Ling Jin. Seorang pemuda yang diasuh oleh dua leluhur dewa semenjak masih bayi di dalam sebuah jurang dan diangkat menjadi cucu mereka.
Semua orang mengira dia tidak memiliki dantian sehingga membuatnya merasa tidak berguna. Namun dia memiliki tekad yang kuat serta semangat yang besar demi menggapai apa yang dia inginkan. Cerita kehidupannya berubah setelah segel dantiannya terbuka.
Dia berjalan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi dia adalah rajanya kegelapan dan di sisi lain dia juga menjadi cahaya.
Ling Jin mengarungi lautan darah demi mencapai puncak kekuatan kultivator. Bahkan jika langit menentangpun dia akan melawannya.
"Aku tidak tunduk pada takdir, takdirlah yang harus tunduk padaku."
"Aku tidak bergantung pada keberuntungan, karena akulah keberuntungan itu."
-Ling Jin.
Bagaimanakah kisahnya?
Ikuti perjalanannya dalam novel God Emperor (Ling Jin).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ling Jin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Wuussstt.
Qing Long, Yin Mei Lin dan Bao Chun muncul di dalam gua.
“Ah, di mana ini!? Kenapa tiba-tiba kita bisa berada di sini!?”
Yin Mei Lin sangat terkejut karena mendadak telah berada di dalam sebuah gua. Terlihat tiga buah batu persegi panjang dan kumpulan mainan dari kayu yang terjejer rapi berada di dalam gua itu.
Bao Chun juga tidak kalah terkejutnya dengan Yin Mei Lin. Dia merasa sebelumnya berada di kota Dongnan, lalu dia merasakan hembusan angin menerpa wajahnya dan tiba-tiba telah berpindah tempat dalam satu kedipan mata.
Qing Long hanya tersenyum melihat keterkejutan mereka berdua. Lalu dia melakukan gerakan tangan dan membuat energi pelindung untuk Yin Mei Lin dan Bao Chun agar tidak terdampak dengan energi kegelapan yang melingkupi jurang kematian.
“Siapa sebenarnya kau!? Apa yang akan kau lakukan kepada kami!?” hardik Bao Chun. Kini dia dan Yin Mei Lin dalam posisi siaga serta mengambil jarak dari Qing Long.
“Kalian jangan salah paham. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kita tunggu saja dia tiba di sini.” Qing Long menghela nafasnya.
Whuuussstt.
Baru saja Qing Long menyelesaikan perkataannya, Ling Jin muncul di dalam gua.
“Baru juga dibicarakan,” ucap Qing Long.
“Bagaimana?” imbuhnya bertanya kepada Ling Jin.
“Aku sudah menyuruh orang-orang di sana untuk mengantar gadis itu ke sekte Pedang Langit,” jawab Ling Jin.
Kemudian dia menatap Yin Mei Lin dengan tatapan yang sendu. Ling Jin membuka topengnya. Terlihat sebuah wajah yang sangat teramat tampan terpampang di hadapan Yin Mei Lin dan Bao Chun. Kedua mata emasnya meneteskan air mata.
“Maafkan kakak Lin’er.” Ling Jin berkata lirih.
“Kau?” Yin Mei Lin tidak meneruskan kata-katanya karena masih ragu apakah pemuda tampan di hadapannya itu adalah kakaknya.
“Dia adalah Ling Jin kakakmu,” ucap Qing Long singkat.
Jedeerrrr.
Mendengar perkataan Qing Long menyebutkan nama Ling Jin, sontak saja Yin Mei Lin dan Bao Chun bagai disambar petir karena sangat terkejut.
Ling Jin, nama dari kakak Yin Mei Lin yang menghilang lima tahun yang lalu.
Yin Mei Lin menghampiri Ling Jin. Tangannya meraba wajah Ling Jin dengan perlahan.
“Benarkah kau adalah kakakku yang selama ini aku rindukan?” tanya Yin Mei Lin yang matanya mulai sembab.
Ling Jin mengangguk pelan.
“Benar. Aku adalah Ling Jin. Anak angkat dari Liu Bing juru masak sekte Pedang Langit dan satu-satunya kakak laki-laki dari adikku rubah cilik.”
Mendengar hal itu, seketika saja Yin Mei Lin memeluk Ling Jin dengan erat. Air mata membanjiri wajah cantiknya. Dia sangat yakin sekarang bahwa pemuda tampan di hadapannya itu adalah kakaknya. Karena hanya kakaknya lah yang memanggilnya rubah cilik.
“Kakak!” Huhuhuuu.” Yin Mei Lin menangis menjadi-jadi. Sosok seorang kakak yang sangat dirindukannya selama lima tahun kini sedang dia peluk.
Ling Jin membiarkan Yin Mei Lin menangis dipelukannya dan melampiaskan kerinduan adiknya itu selama ini.
Setelah beberapa saat, Yin Mei Lin berhenti menangis.
