Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Orang yang di cintai
...----------------...
......................
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Di sudut sebuah kafe kelas atas yang remang-remang, di mana aroma kopi mahal bercampur dengan asap cerutu tipis, Iksan duduk dengan gelisah. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan irama yang tak beraturan. Dia sudah menunggu selama lima belas menit sebelum seorang wanita dengan pakaian ternama berjalan masuk dengan langkah yang tegas dan aura dingin yang mematikan. Itu Liona.
Liona tidak melepas kacamata hitamnya bahkan saat dia duduk di sofa. "Ada apa sampai lu harus ngajak gue ketemu langsung? Gue lagi sibuk urusan kuliah," tanya Liona tanpa basa-basi, suaranya sedatar es.
Iksan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya senyum predator yang sedang memandangi mangsanya. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, menggeser beberapa foto ke arah Liona. "Arka sudah diusir dari keluarga Albian. Dia sekarang hidup sebagai gelandangan di Jakarta sama cewek itu. Lu tahu siapa ceweknya?"
Liona terdiam. Tangannya yang memegang cangkir kopi sedikit bergetar, namun dia dengan cepat menguasai diri. Matanya menatap foto Arka dan Astrid di depan KUA yang diambil dari jarak jauh oleh seseorang yang dibayar Iksan. "Ini... ini bohong, kan? Arka gak mungkin serendah ini cuma buat cewek biasa yang bahkan gak punya latar belakang apa pun."
"Kenyataannya gitu, Lion. Dia bahkan sudah menikahi cewek itu. Arka sekarang bukan lagi putra kebanggaan keluarga Albian yang lu kenal. Dia cuma pria yang kehilangan segalanya karena napsunya sendiri," jelas Iksan, dengan sengaja menambahkan racun ke dalam setiap kalimatnya.
Liona merasakan hantaman keras di dadanya. Rasa marah, kecewa, dan cemburu bercampur menjadi satu. Dia merasa dipermainkan oleh takdir, dan lebih lagi, dipermainkan oleh Arka. Selama ini, Liona mengira Arka memutuskan hubungan karena alasan ambisi atau perbedaan visi, namun ternyata karena wanita lain yang jauh di bawah level mereka. Rasa harga dirinya terluka parah. Dia merasa bodoh karena pernah menangis untuk pria yang memilih jalan hidup serendah itu.
Liona merogoh tasnya, mengambil segepok uang tunai dalam amplop cokelat, dan melemparkannya ke atas meja dengan gerakan yang kasar.
Iksan menatap amplop itu dengan mata berbinar. "Apa lagi yang harus gue lakuin buat lu?"
Liona berdiri, menatap Iksan dengan sorot dingin yang mengintimidasi. "Udah cukup. Itu bayaran lu atas informasinya. Gue nggak mau denger nama dia lagi. Anggap aja gue nggak pernah kenal pria bernama Arka Zayn Albian." Liona pergi begitu saja, meninggalkan Iksan yang kini tertawa kecil sembari memasukkan uang itu ke dalam sakunya.
Setelah kepergian Liona, Iksan tidak langsung pergi. Dia memanggil pelayan dan memesan satu gelas wiski lagi. Dalam pikirannya, roda rencana yang lebih jahat mulai berputar. Dendamnya kepada Arka sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Dia benci bagaimana Arka dulu selalu memamerkan mobil-mobil mewahnya, sering meremehkannya dengan uang ayahnya, dan bersikap seolah dunia adalah panggung miliknya sendiri. Sekarang, Arka adalah mangsa yang lemah. Tanpa koneksi, tanpa uang, dan tanpa keluarga yang melindungi, Arka adalah sasaran empuk.
Iksan mengeluarkan ponselnya, lalu dia mencoba menelpon Arka dengan gaya bahasa yang penuh persahabatan: “Hallo ka.”
......................
Di Rumah Astrid, suasana rumah kami perlahan membaik, meski secara ekonomi kami hidup sangat pas-pasan. Setelah kejadian pertengkaran hebat malam itu, aku benar-benar berubah. Setiap hari, aku memastikan rumah bersih, pakaian Astrid rapi, dan aku mulai belajar melakukan pekerjaan rumah yang dulu sama sekali tidak pernah kusentuh. Aku melakukannya bukan karena aku terpaksa, tapi karena aku merasa harus menebus dosaku pada wanita ini.
Malam ini, saat Astrid pulang dari kampus dan kerjanya, dia tidak lagi disambut oleh tumpukan sampah atau aku yang malas-malasan. Aku menyambutnya dengan secangkir teh hangat, rumah yang wangi, dan makan malam sederhana yang kubeli dari sisa uang Kak Hendra.
Kami duduk di sofa ruang tamu yang sempit. Astrid terlihat sangat lelah, tetapi matanya menatapku dengan tatapan yang lebih lembut.
"Ka, makasih ya rumahnya bersih banget hari ini. Lu... lu beneran berubah, padahal gue cuma tegur lu sedikit aja pas itu" ucap Astrid sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku mengelus rambutnya perlahan, merasakan kedamaian yang asing. "Gue cuma berusaha jadi suami yang lebih baik, Strid. Gue tahu gue banyak salah, dan gue sadar sekarang kalau kebahagiaan itu bukan soal berapa banyak uang yang kita punya, tapi soal gimana kita ngehargain satu sama lain."
"Seorang Arka Zayn Albian, putra keluarga ternama, orang yang bermartabat ternyata bisa juga ngomong begitu," gumamnya, memejamkan mata.
