NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 27] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

"Jika seorang pencuri mengembalikan barang curiannya karena ketakutan sebelum ditangkap, apakah hukuman pidananya bisa dihapus?" tanya Profesor Hadi, matanya menyapu ruangan. Tatapannya berhenti pada baris belakang.

"Wil. Coba kamu jawab."

Wilgardi Carlous yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, menoleh lambat. Wajah gantengnya tetap datar, sama sekali tidak gugup.

"Tetap dihukum, Prof. Pengembalian barang cuma mengurangi masa hukuman, bukan menghapus tindak pidananya," jawab Wil pendek, suaranya berat dan dingin.

Profesor Hadi tersenyum tipis, mencoba memojokkannya. "Tapi dia berniat baik mengembalikannya, Wil. Di mana letak keadilannya kalau dia tetap dipenjara?"

Mahasiswa lain mulai berbisik, mengira Wil akan mati kutu mendebat dosen senior itu. Namun, Wil hanya menaikkan satu alisnya.

"Keadilan itu buat korban, Prof, bukan buat pelaku," balas Wil tenang, menatap lurus mata dosennya.

"Niat baik setelah ketahuan itu namanya bukan tobat, tapi cari selamat. Kalau hukum bisa ditawar pakai alasan Niat Baik, semua kriminal di kota ini bakal bebas."

Ruang kelas langsung hening seketika. Profesor Hadi terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk puas.

Dosen Hadi benar-benar selalu menjadikan Wil murid fakultas hukum nya yang paling ia banggakan, bukanlah hanya karena dia terlihat berbeda tapi cara pandang bibit bibit unggul keluarga Carlous memang tidak bisa di ragukan lagi

Melepas penat setelah akhir nya Dosen di depan kelas menutup laptopnya, menandakan kelas Hukum Pidana hari itu telah usai tepat pukul 11.30.

Tanpa komando bel, puluhan mahasiswa di dalam ruangan berundak itu langsung riuh, merapikan buku tebal mereka dan bergerak keluar secara bersamaan menuju kantin karena cacing di perut sudah berdemo.

Wil tidak terburu-buru.

"Malam ini kenapa gak jadi kumpul?"ucap nya teman Wil bernama Nazmi.cowok sederhana itu nampak merapihkan kacamata nya yang goyang rambutnya juga nampak seperti potongan Biasa namun ia terlihat tampan

"Malam ini gak bisa gua ada janji sama bulan bulan gua"balas nya Wil memanifestasikan Kedua istri nya sebagai julukan bulan

Karena teman Wil sedikit jadinya hanya sedikit orang saja yang tahu jika Wil sudah Menikah

Dan kalau di lihat lagi hanya para ketua inti Inferno sajalah yang tahu jika ketua mereka ini dan satu ketua lainnya saja yang sudah beristri di kampus tersebut

Wil dan beberapa Inferno sengaja menyembunyikan diri mereka sudah sejak lama di universitas itu atas perintah keras dari edwardo Carolus sang Kaka yang sebenarnya benar benar terpaksa Wil lakukan

Terutama Inferno kini hanya berjumlah kan 6 orang saja

"Okey gak masalah kok, nanti juga kita kerumah Abang lu"balas nya Nazmi

"Wah sekarang? Pulang kuliah? Seriusan Kalian kaga nongki dulu di wartegnya Bu Ari? Katanya mau pada kobang?"tanya nya kesal dari Farel...jelas dia tak terima setiap ada acara yang di sesuaikan selalu saja gagal.

Anak anak hukum memang selalu punya alasan untuk membuat acara menjadi wacana.

"Dih...lu aja sonoh! Gua mah mau ketemu bidadari di rumah bang Ed, pokoknya tetep gua kesana mumpung papih kasih duit lebih!"balas nya Tristan yang memang selalu saja ada alasan nya untuk menemui para pembantu cantik di kediaman kaka edward.

"Ahh.brisik lu pada! Kaga pada laper apa... mending ke kantin yuk!"balas kesal dari Alfakri dia yang selalu diam seribu bahasa kalau soal menyangkut aktivitas perut maka tak boleh di tunda.

Ke 6 murid senior fakultas hukum tersebut langsung siap menjadi pusat perhatian—dan pusat gosip

Karena memang meskipun tampilan mereka sederhana dan terkesan seperti kutu buku,namun wajah wajah mereka tampan mulus dan seperti model terutama Wil dan Najmi yang paling di minati.

Selain tampan,gagah dan dari keluarga terpandang, Wil dan Nazmi menjadi salah satu tipe idaman

Sekali lagi di antara dentingan sendok dan riuh obrolan mahasiswa lain

Kantin Hukum jam siang itu super padat. Suara dentingan sendok beradu dengan riuh obrolan mahasiswa. Begitu Wil masuk dengan kemeja putihnya yang digulung sebatas siku, atmosfer di barisan meja mahasiswi langsung berubah. Bisik-bisik halus mulai terdengar.

