Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keluarga Winata di gegerkan oleh berita kehilangan Faisal siang itu. Tangis Ratri, juga tangis Gibran hingga sesegukan tanpa henti, membuat Pram tertekan luar biasa.
Bukan tanpa alasan. Hilangnya Faisal tanpa kabar, ada andil dirinya juga yang belakangan menekan Faisal dan mendiamkannya.
Ratri tak henti-hentinya menangisi kepergian putranya yang mendadak dan tanpa kabar. Berbagai bayangan buruk dan kemungkinan di luar nalar, membuat Ratri seperti seorang paranoid belakangan ini.
"Apa sudah ada informasi, Fian?".
Pram bertanya dengan suara datar dan sikap tenang.
Namun raut wajahnya sangat diliputi kecemasan.
"Belum pak. Pihak kantor juga tidak tau bahwa mas Faisal pergi kemana. Tidak ada satu pun yang tau perihal kepergian mas Faisal."
Fian bergumam lirih.
Mereka tidak tau saja, bahwa Faisal menutup rapat jejak kepergiannya. Bahkan pihak kantor pun sudah memiliki kesepakatan dengan Faisal agar kepergian Faisal tidak terlacak.
Di sisi Ratri, mbok Ijah duduk dan menunduk dalam di lantas beralaskan permadani mahal dari Saudi. Sesungguhnya, mbok Ijah pun tak tau Faisal pergi kemana. Mbok Ijah juga lah saksi kunci dari derita Faisal selama ini.
Mendesah lelah, Pram lantas membuang pandangannya pada mbok Ijah.
"Mbok, simbok ingat tidak, sebelum Faisal pergi, apa yang dia katakan?".
"Ndoro Faisal hanya menitipkan salam dan maaf untuk panjenengan ndoro, ndoro putri, ndoro Fian, ndoro Melati dan ndoro Gibran. Mungkin, suatu saat ndoro Faisal dan kedua putrinya akan kembali. Tapi entah kapan. Yang ndoro Faisal butuhkan saat ini hanya menyendiri dan merenungi semua tentang dirinya".
Mbok Ijah menjawab dengan tenang. Wanita itu, sebenarnya kecewa akan kepergian Faisal.
Bukankah dengan kepergiannya, itu sama saja Faisal melarikan diri masalah?
Tapi tak dapat mbok Ijah pungkiri, Faisal memang tersiksa atas semua yang menimpa dirinya.
"An...anak itu kena....pa main pergi-pergi.... saja?".
Celetuk Ratri tiba-tiba dengan derai tangis yang tak bisa di tahannya lagi. Tangisnya pilu menyayat hati. Memancing rasa iba yang sulit di kendalikan. Suaranya terseguk dalam hingga kalimatnya tersendat-sendat.
Melati dan Gibran kini saling rangkul dengan Gibran.
Terjawab lah kini apa yang menyebabkan firasatnya tak nyaman semenjak kemarin.
"Aku menyesal belakangan ini mengabaikannya.".
Tukas Pram kemudian. Se-benci apapun dirinya terhadap Faisal, se-besar dan se-fatal apapun kesalahan yang putranya lakukan, Faisal tetaplah anaknya.
Sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, Kesalahan Faisal juga ada andil dirinya yang merasa kurang bisa mendidik Faisal.
"Kamu... kamu harusnya mendengar apa keluh kesahnya, mas. Bukan mengabaikannya. Sejahat apapun dia, seburuk apapun dia, dia tidak akan menempuh cara kotor bila pikirannya tertutup perasaan nya terhadap Melati!".
Cela Ratri pada suaminya. Tangisnya masih bertahan, sakit hatinya terhadap suaminya masih bertahta dalam hatinya.
"Tutup mulutmu Ratri!".
Ratri terhenyak.
Selama pernikahan mereka, Pram adalah pria yang lembut tak pernah sekalipun melontarkan bentakan terhadap istrinya.
Sebagai seorang ibu, Ratri tentu tak terima bila anaknya di abaikan. Ratri sendiri tahu bahwa kesalahan Faisal sulit...sangat sulit atau bahkan tak bisa di maafkan. Tapi Faisal sudah meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki diri.
Sekarang, Faisal sudah pergi. Sudah sangat terlambat baginya untuk mencegah, karena Faisal tak meninggalkan jejak apapun untuk menutupi arah kepergiannya.
Ratri bungkam.
Begitu juga Engan Fian dan Melati. Terlebih lagi mbok Ijah yang tentu paham situasinya kini semakin rumit.
