NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nnot Senssei

Note: Ini adalah novel wuxia berlatar belakang zaman dahulu. Jadi jangan disamakan dengan novel sekarang yang sedang marak. Karena sudah pasti akan berbeda jauh.

Ini adalah novel lanjutan dari Kisah Pendekar Maung Kulon edisi pertama.

Di novel ini, perjalanan Cakra Buana yang bergelar Pendekar Maung Kulon atau yang sekarang sering disebut Pendekar Tanpa Nama, akan lebih menantang lagi. Bakal ada banyak intrik, propaganda, siasat, misteri, semuanya mungkin akan dihadirkan di novel ini.

Novel ini akan menceritakan kisah petualangan Cakra Buana di negeri Tionggoan (Tiongkok –kalau tidak kepanjangan mungkin sampai kembali ke Tanah Pasundan lagi–) untuk menyelesaikan tugas dari mendiang Pendekar Tanpa Nama yang menyuruhnya agar memberikan sebuah kitab pusaka kepada Perguruan Rajawali Putih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ou Lin

Si pelayan mengangguk sambil membalas senyuman yang diberikan oleh Cakra Buana. Dia segera kembali untuk menyiapkan makanan yang di pesan.

Pendekar Tanpa Nama memasang telinganya dengan tajam untuk menyadap percakapan yang terjadi di dalam restoran tersebut.

Ternyata banyak juga orang-orang yang sedang membicarakan tentang berbagai macam ilmu silat dari berbagai aliran. Selain itu, dia juga mendengar berita tentang kekacauan dunia persilatan di Tiongkok yang sedang terjadi sekarang ini.

Dalam hatinya dia merasa sedikit kesal. Itu artinya, dia datang di saat yang tidak tepat. Berarti dirinya harus lebih berhati-hati atas apa yang mungkin saja bisa terjadi.

Apalagi ini di negeri orang. Namun walaupun begitu, dia juga sudah tahu bahwa watak orang-orang dunia persilatan hampir sama meski di beda tempat sekalipun. Sifat orang-orang rimba hijau biasanya unik dan beraneka ragam.

Selain itu, mereka sudah pasti banyak yang licik dan berhati kejam. Kalau tidak bisa membaca keadaan dengan cepat, lebih baik jangan mau terjun dalam dunia persilatan. Sebab hal itu sangat membahayakan diri sendiri.

Cakra Buana melihat ada sekelompok meja yang diisi oleh para pendekar. Menurutnya, mereka merupakan pendekar dari aliran hitam. Orang-orang itu bicara paling keras dan tertawa paling nyaring.

Sifatnya jelas membuat para pengunjung lainnya merasa tidak nyaman. Termasuk dia sendiri.

Kalau di negerinya, mungkin Cakra Buana akan memberikan pelajaran kepada mereka. Tetapi karena sedang berada di negeri orang, Cakra Buana lebih memilih untuk menjaga sikap. Setidaknya untuk sementara waktu, hanya itu saja yang akan dia lakukan.

Pesanan datang di antarkan oleh seorang pelayan berbeda tetapi cantiknya sama. Satu nampan makanan dan seguci arak dibawakan oleh gadis itu.

"Silahkan Tuan Muda,"

"Terimakasih," jawab Cakra Buana ramah.

Karena tidak bisa memakai sumpit, apalagi ini pertama kalinya, maka Cakra Buana memilih untuk makan menggunakan tangannya saja.

Dia tahu hal ini sangat memalukan sekali. Tapi apa boleh buat? Rasa malu terkadang kalau oleh rasa lapar.

Daripada dia mati kelaparan? Mending menanggung malu daripada harus mati, bukan begitu?

Cakra Buana mulai menyantap makanan dengan lahap. Dia tahu bahwa ada sebagian pengunjung restoran yang memperhatikan cara makannya yang unik dan terkesan aneh itu. Bahkan dia juga ada ada beberapa orang yang secara tidak langsung menertawakannya.

Tetapi Cakra Buana tidak ambil pusing. Dia terus makan dengan lahap karena makanannya sangat enak.