"Eh, lihat. Si Wil ganteng banget, tapi mukanya kayak gak pernah senyum seumur hidup."

Temannya menyahut dengan suara pelan yang masih bisa tertangkap telinga, "Iya, kemarin anak Seni ada yang nyoba minta nomor WhatsApp-nya pas di kantin, langsung ditolak mentah-mentah. Katanya dia gak main medsos. Misterius banget gak sih? Jangan-jangan dia udah punya pacar."

"Mana mungkin. Gak pernah ada yang lihat dia jalan sama cewek mana pun. Dia tuh tipe cowok yang gak tersentuh."

"Jangan keras-keras, anaknya acuh tak acuh banget, ntar lu dikacangin."

Wil mengabaikan itu semua. Dia cuma memesan es kopi hitam tanpa gula, lalu berjalan ke meja pojok untuk membiarkan para teman temannya yang lain duduk

Baru saja Wil meminum kopinya, rombongan cowok dari Fakultas Teknik masuk ke kantin Hukum. Jaket jeans mereka yang agak kotor sengaja dipamerkan. Dipimpin oleh cowok berbadan tegap bernama Raka, mereka sengaja mencari gara-gara.

seorang nampak sengaja menggebrak meja kosong di sebelah Wil. "Wah, kantin anak Hukum adem ya. Pantesan orang-orangnya pada lembek. Cuma modal baca buku sama ngapalin pasal. Kalau di jalanan, pasal-pasal kalian gak guna, Bro!" sindir Raka keras-keras, memancing atensi seluruh kantin. Anak-anak Hukum lain mulai menegang dan menatap tidak suka.

Memang setahu Wil selama bersekolah di sini fakultas hukum kerap kali menjadi gunjingan karena perbedaan dan cara pandang mereka paling mencolok di antara fakultas fakultas lainnya

Cowok cowok itu juga tidak semata-mata menghinanya tetapi iri karena ketenaran dan ketampanan para siswa FH yang di minati para gadis gadis fakultas lain...

...Sial ternyata semakin tampan seseorang malah semakin banyak pula musuh nya....

"Kalian tuh kebanyakan pasal tapi minim aksi. Kita anak Teknik bangun jembatan, bikin mesin. Lah kalian? Cuma bisa bikin ribut pakai kertas dan teori. Kalau jembatan roboh, emang bisa diperbaiki pakai debat?"ujar slah satu dari anak fakultas teknik

Terllau mencemooh bagi Anak Teknik yang selalu Praktis, logis, to the point, dan malas basa-basi.

Benar benar melihat titik Lemah anak Hukum yang dianggap cuma modal omong kosong tapi tidak bisa menghasilkan karya nyata.

"Gak bisa hargain perasaan orang!Gak usah sok keras pakai argumen hukum deh. Kelihatan kok dari cara berdiri dan tatapan mata lu, lu tuh lagi defensif dan cemas. Hukum lu bisa memenjarakan orang, tapi gak bisa nyembuhin trauma lu sendiri."balas cowok lain yang ternyata dari fakultas psikologis

Sungguh tak menyaka ia berani datang setelah gunjingan beberapa bulan lalu seorang gadis dari fakultas teknik menolak cintanya dan lebih memilih Wil namun Wil tolak mentah-mentah dan kini ia datang seolah sebagai pahlawan?

Anak Psikologi tidak akan membentak, tapi menyerang mental secara halus,ini dipakai untuk memancing Wil?, tapi Wil yang dingin tidak akan membalas secara emosional

Menjijikan!

Sial nya keadaan kantin semakin riuh... meksipun sedari tadi para sahabat Wil diam namun sebenarnya mereka berusaha bersabar karena Kaka edward memaksa mereka dan Wil juga untuk tidak mencari-cari gara-gara yang berpotensi membongkar identitas mereka yang sudah di kemas rapat-rapat ini.

Wil tidak berdiri. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Dia cuma menurunkan cangkir kopinya perlahan, lalu menatap dengan pandangan yang sangat datar, dingin, dan malas.

Namun di sana cowok senior dari fakultas ekonomi malah ikut ikutan, mungkin dia terllau dendam karena Wil selalu menang

Nazmi akhirnya akan bicara "Udha selesai ngomong nya?..."

"Bisa kita ngomong sekarang?"

"Hey denger semua!..." Sentak nya Nazmi pada para cowok pembuat onar ini

"Kalian para fakultas Teknik bilang kita kerja pakai kertas dan teori doang?... Kalian bego yah? Coba deh bayangin! Satu hal kecil secara nyata."Nazmi melingkar kan kedua lengannya menantang cowok itu

Wil hanya melirik sekilas, lalu nazmi berucap datar, "Sebagus apa pun jembatan atau mesin yang lu ciptain pakai otot lu, kalau lu gak paham hukum hak paten, karya lu bakal disita dan diakui orang lain secara legal. Ujung-ujungnya, lu cuma jadi kuli yang kerja keras buat memperkaya orang yang paham hukum."kata kata Nazmi begitu tajam menusuk kenyataan arti dari sebuah kerja lapangan.