“Kakak. Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah memberikan kabar? Aku dan ayah sangat merindukanmu,” ucap Yin Mei Lin tanpa melepaskan pelukannya.
“Ceritanya panjang Lin’er. Kakak minta maaf karena tidak memberikan kabar kepada kalian,” jawab Ling Jin kemudian melepaskan pelukan Yin Mei Lin dan mengusap pucuk kepalanya.
“Ternyata selama ini rubah cilik berubah menjadi rubah cengeng,” imbuhnya sambil tersenyum.
“Kakaaaakk. Semua ini gara-gara kakak.” Yin Mei Lin menjawab dengan wajah cemberut dan masih sesenggukan.
“Kenapa gara-gara aku?” tanya Ling Jin berpura-pura merasa bingung.
“Ya gara-gara kakak. Kakak menghilang selama lima tahun tanpa kabar,” ucap Yin Mei Lin.
“Baiklah. Kakak minta maaf kepada rubah cilik ini. Nanti kita beli manisan yang banyak sebagai permintaan maaf kakak,” kata Ling Jin sambil mengusap air mata Yin Mei Lin.
“Emmm.” Yin Mei Lin mengangguk senang.
Lalu Ling Jin menoleh ke arah Bao Chun.
“Hey, kau dewa makan. Apa kau hanya diam saja seperti patung saat bertemu dengan saingan beratmu ini?” kata Ling Jin sambil tersenyum.
Bao Chun tersenyum lebar. Matanya memerah karena terharu bisa bertemu lagi dengan Ling Jin. Bao Chun segera beranjak menghampiri Ling Jin dan memeluknya.
“Jadi apakah dewa makan ini sudah menemukan jurus baru lagi?” tanya Ling Jin.
Bao Chun tertawa ringan mendengar pertanyaan Ling Jin.
“Tentu saja sudah. Tubuhmu akan bergetar bila melihat jurus baruku.”
“Dewa Makan Melahap Langit.”
Ling Jin tertawa mendengarnya.
“Bagaimana kabarmu Chun?” tanya Ling Jin.
“Aku baik-baik saja Jin. Bahkan sangat baik. Aku tidak menyangka akan bisa bertemu denganmu lagi,” jawab Bao Chun.
“Apa kau tahu? Sekarang aku adalah murid paling berbakat di sekte Pedang Langit dengan mencapai tingkatan pendekar master tahap akhir,” ucap Bao Chun dengan bangga.
“Benarkah? Secepat itu?” tanya Ling Jin.
“Emm.” Bao Chun menganggukkan kepalanya.
“Tapi, kemana saja kau selama ini Jin? Rambut dan kedua matamu?” Bao Chun bertanya karena penasaran dengan perubahan yang terjadi pada diri Ling Jin.
“Selama ini aku tinggal di jurang kematian ini Chun. Rambut dan kedua mataku berubah karena aku mempelajari sebuah kitab,” jawab Ling Jin.
“Mempelajari sebuah kitab?”
Bao Chun dan Yin Mei Lin terheran mendengar perkataan Ling Jin.
“Benar. Di jurang kematian inilah aku mempelajari kitab itu,” jawab Ling Jin.
“Jurang kematian? Kau jangan bercanda Jin,” ucap Bao Chun yang tidak mau percaya begitu saja.
“Benar kak. Bagaimana bisa kau bertahan di dalam jurang kematian? Tetua agung sekte Pedang Langit saja tidak berani mendekatinya. Apalagi kau yang tidak bisa berkultivasi,” kata Yin Mei Lin.
Ling Jin tersenyum sesaat, lalu energi seorang pendekar bumi tahap menengah memancar dari tubuhnya.
Haaaahhh!!
Yin Mei Lin dan Bao Chun berteriak serempak karena sangat kaget.
“Ka-kau bisa berkultivasi dan-dan te-telah mencapai, pendekar bumi tahap menengah?” Bao Chun berkata dengan terbata-bata.
“Kakak. Kau sudah berada di tingkat pendekar bumi tahap menengah hanya dalam waktu lima tahun?” timpal Yin Mei Lin yang masih tampak tidak percaya dengan peningkatan kekuatan Ling Jin yang sangat mustahil bagi kultivator di dunia tengah.
Ling Jin tersenyum menganggukkan kepalanya.
Seandainya Yin Mei Lin dan Bao Chun tahu bahwa sebenarnya Ling Jin telah mencapai tingkat pendekar pertapa tahap awal, mereka pasti akan mimisan.
“Dan masalah jurang kematian, itu memang benar. Saat ini kita berada di dalam jurang tersebut,” kata Ling Jin.
Yin Mei Lin dan Bao Chun segera keluar dari gua untuk membuktikan perkataan dari Ling Jin.
Qing Long hanya menghela nafas sambil mengipasi wajahnya.
“Hah. Ternyata mereka lebih merepotkan darimu Jin,” gumam Qing Long.
