"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Satu minggu berlalu seperti mimpi indah di bawah langit Eropa. Setelah menyelesaikan perjalanan bulan madu yang penuh kemewahan dan afeksi tanpa batas di Paris, jet pribadi milik Addison Group akhirnya mendarat kembali di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dinasti bisnis bersama belahan jiwanya dengan cuaca yang sedikit mendung, seolah sedang mempersiapkan atmosfer bagi babak baru pembersihan masa lalu.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju kawasan elite tempat kediaman utama Edgar Addison berada, tangan Gaby tidak pernah sekalipun dilepaskan dari genggaman hangat Edgar. Pria matang itu sesekali mengecup punggung tangan istrinya, memastikan bahwa ketenangan yang Gaby dapatkan selama di Paris tidak terusik sedikit pun oleh riak-riak udara ibu kota.
Namun, begitu iring-iringan mobil mewah Mercedes-Benz Maybach hitam yang mereka tumpangi berbelok memasuki jalur privat menuju gerbang besi megah kediaman Addison, pandangan Gaby langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir canggung di bahu jalan, tepat beberapa meter di luar gerbang utama yang dijaga ketat oleh belasan sekuriti berseragam hitam.
Gaby mengenali mobil itu. Sangat mengenalnya. Itu adalah mobil sedan perak milik Surya, papa kandungnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Edgar lembut. Suaranya yang bariton langsung mengalun pelan begitu merasakan jemari tangan Gaby yang berada di genggamannya sedikit menegang.
"Itu... mobil Papa, Mas," bisik Gaby, matanya menatap nanar ke arah jendela kaca mobil.
Di luar sana, tampak Surya bersama istrinya mama kandung Gaby sedang berdiri di samping mobil dengan wajah yang dipenuhi kecemasan, kelelahan, dan guratan frustrasi yang teramat dalam. Pakaian mereka tidak lagi tampak necis dan mentereng seperti biasanya. Sejak Kafi mengintervensi bisnis keluarga mereka atas perintah Edgar, seluruh aset dan usaha Surya berada di ambang kehancuran total akibat pembatalan investasi kosong yang dulu dijanjikan oleh Gavin.
Edgar menatap ke luar jendela dengan sepasang mata elang yang seketika berubah menjadi sedingin es. Tidak ada riak emosi di wajah tampannya, hanya ada keangkuhan mutlak seorang penguasa yang merasa wilayah sucinya diganggu oleh segerombolan parasit.
"Kafi," panggil Edgar melalui interkom mobil kepada asisten pribadinya yang duduk di kursi depan bersama sopir.
"Iya, Tuan Besar?" jawab Kafi takzim.
"Hentikan mobil tepat di depan gerbang. Jangan buka pintu untuk mereka sampai aku memberikan perintah," ucap Edgar datar, namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi.
"Baik, Tuan."
Iring-iringan mobil Maybach itu berhenti perlahan. Begitu melihat mobil mewah sang CEO tertinggi tiba, Surya dan istrinya langsung setengah berlari mendekati kaca mobil bagian belakang, berharap bisa mengetuk kaca dan memohon belas kasihan. Mereka tahu, satu-satunya cara menyelamatkan keluarga mereka dari kebangkrutan total dan tuntutan hukum akibat ulah Luna dan Gavin adalah dengan meminta pengampunan dari Gaby.
Namun, sebelum tangan Surya sempat menyentuh badan mobil yang berkilau mahal itu, empat orang pengawal berbadan tegap langsung memasang barikade hidup, menghalangi langkah kedua orang tua tersebut dengan tegas.
Pintu kemudi depan terbuka. Kafi melangkah keluar, berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu penumpang belakang tempat Edgar berada.
Edgar melangkah keluar terlebih dahulu. Mantel panjang hitamnya bergerak elegan ditiup angin sore Jakarta. Kehadirannya yang dominan langsung menguasai atmosfer di depan gerbang tersebut. Ia berbalik, mengulurkan tangan besarnya untuk membantu Gaby keluar dari mobil. Edgar sengaja merangkul pinggang ramping Gaby dengan posesif, menyembunyikan tubuh mungil istrinya di balik dadanya yang bidang, seolah menegaskan kepada dunia bahwa wanita ini kini berada di bawah perlindungan mutlaknya.
"Gaby! Gaby, ini Papa, Nak! Tolong dengarkan Papa!" teriak Surya histeris begitu melihat putri kedua yang dulu dibuangnya kini berdiri dengan keanggunan seorang Nyonya Besar Addison.
"Gaby... Mama mohon, Nak! Tolong bicara dengan suamimu. Rumah kita mau disita, Nak! Luna juga stres mengurung diri di kamar!" sang mama ikut menangis, mencoba menerobos barisan pengawal namun sama sekali tidak digubris.