Wil dan kawan kawan menggelengkan kepalanya pelan... Nazmi ini memang tipikal nya gak mau kalah dan apapun yang dia anggap gak suka arti nya dia gak akan suka.

Sementara aktifitas tersebut justru di perhatikan para guru di antara jajaran kerukunan murid

Mereka memantau pelan dan cukup terkesan begitu pada adik kandung dari Rolando R.J tersebut.

"Kok diem? Takut yah..."seru nya Wil pelan ia juga tak mau lupa memantik apinya sendiri

"Ternyata anak anak psikologi sok pinter juga yah...tapi kalau bawa bawa perasaan bukanya orang malah bakalan jadi bego?,"Wil sama sekali tidak terpancing emosinya. Dia hanya menatap lurus mata anak Psikologi itu dengan pandangan kosong yang mengintimidasi, "Psikologi cuma bisa menganalisis isi kepala orang tanpa bisa mengubah takdirnya. Tapi hukum? Satu ketukan palu sidang bisa langsung mengubah hidup seseorang dari orang bebas menjadi narapidana. Jadi, simpan analisis lu, karena di dunia nyata, aturan gua yang mengendalikan lu,lagian..."

"...kalau lu cemburu tinggal ngaku"rius seketika para komplotan tersebut berdecak malu di antara Sorai Sorai ria dari anak anak fakultas lainnya.

"Percuma suara Kalian berisik,Inget...presiden aja gak butuh banyak kertas buat bungkam ribuan suara"ucap Wil pendek, suaranya berat tapi terdengar jelas karena kantin mendadak hening.

terlihat tak mau kalah dan melihat wil dengan wajah tertawa meremehkan, melangkah mendekati meja Wil. "Kenapa? Lu mau nuntut gua pakai pasal yang gak berguna itu? Tipikal anak Hukum lemah."

Wil menaikkan satu alisnya menatap anak teknik itu. Tatapan matanya mendadak menajam—auranya keluar sedikit, membuat diam-diam merinding. Wil melihat kunci motor sport yang tergantung di celana cowok itu

"Motor lu Ninja FI merah yang karbunya baru diganti karbu murahan itu, kan?" tanya Wil santai, nadanya malas tapi menusuk. "Suara knalpot lu brebet di RPM tinggi karena setelan udaranya ngaco. Lu ke sini mau pamer otot, atau mau minta tolong anak Hukum buat benerin motor lu yang mogok di gerbang depan nanti?"

seketika dia tlangsung melongo. Wajahnya memerah karena malu. Bagaimana bisa seorang anak Hukum yang dicap kutu buku tahu persis penyakit motor sport-nya hanya dengan sekali lihat? Teman-teman anak teknik itu pun ikut terdiam, kehilangan kata-kata.

Melihat musuhnya mati kutu, Wil hanya mendengus sinis. Dia meminum habis es kopinya, menyampirkan tas di satu bahu, lalu berjalan melewati nya begitu saja. Saat melewati Raka, Wil berbisik pelan, "Lain kali, kalau mau nantang orang,pastiin motor lu gak pincang."

Wil dan para kawan kawan langsung pergi meninggalkan kantin yang langsung riuh oleh bisikan kagum para mahasiswi. Sementara anak Teknik terpaksa pergi dengan urat malu yang putus.

Wil sampai di motornya. Saat dia merogoh kantong jaket untuk mengambil kunci dan ponselnya yang ia nyalakan hanya untuk menyadari pesan singkat dari salah satu istrinya Deretan dan sebuah benda kecil ikut tertarik dan jatuh ke lantai semen parkiran dengan bunyi dentingan halus.

Sebuah gantungan kunci berbentuk dua buah hati kecil berwarna pink dan merah. Itu buatan tangan, hadiah manis dari Dereta dan Morgan yang sengaja mereka selipkan di jaket Wil pagi tadi sebelum dia berangkat kampus.

Di dekatnya, ada sekelompok mahasiswi yang sedang mengobrol. Salah satu dari mereka melihat benda itu jatuh dan berniat mengambilkannya. "Eh, Wil, itu barangmu ja—"

Sebelum jemari mahasiswi itu menyentuhnya, sepatu bot kulit Wil sudah lebih dulu menapak di samping benda itu.

Dengan gerakan cepat tapi terlihat kasual, Wil membungkuk dan menyambar gantungan kunci itu, lalu langsung memasukkannya kembali ke dalam saku.

