Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH BERKAS MENDATANGKAN KECEWA
Haris berjalan mondar-mandir saat menatap layar ponselnya. Dia mengirimi Renata pesan tapi belum juga dibalas. Dia yakin, Renata pasti sudah pergi dengan pria lain. Apalagi ucapan Ferdi menguatkan dirinya untuk segera mengirimkan surat cerai pada Renata.
Ya, dia membulatkan tekad untuk itu. Jika dipikir, selama ini tak ada gunanya hidup dengan Renata saat Tuhan mengirimkan Melia ke dalam hidupnya.
Langkah Haris bulat. Dia mengambil keputusan bulat setelah semalam memikirkan hal itu. Apalagi melihat kesungguhan Melia membangun rumahnya. Wanita itu tetap melayaninya, bahkan sampai kelelahan tertidur. Sedikit dengkuran dari wanita itu menunjukkan bahwa dirinya sangat lelah.
Haris mempersiapkan berkas perceraian yang didukung oleh sang ibu. Dia makin semangat saat rumahnya sudah mulai menjulang.
"Renata tidak boleh menikmati semua ini. Ini adalah rumah Ibu, aku dan Melia. Hanya kami bertiga yang boleh menikmati tinggal di rumah ini," gumam Haris malam itu.
Siang ini dia sudah mempersiapkan berkas untuk mengajukan gugatan perceraian. Bulat sekali tekadnya berpisah dengan Renata.
***
Sementara itu, Renata meneguk salivanya melihat kepergian ketiga orang yang berwajah garang itu. Salah satu orang itu memintanya untuk memberikan data diri dan tes DNA serta menanyainya macam-macam hal selama satu setengah jam! Sudah seperti tes masuk CPNS saja. Mereka juga menanyakan keadaannya saat melihatnya berjalan dengan tongkat penopang.
Pria-pria garang itu ada sikap baiknya juga kala melihat Renata bersusah payah berjalan, mereka membantunya. Mereka akan datang lagi satu minggu kemudian. Renata berdebar-debar akan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. Kenapa sepertinya sangat penting sekali. Ah, Renata mengibaskan tangan. Dia hanya ingin menunggu tujuh hari ke depan.
Beberapa hari kemudian, pak pos datang ke rumah kontrakan Renata, lalu menyerahkan satu amplop coklat. Renata mengerutkan dahi, mengira amplop itu dari ketiga orang yang datang tempo hari.
Dia segera berupaya duduk di atas karpet dan membuka amplop itu dengan tak sabar. Hatinya sangat hancur membaca isi surat. Ternyata, gugatan perceraian dan undangan sidang cerai dari pihak suaminya.
Kedua mata Renata menghangat. Bukan karena dia masih mencintai Haris, tapi karena sebuah janji yang diingkari sendiri oleh pria itu. Dia kecewa. Selama beberapa bulan ini Renata sudah berusaha keras untuk masih bertahan dalam rumah tangga, tapi ternyata diporak-porandakan oleh pria bernama Haris.
"Renata," ucap seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu membawakan kantong kresek berisi makanan seperti biasa.
"Eh, Bu Dian."
Renata menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata beningnya itu dengan tergesa. Dia lalu berusaha berdiri, lupa akan kesulitannya hingga jatuh lagi ke bawah.
"Sudah, Ren. Jangan berdiri. Kamu duduk saja, kakimu masih belum kuat," tutur Bu Dian melangkah masuk. Dia melirik sebentar ke kertas yang ada di pangkuan Renata. Sebuah surat gugatan cerai.
Bu Dian mengelus dada. Betapa ibanya dia pada Renata. Wanita itupun berusaha untuk tak terlihat menangis di depan Bu Dian, walau Bu Dian tahu, hatinya pasti sedang remuk.
Renata bungkam, tak bisa berkata apapun saat itu. Bu Dian sendiri tahu, dan berusaha untuk menghiburnya. Namun, tak juga berhasil kala Renata hanya menyunggingkan senyum getirnya.
"Ah, kasihan sekali, Renata."
Bu Dian membantu menuangkan sayur ke mangkuk untuk Renata.
"Sudah, Bu. Dibelikan makan saja, saya sudah sangat berterima kasih. Saya bisa menuang sendiri. Ibu nggak perlu repot-repot, Bu."
Bu Dian menggelengkan kepala, melihat wanita yang bergerak saja kesulitan, masih bersikeras bisa melakukan sesuatunya sendiri.
