"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi, siapa Senja itu?
Langkah Arsen terhenti di tengah trotoar.
Tatapannya masih tertuju pada Senja.
"...Bagaskara?"
Senja mengernyit bingung.
"Iya?"
Arsen melangkah mendekat.
"Kamu..."
Suara pria itu terdengar lebih pelan dari biasanya.
"...berasal dari keluarga Bagaskara?"
Senja berkedip beberapa kali.
Ekspresinya benar-benar kebingungan.
"Memangnya kenapa?"
Arsen tidak menjawab.
Tatapannya tetap mengunci wajah Senja.
"Saya tanya sekali lagi."
"Nama lengkap kamu..."
"...Senja Naura Bagaskara?"
"Iya."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Tanpa keraguan sedikit pun.
Senja bahkan terlihat heran melihat reaksi Arsen.
"Bukannya Bapak sudah tahu?"
Arsen mengernyit.
"Tahu?"
"Iya."
Senja tersenyum kecil.
"Waktu saya melamar kerja, saya kan ngasih CV."
"Di situ nama lengkap saya juga ditulis."
"Senja Naura Bagaskara."
"Lengkap sama KTP, ijazah, sama berkas lainnya."
"Lagian waktu kontrak kerja juga nama itu dipakai."
"Jadi..."
Senja menatap Arsen polos.
"...bukannya Bapak memang seharusnya sudah tahu dari awal?"
...
Arsen membeku.
Benar.
Semua dokumen karyawan memang melewati divisi HR lebih dulu.
Dan sebagai CEO...
Dia hampir tidak pernah membaca CV satu per satu.
Apalagi milik seorang asisten kreatif yang saat itu belum terlalu dikenalnya.
Yang dia ingat hanyalah nama depan perempuan itu.
Senja.
Bukan nama belakangnya.
Arsen mengembuskan napas pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Dia menyadari dirinya telah melewatkan sesuatu yang sangat besar.
Sangat besar.
Di sampingnya, Senja masih menatap bingung.
"Pak..."
"Memangnya nama keluarga saya kenapa?"
Arsen belum menjawab.
Pikirannya justru melayang bertahun-tahun ke belakang.
Nama Bagaskara bukan sekadar nama keluarga.
Nama itu pernah menjadi salah satu simbol kekuatan.
Lalu...
Menghilang begitu saja.
Dan kini...
Perempuan yang selama ini berada di sisinya ternyata menyandang nama itu tanpa pernah menyadari betapa berharganya identitas tersebut.
Arsen menatap Senja sekali lagi.
Kali ini bukan sebagai bawahannya.
Bukan sebagai perempuan yang sedang ia lindungi.
Melainkan...
Seseorang yang ternyata menyimpan masa lalu jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Di saat yang sama, satu pertanyaan kembali muncul di benaknya.
"Kalau Senja benar seorang Bagaskara..."
"Lalu... kenapa dia hidup sesederhana ini?"
Beberapa saat, keduanya hanya berdiri di trotoar.
Orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka.
Namun Arsen seolah tidak lagi mendengar apa pun.
"Pak..."
Senja melambaikan tangan kecil di depan wajah Arsen.
"Bapak?"
Arsen baru tersadar dari lamunannya.
"Hm."
"Kenapa diam?"
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Kamu... pernah mendengar tentang keluarga Bagaskara?"
Senja mengangguk santai.
"Ya keluarga saya."
"Bukan itu."
Arsen menggeleng pelan.
"Maksud saya... apa Ibu kamu pernah bercerita tentang keluarga besar kalian?"
Senja berpikir sejenak.
"Nggak pernah."
"Sama sekali?"
"Iya."
Arsen mengernyit.
"Kenapa?"
Senja tersenyum kecil, meski senyum itu tampak sedikit sendu.
"Soalnya... sejak kecil hidup saya ya cuma sama Ibu."
"Bahkan saya nggak pernah ketemu keluarga dari pihak Ayah."
"Kalau saya tanya, Ibu cuma bilang mereka tinggal jauh."
