NovelToon NovelToon
Bagaimana Dengan Ku?

Bagaimana Dengan Ku?

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:324.1k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉

💐selamat membaca💐

Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.

"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.

"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.

"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.

Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjelasan

Ketika Elsa hendak dimasukkan ke dalam mobil, tiba-tiba salah seorang yang memapah Elsa, ditarik dari belakang,

BUG ......

BAK .....

JEDUG .....

BRAK .....

GEDEBUG ....

KROSAK ....

Aksi pukul memukul pun terjadi. Untunglah, disaat terakhir, Juna dan Bima datang menolong.

Dua lawan tiga. Beruntung, ketiga pria itu dalam pengaruh alkohol, sehingga pertarungan gaya bebas Juna dan Bima pun bisa melumpuhkan mereka bertiga.

Elsa yang terkulai lemah di lantai parkiran pun kemudian dipapah Juna dan Bima masuk ke mobil juna.

Elsa nampaknya sudah sangat mabuk hingga tak sadarkan diri di dalam mobil Juna.

“Gawat nih! Anak perawan Pak Haji mabok!” kata Bima gusar.

“Kenapa tadi bisa kelupaan dia sih? Kacau bener-bener! Udah target ilang! Si Elsa jadi kaya gini!” gerutu Juna sambil memukul setir mobilnya.

“Kita pikirin Levynya ntar lagi aja, Bro! Sekarang, gimana caranya kita balikin Elsa ke rumahnya!” ujar Bima.

“Lu bener! Kita urus Elsa dulu!” seru Juna.

“Duh! Mana pakaiannya kaya gitu lagi! Dia bawa baju ganti 'kan tadi sore?” tanya Bima.

“Dibilang ada juga, emang lu mau gantiin bajunya, gitu?” seloroh Juna.

“Ogah...bisa kena pukul abangnya ntar! udah gitu, diceramahin panjang lebar sama Pak Haji lagi!” jawab Bima bergidik membayangkan hal yang menurutnya mengerikan itu.

“Bentar gue mikir dulu!” Kata juna.

“Apa kita telepon Pak Hajinya aja? Terus bilang, kalau si Elsa nginep di rumah temennya gitu?” kata Bima.

“Bim, lu kalau ngasih ide yang bener dong! Dikira anak sekolah apa! Alasan nginep di rumah temen gara-gara ngerjain tugas! Mana percaya Pak Haji!” jawab Juna.

“ 'Kan belum di coba,” kata Bima.

“Ini bukan waktinya percobaan! Ini urusannya balikin anak perawan orang yang lagi mabok, Bim!” kata Juna.

“Ide lu apa?” tanya Bima.

“Gue coba telepon sepupu gue dulu. Siapa tau, dia bisa bantu!” kata Juna sambil mencari nomornya di HP nya.

“Sepupu lu? Siapa?” tanya Bima.

“Dina!” jawab Juna singkat.

“Yang perawat itu?” tanya Bima.

“Iya!” jawab Juna singkat.

Pada deringan ketiga, Sambungan telepon On,

“Halo, Din!” sapa Juna.

“Kenapa lu? Malem-malem gini telepon gue?” tanya Dina dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Lu lagi di mana?” tanya Juna.

“Rumah lah! Pake nanya!” jawab Dina.

“Gue butuh bantuan lu! Sekarang, kita ketemu di rumah sakit tempat lu kerja!” kata Juna.

“What? Gila lu! Tengah malem gini?” tanya Dina seraya melihat jam di layar HP nya.

“Urgen! Gue tunggu sekarang!” kata Juna.

“Yaelah! Iya! Iya! Gue siap-siap dulu!” jawab Dina yang dengan sempoyongannya menuju kamar mandi.

Sekitar setengah jam, Juna sampai di Rumah Sakit, disusul oleh Dina lima belas menit kemudian.

Dina segera menghampiri mobil Juna yang terparkir di samping mobilnya.

“*U*rgen apaan sih?” tanya Dina langsung.

“Hai, Din!” sapa Bima.

“Hai!” jawab Dina singkat.

“Masukin dia ke ruang rawat!” jawab Juna sambil menunjuk ke tempat duduk belakang.

