NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat untuk Pulang

Pagi yang seharusnya berjalan tenang di akhir pekan itu terasa begitu sunyi bagi Alana.

Setelah kepergian Hendra, tatapan mata Alana masih terkunci pada pantulan dirinya di kaca kecil dekat pintu kontrakan.

Di dalam cermin usang itu, ia melihat wajahnya yang pucat dan sepasang mata yang sembab akibat sisa tangisan singkat tadi.

Namun, di balik lelahnya, ada kilat keteguhan baru yang menolak untuk padam.

Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

Sumpah yang baru saja ia ucapkan di dalam hati—bahwa ini adalah terakhir kalinya Hendra menang—menggema kuat. Waktu untuk mengalah atas nama balas budi semu sudah selesai.

Ia harus mulai memasang benteng pertahanan bagi sisa hidupnya.

Alana menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debaran jantungnya.

Namun, tepat ketika ia akan berbalik—

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu memecah kesunyian koridor kontrakan.

Jantung Alana kembali bertalu cepat, khawatir jika pamannya memutuskan untuk berbalik arah.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan punggung tangan, memastikan tidak ada jejak kelemahan yang tersisa, lalu membuka pintu dengan waspada.

Begitu pintu terbuka, sepasang mata Alana membulat.

"Nai...?" cicit Alana tak percaya.

Di depannya berdiri Naira bersama kedua orang tuanya, Pak Haris dan Bu Ratna. Wajah ceria Naira mendadak berubah bingung dan cemas saat melihat kondisi sahabatnya.

"Ya Allah, Na... muka lo kenapa?" tanya Naira spontan.

Alana refleks memaksakan senyum dan menggeleng cepat. "Hah? Nggak... nggak kenapa-kenapa, Nai."

Bohong.

Bahkan orang buta pun tahu kalau gadis di depan mereka ini baru saja menangis hebat.

Matanya merah membengkak dan wajahnya tampak pucat pasi.

Bu Ratna tidak bisa dikelabui. Wanita paruh baya itu langsung melangkah maju mendahului putrinya.

"Alana..."

Suara lembut itu seketika membuat seluruh pertahanan harga diri Alana goyah.

"Kenapa, Nak? Cerita sama Mama," tanya Bu Ratna lagi dengan sorot mata penuh kasih sayang yang tulus.

Alana masih mencoba bertahan. "Nggak apa-apa kok, Ma. Beneran, Alana cuma—"

Bu Ratna tidak membiarkan Alana melanjutkan kebohongannya.

Beliau membuka kedua tangan lalu menarik tubuh kurus Alana ke dalam pelukan hangatnya.

Pelukan sederhana itu langsung menghancurkan seluruh benteng yang sejak tadi dipertahankan Alana. Tubuh gadis itu bergetar hebat.

"Ma..." Suara Alana pecah menjadi isakan parau yang memilukan.

Bu Ratna mempererat dekapannya, mengusap punggung Alana perlahan.

"Iya, Nak... nangis aja. Cerita semua sama Mama."

Air mata yang sedari tadi ditahan Alana kembali jatuh deras.

Sudah teramat lama tidak ada orang dewasa yang memeluknya seprotektif ini sejak kedua orang tuanya meninggal, sejak rumahnya dirampas, dan sejak ia dipaksa tumbuh dewasa terlalu cepat.

Selama tiga tahun ini, ia hanya dituntut untuk kuat dan terus berjalan.

Namun sekarang, seseorang menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura dan bercerita. Alana akhirnya menyerah pada egonya.

Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah duduk bersama di dalam kontrakan sederhana itu.

Naira duduk mepet di samping Alana sambil menggenggam erat tangannya yang sedingin es, sementara Bu Ratna dan Pak Haris duduk berhadapan dengan mereka.

Dengan suara bergetar, Alana mulai menceritakan semuanya.

Tentang kedatangan Hendra pagi tadi, tentang uang katering dan tabungannya yang dirampas paksa, tentang modal jualan ayam gepreknya yang ikut amblas, hingga tentang ancaman balas budi yang terus digunakan pamannya selama bertahun-tahun.

Suasana di dalam ruangan berubah sunyi. Naira yang biasanya paling cerewet kini diam dengan wajah merah padam menahan amarah.

"Ya ampun..." gumam Naira dengan gigi bergelatuk geram. "Masih aja begitu? Udah tiga tahun!"

Alana mengangguk pelan. "Udah tiga tahun."

Pak Haris menghela napas panjang yang berat dan rahangnya tampak mengeras.

Jujur saja, sejak dulu ia memang tidak pernah menyukai keluarga Hendra karena terlalu banyak hal yang tidak beres dari cara mereka mengelola aset mendiang orang tua Alana.

Namun, karena saat itu Alana masih di bawah umur, Pak Haris tidak memiliki celah hukum untuk ikut campur.

Bu Ratna menggenggam telapak tangan Alana yang satunya.

"Kamu nggak sendiri, Nak."

Kalimat itu membuat Alana kembali menunduk.

"Aku capek, Ma..." bisiknya lirih.

"Bukan karena nominal uangnya yang hilang hari ini. Aku capek karena mereka nggak pernah berhenti."

Ruangan kembali sunyi. Naira langsung merengkuh bahu sahabatnya, sedangkan Bu Ratna tampak menahan rasa haru.

