Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Bayaran
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Alvaro beranjak dari tempat tidurnya. Ia merasakan bahwa tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi. Alvaro menyentuh keningnya dengan telapak tangan, panasnya sudah turun. Ia juga tidak lagi merasa pusing. Hanya sedikit lemas namun ia yakin keadaannya akan segera membaik.
Alvaro mengambil mangkok bubur yang telah kosong. Ia berniat membawa turun mangkok tersebut sekaligus berterima kasih kepada Sheyra. Sudah waktunya gadis itu kembali ke rumahnya sebelum maghrib tiba. Alvaro yakin dengan kondisinya yang sekarang, ia sudah bisa menjaga Lyra. Alvaro tidak ingin lebih lama lagi merepotkan Sheyra. Mengingat Sheyra sudah di rumahnya sejak pagi membuat Alvaro merasa berutang budi dengan kebaikan Sheyra.
Alvaro menuruni anak tangga. Matanya menangkap sosok Sheyra dan Lyra yang sedang berada di ruang keluarga. Lyra terlihat sedang tertidur di pangkuan Sheyra. Senyum tercetak di bibir Alvaro, ia merasa lega ketika melihat anaknya tertidur pulas. Syukurlah Lyra tidak terlihat rewel hari ini.
Alvaro berdiri tepat di depan Sheyra. Mata mereka tidak sengaja bertemu untuk beberapa detik namun Sheyra segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipi Sheyra terlihat merona. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Alvaro menaikkan sebelah alisnya heran. Apa gadis itu sedang menghindari pandangannya? Namun Alvaro segera menepis pikiran itu. Mungkin ini hanya perasaannya saja.
“Makasih buat hari ini Shey. Makasih udah bantu gue.” Alvaro memulai obrolan. Ia meletakkan mangkok yang sejak tadi ia bawa ke atas meja.
Sheyra terdiam beberapa detik, gadis itu terlihat kikuk. Ia memaksakan senyumannya untuk menutupi rasa gugupnya. “I-iya sama-sama Al.”
“Sini Ira biar gue yang bawa. Lo pasti berat dari tadi jagain dia tidur.” Alvaro mendekat ke arah Sheyra. Ia menawarkan diri untuk memangku Lyra yang sedang tertidur pulas.
Ketika Alvaro mendekat, tiba-tiba jantung Sheyra berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia mencium aroma parfum yang dipakai Alvaro. Aroma yang sama persis seperti yang ia hirup sebelumnya ketika berada di pelukan Alvaro. Pikiran Sheyra menjadi tidak karuan. Ingatannya saat berada di kamar Alvaro tadi sontak saja langsung memenuhi pikirannya. Ia menatap ke arah dada bidang Alvaro. Blush! Wajahnya semakin memerah bak kepiting rebus.
Dengan segera Sheyra menyerahkan Lyra kepada Alvaro. Setelah itu Sheyra langsung berdiri membelakangi Alvaro. Tangannya meraih mangkok yang berada di atas meja, “Ha haha.. gu-gue mau balikin ini ke dapur.” katanya gugup. Belum sempat Alvaro menjawab, Sheyra segera menghilang.
Alvaro menatap punggung Sheyra yang pergi menjauh kemudian menghilang dari pandangannya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apa ini hanya perasaannya saja? Kenapa Sheyra terlihat sedang menjauhinya? Apa tanpa sadar ia telah melakukan sebuah kesalahan? Alvaro tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
Sheyra berhenti di depan wastafel cuci piring. Ia mengatur nafasnya. Ia beralasan pergi ke dapur untuk menghindari Alvaro. Ah sial, Sheyra menyadari bahwa dirinya tidak bisa menahan diri. Kenangan saat Alvaro memeluk dirinya dengan erat mengambil alih pikirannya. Sheyra terduduk di lantai. Ia menggelengkan kepalanya sambil menampar pipinya dengan pelan. “Stop berpikiran aneh-aneh Shey.” gumamnya kepada dirinya sendiri. Ia merasa malu karena merasa seperti cewek mesum ketika melihat dada bidang Alvaro tadi. Sheyra mencoba menguatkan dirinya, ia harus bersikap seperti biasa seolah tidak ada sesuatu hal yang terjadi antara dirinya dan Alvaro.
Sheyra yakin Alvaro bahkan tidak mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi. Cowok itu hanya sedang mengigau di dalam tidur lelapnya. Oleh karena itu Sheyra harus segera melupakannya. Tapi mengapa terasa begitu sulit? Bahkan saat ini pun tubuhnya masih bisa merasakan kehangatan pelukan Alvaro. Sheyra merasa ia benar-benar hampir gila.
“Shey, kenapa?”
Sheyra terkejut ketika mendengar seseorang tengah memanggil namanya. Gadis itu sontak berdiri dan membalikkan badan. Matanya melebar ketika menyadari Alvaro sedang berdiri di depannya. Cowok itu menatap Sheyra dengan tatapan bingung.
Deg! Sheyra menundukkan pandangannya. Sejak kapan Alvaro ada di sini? Apa sejak tadi Alvaro melihat tingkah anehnya? Arh! Sheyra merasa sangat malu. Sehingga ia ingin menghilang saat itu juga.
“Sejak kapan di sini?” tanya Sheyra basa-basi. Ia mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup.
