Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Berdua
Jeviza memutuskan untuk langsung pulang tadi, ia menolak tawaran Sisil dan yang lain untuk mengantarkannya sampai rumah Puspa, Jeviza tidak mau ketiga temannya tahu kalau ia selama ini tinggal dengan cowok yang selalu dielu-elukan mereka. Namun nasib sial seakan tidak berhenti di kampus saja hari ini. Sampai rumah, tidak ada Puspa, Jeviza semakin memurungkan wajahnya saat mendapati telpon dari Puspa jika wanita itu sedang pergi ke rumah martuanya dan mungkin akan pulang malam.
Termenung sendiri di kamar, Jeviza meringis saat kakinya yang tadi sudah diobati masih terlihat merah.
"Apes banget sih, gue? Mana laper lagi," ekor matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 5 sore.
Tadi Jeviza menolak untuk pergi ke kantin fakultas Sisil dan Naura, ia memang lebih memilih untuk pulang untuk segera istirahat, tetapi siapa sangka, sampai rumah tidak adanya wanita yang biasanya membuatkan makanan untuknya. Mau mengambil cemilan pun rasanya tenaga Jeviza sudah habis untuk naik turun tangga. Kakinya masih sedikit sakit untuk berjalan. Jeviza lebih memilih untuk berdiam di kamarnya dan menunggu kepulangan Puspa.
3 jam telah berlalu, belum ada tanda-tanda kepulangan Puspa, dan Jeviza yakin mas Arlo pun sudah pasti pulang ke rumah orang tuanya.
"Kayaknya bentar lagi gue pingsan," gumamnya mulai pasrah.
"Please, kalau gue pingsan atau mati, yang pertama nemui jasad gue jangan kak Kean, gue lagi nggak beroutfit, pakai daster gini," cicitnya melirik ke arah tubuhnya yang dibalut oleh daster.
"Kak Pus, pulang, gue udah mau mati kelaparan."
Ceklek
Suara pintu terbuka seketika membuat rasa lemas Jeviza hilang, gadis itu bangkit dari ranjangnya dan seketika menemukan Keandra yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Buru- buru Jeviza mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Gue bawain makanan buat lo di bawah, kak Puspa sama mas Arlo malam ini nggak pulang," jelas Kean berhasil membuat Jeviza langsung sehat begitu saja.
Rasa lapar itu masih ada, tetapi lemas dalam tubuhnya hilang berganti menjadi rasa aneh, jika malam ini Puspa dan Arlo tidak pulang, itu berati Jeviza hanya berdua dengan Keandra di rumah itu, tanpa disadari Jeviza menggigit bibir bagian bawahnya, ia jadi gelisah sendiri.
Kean masih berada di tempatnya, menatap Jeviza yang belum bereaksi apa-apa selain wajah tegangnya. "Kalau butuh bantuan, gue di kamar."
Setelah mengatakan itu Kean membalikan tubuhnya, pergi ke kamarnya.
Setelah memastikan Kean benar-benar pergi, Jeviza turun dari ranjang kamarnya, susah payah ia berusaha untuk berdiri dan berajalan dengan berpegangan pada dinding rumah. Saa tiba di tangga atas, ia melirik anak tangga yang menjulang ke bawah, bahunya melamas melihat jika perjuangannya masih sangat panjang untuk bisa mengisi perutnya. Tetapi Jeviza tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, selagi Kean masih di kamarnya, ia harus segera sampai bawah dan makan dengan cepat sebelum bertemu lagi dengan cowok itu.
Dengan perlahan, Jeviza mulai turun ke bawah, ia kembali meringis meras pada bagian pergelangan kakinya seperti terkilir, tadi hanya merah saja, tetapi sekarang mulai terlihat lebih besar. Sepertinya memang bengkak dan butuh obat yang benar, bukan sekedar obat oles saja.
"Ish," ringisnya menahan nyeri.
Jeviza sanga hati-hati sekali ketika turun ke bawah, ia berpegangan pada railing tangga untuk membantunya turun.
"Sumpah, gue nggak nyangka, masih mudah udah stimulasi jadi nenek-nenek gini," gumamnya terus berusaha, sampai pada akhirnya Jeviza merasa ada yang aneh di sekitarnya.