"Eyang Kakung..... Jangan marahin eyang putri..... Kasihan. Ayah pasti pulang..... Adek-adek Iban juga pasti kembali. Mungkin, ayah masih ngambek karena di pukul eyang tempo hari. Tapi ayah Iban orang baik, pasti nggak akan lama ngambeknya. Jangan sedih, ya. Ayah nggak akan betah ninggalin Iban lama-lama".
Celetuk Gibran dengan polosnya.
Semua orang tersentuh dengan kemurnian hati anak ini. Ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga ayahnya dan papa sambungnya ini. Yang ia tahu, mereka sedang dalam masalah dan ia tak boleh ikut campur.
Hanya saja, Gibran merasa sedih karena harus berpisah lagi dengan sang ayah yang baru saja bertemu dengan dirinya.
"Iban.... jangan mikir yang macem-macem, ya. Papa akan cari ayah Sampek ketemu. Bantu doa ya sayang".
Fian mendekat dan merangkul istri dan anaknya. Hatinya berkecamuk antara rasa kecewa, bercampur rasa bersalah. Marahnya masih bercokol dalam hatinya. Tapi biar bagaimana pun, Faisal adalah kalanya. Mereka besar dan tumbuh bersama.
Ratri hanya terpekur dalam diam. Nafasnya terasa sesak tanpa bisa di tahan. Wajahnya memucat seiring rona di wajah nya yang menghilang petlahan dengan sanaygt tragis.
~~
~~
Faisal menatap nanar kedua anaknya yang terlelap di dalam kereta api. Putri tertidur pulas di kursi tepat di hadapan Faisal. Sedang Risti.... anak itu rewel semalaman dalam pangkuannya. Beruntung, kini Risti sudah bisa tertidur pulas.
Ingatan Faisal kembali pada kejadian demi kejadian memilukan beberapa waktu terakhir yang menimpa dirinya dan rumah tangganya.
Andai Rianti masih hidup, pasti Faisal akan menumpahkan keluh kesahnya pada Rianti. Meski terkesan egois, namun sesungguhnya Rianti orang yang baik. Ia bahkan menerima Gibran dan memperlakukan Gibran seperti kedua anaknya, putri dan Risti.
Sayangnya, Rianti telah lebih dulu menghadap sang kuasa. Mungkinkah ini hukuman? Faisal menyesali kebodohannya.
Kini, pikirannya masih tertuju pada Melati. Wanita yang ia hancurkan berkali-kali. Terlebih lagi Gibran, anak sulungnya.
Faisal kembali menangis dalam diam. Belum sempat Faisal menebus dosa-dosa nya di masa lalu terhadap Melati dan Gibran, kini ia kembali menorehkan luka yang lebih pedih terhadap Melati.
"Ayah janji ayah akan kembali, Gibran..... Ayah janji ayah akan menebus semua penderitaanmu dan ibu mu.Sekalioun harus membayarnya dengan nyawa ayah. Ayah minta maaf. Maaf. Maaf. maaf......"
Lirihnya dalam hening.
Faisal ingin pergi sementara hingga suasananya kembali normal. Dalam keadaan memanas seperti ni, Fian dan Pram sangat sulit di ajak berkomunikasi. Sekedar mengucap maaf saja, Faisal seperti tidak di beri celah kesempatan sekali saja.
Beruntung, kantor pusat mengabulkan permintaan nya untuk mutasi ke daerah yang jauh. Tentu dengan banyak pertimbangan dan kantor bersedia merahasiakan kemana ia akan di mutasi.
Dering ponsel Faisal berbunyi. Hanya mbok Ijah yang ia ijinkan mengetahui nomor nya yang baru. Satu-satunya kepercayaan Faisal agar menyampaikan keadaan keluarga Faisal di Yogya.
"Ada apa, mbok?"
"Ndoro, bagaimana kabar ndoro dan non Risti serta non putri?".
"Baik, mbok. Mungkin satu jam lagi saya akan sampai di Banyuwangi".
"Hati-hati bekerja dia sana, den. Simbok pesen tetep jaga kesehatan dan anak-anak juga.
Keluarga di sini.......".
"Kenapa, mbok?".
"Ndoro putri syok dan beberapa kali pingsan".
Hening sejenak, Faisal tengah memikirkan keadaan ibunya yang sebenarnya berat ia tinggalkan".
"Saya titip ibu, mbok. Tolong jaga ibu. Kalau ada apa-apa.....kabari saya. Oh ya, bagaimana dengan Gibran?"
"Den Gibran baik, justru dia berharap ndoro Faisal tidak lama perginya".
"Saya titip Gibran..... dan ibunya ya, mbok. Saya pasti kembali. Entah kapan. Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak saya, Gibran.... dan ibunya. Semoga mereka selalu sehat".
"Amin.... hati-hati, ndoro.".
"Ya, terima kasih, mbok".
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