Mereka tahu seutuhnya, selama ini Alana selalu terlihat kuat, selalu tertawa dan bercanda seolah hidupnya baik-baik saja. Padahal tidak. Gadis itu hanya menyimpan semuanya sendirian.

Setelah suasana sedikit lebih tenang, Pak Haris akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan.

"Untuk kontrakan, kamu jangan pikirkan dulu."

Alana langsung mengangkat kepalanya bingung. "Hah?"

Pak Haris tersenyum tipis. "Bayaran kontrakan bulan ini tidak usah dipikirkan."

Alana langsung menggeleng keras. "Nggak bisa, Pa."

"Bisa," sahut Pak Haris tenang.

"Nggak."

Pak Haris tertawa kecil, suara tawa kebapakan yang mencairkan ketegangan.

"Keras kepala sekali."

Alana menunduk. "Aku tetap mau bayar."

"Tapi uangmu habis."

"Aku bisa cari lagi."

"Alana," panggil Bu Ratna lembut namun tegas, memotong kalimat Alana.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya erat.

"Aku nggak mau terus menerus merepotkan Papa sama Mama. Beneran, aku pasti bisa bayar pelan-pelan kok nanti saat sudah ada rezeki lagi."

Pak Haris dan Bu Ratna saling berpandangan lalu tersenyum. Mereka sudah menduga jawaban itu karena Alana memang lebih memilih kelaparan daripada harus merepotkan orang lain.

"Kalau begitu bayar nanti saat sudah ada rezeki," ucap Pak Haris memberi jalan tengah.

Sebelum Alana membantah lagi, Pak Haris mengangkat sebelah tangannya. "Tidak ada debat."

Alana akhirnya hanya bisa mengangguk pelan dengan mata yang kembali memanas oleh rasa haru.

Suasana mulai mencair sepenuhnya setelah itu. Naira yang sedari tadi menahan diri akhirnya mengembuskan napas panjang dengan dramatis.

"Padahal niat awal kita ke sini tuh buat sarapan," seru Naira sambil melirik Alana.

Alana berkedip. "Sarapan...?"

"Iya," timpal Naira.

Bu Ratna ikut tertawa kecil. "Tadi Mama pengen makan ayam geprek buatan kamu."

Alana menoleh ke arah luar teras, menatap etalase kaca warungnya yang masih tertutup rapat.

Ia baru teringat bahwa ia bahkan belum membuka kedainya hari ini karena semangatnya sudah keburu hancur sejak fajar tadi.

Naira mengangkat kedua bahunya. "Tapi ternyata pas datang malah nemu drama keluarga."

Alana tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil untuk pertama kalinya pagi itu. "Maaf."

"Jangan minta maaf terus," protes Naira sambil menyenggol lengan Alana.

"Refleks."

"Itu juga harus diobati!" seloroh Naira yang langsung memicu tawa mereka semua. Suasana yang tadinya berat perlahan berubah hangat.

Setelah hampir setengah jam mengobrol, Bu Ratna tiba-tiba saja bangkit berdiri.

"Ayo."

Alana mendongak bingung. "Ayo ke mana?"

"Sarapan," jawab Bu Ratna mantap.

Naira langsung ikut berdiri gesit. "Iya."

Pak Haris juga ikut bangkit dan mengambil kunci mobilnya. "Kita keluar."

Alana langsung panik dan ikut berdiri. "Nggak usah, Pa. Nanti mahal."

Naira memutar kedua bola matanya secara dramatis. "Denger nggak sih? Kita ngajak sarapan, bukan ngajak beli hotel."

"Tapi..."

"Nggak ada tapi," potong Bu Ratna dengan senyuman hangat. "Hari ini kamu ikut."

Melihat tiga pasang mata yang menatapnya penuh harap, Alana akhirnya menyerah. "Yaudah."

"Bagus!" seru Naira puas, lalu menarik tangan Alana bersemangat. "Buruan ganti baju."

"Emang baju gue kenapa?" protes Alana menatap kaos oblongnya.

Naira mendengus usil. "Lo kayak korban sinetron yang baru kehilangan warisan."

Alana seketika melotot tajam. "Naira!"

Naira langsung tertawa keras tanpa rasa bersalah, sementara Pak Haris dan Bu Ratna ikut tersenyum geli.

Untuk pertama kalinya sejak pagi yang menyebalkan itu, tawa kembali terdengar di dalam kontrakan kecil Alana.

Saat berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian, sebuah perasaan hangat perlahan memenuhi dada Alana.

Ia mungkin telah kehilangan banyak hal dalam hidup; rumah, restoran, warisan, bahkan keluarga sedarah yang seharusnya melindunginya.

Namun pagi ini ia diingatkan bahwa ia tidak benar-benar sendirian menghadapi kerasnya dunia.

Karena terkadang, keluarga bukanlah mereka yang terikat oleh darah, melainkan mereka yang tetap tinggal saat seluruh dunia memilih pergi.

Dan tanpa Alana sadari, di luar sana roda takdir mulai bergerak semakin cepat. Dalam waktu dekat, masalah yang datang ke hidupnya tidak hanya berasal dari keluarga pamannya, melainkan juga dari seorang dosen berhati dingin bernama Arsen Laurent Wijaya... dan dua anak laki-laki yang perlahan mulai mengubah jalan hidupnya.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!