Dina melongok ke dalam mobil Juna yang ternyata ada seorang wanita dengan pakaian minim bahan sedang tergeletak tak sadarkan diri.

“Wah! Gue nggak ikutan! Ini kriminal 'kan!” kata Dina yang terkejut mendapati hal itu.

“Bantu gue, please!” mohon Juna.

“Jelasin dulu ke gue! Ini tuh maksudnya apa?” tuntut Dina.

“Dia Elsa! Lu kenal ‘kan!” kata Juna.

“Hah! Elsa?” tanya Dina yang semakin terkejut dan kembali melongok ke dalam mobil Juna.

“Dia diserang tiga orang pria di club malam. Salah kita berdua udah ninggalin dia sendirian. Singkat cerita, dia pingsan gara-gara mabok,” tutur Juna.

“Gila! Ini Elsa yang Bapaknya Haji itu ‘kan! Lu kalau bawa cewe, lihat-lihat napa, Jun? Kalau bapaknya tau anaknya diajakin ke tempat begituan gimana?” kata Dina mengomel sangkin paniknya.

“Makanya gue minta tolong ke elu, Din!” kata Juna.

“Tolongin gimana?” tanya Dina.

“Ya itu tadi, masukin dia ke ruang rawat! Lu gantiin bajunya pakai yang ada di tas itu!” jelas Juna.

“Wait! Gantiin baju? Sampe seniat itu lu, Jun?” cecar Dina.

“Entar gue jelasin semuanya. Sekarang lu harus bantu gue, please!” kata Juna memohon.

Akhirnya, dengan terpaksa, Dina melakukan apa yang diminta Juna.

Elsa dimasukkan ke dalam ruang rawat dan kemudian, Dina mengelap badan Elsa yang berbau alkohol yang sangat menyengat. Dina juga mengganti pakaian Elsa dengan pakaian yang Elsa pakai saat pamit pergi keluar rumah.

“Dia udah bersih sekarang! Tapi ... ,” kata Dina terputus.

“Tapi kenapa?” tanya Juna.

“Nggak papa deh! Ya udah, gue balik dulu. Besok gue jaga pagi. Entar gue urus lagi dia!” kata Dina.

“Oke! Thanks ya, Din!” kata Juna.

“Sama-sama! Udah, mending orang tuanya di kabarin aja! Takutnya mereka khawatir!” kata Dina.

“Oke!” sahut Juna.

Sepeninggal Dina, Juna masuk ke kamar rawat Elsa diikuti Bima.

“Gue ngerasa salah banget sama dia, Bim! Pasti si Elsa ketakutan banget tadi!” kata Juna yang berdiri di samping Elsa.

“Gue juga salah! Harusnya, gue langsung bilang aja ke elu, kalau kita ketinggalan sesuatu pas di parkiran tadi,” kata Bima yang sama-sama merasa bersalah.

“Gue terlalu fokus buat nangkep si Levy, sampai gue lupa sama temen sendiri,” kata Juna lagi.

“Ya udah lah! Untung kita datang tepat waktu ‘kan! Elsa masih baik-baik aja sekarang, Bro!” kata Bima.

“Iya! Kita gantian jaga. Lu istirahat aja dulu, Bim. Biar gue yang jaga duluan!” kata Juna.

“Oke! Hoammmm ... Gue juga udah ngantuk banget. Gue tidur dulu ya, Bro!” kata Bima yang lalu tertidur di sofa yang ada di ruang rawat itu.

Juna yang memilih untuk berjaga duluan, memilih duduk di kursi lipat yang ada di samping ranjang Elsa.

Fikirannya melayang, mencari alasan untuk ia berikan ke orang tua Elsa ketika menjelaskan keadaan Elsa yang sekarang ini.

Di tengah lamunannya itu, terdengar bunyi HP Elsa dari dalam tasnya.

Juna mengambil HP itu dan dilihat ternyata ada nama 'Abah' tertera di layar.

Juna memberanikan diri mengangkat panggilan itu. Digesernya tombol hijau ke kanan,

“Halo! Assalamualaikum!” sapa Juna.

“Waalaikumsalam! Siapa ini? Ini hand phone anak saya!” kata suara di seberang.

“Ini Juna, Bah!” jawab Juna.