Bau maskulin tiba-tiba menguar begitu saja di indera penciumnya, Ia menolehkan kepalanya, di belakangnya sudah ada Kean yang berdiri dan menatap ke arahnya.
Kean sudah selesai mandi, ia memakai kaos hitam polos dan juga celana panjang rumahan. Dada Jeviza yang tadinya baik-baik saja mulai bedebar di dalam sana. Debarannya semakin menggila saat Kean turun satu anak tangga dan semakin dekat dengannya.
Sorot mata itu, seperti menelisik setiap gerakan kecil Jeviza, demi Tuhan, tubuh Jeviza kembali tidak bisa digerakan disaat situasi seperti ini. Jeviza seakan kehilangan kendali tubuhnya sendiri setiap kali berdekatan dengan Keandra.
"L-lo, juga mau ke bawah, kak?"
Keandra diam, lalu tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Jeviza begitu saja, mulai turun ke bawah dengan tenangnya, sementara Jeviza sudah hampir pingsan karena perbuatan Keandra padanya.
Jantung Jeviza seperti ingin melompat dari tempatnya, ia sangat yakin jika Kean juga mendengar detak jantungnya yang gila-gilaan di dalam sana.
Udara di sekitarnya terasa sangat tipis, Jeviza menahan napasnya saat melihat tangan kokoh Kean kini mengangkat tubuhnya, dan dada bidang itu berada begitu dekat dengannya.
"Sorry, gue nggak izin lo dulu, tapi kayaknya lo emang butuh bantuan," ujar Keandra masih dengan langkah tenangnya.
Sampai di meja makan, Kean mendudukan Jeviza di kursi, lalu menatap Jeviza dengan jakun yang naik turun, membuat Jeviza baru sadar akan satu hal, jika ia lupa, kalau ternyata ia masih memakai daster yang seharusnya hanya dipakai ketika sedang berada di dalam kamar. Ini malah Jeviza pakai di depan Keandra, dalam keadaan rumah hanya diisi oleh mereka saja.
"Gu-gue, mau ganti baju dulu." Jeviza berniat bangkit dari duduknya.
"Nggak perlu," ujar Kean cepat.
Hawa di sekitar terasa sangat panas. Jeviza kadang tidak mengerti dengan segala yang ada dalam dirinya, harusnya Jeviza benci Keandra, harusnya Jeviza marah dengan tindakan Keandra tadi yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya, tetapi seakan kata-kata untuk protes saja terkunci begitu saja di tenggorokannya. Semua bagian yang ada dalam dirinya seakan mempasrahkan diri pada Keandra. Dan Jeviza benci mengakui itu.
"Kalau lo nggak nyaman, gue bisa pergi," ujar Keandra membalikan tubuhnya.
"Jangan pergi," cegah Jeviza langsung.
Sebisa mungkin ia membuang rasa gengsi dan egonya yang tinggi, ia meremat tangannya sendiri sebelum berucap. "Gue takut sendirian," cicitnya.
Jeviza tidak bohong, dia memang takut di rumah Puspa sendirian, apa lagi kakinya yang sedang sakit membuatnya tidak bisa untuk bergerak dengan bebas.
Kean masih diam di tempatnya, menatap Jeviza yang duduk dengan wajah merah, entah malu atau kesal karena harus mengatakan itu padanya. Seakan-akan jika Jeviza benar-benar butuh Kean sekarang, dan tidak mau ditinggal sendiri, tetapi apapun alasannya itu, Kean selalu suka melihat wajah merah Jeviza, ia menikmati wajah cantik dengan rona merah di wajahnya itu.
"Gue mau ambil obat buat kaki lo." Kean melirik ke arah kaki Jeviza yang sudah sedikit membengkak. "Lo bisa makan dulu," ujarnya berlalu pergi, meninggalkan Jeviza yang bisa bernapas dengan lega setalah tahu Keandra tidak akan pergi dari rumah.
Untuk saat ini, Jeviza lebih memilih berdua dengan Keandra dari pada harus sendirian. Setidaknya ada satu mahluk hidup di rumah itu selain dirinya. Meski Jeviza benci ketika secara tidak langsung mengatakan butuh Keandra saat ini.
"Nggak papa Je, cukup malam ini, nggak ada malam-malam berikutnya," gumamnya mulai membuka bungkus plastik berisi makanan yang tadi Keandra bawa untuknya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!