"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Satu minggu setelah insiden peretasan anonim yang meretakkan pertahanan IT gedung Kincaid Group di London, kekacauan di divisi internal korporasi itu semakin menjadi-jadi. Divisi perhiasan dan mode Kincaid Group terus melaporkan penurunan omzet drastis akibat kelelahan konsep dan persaingan ketat di pasar Eropa.
Di Paris, Emma Ellis memanfaatkan momen krisis tersebut untuk mengayunkan belatinya. Di ruang rapat eksklusif galeri ELLIS di Place Vendome, Emma berdiri mengamati layar proyeksi. Ia mengenakan setelan blazer putih gading dipadu dengan gaun sutra hitam. Di sampingnya, Xavier Ellis duduk santai sembari memutar-mutar gelas kristal berisi wiski.
"Koleksi berikutnya sudah siap, Xavier," ucap Emma.
"Aku melihat draf awal sketsamu semalam, Emma," sahut Xavier.
Ia mengulas senyum tipis. "Tema yang sangat berani dan sarat akan ironi, The Betrayal."
Emma berbalik dan menatap Xavier dengan binar mata yang berkilat tajam.
"Pengkhianatan adalah mahakarya, Xavier. Bukankah Kincaid Group tumbuh di atas fondasi pengkhianatan terhadapku? Sekarang, aku akan menjual rasa sakit itu kembali kepada mereka dengan harga selangit."
Koleksi The Betrayal terdiri dari tujuh pasang perhiasan berbalut berlian merah raksasa dan tiara emas putih bertatahkan rubi yang dibentuk menyerupai duri-duri tajam melingkar. Setiap potongan didesain secara spesifik untuk memancarkan aura kemewahan yang gelap dan penuh kepedihan yang memikat.
"Berapa harga yang kamu tetapkan untuk seri terbatas ini?" tanya Xavier.
"Tiga puluh juta Euro untuk keseluruhan set," jawab Emma tanpa keraguan sedikit pun.
"Dan tidak ada penjualan terpisah. Siapa pun yang menginginkannya harus membeli lisensi hak pamer eksklusifnya."
Xavier menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh rendah.
"Harga fantastis yang tidak masuk akal untuk desainer yang baru beberapa tahun muncul, tapi aku tahu caramu berpikir. Kamu sedang memancing ikan yang kehausan."
"Kincaid Group sedang di ambang kebangkrutan untuk divisi mode mereka," jelas Emma, jemarinya mengetuk meja.
"Alfie dan Willa Kincaid sangat membutuhkan masterpiece segar untuk meyakinkan para pemegang saham di rapat tahunan mendatang. Begitu berita rilis koleksi The Betrayal menyebar di media Eropa, mereka tidak punya pilihan lain selain menggigit umpan ini."
Tepat pada saat itu, Kevin melangkah masuk ke dalam ruang rapat setelah mengetuk pintu dua kali. Ia membawa map dokumen bersampul kulit hitam.
"Nyonya Emma, Tuan Xavier."
Kevin membungkuk hormat.
"Bocoran mengenai koleksi The Betrayal yang dipublikasikan oleh La Mode de l'Élite telah memicu histeria di pasar saham London dan Paris dan sesuai dengan prediksi Anda ...."
Kevin meletakkan map tebal tersebut tepat di hadapan Emma.
"Tim akuisisi dan pengembangan produk dari Kincaid Group London baru saja mengirimkan berkas penawaran resmi melalui surat elektronik berenkripsi tinggi," lanjut Kevin.
"Mereka menawar hak eksklusif koleksi The Betrayal."
Emma membuka map tersebut dengan perlahan. Matanya menelusuri barisan angka yang tertera di lembar penawaran.
Xavier menyipitkan mata dan menatap Kevin.
"Berapa nilai investasi yang mereka ajukan?"
"Lima puluh juta Euro, Tuan Xavier," jawab Kevin dengan nada bergetar.