"Udah, itu aja."
Arsen mendengarkan tanpa menyela.
"Lalu ayahmu?"
Pertanyaan itu membuat Senja terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia menjawab pelan.
"Ayah meninggal waktu saya masih kecil."
"Saya bahkan hampir nggak punya ingatan tentang beliau."
Arsen menatap Senja cukup lama.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Kalau benar Senja berasal dari keluarga Bagaskara yang ia kenal...
Mustahil kehidupannya menjadi seperti ini.
"Pak?"
"Kenapa Bapak nanya terus soal nama keluarga saya?"
Arsen berpikir beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
"Karena..."
"...nama itu tidak asing buat saya."
Senja tampak penasaran.
"Emangnya keluarga Bagaskara itu kenapa?"
Arsen tidak langsung menjawab.
Dia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Dulu..."
"...ada sebuah keluarga yang sangat berpengaruh."
"Di dunia bisnis?"
"Iya."
"Namanya Bagaskara."
Senja tampak terkejut.
"Hah? Serius?"
"Iya."
"Tapi..."
Senja terkekeh pelan sambil menggeleng.
"Kayaknya cuma kebetulan deh, Pak."
"Saya sama Ibu hidup biasa aja."
"Bahkan dulu Ibu harus kerja keras buat biaya sekolah dan kuliah saya."
"Jadi rasanya nggak mungkin keluarga saya yang Bapak maksud."
Arsen tidak ikut tersenyum.
Justru instingnya semakin kuat mengatakan...
Ini bukan kebetulan.
Saat itulah ponsel Arsen bergetar.
Nama Genta muncul di layar.
Arsen segera mengangkatnya.
"Lapor."
"Tuan..."
"Kami baru selesai mengecek data kependudukan Nona Senja."
Arsen melirik sekilas ke arah Senja.
"Lanjut."
"Ada sesuatu yang janggal."
"Apa?"
"Data orang tua Nona Senja..."
"...pernah diperbarui hampir dua puluh tahun yang lalu."
Arsen langsung mengernyit.
"Diperbarui?"
"Iya, Tuan."
"Perubahannya tercatat resmi."
"Namun berkas sebelum perubahan itu..."
"...sudah tidak bisa diakses lagi."
Tatapan Arsen berubah semakin tajam.
Seseorang...
Telah dengan sengaja menghapus jejak masa lalu Senja.
Dan kini, Arsen semakin yakin bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya bukanlah gadis biasa seperti yang selama ini ia kira.
Arsen perlahan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Namun pikirannya terus memutar laporan Genta.
"Data orang tua Senja pernah diubah..."
"Dan berkas aslinya menghilang..."
Seseorang...
Benar-benar telah menghapus jejak masa lalu perempuan itu.
"Pak?"
Suara Senja kembali memecah lamunannya.
"Bapak kenapa sih?"
"Nggak biasanya bengong sampai segitunya."
Arsen menoleh pelan.
"Tidak apa."
"Bohong."
Senja langsung menyahut.
"Dari tadi wajah Bapak serius terus."
"Pak Genta bilang apa?"
Arsen terdiam beberapa detik.
"Dia hanya menemukan sedikit kejanggalan pada data keluargamu."
"Kejanggalan?"
"Iya."
Senja justru tertawa pelan.
"Ah, paling data administrasi aja."
"Namanya juga Indonesia."
"Kadang data kependudukan suka aneh."
Arsen tidak ikut tertawa.
Baginya...
Ini sama sekali bukan kesalahan administrasi biasa.
"Pak..."
Senja menatap Arsen dengan penasaran.
"Sebenernya keluarga Bagaskara itu sehebat apa sih?"
Arsen menghela napas pelan.
"Kalau memang keluargamu adalah keluarga yang saya maksud..."
"...mereka bukan sekadar orang kaya."
"Tapi salah satu keluarga yang pernah mengendalikan banyak perusahaan besar."
Mata Senja langsung membulat.
"Hah?"
"Sampai segitunya?"