Ling Jin tertawa canggung mendengar gumaman Qing Long kemudian menyusul Yin Mei Lin dan Bao Chun diikuti oleh Qing Long.
Sesampainya di depan mulut gua.
“I-ini?” Yin Mei Lin dan Bao Chun tertegun dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Tebing yang tingginya menjulang hampir menyentuh langit jika dilihat dari bawah. Energi kegelapan dan kematian yang sangat mengerikan melingkupi seluruh area jurang.
“Bagaimana? Apa sekarang kalian percaya jika saat ini kalian berada di jurang kematian?” Qing Long berkata saat tiba di depan gua.
Yin Mei Lin menganggukkan kepala, sedangkan Bao Chun masih tertegun melihat energi kegelapan dan kematian itu.
“Tapi. Bagaimana bisa?” tanya Bao Chun.
“Tentu saja bisa. Sebelum Ling Jin hidup di sekte Pedang Langit, di sinilah dia menjalani kehidupannya bersama kedua kakeknya,” jawab Qing Long.
“Kakek?” timpal Yin Mei Lin.
Qing Long menganggukkan kepalanya.
“Benar. Ling Jin hidup bersama kedua kakeknya di jurang ini. Kakeknya lah yang telah melindungi jurang ini dengan energi kegelapan dan kematian agar tidak ada yang mengganggu ketenangan mereka.” Qing Long menjawab sambil mengipasi wajahnya.
“Oleh karena kedua kakeknya mendapat suatu misi yang sangat berbahaya dari guru mereka, kedua kakek Ling Jin menitipkan Ling Jin ke sekte Pedang Langit,” imbuh Qing Long.
“Kakak. Apakah itu benar?” tanya Yin Mei Lin.
“Benar Lin’er. Bahkan sampai sekarang aku tidak mengetahui siapa orang tua kandungku. Yang aku tahu, selama hidup di sini orang tuaku adalah kedua kakekku,” jawab Ling Jin.
“Kakak. Maafku aku. Aku tidak menyangka masa kecil kakak begitu berat dan tinggal di jurang yang sangat mengerikan dan tidak layak ini.” Yin Mei Lin berkata lalu beranjak memeluk Ling Jin.
Ling Jin menggaruk-garuk kepalanya mendengar perkataan Yin Mei Lin.
“Sangat mengerikan? Tidak layak?”
Bao Chun kemudian bertanya, “ Tapi kenapa kami tidak terdampak energi kegelapan ini Jin? Lalu, bukankah kau tidak memiliki dantian?”
“Itu karena aku telah memasang energi pelindung pada kalian agar tidak terdampak oleh energi ini. Masalah dantian, Ling Jin sebenarnya memilikinya. Hanya saja dantian Ling Jin tersegel karena dantiannya adalah dantian yang istimewa,” jelas Qing Long.
“Dantian istimewa? Dantian apa itu?” tanya Bao Chun lagi.
“Untuk masalah itu, aku tidak bisa memberitahukannya kepada kalian,” imbuh Qing Long.
“Huh. Dasar pelit,” timpal Yin Mei Lin.
Bibir Qing Long berkedut.
“Anak ini.”
“Lin’er. Chun. Masalah jurang kematian ini, aku harap kalian bisa merahasiakannya dari orang lain,” kata Ling Jin.
Yin Mei Lin dan Bao Chun menganggukkan kepala secara bersamaan.
“Baik.”
“Jika saatnya telah tiba, aku akan membawa ayah, bibi Yin dan beberapa tetua sekte Pedang Langit yang membela keluargaku untuk pindah ke sini.” Ling Jin bergumam dalam hati sambil menerawangkan matanya ke atas.
“Aku sudah punya rencana untuk sekte keparat itu.”
Dia teringat saat keluarganya dihina, hanya segelintir orang saja yang bersuara membela mereka. Sedangkan sisanya yang lain bersikap seolah tidak melihat apa-apa.
“Jin, satu bulan lagi akan diadakan turnamen generasi berbakat di benua tengah yang akan diadakan di sekte Rajawali. Aku dan Lin’er akan ikut ambil bagian dalam turnamen itu,” kata Bao Chun.
“Benarkah Lin’er?” tanya Ling Jin.
Yin Mei Lin menganggukkan kepalanya.
“Emmm.”
“Tapi bibi Yin berpesan agar aku tidak terlalu memaksakan diri karena bibi Yin hanya ingin aku mengasah pengalamanku bertarung di turnamen itu,” imbuhnya.
Mendengar penjelasan dari adiknya, Ling Jin berkata, “Hanya mencari pengalaman? Tidak.”
Yin Mei Lin dan Bao Chun heran mendengar perkataan Ling Jin.
“Maksud kakak?” tanya Yin Mei Lin penasaran.
“Aku punya rencana,” ucap Ling Jin kemudian tersenyum misterius.
“Kau dan Bao Chun akan menjadi yang terkuat di turnamen itu.”
kok ini blm sich kapan jd kuatnya