"Kalau memang Mas Dani serius, Mas bisa langsung bilang ke orang tua saya." Ujar Laras.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, malam ini juga aku akan bilang ke orang tua kamu. Dan kalau orang tua kamu setuju, maka kamu juga harus setuju untuk menikah denganku." Jawab Dani santai.
Larasati Dewi Arumsari (20) gadis muda yang bekerja sebagai pengasuh keponakan dari Ramdani Aditya Persada (31) tiba-tiba di lamar oleh laki-laki itu.
Entah apa yang Dani rencanakan sebenarnya. Laki-laki dingin itu sebenarnya memiliki prinsip untuk tidak lagi jatuh cinta apalagi sampai menikah. Lalu bagaimana bisa dia berubah pikiran setelah Maminya berencana menjodohkan dia dengan pengasuh keponakannya itu?
Akankah Dani akan jatuh cinta kepada Laras setelah perjuangan gadis itu? Atau justru Laras yang akan menyerah dan berpaling kepada seseorang yang selama ini mencintai dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Sejak pagi Dani tidak pergi kemana-mana, selain karena memang Dani sedang libur bekerja, Dani memang tidak ada rencana pergi, dia hanya berdiam diri dikamar menghabiskan waktu untuk merokok dan membidikkan kameranya ke Matahari sore. Bahkan saat Mami Irene dan Papi Adi mengajaknya ke acara jamuan koleganya pun Dani menolaknya.
Seperti yang kita ketahui, Dani sama sekali tidak menyukai acara seperti itu. Dani lebih suka berdiam diri di kamarnya.
Sejak pagi entah sudah berapa cangkir kopi yang Dani habiskan. Tapi jangan salah, kali ini Dani membuatnya sendiri. Tadinya Dani ingin meminta Laras untuk membuatkan kopi untukknya, tapi seketika Dani ingat kalau saat ini Laras sedang pulang ke rumahanya. Dan untuk meminta bantuan kepada Dini pun Dani tidak melakukannya.
"Habis?" Dani menatap cangkir kopinya yang sudah kosong. Mau tidak mau dia harus turun ke bawah untuk membuatnya lagi.
Di dapur hanya ada Dini yang entah sedang apa karena Dani tidak peduli.
"Mau buat kopi lagi Mas Dani?" Tanya Dini kepada Dani.
" Iya... " Jawab Dani singkat.
Dini sengaja tidak menawarkan diri untuk membantu Dani membuat kopi. Kenapa? Karena Dini sudah melakukannya sejak tadi, dan yang dia dapatkan hanya sebuah penolakan. Jadi Dini memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.
Dani membuat kopinya dalam diam.
Setelah 2 malam pulang ke rumah, Laras kembali ke rumah keluarga Persada di jemput oleh Pak Asep. Sebenarnya Lala dan Danisa belum pulang, tapi Laras memilih untuk kembali lebih dulu.
Laras sampai di rumah keluarga Persada tepat sesudah maghrib seperti kemarin saat pertama kali datang. Suasana di rumah sedang sepi karena tadi Pak Asep bilang kalau Mami Riana dan Papi Adik sedang keluar untuk menghadiri jamuan dari kolega bisnisnya.
Baru saja Laras akan ke kamarnya, dia berpapasan dengan Dani yang sedang membawa cangkir yang kalau Laras cium dari aromanya adalah kopi.
Laras menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia menyapa Dani, tapi seperti yang sudah Laras duga, Dani sama sekali tidak memperdulikannya. Saat melihat Laras tadi Dani justru memalingkan wajahnya. Laras juga tidak ambil pusing karena itu sudah menjadi hal biasa jika Dani mendiaminya.
"Mbak Dini...." Sapa Laras begitu melihat Dini yang sedang ada di dapur.
"Heyy Ras, udah balik lagi. Gimana kemarin di rumah? Pasti kamu seneng banget bisa kumpul sama orang tua kamu." Ujar Dini kepada Laras.
"Alhamdulillah Mbak, ooo iya, aku dibawain oleh-oleh buat Mbak Dini dan yang lainnya." Ujar Laras seraya menunjukkan paper bag yang dia bawa.
"Waowww, kamu bawa apa? Aku jadi enggak enak nih, nggak ngrepotin kamu kan Ras." Ujar Dini kepada Laras.
"Aku bawa brownies cokelat Mbak, oo iya ini sekalian buat Bu Irene." Laras memberikan 4 kotak brownies cokelat yang dia buat siang tadi.
