NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Belakang yang Sama

Beberapa saat kemudian..

Sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Bahkan udara di dalam ruangan terasa membeku. Joyce menatap Ibu Maria seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

"Keluarga... Mahendra?"

Suaranya nyaris tidak terdengar. Ibu Maria mengangguk perlahan. Air mata wanita tua itu mulai jatuh.

"Maafkan saya."

"Kami semua diperintahkan untuk diam."

Joyce merasakan jantungnya berdetak sangat keras.

Mahendra.

Nama itu. Nama yang beberapa bulan terakhir begitu dekat dengan hidupnya. Nama yang selama ini melekat pada satu orang. Perlahan. Sangat perlahan. Joyce menoleh ke samping. Ke arah Ardian. Namun pria itu hanya menggelengkan kepala.  Dan Joyce merasa, untuk pertama kalinya sejak mereka datang ke panti asuhan itu... ia menyadari ekspresi lelaki tersebut.

Wajah Ardian pucat. Rahangnya mengeras. Tatapannya penuh pergulatan. Seolah ia sudah mengetahui sesuatu. Sebelum dirinya. Itu kecurigaannya

"Ardian..."

Suara Joyce bergetar.

"Kenapa kamu terlihat seperti sudah tahu?"

Tidak ada jawaban. Dan diamnya Ardian justru menjadi jawaban yang paling menakutkan. Itu anggapan Joyce.

Raka menutup notebook yang sejak tadi berada di tangannya. Ia tahu dan kaget, jika momen ini tidak bisa lagi dihindari. Momen Joyce meragukan Ardian

"Tuan..." gumamnya pelan.

Namun Ardian mengangkat tangan. Memintanya diam. Karena ini bukan urusan asisten. Ini urusan dirinya dan Joyce.

"Ardian."

Kini suara Joyce terdengar lebih tegas. Meski air mata masih membasahi pipinya.

"Jawab aku."

Ardian menatap perempuan di hadapannya. Perempuan yang beberapa minggu terakhir berhasil masuk ke dalam hidupnya tanpa izin. Perempuan yang membuatnya kembali percaya bahwa seseorang bisa menjadi rumah. Dan kini... ia harus menghancurkan semuanya.

"Aku tidak memintamu untuk percaya Joy.. Aku tidak tahu apa-apa, dan akupun sama baru tahu jika ternyata dirimu adalah bagian dari keluarga Mahendra."

Kalimat itu membuat wajah Joyce perlahan kehilangan warna. Joyce mundur satu langkah. Seolah membutuhkan jarak.

"Siapa kamu sebenarnya, Ardian?"

Pertanyaan itu terasa seperti pisau. Karena selama ini Joyce tidak pernah bertanya. Tidak pernah peduli pada nama belakangnya. Tidak pernah menghubungkan apa pun. Dan sekarang..., semuanya terasa begitu jelas.

Ardian menarik napas panjang. Lalu mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya.

"Namaku Ardian Mahendra."

Air mata Joyce langsung berhenti. Bukan karena tenang. Tetapi karena syok. Tubuhnya membeku. Pikirannya kosong. Dan tiba-tiba seluruh potongan puzzle mulai tersusun.

Ratih. Mahendra. Arya Mahendra.

Surat. Lambang keluarga. Semuanya menyatu menjadi satu kenyataan yang begitu kejam.

"Jadi..."

Joyce tertawa kecil. Tawa yang menyakitkan.

"Maaf Ardian.., aku tidak percaya. Jadi selama ini..."

Matanya mulai memerah.

"Kamu bagian dari keluarga itu?"

Ardian tidak menjawab. Karena tidak ada jawaban yang bisa mengurangi rasa sakit itu.

"Dan kamu tidak bilang apa-apa?"

"Aku baru tahu kali ini Joy."

"Jadi.., apa yang harus aku katakan."

Joyce tertawa lagi. Kali ini lebih pahit.

"Lucu."

Air matanya kembali jatuh.

"Kenapa setiap orang selalu bilang mereka tidak ingin menyakitiku setelah mereka menyakitiku?"

Ruangan mendadak hening. Kalimat itu tidak hanya menghantam Ardian. Tetapi juga dirinya sendiri. Karena untuk pertama kalinya... Joyce melihat Ardian bukan sebagai tempat berlindung. Melainkan sebagai bagian dari rahasia yang selama ini mencuri hidupnya.

"Ayahku meninggal."

Suara Joyce mulai bergetar.

