Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Perhatian Tanpa Syarat & Bahaya Mengancam
Sore itu, langit tampak mendung kelabu seolah turut merasakan ketegangan yang menyesakkan dada di kontrakan kecil itu. Sejak kejadian pengusiran dan teriakan di malam hujan kemarin, Bagas tak pernah benar-benar tenang. Ia tahu Dimas tidak akan berhenti semudah itu, ancaman itu masih menggantung di udara, menebar rasa takut setiap kali langit mulai gelap.
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti tepat di depan pagar. Bagas mengintip lewat celah jendela, waspada setengah mati. Ia lega saat melihat sosok yang turun bukanlah orang berwajah garang, melainkan Laras. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana namun rapi, membawa dua kantong besar berisi obat-obatan dan bahan makanan.
Begitu masuk ke dalam rumah, Laras langsung menyapa dengan senyum hangat, meski matanya terlihat serius.
"Bagas, Ibu bagaimana keadaannya?" tanya Laras sambil meletakkan bawaannya di meja kayu kecil.
Bagas menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Jantung Ibu memang sudah lemah, ditambah sering dikagetkan teriakan atau lemparan batu orang-orang suruhan Dimas. Semalam Ibu bangun dua kali, keringatan dingin dan gemetar hebat. Aku rasanya sudah tidak tega melihat Ibu terus-terusan menderita begini. Aku merasa gagal sekali."
Laras mendekat, menatap Bagas dengan pandangan lembut namun tegas. Ia meletakkan tangannya di lengan pemuda itu, memberi kekuatan diam-diam.
"Jangan bicara begitu, Bagas. Kamu sudah berjuang habis-habisan. Salahmu apa? Kau cuma ingin cari makan halal dan hidup tenang. Yang salah itu mereka, orang-orang yang tidak terima melihat orang lain maju, orang-orang yang berkuasa tapi hatinya busuk. Dan soal Dimas, biar aku yang urus."
Bagas terkejut, langsung menatap tajam ke arah Laras. "Jangan, Ras. Sudah cukup kamu menolongku sejauh ini. Dimas itu tidak waras, dia berkuasa di sini. Kalau kamu ikut-ikutan melawannya, dia bisa menyakiti kamu juga. Aku tidak akan sanggup kalau sampai kamu kenapa-napa karena aku."
Laras tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan keyakinan penuh. "Kamu lupa siapa ayahku? Dimas dan ayahnya bisa saja berpengaruh, tapi ayahku punya jaringan yang jauh lebih luas dan kuat. Lagipula, aku bukan gadis manja yang hanya bisa bersembunyi di belakang nama besar orang tuanya. Aku sudah cukup tahu bagaimana cara menghadapi orang seperti Dimas."
Saat mereka sedang berbicara, terdengar erangan pelan dari kamar tidur. Ibu Bagas kembali terbangun, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal berat. Laras secepat kilat bergerak mendekat, tidak menunggu Bagas memberi perintah. Ia sudah terbiasa merawat wanita tua itu.
"Bu... Ibu... tenang ya, ada Laras di sini," ucap Laras lembut sambil mengangkat bantal agar posisi kepala Ibu lebih tinggi. Ia meraba dahi yang terasa panas itu, lalu mengambil obat dan air hangat yang sudah disiapkannya dari tas. "Minum ini pelan-pelan ya, Bu. Nanti rasanya enakan. Ibu musti sehat, ya. Masih banyak hal indah yang harus dilihat."
Ibu Bagas menatap Laras dengan mata berkaca-kaca, tangan keriputnya menggenggam tangan gadis itu erat sekali. "Laras... Nak... maafkan Ibu ya... merepotkan kau terus. Kamu anak orang terpandang, malah sibuk mengurus orang tua miskin begini. Ibu tidak tahu harus membalas dengan apa..."
Laras tersenyum sambil mengusap keringat di pelipis Ibu dengan ujung jari yang halus.
"Ya Tuhan, Bu... jangan bicara begitu. Memangnya orang sepertiku tidak boleh berbuat baik? Tidak boleh sayang sama orang tua? Bagi Laras, Ibu itu sudah seperti Ibu kandung sendiri. Laras senang bisa di sini, senang bisa menemani Ibu. Justru Laras yang berterima kasih, karena Ibu dan Bagas sudah menganggap Laras bagian dari keluarga. Sudah ya, istirahat lagi. Jangan banyak pikiran. Mulai sekarang, tidak ada lagi orang yang berani mengganggu ketenangan Ibu. Laras janji."
