Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Janji di Balik Ruang Perawatan dan Kedamaian Baru
Aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan keharuman minyak aromaterapi lavender memenuhi ruang perawatan VVIP nomor 106.
Pendar lampu tidur berwarna kuning keemasan membiaskan suasana syahdu, membasuh ketegangan yang sempat mencengkeram sepanjang hari.
Di atas ranjang perawatan, Dimas berbaring miring dengan bantuan sanggaan bantal empuk. Bahu kiri hingga sebagian punggung atasnya terbalut perban elastis yang tebal.
Hasil pemindaian rontgen dan CT-scan dari tim dokter bedah menunjukkan kabar yang amat disyukuri: tidak ada retakan atau patah tulang pada rangka punggungnya, melainkan trauma memar otot (contusion) yang cukup dalam akibat benturan besi keras secara langsung.
Kiara duduk setia di tepi ranjang. Jemari tangannya mengusap lembut punggung tangan kanan Dimas yang bebas dari balutan. Matanya yang sembap oleh sisa-sisa tangis kebingungan tadi sore menatap wajah suaminya dengan garis-garis rasa cinta yang kian dalam.
"Mas masih terasa nyeri banget ya?" bisik Kiara sangat lembut, mengulurkan tangan kirinya untuk menyapu pelipis Dimas yang sedikit berkeringat.
Dimas menyunggingkan senyum hangat. Meski wajahnya sedikit pucat dan garis bibirnya memperlihatkan rasa sakit saat bernapas dalam, mata pria tegap itu hanya memancarkan ketenangan luar biasa.
"Nyeri di bahu Mas gak ada artinya dibanding linangan air mata kamu, Ra," suara Dimas mengalun serak namun sarat kelembutan.
Ia membalas genggaman tangan Kiara, menyatukannya di atas dadanya sendiri.
"Setiap kali Mas lihat kamu bernapas leluasa di depan Mas... rasa sakit di punggung Mas hilang seketika."
Air mata Kiara kembali menetes bening, jatuh tepat di atas jemari Dimas. Kiara menunduk, mengecup punggung tangan suaminya berkali-kali.
"Mas nekad banget..." tangis Kiara pelan, vokalnya bergetar haru.
"Waktu pipa besi itu mengayun, aku rasanya mau mati berdiri, Mas... Kalau sampai pukulan itu kena kepala Mas, aku sama anak-anak harus bagaimana?" kata Kiara meluapkan ketakutannya
Dimas memiringkan kepalanya sedikit, menatap Kiara dengan sorot mata protektif yang tak pernah padam.
"Naluri Mas nggak bisa ditawar, Sayang. Tubuh Mas diciptakan untuk jadi perisai kamu dan anak-anak kita. Mas lebih pilih bahu Mas yang remuk daripada harus melihat ada segores luka pun menyentuh kamu."
...***...
Ketukan pelan di pintu kayu kamar rawat inap Dimas memecah keheningan ruangan. Pintu bergeser perlahan, memperlihatkan Widya yang menuntun Rayyan kecil seraya berjinjit.
Anak laki-laki itu membawa selembar kertas gambar buatan tangannya sendiri yang agak terlipat di ujungnya.
"Papa..." panggil Rayyan berbisik dengan mata bulatnya yang berbinar-binar.
"Rayyan... sini, Nak," panggil Dimas hangat. Ia mencoba bergeser sedikit, mengabaikan rasa nyut-nyutan di bahunya.
Rayyan memanjat perlahan ke tepi tempat tidur dengan bantuan Kiara. Anak kecil itu menatap perban tebal di bahu suaminya dengan ekspresi polos bercampur cemas. Tangan gembulnya terangkat ragu-ragu, seolah takut menyakiti Papanya.
"Papa sakit dipukul orang jahat ya?" tanya Rayyan dengan vokal mungil yang mengiris hati.
"Punggung Papa dipasang popok besar?" ucap Rayyan polos
Kiara dan Dimas spontan terkekeh haru di tengah linangan air mata. Kiara mengusap kepala putranya.
"Itu perban obat, Sayang... Papa habis nahan orang jahat biar gak nakalin Mama sama Dedek bayi."
Rayyan mendekatkan wajahnya ke perban bahu Dimas. Dengan teliti dan sungguh-sungguh, anak kecil itu meniup balutan perban tersebut bertubi-tubi.
"Fuuuh... fuuuh... cepat sembuh ya Papa pahlawannya Rayyan!" seru Rayyan polos seraya menyodorkan kertas gambarnya.