"Ibuku kehilangan aku."

"Dan keluargamu..."

Ia memejamkan mata.

"...ada di tengah semua itu."

Ardian melangkah mendekat. Namun Joyce langsung mundur. Jarak itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.

"Jangan."

Suara Joyce pecah.

"Aku nggak sanggup sekarang."

Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal..., Ardian tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada strategi bisnis. Tidak ada solusi. Tidak ada keputusan yang bisa memperbaiki keadaan. Karena perempuan yang mulai dicintainya sedang hancur. Dan sebagian dari kehancuran itu membawa nama keluarganya.

***************

Beberapa saat kemudian, Joyce dan Ardian meninggapkan Panti asuhan. Bu Maria dan beberapa pengurus panti mengantarkan mereka tanpa suara. Mereka seperti terlarut dalam kesedihan.

Saat mereka meninggalkan panti asuhan sore itu, perjalanan pulang terasa seperti perjalanan dua orang asing. Tidak ada percakapan. Tidak ada tatapan. Tidak ada senyum. Joyce duduk di dekat jendela mobil sambil memeluk surat peninggalan ibunya.

Sedangkan Ardian duduk beberapa inci darinya. Namun terasa sejauh ribuan kilometer. Pria itu berusaha mendekat sejak tadi, namun Joyce malah semakin mendekat ke arah pintu. Dan untuk pertama kalinya...., Ardian takut. Bukan takut kehilangan perusahaan. Bukan takut kehilangan warisan.

Tetapi takut kehilangan Joyce. Karena ia tahu satu hal. Ketika seorang perempuan menemukan bahwa orang yang paling ia percaya ternyata terhubung dengan luka terdalam hidupnya..., cinta sering kali menjadi korban pertama yang hancur.

***************

Siang harinya.

Ardian sedang rapat ketika Raka masuk membawa sebuah map baru. Ekspresinya tidak biasa. Serius. Bahkan sedikit tegang. Kesedihan dan kemarahan Joyce begitu berpengaruh pada dirinya.

"Tuan."

"Ada apa?"

Raka meletakkan dokumen itu.

"Saya sudah menemukan sesuatu."

Ardian mengangkat pandangan.

"Yang berkaitan dengan Joyce."

Nama itu langsung membuat fokusnya berubah.

"Apa?"

Raka menarik napas panjang.

"Saya rasa kita punya masalah."

Beberapa menit kemudian. Ruangan menjadi sunyi. Sangat sunyi. Ardian membaca dokumen di tangannya berulang kali. Tidak percaya. Tidak ingin percaya. Tetapi data itu ada di depan matanya. Lengkap. Terverifikasi. Dan mengarah pada satu kemungkinan yang membuat darahnya terasa dingin.

"Apakah ini sudah pasti?"

Raka mengangguk.

"Hampir seratus persen."

Ardian berdiri perlahan. Tatapannya berubah. Bukan marah. Bukan sedih. Tetapi terkejut. Karena jika semua ini benar... maka hubungan Joyce dengan keluarganya jauh lebih rumit daripada yang pernah mereka bayangkan.

“Aku ingin, semua yang terjadi di panti asuhan itu hanya mimpi siang bolong Raka..”

“Iya Tuan.., saya paham.”

“Terus apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”

“Biarlah kita diam dulu Raka.”

„Joyce sedang shock, dan dia butuh waktu untuk menyendiri.”

„Awasi, dan pastikan keamanannya saja diam-siam.”

„Siap tuan..”

Kembali Ardian berpikir. Otaknya mencoba menyambung mozaik yang porak poranda. Dan seseorang selama ini menyembunyikan kebenaran itu. Seseorang yang sangat dekat dengan keluarga Mahendra.

****************

Sore harinya. Joyce menerima sebuah pesan. Nomor yang sama. Nomor perempuan yang mengaku sebagai ibunya. Kali ini tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada tangisan.

Hanya satu foto.

Foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.

Untuk putriku, Joyce.

Maafkan Mama. Suatu hari nanti Mama akan kembali menjemputmu nak. Tangan Joyce langsung bergetar. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh. Karena untuk pertama kalinya..., ia mulai takut. Takut jika perempuan itu berkata jujur.

Dan lebih takut lagi..., jika selama ini seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.

„Tuhan.. Engkau Maha Pembuat Skenario Tuhan..”

„Apa yang harus aku lakukan Tuhan..”

Kedua telapak tangannya menutup wajahnya. Joyce kembali menangis tersedu.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!