Namun, di balik kehangatan itu, bayangan pesan dari Iksan besok pagi terus menghantui. Aku sempat ragu, apa Iksan benar-benar bisa dipercaya? Tapi dia satu-satunya orang yang masih mau berurusan denganku setelah semua kejadian ini. Iksan adalah sahabatku, pikirku naif. Aku tidak sadar bahwa aku baru saja terjebak dalam jaring yang dibuat oleh seseorang yang paling kubenci secara tidak langsung.
Malam harinya, saat Astrid sudah terlelap di kamarnya kami masih sepakat untuk tidur terpisah sampai aku bisa benar-benar membuktikan diriku aku berbaring di kamar ku yang dingin, menatap langit-langit. Aku membayangkan jika investasi ini berhasil, aku bisa membelikan Astrid rumah yang lebih layak, memberikan kehidupan yang pantas untuk anak kami, dan membuktikan kepada Ayah bahwa aku tidak butuh warisannya untuk sukses.
Hanya butuh keberanian untuk memulai, pikirku.
Aku tidak menyadari bahwa keberanian tanpa kewaspadaan hanyalah sebuah jalan pintas menuju kehancuran. Aku memejamkan mata, memimpikan kekayaan yang akan segera datang, tanpa menyadari bahwa sahabat yang paling kupercaya sudah menyiapkan jebakan maut untuk menghancurkan sisa harga diriku yang masih tersisa.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Aku mengenakan pakaian terbaik yang kupunya, berpamitan pada Astrid yang masih setengah sadar.
"Strid, gue ada urusan penting di Jakarta Barat ya. Mungkin bakal bahas proyek bisnis sama Iksan. Doain ya," ucapku sambil mengusap kepala Astrid.
Astrid mengangguk kecil, masih mengantuk. "Hati-hati ya, Ka. Jangan terlalu capek."
Aku berangkat ke Jakarta Barat dengan keyakinan penuh. Di dalam kereta, aku terus melamunkan masa depan. Aku membayangkan Ayah yang terkejut melihatku kembali sebagai pria sukses, membayangkan Ibu yang menangis bahagia saat aku membuktikan bahwa aku bisa berdiri di kaki sendiri.
Sesampainya di tempat perjanjian, suasana kota terasa berbeda. Gedung-gedung tinggi tampak lebih mengintimidasi. Aku sampai di kafe tempat janjian. Iksan sudah duduk di sana, dengan setelan santai yang tampak mahal, seolah-olah dia adalah seorang pengusaha besar.
"Arka! Sini, Bro!" Iksan melambai dengan semangat.
Aku duduk di depannya, menatapnya dengan antusias. "Jadi, bisnis apa yang lu maksud, San?"
Iksan mengeluarkan sebuah map tebal dari tas kerjanya. "Jadi gini, Ka. Gue punya koneksi di sebuah perusahaan startup teknologi di Singapura. Mereka lagi butuh suntikan modal buat ekspansi besar-besaran. Mereka janjiin return sampai 300% dalam waktu tiga bulan. Ini kesempatan langka banget, gue aja udah masukin modal paling besar gue."
Aku membaca dokumen-dokumen itu. Semuanya tampak legal, dengan stempel dan tanda tangan yang terlihat sangat asli. Meskipun aku tidak terlalu paham dunia bisnis, melihat angka-angka keuntungan itu membuat logikaku hilang.
"Modalnya berapa, San?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
"Minimal 800 juta, Ka. Itu udah buat dapet posisi partner, nambah 200 juta udah makin gede lagi ka. Kalau lu masuk sekarang, lu bakal jadi salah satu pemegang saham terbesar. Lu kan punya uang dari watisan rumah di Bandung itu, kan?"
Jantungku berdegup kencang. 800 juta. Itu hampir seharga rumah Astrid dj jakarta dan juga sisa tabungan hasil penjualan perabot rumah dan uang dari Kak Hendra. Aku bimbang sejenak, tapi kemudian wajah Ayah yang menghinaku dan wajah Astrid yang kelelahan muncul di kepalaku.
"Oke, San. Gue ikut, tapi gue gabisa ngasih Sekarang. tapi pasti gue kasih kok paling lama sebulan" ucapku tegas.
Iksan tersenyum lebar, senyum yang kali ini terasa sangat menyeramkan jika aku lebih teliti memperhatikannya. "Pilihan yang tepat, Bro. Gue bangga sama lu. Kita bakal ngebuktiin ke semua orang kalau kita bisa sukses tanpa mereka."
Kami menandatangani berkas-berkas tersebut. Iksan memintaku melakukan transfer bank saat sudah bisa membayar ke rekening perusahaan tersebut.
Saat itu juga, aku merasa beban di pundakku sedikit terangkat. Aku merasa akhirnya aku melakukan sesuatu yang berarti.
"Nanti dalam satu minggu, lu bakal dapet laporan laba pertama lu," ucap Iksan sambil menutup map itu. "Sekarang, mending kita rayain keputusan lu ini. Pesan apa pun yang lu mau, gue yang bayar."
Aku tertawa, merasa lega dan bahagia. Kami menghabiskan siang itu dengan mengobrol tentang masa depan yang indah. Iksan terus meyakinkanku bahwa hidupku akan berubah total. Aku merasa seperti pria paling beruntung di dunia.
Namun, saat aku dalam perjalanan pulang, aku tidak menyadari satu hal. Iksan tidak pernah berniat untuk menginvestasikan uang itu. Saat itu juga, di sebuah kantor fiktif yang tidak pernah ada, Iksan sedang memindahkan uang tersebut ke rekening luar negeri yang tidak bisa dilacak, lalu menghapus semua jejak komunikasinya denganku.
...----------------...