"Angka itu lima puluh persen lebih tinggi dari harga yang dipatok oleh Nyonya Emma. Ini adalah nilai investasi kerja sama terintegrasi terbesar dalam sejarah divisi perhiasan Kincaid Group."
Xavier terkekeh sinis, lalu menatap Emma.
"Alfie Kincaid benar-benar bertaruh mati-matian. Pria itu menyetorkan modal nekat untuk membeli karya dari wanita yang pernah diusirnya."
Emma perlahan menutup map tersebut. Sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya Perasaan puas yang manis merayapi dadanya dan mengikis sisa-sisa trauma penderitaannya di masa lalu.
"Peragakan ketertarikan kita, tapi jangan langsung menyetujui," perintah Emma tegas pada Kevin.
"Buat mereka menunggu selama tiga hari. Biarkan Alfie dan jajaran direksinya berlutut dalam kecemasan."
"Baik, Nyonya Emma, lalu bagaimana dengan syarat pertemuan untuk penandatanganan kontrak?" tanya Kevin.
Emma berdiri dan membetulkan letak blazernya dan menatap keluar jendela ke arah menara Eiffel yang menjulang jauh di seberang sana.
"Katakan pada perwakilan Kincaid Group, penandatanganan berkas kontrak tidak boleh diwakilkan oleh jajaran direksi biasa," bisik Emma.
"CEO utama Kincaid Group, Alfie Kincaid sendiri harus datang ke Paris dan berlutut menandatangani dokumen ini di hadapanku."
***
Di dalam kantornya yang megah di Paris, Xavier Ellis memegang mikrofon konferensi pers internasional. Puluhan wartawan dari media ekonomi dan mode terkemuka Eropa telah berkumpul di aula utama galeri ELLIS.
Emma berdiri di balik tirai kaca tebal di lantai dua sembari menyesap teh hitamnya sembari mengamati suasana riuh di bawah. Di sampingnya, Kevin menengadah ke arah layar besar yang menayangkan tayangan langsung.
"Tuan Xavier!" seru seorang jurnalis senior dari Le Figaro, mengacungkan mikrofonnya.
"Apakah benar rumor bahwa Kincaid Group dari London telah mengajukan investasi senilai lima puluh juta Euro untuk membeli lisensi eksklusif karya terbaru Emma Ellis?"
Xavier tersenyum tipis, sebuah senyuman
yang menyimpan keangkuhan. Ia merapikan garis jasnya sebelum menatap lurus ke arah kamera.
"Pertanyaan yang sangat bagus," sahut Xavier.
"Memang benar. Tiga hari yang lalu, Kincaid Group mengajukan proposal akuisisi resmi untuk koleksi The Betrayal milik desainer utama kami, Mademoiselle Emma Ellis."
Suasana aula seketika gempar. Lampu kilat kamera menyambar tanpa henti.
"Lalu, apakah Ellis Corporation dan Mademoiselle Emma telah menyetujui kesepakatan bernilai fantastis tersebut?" ujar jurnalis lain memotong cepat.
Xavier jeda sejenak dan sengaja membiarkan ketegangan merayapi udara. Kilat jenaka memancar di matanya ketika ia menggelengkan kepala secara perlahan.
"Atas arahan langsung dari Mademoiselle Emma Ellis," ucap Xavier tegas, "Kami menolak proposal Kincaid Group secara mutlak dan tidak berkeberatan untuk mempublikasikannya hari ini."
Bagaikan petir di siang bolong, pengumuman itu membuat seluruh jurnalis tersentak kaget.
"Menolak?! Mengapa, Tuan Xavier? Lima puluh juta Euro adalah penawaran tertinggi di industri ini!" seru jurnalis media keuangan.
"Sederhana saja," jawab Xavier, nadanya berubah menjadi dingin nan meremehkan.
"Kualitas dan reputasi Kincaid Group saat ini dianggap tidak memenuhi standar estetika serta integritas yang diusung oleh rumah mode ELLIS. Kami menilai nama Kincaid Group justru akan menurunkan nilai seni dari The Betrayal."