NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27 - suatu kesempatan

Besok malam pun tiba.

Indah berdiri di depan cermin, merapikan kerah bajunya sekali lagi. Jantungnya berdebar kencang.

"Semoga semuanya berjalan lancar..." gumamnya pelan.

Ia berangkat dengan perasaan campur aduk. Perjalanan terasa cukup lama, dan akhirnya ia sampai di depan sebuah rumah yang tampak asri dan rapi. Indah menarik napas dalam-dalam, lalu menekan bel pintu.

Ting-tong...

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampaklah Tante Maya menyambutnya dengan senyum yang sangat ramah.

"Indah, datanglah Nak, silakan masuk!"

"Assalamualaikum, Tante," sapa Indah sopan sambil tersenyum canggung.

"Waalaikumsalam. Ayo masuk, jangan sungkan-sungkan ya, ini sudah seperti rumahmu sendiri," ajak Tante Maya sambil menuntun tangan Indah masuk ke dalam.

Rumahnya terasa hangat dan nyaman. Aroma masakan yang lezat tercium dari arah ruang makan, membuat perut Indah terasa sedikit lapar.

"Duduk dulu sini, Nak. Tante siapkan minum sebentar ya."

"Iya, terima kasih Tante."

Indah duduk di ruang tamu sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.

"Rumahnya nyaman sekali... tapi di mana ya Rizki? Tadi katanya suruh pulang cepat."

Belum lama menunggu, terdengar suara kunci pintu dari luar. Pintu terbuka dan seorang pria masuk ke dalam. Pria itu berdiri tertegun sesaat saat melihat ada tamu di ruang tengah.

Itu Rizki.

Mereka saling berpandangan sejenak, sama-sama terkejut.

"Jadi tamu penting yang dimaksud Mama ternyata dia..."

Seketika rasa curiga muncul di benaknya. "Buat apa Mama mengundang Indah ke sini? Aku yakin Mama sedang merencanakan sesuatu."

Rizki melangkah mendekat dengan wajah yang datar dan dingin.

"Indah, sudah lama di sini?"

Indah tersenyum canggung. "Belum kok, Riz. Aku baru saja sampai."

"Hmm, begitu." Rizki hanya menyapa sekilas, lalu berjalan melewati Indah. "Aku ganti baju dulu di kamar."

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Indah yang terdiam sendirian di ruang tengah.

"Kenapa aku merasa tatapan Rizki ke aku... seakan dia tidak suka, atau malah merasa risih ya?"

Dia menarik napas kecil, dadanya terasa sesak sejenak.

"Aku sebenarnya ngapain sih di sini? Terlalu berani aku datang ke rumahnya seperti ini. Mungkin dia merasa aku terlalu menonjol, terlalu mendekat padahal dia sendiri tidak menginginkannya. Pasti dia merasa aneh melihatku di sini..."

Pipi Indah terasa panas. Dia ingin sekali saat itu juga berpamitan pulang, tapi kaki terasa berat.

"Aduh... malu banget rasanya. Semoga Tante Maya tidak menyangka kalau aku merasa seperti ini."

Tiba-tiba Tante Maya menghampiriku sambil tersenyum hangat.

"Kamu sudah ketemu dengan Rizki, Nak?"

"Sudah, Tante."

"Gak terasa ya, dulu kalian sering main bareng. Segala hal selalu berdua, seperti anak kembar saja. Sekarang kalian sudah dewasa... Tante jadi rindu masa-masa itu."

Indah tersenyum tipis, ada rasa sedih yang menyelinap di dadanya.

"Iya Tante... memang dulu kami sangat dekat. Tapi semenjak Rizki pindah rumah, kami tidak lagi bersama. Bahkan sekarang, untuk sekadar mengobrol saja kami jarang sekali."

Tante Maya tersenyum ramah. "Indah, ayo kita ke meja makan ya."

Aku mengangguk dan mengikutinya. Rumah ini terasa begitu tenang, sepi dan damai — hanya ada Tante Maya dan Rizki. Wajar sekali kalau Tante Maya sering merasa kesepian di rumah ini, pikirku. Apalagi Rizki anak tunggal, dan sejak almarhum suaminya pergi, hanya mereka berdua yang menempati rumah ini. Terlihat sekali betapa Tante Maya sangat menyayangi putra semata wayangnya itu.