Setelah memastikan Ibu kembali terlelap dengan nyaman, Laras keluar kamar dan menarik Bagas sedikit menjauh agar tidak terdengar siapa pun. Wajahnya yang tadi lembut kini berubah dingin dan penuh tekad.
"Dengar, Bagas. Aku sudah mengambil langkah. Aku sudah minta tolong Pak Haris, orang kepercayaan ayahku. Dia akan menempatkan dua orang yang bisa dipercaya, mereka orang tenang tapi tangguh, untuk berjaga di sekitar sini. Mereka tidak akan terlihat mencolok, tapi mereka ada. Begitu ada orang yang mendekat dengan niat jahat atau berisik lagi, mereka akan menanganinya. Kamu dan Ibu bisa tidur nyenyak mulai malam ini."
Bagas melongo tak percaya. "Laras... ini berlebihan sekali. Itu pasti mahal dan merepotkan sekali buatmu. Aku tidak mau kamu susah karena aku."
"Berlebihan?" potong Laras pelan namun tegas. "Bagiku, keselamatan dan kesehatan kalian berdua itu hal yang paling utama, jauh lebih mahal harganya daripada apa pun. Bagas, kamu itu laki-laki jujur dan berbakti. Kamu pantas dilindungi, bukan terus-terusan dianiaya.''
Di lain tempat, beberapa hari kemudian, di sebuah kedai kopi mewah di pusat kota, Dimas menggebrak meja hingga gelas bergoyang. Wajahnya merah padam menahan amarah yang makin tak terkendali. Di hadapannya duduk dua orang anak buahnya, menunduk ketakutan.
"Kalian bilang aman? Kalian bilang sudah mengeroyok mental mereka? Tapi kenapa aku dengar berita kalau Laras malah makin sering ke sana? Kenapa si ibu tua itu malah kelihatan lebih sehat? Dan kenapa Bagas masih berani berdagang?!" bentak Dimas dengan suara meninggi.
"Maaf, Mas Dimas. Kami sudah berusaha," jawab salah satu anak buahnya gugup. "Tapi sepertinya ada orang yang menjaga rumah itu. Kemarin kami mau lemparkan batu, tiba-tiba ada orang besar berbadan kekar muncul dari kegelapan, matanya tajam banget. Kami takut, Mas. Kayaknya mereka pengawal bayaran."
Dimas mencengkeram pinggiran meja kuat-kuat, urat lehernya menonjol. Ia tahu siapa dalang di balik itu. Laras. Wanita itu berani-beraninya melawan dia secara terang-terangan demi seorang pendatang miskin. Rasa cemburu dan benci bercampur menjadi racun yang membakar akal sehatnya.
"Pengawal? Hah! Pengecut! Jadi dia butuh dikawal oleh wanita?!" Dimas tertawa sinis, tapi tawanya terdengar mengerikan dan penuh niat jahat. "Kalau main fisik sudah tidak bisa... kalau urusan keamanan sudah dijaga... kita serang di bagian yang paling menyakitkan baginya. Bisnis!"
Dimas mendekatkan wajahnya ke arah anak buahnya, berbisik dingin dengan senyum licik.
"Besok, Bagas ada kiriman barang suku cadang dalam jumlah lumayan, kan? Barang itu nyawa baginya. Kalau barang itu rusak, dia akan bangkrut. Uang modalnya habis. Dia tidak punya duit lagi buat beli obat ibunya dan buat makan. Dan saat dia jatuh miskin total. Akan aku lihat apakah Laras masih mau sama dia. Akan aku lihat apakah dia masih bisa senyum."
"Caranya gimana, Mas?" tanya anak buahnya penasaran sekaligus waspada.
"Masuklah ke gudang sewaan dia. Kuncinya mudah didapatkan. Rusak semua barang itu. Tuangkan bensin sedikit, atau gunakan bahan kimia biar besi dan karetnya rusak total, tidak bisa dijual sama sekali. Buat seolah-olah kerusakan alami atau kecerobohan dia sendiri. Aku mau dia menangis sepuasnya. Aku mau dia pergi dari kota ini dengan membawa rasa malu dan kekalahan seumur hidup!"
Malam itu juga, rencana jahat itu disusun rapi. Dimas sudah membayangkan wajah hancur Bagas saat melihat usahanya lenyap seketika. Ia merasa sudah menang.
Keesokan harinya, Bagas dan Laras sedang berada di gudang sewaan kecil untuk mengecek persiapan pengiriman. Tiba-tiba seorang staf gudang bernama Jaka datang terengah-engah, wajahnya pucat dan ketakutan.