"Biar Ibu bantu, Ren. Kamu duduk saja. Ibu tahu, kamu sedang kalut. Perceraian memang menyakitkan. Namun, tanyalah pada dirimu sendiri, apakah pria itu yang terbaik bagimu? Apakah seorang pria yang baik akan meninggalkanmu begitu saja saat kamu sekarang sedang kesulitan seperti ini?" tanya Bu Dian.
"Ibu tahu, pria itu sudah menikah lagi, kan?"
Pertanyaan Bu Dian membuat Renata terlonjak kaget. Dia sungguh malu, ternyata Bu Dian sudah tahu permasalahannya.
"I-Iya, Bu."
Wajah Renata tertunduk. Dia menggosok hidungnya karena kikuk. Namun, tetap saja rasa kecewa merayapi hatinya. Dia tak pernah menuntut apapun dari Haris, tak pernah meminta Haris macam-macam, dia selalu mencoba mengerti keadaan pria itu. Oleh karena itu, dia tetap bekerja demi menambah penghasilan berdua demi kebutuhan rumah. Namun, apa yang dia dapatkan? Saat dirinya jatuh sakit, tak sedikitpun pria itu ingin mengetahui keadaannya. Setidaknya mencari tahu bagaimana keadaannya, tapi pria yang selama lima tahun ini bersama membangun rumah tangga yang memang belum berdiri tegak, sudah meruntuhkannya.
"Nah, perlu kamu pikirkan lagi, Ren. Pria seperti itu tak ada baiknya. Dia tak akan pernah bersyukur dengan keadaan. Apalagi sekarang menikah lagi, bukannya menerima kamu apa adanya. Meninggalkan seorang istri hanya karena belum memiliki anak? Klise sekali. Harusnya dia mengakui bahwa nafsunya besar, bukan karena ingin punya anak."
Perkataan Bu Dian bertubi-tubi menghujam perasaan Renata. Dia sungguh sakit mendengar semua yang dikatakan oleh wanita itu, tapi sakitnya karena dia tersadar akan apa yang terjadi. Pernikahan yang sia-sia. Akan dia sesali selamanya.
"Iya, Bu. Saya menyesal menikah dengan pria yang ternyata hanya akan meninggalkan saya saat keinginan memiliki anak tak terpenuhi," ujar Renata lirih.
Dalam hati, Bu Dian sudah tak suka dengan sikap suami Renata. Dia terkesan menyia-nyiakan istrinya. Memindahkan Renata ke rumah kontrakan lalu mendatangkan wanita baru ke dalam rumahnya. Apalagi cerita Rendy, pria itu masih tinggal dengan ibunya. Apa ibunya tak memiliki hati untuk membiarkan Renata pergi dari rumahnya? Malah mendukung keputusan suami Renata? Baru kali itu Bu Dian menemukan orang-orang yang kejam seperti itu.
Bu Dian memeluk Renata yang terisak, melampiaskan uneg-uneg yang dia pendam selama ini. Renata memang sedang membutuhkan seseorang yang membuatnya tenang saat ini. Bu Dian bagaikan ibunya sendiri, yang berupaya untuk memberikan bahunya sejenak untuk Renata.
***
"Rendy, nanti kalo kamu punya istri, jangan perlakukan istrimu seperti suami Renata itu! Dia benar-benar lelaki yang tega. Jahat sekali berbuat seperti itu dengan Renata!" geram Bu Dian setelah bercerita tentang Renata tadi di ruang makan saat mereka berbincang.
"Iya, Ma."
"Iya, aku sebagai lelaki juga heran dengan sikap suami Renata itu. Masa setega itu dengan istrinya. Habis manis sepah dibuang. Tak bisa punya anak lalu ditendang," imbuh Pak Candra.
"Iya, Renata itu ulet sebenarnya. Dulu waktu mendaftar kerja di mini market, aku kasihan karena dia lulus dari sekolah dan sulit mendapatkan pekerjaan, padahal butuh biaya untuk hidupnya. Jadi, aku terima saja. Nyatanya Renata itu bisa diandalkan," puji Pak Candra teringat beberapa tahun yang lalu kala seorang gadis membawa sebuah map menunduk sopan menghadap padanya.
"Iya. Semoga dia mendapatkan jalan yang terbaik dalam hidupnya," harap Bu Dian. Terbayang Renata yang bersedih di rumah kontrakan sendirian sedang makan atau entah kehilangan selera makan karena beberapa lembar surat yang tadi siang dia pegang itu.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano