan tawanya
Azril hanya menggelengkan kepalanya dan pamit masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti kala Zofa memanggilnya
"Tunggu dulu adik ipar"
"Aku juga bisa makan sepuasnya di sini kan, anu aku kan juga udah termasuk bagian dari keluarga kamu yah meskipun keluarga yang tak di harapkan atau tak terlihat gitu.... Yah seperti tadi kata mu sesama keluarga jangan sungkan" ujar Zofa dengan pedenya
Azril mengangguk mendengar ucapan Zofa "Silahkan saja mbak"
Zofa tersenyum lebar mendengar ucapan Azril "Ah andai aku tahu kamu lebih awal.." ujar Zofa
"Zofa" tegur Ammar
Zofa mengerutkan dahinya
"Jangan berandai-andai tak jelas, dia sudah memiliki istri" ujar Ammar
"Hah"
"Gini nih kalau memotong pembicaraan orang, aku kan mau bilang andai aku tahu dia lebih awal kalau punya restoran udah aku kunjungi dari awal kita nikah, kapan lagi coba bisa makan gratis dengan mewah dan fasilitas yang waw" ujar Zofa kesal
"Udah ah pulang" Zofa berjalan lebih dulu menuju parkiran motor, jika di lihat-lihat rata-rata pengunjung di sini pada menggunakan mobil ada beberapa motor tapi itu si pengantar makanan
Azril menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ke arah abangnya "Wah wah bang, sejak kapan anda suka memotong pembicaraan orang, dan sedikit soudzon" goda Azril
"Kamu udah tahu jawabannya, aku pamit wassalamu'alaikum" ujar Ammar, yups semenjak ada Zofa di kehidupannya terkadang ia berperilaku aneh di hadapan wanita tersebut
Ia tak pernah memotong pembicaraan orang namun pada Zofa terkadang ia malah melakukannya, ia jarang sekali berpikiran negatif tapi ia terkadang melakukan itu pada Zofa seperti tadi, bahkan tadi di jalan ia tanpa sadar menancapkan gasnya sebagai bentuk tak suka dengan ucapan Zofa
***
ehh balik lagi ketemu mereka, Jan lupa like and comment ya perparagraf juga gak pa pa see you next time 👋