"Iya."
"Loh, terus kok bisa hilang?"
"Itu yang belum saya ketahui."
Senja menggaruk pelan kepalanya.
"Lah, kalau gitu saya juga penasaran."
"Jangan-jangan saya sebenarnya anak konglomerat."
Candanya disertai tawa kecil.
Namun Arsen sama sekali tidak tersenyum.
Karena bagi Arsen...
Kemungkinan itu bukan lagi sekadar candaan.
Melainkan sesuatu yang mulai terlihat nyata.
Saat itulah ponsel Arsen kembali bergetar.
Kali ini bukan Genta.
Melainkan sebuah pesan singkat dari nomor khusus tim intelijennya.
"Tuan, kami menemukan satu foto lama keluarga Bagaskara."
"Menurut kami... Anda harus melihatnya sekarang."
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
Ia membuka foto yang dikirim.
Beberapa detik kemudian...
Pupil matanya sedikit membesar.
Di dalam foto itu tampak sepasang suami istri yang sedang menggendong seorang bayi perempuan berusia sekitar satu tahun.
Yang membuat Arsen membeku bukan foto itu.
Melainkan wajah pria yang menggendong bayi tersebut.
Wajah itu...
Sangat mirip dengan Senja.
Arsen perlahan mengangkat kepalanya.
Menatap perempuan yang sedang berdiri di sampingnya tanpa mengetahui apa pun.
Dalam hati ia bergumam,
"Senja..."
"Sepertinya kamu benar-benar tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
Arsen kembali membuka foto yang dikirim tim intelijennya.
Kali ini ia memperbesar wajah wanita yang berdiri di samping pria bernama Raka Bagaskara.
Semakin diperhatikan...
Semakin jelas.
Bukan Ratih.
Arsen pernah bertemu Ratih beberapa hari lalu di Bogor.
Meski usia bisa mengubah wajah seseorang...
Garis wajah wanita dalam foto itu benar-benar berbeda.
Berarti...
Kalau bayi dalam foto itu memang Senja...
Maka wanita yang menggendongnya bukanlah Ibu yang selama ini membesarkannya.
"Pak?"
Suara Senja membuat Arsen mematikan layar ponselnya.
"Iya?"
"Bapak kelihatan makin serius."
Arsen menggeleng pelan.
"Saya hanya sedang memastikan sesuatu."
"Soal foto?"
Arsen sedikit terkejut.
"Kok tahu?"
Senja tersenyum kecil.
"Dari tadi Bapak lihat HP terus."
"Kayaknya penting banget."
Arsen tidak membantah.
"Memang."
"Tapi belum saatnya saya menjelaskan."
Senja mengangguk pelan.
"Ya udah."
"Saya percaya sama Bapak."
Kalimat sederhana itu membuat Arsen terdiam sesaat.
Percaya.
Padahal perempuan itu bahkan tidak tahu...
Bahwa hidupnya mungkin selama ini dibangun di atas sebuah rahasia besar.
Saat itulah ponsel Arsen kembali bergetar.
Sebuah pesan baru masuk dari tim intelijen.
Tuan, identitas wanita dalam foto belum berhasil dipastikan. Namun kami menemukan satu fakta lain.
Arsen langsung membuka lampiran berikutnya.
Sebuah salinan akta kelahiran lama.
Di bagian atas tertulis jelas.
Nama Ayah : Raka Bagaskara.
Namun...
Kolom Nama Ibu tampak sengaja dihitamkan.
Bukan buram karena usia.
Melainkan...
Disensor.
Seolah seseorang tidak ingin siapa pun mengetahui identitas perempuan itu.
Tatapan Arsen berubah semakin tajam.
"Siapa yang punya akses untuk mengubah arsip negara sampai sedetail ini?"
Kalau identitas ibu kandung Senja benar-benar disembunyikan...
Berarti ada seseorang yang telah merencanakan semuanya sejak puluhan tahun lalu.
Dan kini...
Orang itu mungkin sudah mulai bergerak lagi.