“Siap nggak siap, harus siap! Semoga jawabanku bisa diterima mereka!” batin Juna.

“Juna? Mana Elsa?” tanya Abah mulai bernada tinggi membuat Juna merem-merem.

“El ... Elsa, di Rumah Sakit, Bah!” jawab Juna.

“Astagfirullah! Kok bisa? Rumah Sakit mana?” cecar Abah.

“Rumah Sakit Jakarta Selatan, Bah!” jawab Juna.

“Ya sudah, kamu tunggu di situ! Assalamualaikum!” kata Abah.

“Wa ... waalaikumsalam!” jawab Juna dan telepon pun terputus.

“Mampus gue! Abah ke sini pasti sama abangnya si Elsa!” gumam Juna sambil mengusap wajahnya kasar.

Dan benar saja, Tak berselang lama, Abah datang dengan Abang Akmal, kakak ke dua Elsa yang jago silat.

“Assalamualaikum, Bah!” sapa Juna seraya menyalami tangan Abah dan Bang Akmal.

“Waalaikumsalam!” jawab Abah.

“Kenapa Elsa bisa begini! Gimana kejadiannya?” cecar Bang Akmal.

“Ehm ... El ... Elsa tadi pas lagi bareng kita, dia tiba-tiba pusing dan nggak lama kemudian dia pingsan, Bang!” jawab Juna.

“Nak Juna, memangnya tadi kalian pergi ke mana?” tanya Abah.

“Tadi, kita cuma nongkrong-nongkrong biasa kok, Bah!” jawab Juna sekenanya.

“Kenapa nggak langsung kabarin Abah?” tanya Abah lagi.

“Ehm ... Ma ... Maaf, Bah! Kita tadi panik. Jadi, fokus kita cuma nganterin Elsa ke Rumah Sakit dulu,” jawab Juna dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari pelipisnya.

“Ya sudah! Terimakasih kalau memang kejadiannya seperti itu,” kata Abah.

“Iya, Bah. Sama-sama! Kalau begitu, kami permisi pulang dulu!” kata Juna pamit dan menyalami Abah dan Bang Akmal.

Saat hendak keluar ruangan, Juna teringat Bima yang masih terlelap tidur. Segera, Juna berbalik dan membangunkan Bima.

Bima yang dibangunkan serampangan pun terbangun dengan sempoyongan. Dia kemudian di bawa keluar oleh Juna dan langsung masuk ke mobil.

Juna menarik nafas panjang tanda dirinya sudah lega karena berhasil menjelaskan masalah Elsa kepada keluarganya.

Bima yang memang masih mengantuk pun, tertidur kembali di dalam mobil Juna. Juna pun melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.

.

.

.

.

.

.

.

Sedangkan sore itu di rumah Nenek,

Elang yang mendapat pencerahan dari Elsa, berencana untuk mencari jawaban atas pertanyaannya soal rasa penasarannya dengan masakan yang dia makan di apartemennya.

Clara yang kala itu sudah berada di rumah, sedang duduk santai di dekat kolam ikan dengan Nenek Hera.

“Assalamualaikum!” sapa Elang ketika masuk rumah besar itu.

“Waalaikumsalam! Eh, Den Elang!” sapa Mbok Yem.

“Nenek mana, Mbok?” tanya Elang.

“Ibu dan Non Clara sedang duduk di taman, Den!” jawab Mbok Yem.

“Makasih ya, Mbok!” seru Elang.

Elang pun segera menyusul nenek dan kakaknya.

Kolam ikan yang cukup besar, dengan taman bunga di sekelilingnya. Terdapat dua bangku taman di dekat kolam ikan itu. Di situ adalah tempat favorit nenek saat sedang ingin menenangkan pikiran.

“Assalamualaikum! Wah, lagi santai nih!” sapa Elang sambil menghampiri Nenek dan kakanya.

“Waalaikumsalam! Tumben sore banget sampainya? Baru lepas ashar lho ini!” kata Clara.

“Ra, adek baru nyampe udah ditanyain kaya gitu!” kata Nenek Hera.

“Tau tuh Kakak! Aku ‘kan kangen sama Nenekku yang cantik ini,” jawab Elang sambil memeluk neneknya.

“Elah! Dasar bayi tua!” seru Clara.