Gaby menatap kedua orang tuanya dari balik pundak kokoh Edgar. Ada rasa perih yang sempat melintas di hatinya, bagaimanapun juga, mereka adalah darah dagingnya. Namun, ingatan tentang bagaimana dengan teganya mereka mencaci maki dirinya, mengusirnya dari rumah, dan menyalahkannya atas perselingkuhan Gavin dan Luna demi membela posisi Gavin sebagai Direktur Operasional palsu, membuat hati Gaby kembali mengeras.
Edgar merasakan perubahan napas istrinya. Pria matang itu mempererat rangkulannya di pinggang Gaby, lalu menatap Surya dan istrinya dengan tatapan mata yang begitu menusuk dan penuh penghinaan.
"Siapa yang memberikan Anda berdua izin untuk mengotori pelataran gerbang rumahku dengan suara bising kalian?" tanya Edgar, suaranya tidak keras, namun gaung baritonnya yang dingin sanggup membuat nyali Surya ciut seketika.
"Tuan... Tuan Besar Edgar," Surya membungkuk hormat dengan tubuh yang gemetar. "Saya... saya datang ke sini sebagai mertua Anda. Saya hanya ingin menemui putri saya, Gaby. Kami ingin menyelesaikan kesalahpahaman keluarga ini."
Edgar mengeluarkan sebuah tawa kecil yang sarat akan sarkasme sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan.
"Mertua?" Edgar mengulang kata itu dengan nada menohok yang langsung menampar harga diri Surya. "Seingatku, aku tidak pernah memiliki mertua yang memiliki tabiat seperti sepasang pembuang sampah. Bukankah satu minggu yang lalu, di rumah Anda sendiri, Anda dengan bangga mengatakan bahwa Gaby bukan lagi bagian dari keluarga Anda?"
Wajah Surya dan istrinya seketika pucat pasi, membiru bagai tak dialiri darah.
"Saat Gavin Geraldi yang Anda agung-agungkan itu berselingkuh dengan Luna di kantor saya, Anda berdua menutup mata hanya karena silau dengan jabatan Direktur Operasional palsunya," lanjut Edgar, setiap kalimat yang keluar dari bibirnya bagai belati yang menguliti kesalahan masa lalu mereka tanpa ampun.
"Anda menyalahkan Gaby yang saat itu bekerja keras sebagai analis bisnis muda, mencaci makinya demi membela anak haram penipu itu. Dan sekarang, setelah takhta pasir mereka runtuh dan bisnis Anda hancur, Anda baru mengingat bahwa Anda memiliki seorang putri bernama Gaby?"
"Tuan Edgar... kami khilaf. Kami dibohongi oleh Gavin!" tangis sang mama pecah, bersimpuh di atas aspal jalanan di depan para pengawal. "Gaby, tolong Mama, Nak... Kamas hatimu tidak sekeras ini dulu..."
"Cukup," potong Edgar tajam, satu kata yang instan menghentikan tangisan wanita tua itu. Aura membunuh terpancar jelas dari sepasang mata elang sang CEO. "Jangan pernah berani menyebut nama istriku dengan mulut kotor yang dulu digunakan untuk mengutuknya."
Edgar merapatkan tubuh Gaby ke dadanya, menunduk sedikit untuk membisikkan kata-kata penenang di telinga istrinya sebelum kembali menatap tajam ke arah Surya.
"Dengar baik-baik, Tuan Surya," ucap Edgar dengan nada bicara yang teramat dingin dan menohok, langsung menghancurkan sisa-sisa harapan terakhir keluarga itu. "Gaby yang dulu bisa Anda injak, Anda usir, dan Anda salahkan... sudah mati di hari Anda membuangnya. Wanita yang berdiri di sampingku hari ini adalah Nyonya Besar Edgar Addison. Dia tidak memiliki urusan, hubungan darah, ataupun kewajiban moral apa pun untuk menyelamatkan parasit-parasit yang sedang tenggelam di jalanan."
Edgar berbalik, mengabaikan tatapan hancur dan tangisan histeris dari kedua orang tua itu. Ia menuntun Gaby untuk melangkah masuk ke dalam area gerbang utama yang kini terbuka lebar menyambut kepulangan sang pemilik takhta yang sesungguhnya.
"Kafi, bersihkan area luar. Jangan biarkan kendaraan atau manusia-manusia tidak berguna ini mengganggu pemandangan rumahku lagi," perintah Edgar dingin sebelum pintu gerbang besi raksasa itu tertutup rapat, memisahkan dua dunia yang kini telah memiliki jarak sejauh langit dan bumi.