“Oh, gue baru aja datang buat nyuci mangkok yang tadi. Terus tiba-tiba lihat lo duduk di lantai.” jujur Alvaro.
Mendengar penjelasan Alvaro membuat Sheyra menghela nafas lega. Syukurlah Alvaro baru datang ke dapur. “Oh itu, gue…”
Sheyra berhenti melanjutkan kata-katanya ketika menyadari telapak tangan Alvaro yang tiba-tiba menyentuh keningnya. Sheyra terdiam mematung. Tubuhnya terasa kaku. Ia hanya merasakan bahwa pipinya memanas dan ia kembali berdebar.
“Lo gak sakit kan? Gak kecapean kan?” tanya Alvaro khawatir sembari memastikan suhu di kening Sheyra.
Menyadari hal tersebut, tanpa sengaja Sheyra menepis tangan Alvaro. “Gue gapapa. Makasih udah khawatir.” jawabnya sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Alvaro menghela nafas lega. Ia tersenyum manis, “Syukurlah. Maaf kalo nyentuh lo tiba-tiba tanpa izin. Sekali lagi makasih ya buat hari ini.”
Sheyra mengangguk, “Iya, sama-sama. Makasih juga udah khawatirin gue.”
“Soal bubur dan kompresnya..” Alvaro menghentikan perkataannya untuk beberapa detik lalu kembali melanjutkan, “terima kasih banyak.”
Sheyra menatap wajah Alvaro. Lalu ia tersenyum manis, “Sama-sama.”
Deg! Alvaro merasa perasaan aneh mulai muncul ke dalam dirinya. Sejak kapan ya senyuman Sheyra jadi terlihat begitu manis di matanya? Alvaro terdiam terpaku untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya ia tersadar dari lamunannya karena panggilan Sheyra.
Alvaro terlihat salah tingkah namun ia segera bisa mengatasinya. Cowok itu langsung bersikap seperti biasanya. “Buburnya enak. Beli di mana?” ujarnya basa-basi.
Sheyra tertawa kecil, “Beli? Gue bikin sendiri.”
“Ah, Sorry. Gue gak tau. Berarti lo emang jago masak ya. Buburnya enak banget. Gue suka.” puji Alvaro.
Sheyra terlihat malu-malu, “Makasih. Gue seneng kalo lo dan Lyra suka. Dan ya, maaf karena gak izin dulu buat pake dapur dan bahan-bahan masakan yang ada di kulkas.”
Alvaro menatap Sheyra heran, “Kenapa harus izin? Kan sejak awal gue ngebebasin lo buat ngelakuin apapun di rumah gue. Lagian gue udah seneng banget lo udah mau bantu gue. Rasanya gue berutang budi ke lo.”
“Gak perlu sampe segitunya. Gue ngerasa seneng kok bisa menghabiskan waktu seharian bareng Lyra.” jujur Sheyra.
Alvaro mengangguk paham. Lalu Sheyra melanjutkan kata-katanya, “Sekarang keadaan lo gimana? Udah baikan?” tanyanya memastikan.
Alvaro tersenyum, “Iya. Udah jauh lebih enakan. Itu semua juga berkat bantuan dari lo. Berkat kompres juga.. Makasih ya.”
Sheyra tersenyum lega. Ia senang mendengar keadaan Alvaro yang sudah membaik. “Kalau gitu gue mau pulang sekarang ya sebelum gelap.” pamit Sheyra setelah melihat jam tangannya.
Alvaro mengangguk, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih lalu menyerahkannya kepada Sheyra. “Ini buat lo. Terima kasih ya buat bantuannya. Mungkin isinya gak seberapa, tapi bisa lah buat beli makanan enak, baju bagus atau barang-barang yang lo suka.”
Sheyra segera menolak pemberian Alvaro. Ia tidak mengambil amplop tersebut, “Gue ikhlas bantuin lo Al. Gue seneng dipercaya buat jagain Lyra. Gue gak mengharapkan upah. Sebelumnya makasih buat inisiatif lo, tapi maaf gue gak bisa terima.” Sheyra menolak pemberian Alvaro dengan halus.
“Gapapa Shey. Gue juga ngasih ini ikhlas kok. Sebagai imbalan aja buat kebaikan lo. Terima ya?” ujar Alvaro dengan wajah yang memelas.
“Maaf, gue tetap gak bisa nerima ini Al.” kata Sheyra sambil tersenyum. Sejak awal ia datang ke rumah Alvaro bukan karena mengharapkan upah. Sehingga Sheyra tidak bisa menerima pemberian Alvaro.
Alvaro terlihat sedih melihat penolakan Sheyra. Sheyra melihat ekspresi Alvaro dengan tatapan tidak tega. “Anu, gue gak bakal terima amplop ini. Tapi…. sebagai gantinya kapan-kapan traktir gue makan ya bareng Lyra?” ujar Sheyra memberikan penawaran.
Mendengar perkataan Sheyra, Alvaro langsung tersenyum sumringah. “Boleh! Bilang aja ke gue mau makan apa. Biar gue traktir semua yang lo mau!” serunya antusias. Alvaro merasa senang karena bisa membalas kebaikan Sheyra. Setidaknya dengan ini lah hati Alvaro terasa lega.
Sheyra terkekeh melihat respon Alvaro. Benar-benar lucu dan mirip dengan ekspresi Lyra ketika gadis kecil itu sedang merasa kegirangan.
^^^Bersambung…^^^