"Indah, sini duduk dekat Tante ya."

"Iya, Tante."

Tante Maya lalu menengadah ke arah tangga, berseru lembut, "Rizki, cepat turun dong. Kita makan malam bersama."

Suara Rizki terdengar samar dari atas, "Iya, sebentar."

Saat kami mulai menyantap hidangan, Tante Maya membuka percakapan dengan hangat.

"Oh iya Indah, gimana kabar ibumu?"

"Baik, Tante. Terima kasih sudah bertanya."

"Syukurlah kalau begitu. Nanti lain waktu Tante main ke rumahmu ya, sekalian mengobrol dengan teman lama."

"Boleh saja, Tante."

"Oh iya, sekarang kamu sudah jadi dokter spesialis ya? Wah, hebat sekali kamu!"

"Tante bisa saja memujiku begitu," jawabku sambil tersenyum malu.

"Memang benar kok. Kamu kan dari kecil bercita-cita jadi dokter, dulu kamu juga selalu bermain bersama Rizki..."

"Ih Tante, itu kan masa kecil Indah, malu sekali didengarnya!"

Sementara aku tersipu malu, Rizki di sebelahnya terlihat biasa saja — wajahnya datar, tenang, terus makan tanpa banyak bicara.

Tante Maya tersenyum lebar. "Indah, Tante khusus buatkan makanan kesukaanmu loh, dimsum!"

"Wah, Tante repot-repot sekali membuatkannya untukku."

"Tante masih ingat kok makanan kesukaanmu. Lagipula, Rizki juga suka, selera kalian memang sama sejak dulu."

Mendengar itu, Rizki langsung tersedak dan batuk-batuk pelan.

"Mama ini... ada-ada saja," batinnya merasa heran dengan tingkah mamanya yang tiba-tiba begitu antusias.

"Mama belum selesai ceritanya. Dulu kamu tuh susah banget makan, Riz. Sudah dibujuk ini itu tetap saja menutup mulut rapat-rapat. Tapi sejak kamu berteman sama Indah, eh langsung lahap makanmu, bahkan sampai minta tambah!" ceritanya sambil tersenyum lebar.

Rizki hanya geleng-geleng kepala sambil menyuap makanan. "Ya ampun Mama, itu masa kecil banget. Masih diingat-ingat juga, belum hilang-hilang."

"Loh wajar dong Mama ingat, lucu sekali kelakuan kalian dulu. Lihat deh Indah, kelakuannya kalau makan masih saja harus disuruh dulu sama kamu, Riz. Sama persis seperti waktu kecil ya," canda Tante Maya.

Indah terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Ternyata sifat Rizki belum banyak berubah ya..." pikirnya dalam hati, sedikit terhibur di tengah rasa canggung yang tadi sempat ada.

Tiba-tiba Tante Maya bertanya polos, "Oh iya Indah, kamu sudah punya pacar belum?"

Wajahku langsung terasa panas. "Ya ampun, kok tiba-tiba banget sih Tante nanya begitu... malu banget, apalagi ada Rizki di sebelah!"

"Belum, Tante," jawabku pelan sambil menunduk sedikit.

"Ah masa belum? Padahal kamu cantik banget, Tante kira pasti sudah banyak yang mendekat," katanya sambil melirik sekilas ke arah Rizki.

Di sebelahnya, Rizki terus menyuap makanannya, tapi telinganya mendengar jelas setiap kata.

"Belum punya pacar ya... Padahal kemarin di pameran aku lihat dia dekat dengan seorang pria. Mungkin cuma teman saja kali ya? Lagian... ngapain aku mikirin soal itu sih," batinnya, berusaha mengabaikan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul

"Wah, bagus sekali ternyata Indah belum punya pasangan. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan. Tugas selanjutnya tinggal membujuk Rizki agar mau menikah dengannya. Semoga anakku mudah diatur kali ini, ini semua juga demi kebaikannya kan? Lagipula Indah memang calon yang paling tepat — latar belakangnya baik, sopan santunnya terjaga, karirnya cerah. Memang mereka serasi sekali. Ya, keputusan sudah bulat di hatiku. Perjodohan ini akan aku jalankan pelan-pelan tapi pasti."

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!