Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.
Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.
Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.
Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?
Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?
Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?
Bagaimana kelanjutannya.
Ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Me Time?
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Titi masuk dengan jadual 5 hari kerja dalam seminggu. Titi ingin berolahraga. Lumayan udaranya sangat sejuk. Udara pegunungan yang memanjakan hidung sebagai jalan pernapasan kita ketika menghirupnya. Titi kemarin sudah membeli sepeda di toko sepeda yang letaknya dekat dengan rumahnya. Sepeda lipat beserta perlengkapannya yaitu ada helm, dan seragam khusus untuk bersepeda. Kemarin lupa untuk janjian dengan teman-teman seangkatan CPNS. Mungkin lain waktu bisa diagendakan.
Titi menikmati suasana pagi dengan bersepeda seorang diri. Ternyata di jalan sudah banyak para pesepeda. Titi mengenakan pakaian khusus untuk bersepeda yang warnanya biru dongker. Lengkap dengan jilbab kaos dan helm warna hitam. Tak ketinggalan sepatu olahraga warna hitam dengan sedikit kombinasi warna merah muda. Cukup menarik penampilannya.
Sepeda dikayuh Titi melewati kompleks perumahan, setelah itu belok ke kiri kemudian lurus mengikuti jalan beraspal. Lumayan ramai jalan yang dilalui oleh Titi. Dia melihat ada patung ikan. Titi masih lurus mengayuh sepedanya. Ternyata jalannya menanjak, lumayan menghabiskan energi. Untuk membakar kalori memang salah satu pilihan tepat dengan bersepeda, ditambah dengan pemandangan yang memanjakan mata. Ini merupakan refreshing yang bisa kembali menyegarkan otaknya. Me time yang benar-benar menyenangkan.
Titi melewati pasar ikan. Ada tulisan daerah sentra ikan. Juga terdapat banyak kolam ikan dan sawah yang ditanami padi di kiri dan kanan jalan. Titi melewati juga beberapa rumah makan dengan nuansa alam. Di bawahnya ada kolam ikan dan di atasnya berdiri restoran itu. Ada juga restoran dengan tema rumah kuno. Kapan-kapan semoga Titi bisa mencobanya dengan Mbah Uti dan Mbak Pur atau dengan teman seangkatannya. Tidak enak bila kita makan di restoran seorang diri, seperti orang hilang saja. Tapi sekarang Titi juga bersepeda seorang diri. Walaupun di jalan banyak orang, tetapi tujuan mereka bisa jadi tidak sama dengan Titi. Ah sudahlah... kadang kita juga perlu sendiri. Menikmati waktu sendirian.
Titi mengerem sepedanya mendadak. Sepedanya hampir oleng, ada anak kecil yang tiba-tiba seperti mau menyeberang. Titi benar-benar kaget. Nampak seorang ibu muda yang menggandeng kedua anak balitanya. Yang anak lelaki sepertinya ingin lepas dari gandengan karena ada penjual makanan kesukaannya. Membuat anak itu tidak menyadari ada bahaya di depan matanya. Namanya anak kecil, belum baligh, belum bisa membedakan mana yang bahaya dan mana yang tidak, yang penting keinginannya terpenuhi.
"Maaf ya Mbak, anak saya belum paham. Mbak kaget ya?" kata ibu muda itu dengan suaranya yang panik sambil berusaha memegang tangan anak lelakinya itu yang masih berusaha untuk lepas.
Titi segera turun dari sepedanya kemudian sambil mengatur agar suara napasnya tidak terlalu terdengar nyaring di telinga dan berusaha menjawab ibu tadi "Tidak apa-apa Bu. Saya juga minta maaf. Ada yang luka anaknya Bu?"
Ibu itu menggeleng. "Alhamdulillah, tidak Mbak. Saya malah mengkhawatirkan Mbak, coba silahkan duduk di bangku situ dulu Mbak?" tawarnya kemudian.
Titi segera menuruti Ibu muda itu dan mengikutinya untuk duduk di bangku pada rumah penduduk. Rumahnya asri. Ada pohon mangga di depan rumahnya. Titi meletakkan sepedanya di situ. Kemudian Titi duduk di teras yang terdapat bangku dari kayu jati. Ibu muda tadi masuk ke dalam rumah. Oh... ternyata rumahnya. Terlalu berbahaya kalau rumah depan jalan raya seperti ini tidak ada pintu gerbangnya. Apalagi mempunyai anak balita yang sedang aktif seperti tadi. Titi jadi bergidik ngeri membayangkan. Kalau kejadian tadi menggunakan sepeda motor, bisa lumayan fatal akibatnya.
Ibu tadi mengambil minum dan menawarkan kepada Titi. Titi menerima gelas yang diberikan ibu muda tadi.