Di tengah dirinya sedang makan dengan enak, tiba-tiba ada seorang pria berumur Kisaran tiga puluhan sembilan tahun yanh menghampiri keduanya. Orang tersebut memakai pakaian ringkas dan ikat kepala dari kain sutera biru. Pakaiannya sendiri berwarna putih.

Walaupun tidak nampak membawa senjata, tetapi Cakra Buana tahu bahwa orang tersebut sudah tentu orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan.

"Permisi, sahabat, apakah aku boleh ikut bergabung? Kebetulan aku juga makan sendiri," kata orang tersebut dalam bahasa setempat, nadanya ramah dan penuh sopan santun.

Seketika Cakra Buana menghentikan makannya. Dia menelan makanan sampai habis sebelum menjawabnya.

"Ah, boleh, boleh. Silahkan saudara, kebetulan aku juga sedang makan sendirian," jawab Cakra Buana ramah pula.

Orang tersebut langsung duduk di depannya. Kebetulan dia juga membawa makanan yang sebelumnya sudah di pesan. Sehingga mereka bisa makan bersama.

Setelah kedua orang itu memakan habis santapannya, mereka kemudian mulai bicara sambil meneguk guci arak.

"Siapakah nama saudara yang gagah ini?" tanya orang tersebut.

"Namaku Cakra Buana,"

Orang itu ingin tertawa, tetapi dia menahannya. Cakra Buana … jelas, dari namanya saja sudah membuktikan bahwa pemuda itu bukanlah orang asli Tiongkok.

"Saudara bukan asli sini?"

"Betul, aku asli Tanah Pasundan,"

"Wah, ternyata saudara datang dari tempat yang sangat jauh. Tentu niatan kemari ada urusan yang penting bukan?"

Cakra Buana ingin menjawab iya, tetapi setelah dipikir lagi, dia lebih memilih untuk menjawab tidak. Dia harus ingat dan selalu berhati-hati terhadap seseorang yang baru dikenalnya.

"Ah tidak, aku hanya ingin mencari pengalaman saja. Kebetulan ada seorang teman di sini. Jadi kedatanganku sekalian juga untuk berkunjung ke temanku," jawab pemuda itu.

Orang tersebut hanya manggut-manggut sambil tertawa. Kemudian dia memperkenalkan dirinya juga kepada Cakra Buana.

"Nah perkenalkan, margaku Ou dan namaku adalah Lin, aku asli sini,"

"Senang berkenalan dengan anda saudara Ou Lin," kata Cakra Buana sambil tersenyum.

Ou Lin membalas senyuman anak muda itu. Mereka terus bercerita, terlebih Cakra Buana bertanya tentang beberapa informasi termasuk kota-kota besar di Tiongkok ini. Dia tidak berani menyinggung masalah dunia persilatan, apalagi dirinya baru saja tiba di sana dan masih sangat gelap akan keadaan rimba hijau di sini.

Menurut orang bijak, singa memang berkuasa di dalam hutan. Tetapi belum tentu singa itu bisa berkuasa pula di dalam air.

Artinya, seseorang yang mungkin berkuasa di tempatnya, belum tentu juga dia bisa berkuasa di tempat lain.

Sebab beda tempat, beda juga suasananya.

"Cakra, aku harus kembali. Rekan-rekanku sudah menunggu karena jam kerja akan segera masuk. Terimakasih karena kesediaanmu mau berkenalan denganku," kata Ou Lin lalu bangkit berdiri di ikuti oleh Cakra Buana.

Keduanya berjabat tangan lalu Ou Lin segera pergi.

Sedangkan Cakra Buana menikmati araknya lagi. Setelah mulai kenyang, dia berniat untuk membayar biaya makan.

Tetapi kantongnya hilang yang berisi kepingan emasnya hilang. Dia sudah mencari-cari, sudah meraba-raba seluruh tubuhnya, tetapi tetap kantong tersebut tidak ditemukan.

Padahal Cakra Buana sangat ingat bahwa sebelum memasuki restoran, kantongnya masih ada dan tersimpan rapi.

Dia kebingungan, bagaimana caranya untuk membayar biaya makan, sedangkan uangnya saja tidak ada?