"Ini Rayyan gambar Papa pakai jubah merah pahlawan super!"
Dimas merangkul tubuh gembul Rayyan dengan lengan kanannya, mengecup kedua pipi putranya dengan rasa haru yang meluap-luap di dada.
"Terima kasih banyak ya, pahlawan kecil Papa... Tiupan Rayyan langsung bikin sakit Papa hilang semua."
...***...
Setelah Rayyan tertidur lelap di sofa panjang kamar rawat bersama Widya, Arga dan Fahri melangkah masuk membawa sebuah dokumen bermeterai dari kepolisian. Wajah kedua sahabat Dimas itu memancarkan rasa lega dan kepuasan yang luar biasa.
"Mas Dimas, Kiara..." buka Arga seraya menyodorkan salinan berkas laporan resmi.
"Pihak Kepolisian Resor Kota Sukabumi baru saja menetapkan Farhan sebagai tersangka pasal berlapis tanpa hak jaminan (non-bailable)."
Fahri membetulkan posisi kacamatanya seraya menambahkan dengan lugas,
"Tindakannya menyerang Mbak Kiara di lokasi pameran diganjar Pasal 351 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan luka berat berencana, jo Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman kekerasan. Ditambah dengan bukti pelanggaran UU ITE kemarin, pengacara Farhan sudah lepas tangan. Dia resmi ditahan di rutan polda."
Kiara menghembuskan napas panjang. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya selama berhari-hari kini benar-benar terangkat tuntas.
"Satu hal lagi," sambung Arga seraya menyerahkan sebuah amplop merah muda kecil kepada Kiara.
"Ini ada surat dari Nadia. Tadi sore sebelum dia naik kereta menuju Jakarta, dia mampir ke kantor dinas buat menitipkan ini."
Kiara membuka surat bertuliskan tangan rapi itu. Di dalamnya tertulis pesan singkat:
Mbak Kiara dan Mas Dimas,
Saya pulang ke Jakarta dengan rasa lega dan penyesalan yang mendalam. Terima kasih telah menunjukkan apa arti keteguhan dan kejujuran dalam rumah tangga. Saya berjanji tidak akan pernah kembali atau mengganggu kehidupan kalian lagi. Semoga Mbak Kiara dan calon bayi sehat selalu.
Salam tulus, Nadia.
Dimas menggenggam jemari Kiara seraya menatap surat itu. Benang kusut masa lalu, fitnah, dan teror yang sempat mencoba merobohkan mahligai mereka kini telah terurai tanpa sisa.
...***...
Setelah Arga dan Fahri pamit pulang, suasana kamar VVIP kembali diliputi kedamaian yang mendalam. Pendar bintang-bintang di luar jendela kamar membingkai malam Kota Sukabumi dengan keindahan yang syahdu.
Kiara merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah lembaran cetak foto berskala hitam-putih—hasil pemeriksaan USG pertama calon anak kedua mereka dari tim dokter tadi siang. Kiara meletakkannya perlahan di atas telapak tangan Dimas.
Dimas memandangi titik mungil berbentuk menyerupai kantung kehidupan di dalam foto itu. Binar matanya berkaca-kaca dipenuhi keharuan yang tak terlukiskan oleh kata-kata.
"Ini... anak kedua kita, Ra?" bisik Dimas gemetar.
"Iya, Mas..." jawab Kiara tulus. Ia merebahkan kepalanya perlahan di bagian dada kanan Dimas yang tak tertutup perban, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama tenang dan kuat.
"Malaikat kecil kita tumbuh sehat di dalam sini. Dia bertahan karena Papanya begitu kuat melindunginya."
Dimas mengecup puncak kepala Kiara lama sekali, membiarkan aroma sampo bunga melati istrinya menenangkan seluruh jiwanya. Lengannya melingkar hangat di bahu Kiara, mengunci wanita itu dalam dekapan paling aman yang pernah ada.
"Terima kasih sudah bertahan dan percaya sama Mas, Ra..." desis Dimas parau di celah rambut Kiara.
"Di dunia ini... gak ada benteng yang lebih kokoh dibanding cinta sejati yang berdiri di atas kejujuran."
Kiara tersenyum paling bahagia, memegang erat jemari Dimas yang melingkar di dadanya. Badai terhebat telah mereka lewati bersama, dan kini fajar baru yang penuh dengan kedamaian, keberkahan, serta kehidupan baru siap menyambut langkah kaki mereka.