“Biarin! Dari pada perawan tua!” kata Elang.

“Wah...minta di piting nih anak! Sini kamu, Dek!” kata Clara sambil menghapiri Elang.

Namun Elang bersembunyi di belakang Nenek Hera yang membuat Nenek Hera ikut-ijutan kena tangan Clara.

“Udah sih! Kalian ini udah sama-sama tuanya kok ya masih kaya anak kecil gitu!” kata Nenek Hera yang bangkit dari tempat duduknya.

“Adek tuh Nek yang mulai!” kata Elsa manyun.

“Dih! Kakak yang duluan!” jawab Elang.

“Udah lah, Nenek mau masuk. Lanjutin aja ributnya berdua,” kata Nenek Hera yang berlalu meninggalkan mereka berdua.

“Kamu sih, Dek!” kata Clara.

“Kakak yang mukul-mukul tadi!” jawab Elang.

“Dih, nih anak. Udah lah!” kata Clara yang ikut masuk ke dalam rumah.

“Yah, ditinggal! Nenek! Kakak! Ikut!” teriak Elang yang kemudian menyusul kedua perempuan itu.

Elang memang sangat dekat dengan keluarganya. Dia manja kepada neneknya, manja kepada Kakaknya, namun dia akan menjadi sosok yang dewasa di depan adik kecilnya.

Nenek Hera kembali ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah diikuti Clara dan juga Elang.

“Kok ikut kesini? Ntar berantem lagi!” kata Nenek Hera.

“Udah damai kok, Nek. Iya kan, Kak!” kata elang sambil mengangkat-angkat alisnya.

“Bodo amat!” jawab clara.

“Hem ... dasar kalian ini! Oh iya El, Nenek juga penasaran sama pertanyaan Clara tadi?” kata Nenek Hera.

“Yang mana, Nek?” tanya Elang.

“Tumben kamu kesinknya sore banget? Biasanyakan paling cepet jam delapan malam baru sampe sini,” kata Nenek Hera.

“Oh ... itu! Aku mau nanya sesuatu sama Nenek. Ada yang mengganggu pikiran ku terus akhir-akhir ini!” jawab Elang.

“Kenapa? Ada masalah di kantor? Apa sama pa ... ,” kataClara yang terpotong karena di senggol oleh Nenek Hera.

“Ups!” gumam Clara sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

“Mau tanya apa?” tanya Nenek Hera.

“Gini, Nek. Aku tuh akhir-akhir ini kepikiran sama masakan yang ada di apartemenku!” kata Elang mengawali.

“Jadi, aku punya asisten rumah tangga, Nek! Dia itu tiap sore masakin aku makan malam. Aku cukup suka masakannya. Hampir tiap hari aku tuh selalu makan malam di apartemenku dan nggak pernah makan di luar. Jadi aku sampai hafal rasa masakannya,” tutur Elang.

Mendengar penuturan Elang, Clara pun cekikikan. Nenek Hera yang melihat kelakuan Clara, langsung berdehem dan membuat Clara terdiam.

“Ehem! Terus, masalahnya apa, El?” tanya Nenek.

“Anehnya, kemaren pas makan malam di sini, aku ngerasain rasa masakan yang sama. Aku udah pernah cerita ke Nenek sama Kakak 'kan kalau masakan waktu itu nggak asing buat ku!” kata Elang.

“Berarti yang masak orang yang sama!” celetuk Clara yang langsung disenggol Nenek.

“Emang yang kemarin masak siapa, Nek?” tanya Elang.

“Kamu nggak inget?” tanya Nenek balik.

“Ehm ... ," gumam Elang berfikir.

“Dasar bayi tua! Baru kemaren udah nggak inget! Hahahhaha ...,” seloroh Clara tertawa melihat muka adiknya yang kebingungan.

“Emang siapa Nek?” tanya Elang.

“Hem ... inget-inget sendiri aja ya!” jawab Nenek.

“Yah, Nenek! Ayo lah, Nek!” kata Elang.

“Udah lupa ya udah!” jawab Nenek.

“Nek, ayo lah! Eh ... bentar, Ayu! Iya Ayu! Yang waktu itu masak di sini Ayu 'kan!” kata Elang dengan ekspresi bak orang yang berhasil menjawab pertanyaan quis berhadiah.

