Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keusilan Di Pagi Hari
Selepas puas tertawa kedua sahabat itu merebahkan dirinya kekasur.
"Oh iya Hen, menurutmu apa itu bisa disebut sebuah kencan?"
"Itu apa?" Henny mengambil ponsel di atas meja nakas di samping kasur, mencoba mengotak-atik layar ponselnya.
"Tentang tadi, ia mengajakku bermain peralayang. Apa menurutmu itu bisa disebut kencan?" Cinta mengubah posisi tidurnya menjadi ke samping.
"Emm..., mungkin saja, memang kenapa?" Henny mengalihkan intensitasnya dari ponsel canggihnya.
Cinta mulai menceritakan apa yang dikatakan Iqbal saat ia mencoba berterima kasih ketika dalam perjalanan pulang tadi. Henny mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Iqbal itu terkadang seperti bersikap baik padaku, tapi terkadang juga begitu cuek terhadapku, aku jadi bingung dengan perasaannya terhadapku," ungkap Cinta.
"Apa kamu mulai menyukai Iqbal?" tanya Henny, tiba-tiba membuat Cinta bangun dari posisi tidurnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja tidak," jawab Cinta tidak setuju dengan pertanyaan Henny yang menjurus ke pernyataan.
"Kalau begitu tidak ada urusannya untukmu mengetahui perasaan Iqbal terhadap dirimu," ujar Henny mencoba mengetes Cinta dan seolah kembali ia fokus memainkan ponselnya.
"Tidak, aku tidak ada perasaan terhadapnya."
Henny melirik Cinta dari ujung ekor matanya, mencoba mengetahui bagaimana gelagat gadis di sampingnya ini saat mengatakan itu.
"Baiklah, berarti itu tak penting untukmu." Henny sengaja berucap seperti itu agar Cinta mau mengakui perasaannya yang mulai tumbuh terhadap Iqbal.
"Iya-iya, itu tak penting bagiku." Cinta kembali merebahkan diri ke kasur dan membalik tubuhnya membelakangi Henny lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sepertinya Cinta mulai merajuk dengan Henny. Melihat itu Henny langsung melepaskan ponselnya dari tangan, mencoba membuka selimut sahabatnya itu namun di tarik kembali oleh Cinta, "Apa sih Hen? Aku mau tidur." Cinta beralasan.
"Pfftt, kamu merajuk padaku Cin? Aku hanya bercanda, aku mengetesmu aku tau kamu sebenarnya menyukainya, benarkan dugaanku?" ujar Henny masih berusaha membuka selimut yang di tahan oleh orang di balik selimut bermotif bunga itu.
"Tidak, aku tak akan menyukai lelaki berwajah datar dengan sikapnya yang dingin itu."—Cinta semakin merapatkan selimutnya ke tubuh—"sudahlah Hen aku mau tidur, aku mengantuk."
"Alasan, ini baru jam 9 malam Cin. Biasanya juga kamu tidurnya di atas jam 10."
Henny memang tau kebiasaan sahabatnya yang satu ini yang tidur di jam 10 atau di atas jam 10, karena biasanya mereka berdua akan menghabiskan waktu untuk berkirim pesan ataupun merumpi di grup chat, kadang juga Cinta selalu bercerita ia akan menghabiskan malamnya menonton drama korea terbaru yang ia suka sampai ia harus tidur di atas jam 12.
"Ayolah, Cinta mengaku saja."
Suara Henny yang membujuk Cinta agar mengakui perasaannya dan juga jawaban Cinta yang selalu berkata, "tidak," memenuhi ruangan kamar malam itu.
°°°
Pagi telah tiba, mentari mulai memunculkan wujudnya. Ini hari terakhir mereka di Bali karena keluarga Iqbal dan juga Cinta beserta para sahabat mereka akan pulang ke Jakarta nanti siang.
Pagi-pagi sekali Iqbal sudah mandi membersihkan dirinya. Ibu Fitri juga tante Nadia sedang menyiapkan sarapan pagi untuk semua, hanya berdua tanpa dibantu oleh dua gadis muda yang masih tertidur pulas di balik selimut mereka.
"Mau pergi ke mana pagi-pagi seperti ini Nak?" tanya ibu Fitri melihat anaknya, Iqbal yang sudah sangat rapi masuk ke dalam dapur mengambil air dingin di kulkas.
"Ibu aku sudah menyiapkan tas koperku, tolong bawakan nanti saat ke bandara. Aku mau keluar ada yang ingin aku cari, aku akan menyusul nanti." Iqbal menuangkan air dinginnya ke dalam gelas lalu meminumnya.
"Ibu aku pergi dulu," pamit Iqbal, belum sempat ibu Fitri bertanya mau pergi kemana putra pertamanya itu, Iqbal sudah menghilang di balik pintu.
Ibu Fitri melanjutkan kegiatannya, membantu tante Nadia mengiris beberapa bahan makanan yang sempat tertunda tadi.
Cinta baru saja keluar dari kamar dengan rambut panjangnya yang berantakan itu, berjalan ia ke arah dapur saat alat penciumannya mencium aroma enak dari dapur. Dapat Cinta lihat mangkuk besar berisi sayur sup yang tersaji indah di atas meja makan yang menarik perhatiannya. Ia mengambil sendok yang telah tersedia di samping mangkuk dan mencoba mencicipi sayur sup yang terlihat menggugah selera itu.
"Cinta, mandi dulu Nak," titah sang ayah yang baru saja masuk ke dapur membuat kedua wanita setengah paruh baya itu membalikkan badannya saat menyadari bahwa ada orang lain di dapur selain mereka berdua.