"Waahh, aku suka banget kue buatan kamu Ras, kemarin yang muffin aja itu enak banget loh. Makasih ya Ras." Dini menerima brownies yang Laras bawa, sekaligus memisahkan brownies yang Laras bawa untuk keluarga Persada.
"Sama-sama Mbak, kalau gitu aku ke kamar dulu ya, belum sholat soalnya." Ujar Laras berpamitan untuk pergi ke kamarnya kepada Dini.
"Oke Ras... "
Sesampainya di kamar, Dani terdiam duduk di tempat tidurnya. Kamera yang sejak tadi menemani kegabutannya mendadak Dani diamkan. Entah apa yang ada di pikiran Dani saat ini tidak ada yang tau.
Lagi-lagi diambilnya sebatang rokok yang tidak pernah jauh darinya. Dani merokok di dalam kamarnya dengan jendela kamar yang dia buka selebar mungkin.
Tiba-tiba pintu kamar Dani di ketuk.
tok... tok... tok...
"Mas Dani... " Suara itu Dani sudah menghafalnya bahkan di luar kepalanya, ya itu adalah suara Laras si pengasuh Lala keponakan Dani.
"Ya masuk." Jawab Dani dari dalam kamar.
Perlahan pintu kamarnya terbuka, Dani mendapati sosok yang sudah 2 hari ini tidak di lihatnya.
" Kalau Mas Dani mau makan, makan malemnya sudah siap." Ujar Karas seraya menundukkan kepalanya.
Selalu seperti ini, jika berhadapan dengan Dani, Laras akan merasakan sesuatu. Tapi yang pasti yang Laras tau ini adalah perasaan takut. Tapi mau bagaimana lagi, Mbok Ijah meminta tolong kepadanya untuk mengatakan ini kepada Dani, jadi mau dia tidak mau Laras harus melakukannya.
"Hmmm, nanti aku akan turun." Jawab Dani.
Saat akan menutup pintu kamar Dani dan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Dani menghentikan langkah Laras dengan memanggilnya.
"Sebentar.... " Ucap Dani tiba-tiba.
Laras menghentikan gerakan tangannya yang akan menutup pintu.
"Iya, kenapa Mas? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Laras dengan nada formal.
"Bawa kopi itu ke bawah, dan buatkan lagi yang baru. Bawa langsung ke kamar." Ujar Dani kepada Laras.
"Iya Mas." Jawab Laras yang kemudian akan menutup pintu kamar Dani lagi dan beranjak pergi dari sana.
"Mau kemana kamu?" Tanya Dani kepada Laras.
Laras terdiam mendengar pertanyaan Dani. Bukankah laki-laki itu yang memintanya untuk membuatkan kopi? Ujar Laras berpikir dalam hati.
"Kan saya bilang yang ini bawa ke bawah, itu ambil cangkirnya di meja. " Ujar Dani menjelaskan.
Dengan takut-takut Laras masuk ke dalam kamar Dani untuk mengambil cangkir kopi yang tergeletak di meja tidak jauh dari tempat Dani duduk saat ini.
"Tidak usah takut saya apa-apakan. Saya tidak berminat dengan gadis kecil seperti kamu." Ujar Dani kepada Laras.
"Apa raut wajahku terlihat sangat jelas?" Ucap Laras dalam hati, karena bagaimana bisa Dani menebaknya dengan benar, kalau membaca pikiran Laras pikir Dani tidak sehebat itu sampai bisa melakukannya.
Laras diam saja mendengar ucapan Dani. Dengan cepat dia mengambil cangkir kopi yang ternyata isinya masih cukup banyak. Lalu kenapa Dani minta untuk dibuatkan lagi kalau kopi yang dia buat tadi bahkan masih belum habis.
"Tapi isinya masih banyak Mas." Entah darimana keberanian itu Laras juga tidak tau, tiba-tiba saja Laras bertanya kepada Dani.
"Memang masih banyak, hanya saja sudah dingin. Saya mau kopi yang masih panas." Jawab Dani singkat. "Ingat, jangan meminta orang lain yang membuat kopinya. Saya hanya memerintahkan kamu, bukan Mbok Ijah ataupun yang lainnya." Ujar Dani mengingatkan Laras.
Laras menganggukkan kepalanya sebelum kemudian benar-benar keluar dari kamar Dani.
"Padahal masih banyak kopinya, bener-bener mubazir." Gumam Laras lirih kepada dirinya sendiri, tentunya kalau mengatakan ini di depan Dani, dia tidak berani melakukannya.
Tanpa berpikir lagi Laras langsung ke dapur untuk membuatkan kopi sesuai dengan permintaan Dani.
"Buat siapa Ras?" Tanya Dini kepada Laras.