“Iya 'kan nek. Si Ayu itu 'kan yang masak?” tanya Elang.

“Cepet juga ya ingetnya!” jawab Nenek.

“Hehehe .... Namanya hampir sama ‘Ayo!’ sama ‘Ayu’ jadi keinget langsung! Hehehe ...” kata Elang.

“Iya, memang yang masak waktu itu ayu! Terus kenapa?” tanya Nenek.

“Memang ayu ini siapa sih, Nek?” tanya Elang.

“Ayu itu temennya Nenek!” celetuk Clara yang lagi-lagi mendapat senggolan dari Nenek Hera.

“Temen?” tanya Elang

“Iya, Ayu itu temen Nenek. Dia udah bantuin Nenek beberapa kali. Dia itu anak yang baik. Setiap ketemu, pasti dia perlakukan Nenek dengan sangat baik dan sopan. Nenek seneng kalau lagi sama dia. Apalagi, dia seumuran sama adek mu. Bisa jadi obat kangen Nenek sama Caca!” jelas Nenek.

“Emang ketemu dimana?” tanya Elang.

💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

**Hai readers...jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😊

terimakasih yang udah berkenan mampir dan yang udah dukung karya ku ini🙏**

1
Pensil Keajaiban
halo kak 😁
Pensil Keajaiban: siap kak 😁
total 2 replies
Nur Ahmadsaefudin
aq mampir ki.. tag jajal ceritane apek ra.. aq seneng boso jowone... he he.. ws tamat iki, mak..?
🐌KANG MAGERAN🐌: wis mbak yu, iki novel pertama dadi pasti oakeh salahe lan amburadul🤭tp nek alure kayane apik🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rita Rusdiana
kasihan Yudi. nasib Elang dan Yudi ada di tangan author
🐌KANG MAGERAN🐌: sabar kak🤧
total 1 replies
𝕾𝖆𝖒𝖟𝖆𝖍𝖎𝖗
Goo semangat up-nya
Janah
Alhamdulillah
Janah
😭😭😭😭
Janah
oke semangat Thor 💪😘😘❤️ ❤️❤️
VBEAR
semangat terus kak 💪🤗
Askadina
trimakasih,tapi saya gakpunya IG ,cuma WA aja, no wa saya 085246023229 🙏🙏
🐌KANG MAGERAN🐌: oke kak, nunggu yg lain dulu ya🙏
total 1 replies
Novita Sari
terima kasih kak,tapi cara nya gmn ya😀
Novita Sari: kak, terima kasih pulsanya semoga sukses selalu 🙏😍
total 5 replies
VBEAR
kembali membaca secara perlahan 😄
Askadina
ceritanya seru,gak terlalu berbelit belit
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
Novita Sari
yah kok tamat sih,lanjut kisah Bianca kak, 😍
Irna Mairani
sy telat bacanya jd gk dpt pulsa geratisanya 😭 tp ceritanya ok bangett
Prapti Handayani
Alhamdulillah...akhirnya...seneng deh kalau semua bahagia.tinggal nunggu yudi dan Bianca nikah ni.
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
Mey
Alhamdulillah... akhirnya dibalik kesusahan ada kemudahan..dibalik kesedihan ada bahagia yg menanti..ikut bahagia aq Thor ..❤️itu hikmah yg bisa ku ambil dr baca ceritamu..makasih pembelajaran nya..🙏👍
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
Siti Balqis
bagus ceritanya Thor tambah bonus ya biar tambah seru
Mey
yud..buruan dihalalin aja Bianca..biar bebas sosornya..gak dosa..🤭🤭
lanjy Thor..💪😍
🐌KANG MAGERAN🐌: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Prapti Handayani
Perasaan kok hri ini upnya dikit amat y thor???
🐌KANG MAGERAN🐌: sama kok kak😭😭😭😭1000k lebih ini🤔mungkin karena terlalu asik baca kali ya🤭✌
total 1 replies
Mey
selamat ya mas Elang n ayu..menjadi ayah n bunda.. selamat datang di dunia n hadir di keluarga Airlangga baby Adiba..😘😘❤️
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih Onty
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!