"Mas Bagas! Mbak Laras! Syukurlah kalian ada di sini..." Jaka menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Mas... kemarin sore, ada orang-orang asing datang ke sini. Mereka tanya-tanya soal barang Mas Bagas. Malamnya, karena saya ada yang kelupaan, saya balik lagi ke gudang, dan melihat ada orang memanjat pagar. Saya sembunyi di balik tumpukan karung. Saya dengar mereka bilang mau merusak semua barang di sini hari ini pas jam istirahat makan siang. Katanya, disuruh Mas Dimas. Tapi tolong jangan bilang ini berita dari saya."
Darah Bagas mendidih, tapi Laras lebih dulu bertindak cepat. Ia menggenggam lengan Bagas agar tetap tenang.
"Terima kasih, Jaka. Jangan khawatir, kami tidak akan bilang siapa yang kasih tahu. Kamu aman," ucap Laras tegas, lalu menatap Bagas dengan sorot mata waspada. "Bagas, dengar. Kita tidak bisa diam saja. Kita harus pindahkan barang itu sekarang juga. Semuanya. Pindahkan ke gudang ayahku yang ada penjagaan ketat. Kita berpura-pura barang masih ada di sini. Biar mereka datang, merusak kotak kosong, atau kalau berani berbuat jahat, kita tangkap basah."
Bagas mengangguk mantap. "Kamu benar, Ras. Dimas mau main kotor, kita hadapi dengan akal sehat. Terima kasih Jaka, karena kamu memberikan info yang sangat penting."
Siang itu, saat jam istirahat tiba, tepat seperti dugaan, dua orang anak buah Dimas menyelinap masuk lewat celah pagar yang sengaja dibiarkan terbuka. Mereka membawa alat dan cairan kimia, tersenyum puas membayangkan kemenangan tuannya. Mereka dengan cepat merusak kotak-kotak yang ada di dalam gudang, menuangkan cairan, dan merasa berhasil.
Namun, saat mereka hendak pergi, lampu gudang tiba-tiba menyala terang. Di depan pintu berdiri Bagas, Laras, Pak Haris, dan dua orang pengawal besar yang dikirim Laras. Wajah Bagas dingin dan tajam.
"Sedang apa kalian?" tanya Bagas tenang namun menggetarkan."
Kedua orang itu pucat pasi, gemetar ketakutan. Mereka sadar jebakan Dimas gagal total. Mereka tertangkap basah.
Laras melangkah maju, suaranya tegas dan berwibawa sekali, tak lagi terdengar seperti gadis lembut biasa.
"Kalian boleh pergi. Tapi sampaikan pada Dimas. Ini peringatan terakhir. Kalau dia berani menyakiti Bagas, menyakiti Ibunya, atau menyabotase apa pun lagi, aku tidak akan segan melapor ke polisi dengan semua bukti yang sudah kami kumpulkan. Aku punya saksi, aku punya jejak. Katakan padanya, perang dia sudah kalah sejak dia memilih jalan kotor."
Mereka pun lari terbirit-birit ketakutan. Tapi meski rencana sabotase gagal, ketegangan tidak mereda. Justru sebaliknya. Bagas tahu, Dimas adalah orang yang gila amarah. Kegagalan ini hanya akan membuatnya makin membabi buta. Di perjalanan pulang, Bagas menggenggam tangan Laras erat, matanya menatap jalanan yang sepi dan gelap.
"Ras, terima kasih. Kalau tidak ada kamu dan keberanianmu, mungkin hari ini aku sudah hancur. Tapi sekarang, dia pasti makin benci. Dia tidak akan berhenti sampai aku musnah. Bahaya ini makin nyata, Ras. Bahaya buatku, buat Ibu, dan buat kamu juga. Dimas sudah tidak waras lagi."
Laras menoleh, tersenyum tipis namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya. Ia meremas balik tangan Bagas.
" Aku tahu, Bagas. Aku tahu risikonya. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah memilih berdiri di sisimu, dan aku tidak akan mundur. Kita hadapi bersama, apa pun yang terjadi. Asal kamu tahu, kebahagiaan dan keselamatan kalian berdua jauh lebih berharga daripada rasa takut apa pun."
Malam itu, saat sampai di kontrakan, suasana terasa berat dan mencekam. Di balik keberhasilan menggagalkan rencana jahat itu, Bagas sadar betul, pertempuran yang sesungguhnya baru saja masuk ke fase paling berbahaya.