"Istirahat dulu Mbak. O iya, nama saya Hesti. Mbak namanya siapa kalau boleh tahu?" tanya ibu muda tadi yang bernama Hesti.
"Saya Titi Bu," jawab Titi dengan pelan. Sesudah minum air putih bisa sedikit mengurangi rasa kagetnya. Sekarang lumayan tenang Titi. Napasnya juga sudah mulai teratur, tidak ngos-ngosan seperti tadi.
"Tadi anak kedua saya. Mahendra namanya. Masih 3,5 tahun. Anaknya aktif sekali. Kadang saya kewalahan. Mbaknya tadi namanya Maharani, masih lima tahun kurang tiga bulan. Ya begitulah keadaannya Mbak Titi. Saya mohon maaf," ucap ibu Hesti dengan menunduk. Tampak kesedihan di matanya. Tetapi Titi tidak berani untuk menanyakannya. Sungguh tidak sopan menanyakan permasalahan orang lain. Apalagi baru bertemu dan baru berkenalan juga.
Titi mengangguk mendengarkan. Entahlah ini sesi curhat atau apa. Dan kalau ditanya kepada orang yang tepat, tentu saja tidak tepat. Titi belum berpengalaman, jangankan punya anak. Punya hubungan dengan seseorang saja, terlalu rumit untuk dideskripsikan. Tetapi memang kadang kita perlu bercerita, menceritakan perasaan kita, bukan hanya ingin mendapatkan solusinya. Akan tetapi ada seseorang yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Itu sudah membuat perasaan kita lega. Titi mendengarkan dengan baik, siapa tahu bisa jadi pelajaran buat ke depannya. Belajar tentang kehidupan, tidak hanya belajar di tingkat formal.
Banyak ternyata yang diceritakan Bu Hesti ini, Titi tetap berdoa semoga Bu Hesti tidak sembarangan cerita kepada orang-orang. Takutnya kalau kita terlalu mudah untuk berkeluh kesah kepada orang lain, akan dimanfaatkan oleh orang tersebut. Nanti bisa-bisa cerita kita diumbar kepada yang lain. Titi tetap berprasangka baik, mungkin saja Bu Hesti percaya kepadanya yang baru pertama kali ditemuinya.
Tiba-tiba dari arah samping rumah ada seseorang yang membuka pintu gerbang. Pintu gerbang dari besi yang berwarna hitam.
"Ada apa Mbak Hesti, tadi aku dengar ada yang menjerit? Mahen atau Rani?" tanya orang tersebut.
Ketika ada suara, secara refleks pandangan mata menuju ke sumber suara.
"Astaghfirullah...," gumam Titi ketika pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata orang tersebut.
Deg...
Deg...
"Mbak.... eh...Bu Titi?" kata Akmal dengan canggung.
Titi mengangguk. Tidak menjawab dan mencoba tersenyum. Meskipun agak kaku senyumnya.
"Kamu kenal Mal?" tanya Bu Hesti.
"Iya Mbak, Bu Titi ini dosen Akmal," jawab Akmal.
Bu Hesti melebarkan matanya. Nampak tidak percaya. Masih muda begini ternyata sudah menjadi dosen. Dirinya berpikir kalau Mbak Titi masih sekolah atau kuliah.
"Maaf Bu Titi, saya tidak tahu kalau Bu Titi seorang dosen," jawabnya malu.
"Ya Allah...masih muda begini, sudah jadi dosen. Aku kira masih sekolah atau kuliah," ujar Bu Hesti masih dengan pandangan kagum.
"Tidak apa-apa Bu Hesti. O iya Bu Hesti, karena tadi putranya tidak apa-apa. Saya mohon pamit. Ingin melanjutkan jalan lagi," ucap Titi.
"Istirahat dulu Bu. Saya ambilkan minum lagi?" tawar Bu Hesti.
"Sudah Bu."
"Ini tidak ngobrol dengan mahasiswanya dulu Bu. Atau mampir ke rumah Akmal?" kata Bu Hesti.
Akmal jadi menggaruk kepalanya. Dia lupa tidak menawarkan untuk mampir kepada Bu Titi.
"Iya Bu, silahkan mampir dulu Bu," kata Akmal.
Titi menolak dengan halus. "Lain kali saja ya?"
Titi segera beranjak setelah pamit kepada Bu Hesti. Dia mengambil sepedanya yang diletakkan di dekat pohon mangga.
"Tunggu Bu," ucap Akmal.
"Ada apa?" jawab Titi. "Ini mau me time malah ketemu dia lagi."
Ayo ada apa??
Bagaimana kelanjutannya??
Ikuti terus ceritanya..
Minta tolong kepada pembaca, apabila setelah selesai membaca mohon berkenan untuk menekan tombol like dan memberikan komentar dll. Terima kasih semuanya.
..
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.
keren.