Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara di Sebuah Rumah.
,Nala mengangguk menanggapi ucapan anak kecil tersebut. Anak kecil itu berpikir sesuatu. "Kamu mau menemani aku bermain sepak bola?" tanyanya cepat.
"Apa? bermain sepak bola? tapi aku kan anak perempuan, dan sepak bola adalah permainan anak laki-laki,"
"Katanya kamu mau memenuhi semua permintaan aku?" muka kecil anak itu berkerut. "lagian kamu kan mukanya seperti cowok, pasti kamu bisa bermain bola," lanjutnya
"Ya ampun! masak muka aku seperti cowok? masak iya?" Nala menoleh pada bibinya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kalau kamu cewek, kenapa muka kamu tidak memakai yang merah-merah di bibi itu seperti mommyku yang cantik, dan wanita yang pernah mencari kakak aku di rumah, mereka mukanya cantik-cantik karena wajahnya ada warnya, aku lupa apa namanya?"
"Oh itu make up, aku tidak suka memakai itu, terlalu ribet, cukup cuci muka dan gosok gigi sudah bagus, eh jadi menurut kamu aku jelek, ya?"
"Enggak, kamu cantik, sangat cantik. Mau bermain bola denganku?" tanyanya kemudian.
Nala tersenyum, dia membantu anak itu berdiri, dan Nala dengan lembut membersihkan luka pada lututnya. "Aku sebenarnya mau menemani kamu bermain, tapi aku di sini mau membantu bibi aku bekerja. Lainnya saja, apa kamu mau coklat atau permen? aku membawa coklat dan permen, kebetulan aku kalau malam suka lapar jadi aku simpan beberapa coklat dan permen." Nala merogoh kedalm tasnya.
"Aku tidak mau, lagian aku bukan anak kecil yang bisa di suap dengan makanan itu, di kamarku malah banyak sekali makanan seperti itu, dan lebih enak," ujarnya sombong.
"Iya, Sih! aku ini saja beli di warung depan rumah." Nala memasukkan lagi,permendan coklatnya yang tinggal sebungkus kecil.
Pria kecil itu mendekat ke arah bibi Anjani. Dia memegang tangan bibi Anjani. "Bi, bilang sama mommy aku kalau aku senang bermain dengan pelayan baru yang bibi bawah ke sini," celetuknya.
"Tapi.Tuan Muda Orlaf, Nala ponakan saya ini mau membantu saya menyiapkan segalaya di dalam rumah."
"Ayolah, Bi, aku mohon, aku hanya ingin ditemani bermain, kakak-kakakku kan pada sibuk sendiri, dan mommy juga selalu tidak ada waktu, dan keluarpun aku juga tidak pernah." Tangan pria kecil itu melipat memohon pada Bibi Anjani.
"Bi, apa tidak boleh aku menemani di sebentar saja? kasihan dia, dia sepertinya ingin memiliki teman untuk mengajaknya bermain," ucap Nala yang malah ikut memohon pada bibi Anjani.
"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh menemani dia, tapi jangan lama-lama, nanti bibi tunggu di dalam, kamu kalau lewat di depan pintu belakang saja, jangan pintu utama ya, Nala?" jelas bibi Anjani dan Nala mengangguk.
Bibi Anjani berjalan pergi dari sana, dan Nala tersenyum pada pria kecil itu. "Baiklah! kita akan main sepak bola, kamu di sebelah sana, dan aku jaga di sini," terang Nala.
"Tunggu, nama kamu siapa?" tanya anak itu.
"Namaku Nala, dan kamu Orlaf, Kan?" tebak Nala.
"Iya, aku Orlaf. Senang berkenalan dengan kamu Nona nala, Aku bolehkan memanggil kamu Nona Nala?"
Nala mengangguk, biarkan saja lah, suka-suka dia mau memanggil apa, Nala tidak mau ambil pusing, yang terpenting, panggilannya sopan.
Nala akhirnya menemani Orlaf bermain sampai dia merasa sangat senang, dan lupa akan luka di kakinya. Mereka berdua kemudian duduk bersama. Nala bertanya apa Orlaf di sana tidak memiliki teman, dan pria kecil itu mengatakan jika dia tidak punya teman, dia sering beramain sendirian, kedua kakaknya sibuk dengan pekerjaanya.
"Apa kamu mau tiap hari ke sini menemani aku bermain, Nona Nala?"
"Aku? tentu saja tidak bisa, aku harus bekerja kalau pagi, dan kalau malam aku harus mengajar les di rumah temanku sekarang, ini saja aku sedang libur dan diminta tolong oleh bibiku."
"Apa kamu seorang, guru?"
"Bukan, aku hanya mantan mahasiswa yang putus kuliah, tapi aku bisa mengajari anak-anak pelajar sekolahnya, Ya setidaknya aku dulu pernah menjadi anak yang pintar di sekolah dan kampusku, walaupun tidak terlalu."
"Apa kamu mau mengajari aku di rumah, aku juga kadang mengalami kesulitan dalam hal pelajar, kamu bisa mengajari aku, Nona Nala?"
Ke dua alisa mata berkerut aneh, "Memangnya kamu tidak punya guru pengajar di sini? pasti orang tua kamu mencarikan kamu guru pengajar yang sangat baik."
"Tidak ada, aku tidak cocok sama mereka, jadi aku tidak mau dijar olehe mereka, dan kadang aku bosan diajar sama mereka," ucapnya malas.
"Tapi aku tidak bisa, Maaf." Nala menjelaskan sama Orlaf kenapa dia tidak bisa melakukan hal itu dan kemudian Orlaf sepertinya menerima dengan sedih.
Nala izin pergi dari sana karena harus membantu bibinya, Nala berjalan perlahan di sana. Saat dia berjalan masih menyusuri taman itu, tiba-tiba dari arah belakang ada suara klakson di belakangnya. Tampak seorang pria di dalam mobil itu dengan kaca mata hitamnya, melihat Nala dari dalam mobil.
lanjuut
lanjuutt