"Cinta? Sejak kapan kamu ada di sini? "—tante Nadia mengambil sendok makan itu dari tangan Cinta—"mandi, baru nanti tante izinkan kamu makan."
"Iihh, Tante kuah sup ini enak sekali, Cinta mau makan dulu baru mandi ya?" ucap Cinta menawar.
Tante Nadia mengangkat tangannya dan menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan pada Cinta tidak ada negosiasi lagi, ia harus mandi baru bisa sarapan.
"Iya Cinta mandi dulu gih, masa menantu tante belum mandi sih sudah pagi begini," usil bu Fitri dengan meledek Cinta agar gadis itu mau mandi.
"Baiklah, Cinta akan mandi. Tapi Cinta ingin jatah makanan yang lebih banyak. Titik tidak ada komplain, masakan kalian berdua sangat enak aku tak ingin merasakannya jika hanya sedikit," canda Cinta membuat kedua wanita di hadapannya itu tersenyum.
"Baiklah, keponakan kesayangannya tante pintar sekali memuji." Tante Nadia sudah akan mencubit pipi chubby keponakan perempuannya itu, namun Cinta mengelak dari cubitan tantenya dengan mencoba mundur selangkah.
"Aku bukan anak kecil lagi Tante, jangan dicubit."—Cinta tersenyum lebar dengan menampilkan deretan gigi ratanya yang begitu bersih dan putih—"muahh, Cinta mau mandi dulu." Cinta mengecup singkat pipi tante kesayangannya itu
"Cin, Henny dengan yang lain masih tidur?"—ibu Fitri menghentikan kegiatannya menata beberapa piring kosong di atas meja—"Nanti bangunkan Henny suruh mandi terus sarapan."
"Baik Tan, terus Aldi dan yang lainnya?" sahut Cinta bertanya.
"Biar tante yang membangunkan,"—ibu Fitri melepaskan apron masaknya—"Nadia, maaf ya tolong teruskan sisanya sebentar."
Rayhan keluar dari dalam kamar mandi di kamarnya, ia baru selesai mandi. Rayhan termasuk lelaki yang mudah bangun pagi, tidak seperti kedua temannya itu. Dilihatnya kedua temannya yang masih setia di alam mimpi.
"Aldi, Eko, bangun," panggil Rayhan masih dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Sudah tiga kali ia mencoba membangunkan mereka namun percuma, keduanya bahkan semakin tidur nyenyak, seakan seruan kecil Rayhan menjadi lagu pengantar tidur bagi mereka.
Terdengar suara ketukan pintu, dengan cepat Rayhan memasang baju kaosnya. Dibukanya pintu kamar, ternyata tersangka pengetuk pintu itu ialah ibu Fitri.
"Iya Tante ada apa?" tanya Rayhan dengan sopan.
"Begini Nak Rayhan, mereka berdua sudah bangun?" Rayhan menggeleng kecil.
"Bisa kamu bangunkan mereka berdua Nak? Lalu suruh mereka mandi dan keluar untuk sarapan."
"Sudah saya coba bangunkan Tan, tapi mereka tetap tak bergerak." Rayhan menyingkirkan tubuhnya ke samping pintu agar ibu Fitri dapat melihat kedua remaja lelaki yang masih tidur pulas itu.
Melongok ibu Fitri melihat ke dalam kamar,"Tante masuk ya, biar tante yang membangunkan mereka."
Seperti Rayhan tadi ibu Fitri juga terus memanggil nama mereka, namun tak ada pergerakan apapun dari mereka yang menandakan mereka mulai bangun.
"Apakah kedua bocah ini masih hidup?" celetuk ibu Fitri dengan sarkatisnya membuat Rayhan menahan tawanya, merasa konyol dengan ucapan ibu Fitri.
Mendadak mendapatkan ide, ibu Fitri bersiap menarik napasnya dengan panjang.
"Banjir! Banjir! Selamatkan diri kalian!" teriak ibu Fitri tepat di samping telinga kedua remaja lelaki itu.
"Banjir?!"
"Banjir selamatkan diri!"
Heboh Aldi dan Eko bangun mengangkat bantal dan selimutnya seakan itu benda berharga yang harus diselamatkan. Rayhan juga ibu Fitri tertawa melihat kelakukan konyol mereka berdua. Beberapa detik kemudian mereka berdua baru sadar bahwa tak ada banjir atau bencana apapun.
"Mama menjahili kami?"—Aldi melepaskan bantal yang ia peluk tadi—"iseng banget sih Ma."
"Kalian mengagetkanku." Eko kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur berusaha kembali tidur.
Rayhan menahan tangan Eko agar ia tak lagi merebahkan dirinya dan kembali tidur.
"Astaga, aku ingin tidur sebentar Han," protes Eko dengan mata yang setengah terpejam.
"Iya benar, biarkan kami tidur sebentar lagi." Aldi berusaha tidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tidak-tidak, kalian harus mandi lalu kita sarapan, pukul 11 siang nanti kita sudah harus berangkat ke bandara,"—ibu Fitri menjentikkan kedua jarinya beberapa kali—"Ayo, anak-anak bangun."
Dengan sangat terpaksa Aldi dan Eko bangkit dari tidurnya.
To Be Continue...
Hai semuanya.... 👋
Apa kabar? Gimana kabar kalian? Aku harap kalian sehat selalu ya 😇
Sampai ini aku berterima kasih untuk para Author saudara-saudaraku yang mau mendukung karyaku, buat kalian sukses selalu ya, aku tau jadi penulis itu gak gampang walau aku masih pemula. Juga buat para readers "Takdir Cinta," thanks udah setia nunggu kelanjutan ceritanya.
See u di next chapter ✅