Wil memakai helm full-face-nya.

Lalu berusaha membalas pesan dari Dereta istri nya yang ternyata meminta menjemput nya sehabis berbelanja.

Tanpa sepatah kata pun, dia menyalakan mesin motor, lalu melesat pergi meninggalkan area kampus, membiarkan para mahasiswi itu kembali berspekulasi tentang barang imut yang tidak cocok dengan aura sangarnya.

Dan untaian gosip mereka yang menyatakan mungkin saja wanita/kekasih nya Wil bisa jadi adalah seorang wanita yang begitu beruntung mendapatkan pangeran kampus yang populer itu.

.

.

.

.

Matahari siang membakar kulit tanpa ampun. Dereta menyapu pelipisnya yang basah oleh keringat dengan punggung tangan, melirik nanar ke arah papan toko es krim langganannya yang terkunci rapat. Angin siang yang berembus justru membawa hawa gerah, membuat napasnya terasa makin berat dan dada mengkal.

"Siang bolong begini... kenapa bisa-bisanya toko es krim tutup, sih? Padahal enak banget kalau makan es krim pas panas begini," keluhnya halus dengan bibir mengerucut. Wanita dua puluh empat tahun bertubuh mungil itu menghentakkan kakinya ringan ke aspal, tidak tahan dengan hawa gerah yang membakar kaus kasual sederhananya.

Di tengah kekesalannya, deru berat mesin Kawasaki hitam memecah kebisingan jalanan. Pandangan Dereta seketika terkunci pada sosok pengendara helm hitam yang merapat ke bahu jalan. Senyum yang tadinya lenyap melengkung lebar secara spontan, dadanya mendadak hangat penuh kelegaan.

Pria itu membuka kaca helmnya sedikit, memperlihatkan mata tajam yang selalu berhasil membuat dada Dereta berdesir.

"Sudah?" tanya Wilgard, suara beratnya terdengar agak teredam di balik helm, namun tegas dan memikat.

"Sudah, Mas~" sahut Dereta cepat, matanya berbinar manis.

Tanpa membuang waktu, wanita berambut pendek itu buru-buru naik ke jok belakang. Jemarinya melingkar posesif di pinggang suaminya, menyandarkan dagu di bahu kekar berlapis jaket kulit hitam yang masih terasa hangat. Ada rasa bangga yang menyelinap. Wilgard, suaminya yang berbadan tegap dan berwajah tampan itu, rela pulang kuliah lebih awal hanya untuk menjemputnya.

Motor melaju membelah jalanan kota. Dereta mendongak sedikit, mengikis jarak agar suaranya terdengar di tengah bising angin.

"Mas?"

"Iya..." balas Wilgard singkat, matanya tetap fokus menatap jalanan di balik visor.

"Tahu nggak? Tadinya aku pikir kalau makan es krim di hari panas begini bakal seger banget," gumam Dereta sambil mengeratkan pelukan, memberikan sinyal manja.

"Hm..."

Respons Wilgard sungguh minim. Dereta mendengkus pelan, kekesalan kecil mulai merayap di dadanya. Alis tipisnya bertaut rapat. Kode manisnya menguap begitu saja tanpa tanggapan yang ia harapkan.

Begitu tiba di pekarangan rumah, deru mesin Kawasaki itu akhirnya padam. Suasana garasi yang teduh dan sedikit remang terasa begitu kontras dengan teriknya jalanan luar. Tanpa menunggu lama, Dereta langsung turun dari boncengan dengan bibir dilipat, berniat ngambek dan jalan melengos begitu saja.

Namun, sebelum langkah pertamanya terayun, cengkeraman erat namun lembut di pergelangan tangannya menahan gerakan wanita itu.

"Eh, mau ke mana kamu?" suara Wilgard terdengar lebih dalam dari biasanya, menghentikan langkah Dereta.

"Ya masuklah, Mas. Mau ngapain lagi?" ketus Dereta tanpa menoleh, memasang wajah selipat.

"Katanya mau es krim? Ayo, di sini saja," bisik Wilgard pelan.

Pria itu tidak melepas helmnya sepenuhnya, hanya menarik tangan Dereta yang bebas dan membimbing jemari lentik istrinya mengusap bagian bawah celana kainnya yang mendadak sudah menegang keras.

"Ah, Mas...? Bu... bukan yang ini yang aku mau!" pekik Dereta tertahan.

Wajahnya seketika menyala merah padam, napasnya tertahan saat denyutan hangat dan keras di balik kain itu terasa begitu nyata di telapak tangannya. Matanya membelalak kaget, bercampur antusiasme liar yang membakar dadanya secara tiba-tiba.

Wilgard mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangat dari balik helm menerpa ceruk leher Dereta, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri tegak.

"Tapi aku mau, Sayang~. Sekarang!"

"hah!?...mas... tunggu!"

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!