Untungnya setelah mencari-cari lagi, ada beberapa kepingan emas yang terselip di sakunya. Dia segera membayar biaya makan, setelah itu Cakra Buana segera keluar dengan tergesa-gesa.

"Haishh, pasti orang tadi yang telah mencuri uangku. Baru juga tiba di sini, sudah mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Hahh … dasar manusia. Bagaimanapun caranya, aku harus menemukanmu," gumam Cakra Buana dengan kesal karena semua bekalnya telah di curi.

Dia harus bergerak cepat. Sebab kalau tidak begitu, orang tadi sudah tentu bakal pergi lebih jauh lagi. Sekarang dia tidak mempunyai apa-apa lagi, yang ada hanyalah buntalan pakaian yang berisi kitab.

Cakra Buana mulai bergerak. Dia menembus orang-orang yang ramai berlalu-lalang. Tidak peduli ke mana arahnya dan tujuannya, yang jelas, pemuda itu mengikuti apa yang dikatakan hatinya.

Suasana mulai sore. Tetapi orang-orang di sana masih ramai dan berdesak-desakan, sebab saat ini Cakra Buana sedang berada di sebuah pasar cukup besar.

Dia mencoba bertanya kepada orang-orang yang ditemui lalu menanyakan Ou Lin sambil menyebut ciri-cirinya, sayang, tidak ada satupun dari mereka yang tahu ataupun yang mengenalnya.

1
Wan Trado
yg sering terjadi tidak mau disalahkan, selalu mencari celah untuk pembenaran
Wan Trado
seseorang yg lagi tinggi tingkat fokusnya harusnya tidak bisa ada perasaan marah bercampur gemas, karena bisa mengakibatkan debar jantungnya meningkat dan aliran darah yg tidak stabil dapat membuat orang yang ditolong juga terkena efeknya.. apa mungkin karena pendekar tanpa tanding yaa sehingga apapun perasaan yang timbul tidak berpengaruh terhadap energi murni yang dikeluarkan..
Wan Trado
bercadar hitam tapi tampak cabang dan kumisnya.. hadehhh
Wan Trado
katanya siap dimadu... helehhh
Wan Trado
berapa orang yg mengerti bahasa Pasundan di Tiongkok sana ling ling, belajar sama mbah..??
Wan Trado
benar-benar bisa bahasa Pasundan ling ling 🤣🤣🤣
Wan Trado
dari Tiongkok sampai kembali ke Pasundan pilihan kedainya selalu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil 😅
Wan Trado
tuh kann, bisa membalas anggukan juga..
Wan Trado
buta kok bisa memandang satu persatu ya..
Wan Trado
yeye harusnya bukan yaya
Wan Trado
tidak ada saksi, semua terbunuh.. bagaimana dan siapa yang menyebarkan beritanya..???
Wan Trado
satu keping emas dan 80 keping perak, dibayar 2 kepung perak, disuruh ambil semua lagi.. 🤣🤣🤣
Wan Trado
yg disebut Liu bing adalah tuan ong, kok jadi tuan Zhu yang dipikirkan cakra.. 🤔
Wan Trado
biasanya orang cina daratan tidak bisa melafalkan kata yang mempunyai dua huruf mati yg berdempetan, jadi mungkin nama cakra bisa jadi dilafalkan ca ke la, begitu ya kira-kira Thor..
Wan Trado
1 0 0 1
Wan Trado
lebih mendekati kenyataan dengan tingkat kehaluan yang rendah, tidak seperti cerita kultivasi yang halu nya tinggi dan hampir tidak ada logikanya.. mantap 👍👍
Wan Trado
jaman itu hitungan jarak dengan hitungan tombak, bukannya meter
Wan Trado
berjabat tangan tidak lazim di Tiongkok
Wan Trado
kalau kisaran umur itu bisanya dalam bilangan genap, misal tiga puluhan,.. kalau disebut tigapuluh sembilan berarti sudah tau pasti dong..
Wan Trado
dijaman itu belum ada tiket ya, jadi bisa naik sesuka hati tanpa melewati pemeriksaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!