Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Badai partikel Ag-V (Argentum-Virus) di batas stratosfer meledak dalam pendar keunguan yang membutakan. Udara tipis di sekitar Joan terasa seperti ribuan jarum membara yang menusuk langsung ke dalam pori-porinya. Sisik hitam antivirus yang melapisi tubuhnya mulai retak dan terkikis oleh korosi nano-perak yang merayap cepat. Rasa sakitnya begitu mutlak seolah jiwa serigalanya sedang dikuliti hidup-hidup oleh kemarahan umat manusia.
Joan menyadari anomali ini dengan cepat. Antivirus Lucian yang mengalir di dalam darahnya dirancang khusus sebagai tameng spiritual dan biologis untuk menahan radiasi ilahi serta divinitas Selena agar ia tidak terurai menjadi debu di hadapan Sang Pencipta. Namun, zirah hitam kosmik itu tidak dirancang untuk menghadapi teknologi bumi. Ag-V adalah virus nano-perak murni tingkat militer yang menyerang fisik biologis lycanthrope dari luar. Reaksi kimia agresif dari perak buatan H.A.R.T meluluhkan lapisan antivirus luar Joan dan membakar jaring-jaring selnya hingga mengeluarkan asap pekat.
Cengkeraman Joan pada bahu Selena goyah. Di hadapannya, Sang Pencipta yang sekarang mulai terpengaruh oleh penyatuan memori Jessy dan penderitaan Riven di bumi masih terpaku dalam keraguan. Namun, tubuh Joan tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ketika partikel Ag-V mulai menyusup ke dalam saluran pernapasannya dan mengancam untuk membekukan paru-parunya menjadi kristal perak padat, Joan merasakan kesadarannya mulai meredup.
“Kamu terlalu lemah, Joan.”
Sebuah suara berdesis, dingin dan bergema, mendadak memotong jeritan rasa sakit di kepala Joan. Suara itu
adalah suara yang sangat ia kenali, suara pria yang seharusnya telah hancur dan melebur menjadi residu energi.
“Lucian?" batin Joan merintih di tengah kepungan badai perak.
“Fokuskan pandanganmu, Alpha bodoh,” sahut suara itu lagi, lebih tajam. “Aku tidak mati sepenuhnya. Sisa kesadaranku masih terikat di dalam tabung penampung energi di pangkalan bawah tanah dan mengalir melalui sirkuit sisa yang terhubung dengan frekuensi Darah Bulan di dalam dirimu. Jika kamu mati di sini, maka rencanaku untuk melihat dunia ini hancur juga ikut musnah.”
Joan bisa merasakan visual samar di sudut matanya, sebuah tabung kaca tebal di laboratorium tersembunyi, berisi cairan bio-luminesens yang bergejolak di mana sisa-sisa kesadaran neuro-digital Lucian berkedip seperti percikan api yang sekarat.
“Senjata manusia itu dirancang untuk membunuh sel biologis lycanthrope,” instruksi Lucian dan nadanya dingin tanpa emosi namun penuh kalkulasi taktis. “Kamu tidak bisa melawannya dengan kekuatan fisik atau amarah. Antivirus yang kusuntikkan ke tubuhmu memang bisa menahan kekuatan sihir Selena, tapi tameng itu akan hancur jika terus digerus korosi perak H.A.R.T dari luar. Kamu harus mengubah caramu bertarung. Jangan biarkan kedua energi itu saling menolak. Gunakan struktur inti antivirus di dalam dirimu untuk mengasimilasi Ag-V. Jangan tolak rasa sakit itu, Joan. Serap dia!"
“Apa maksudmu?! Perak ini menghancurkanku dari dalam!”
Joan reuni dalam komunik batinnya, sementara tubuh monsternya mulai berlutut di udara dan diselimuti asap pembakaran kimia.
“Rasa sakit adalah transmisi energi,” bimbing Lucian dan suaranya sekarang terdengar seperti detak metronom yang mengatur ulang ritme jantung Joan yang kacau.
“Ag-V mematikan karena ia mengikat paksa kutukan Darah Bulan di dalam selmu dan mengubahnya menjadi penolakan fisik yang menghancurkan organ. Ubah polaritas energimu. Gunakan anyaman matriks antivirusku sebagai wadah pengikat. Ingatlah wujud manusiamu, ingatlah Jessy, dan biarkan rasa sakit dari perak itu mengalir masuk bukan sebagai racun melainkan sebagai bahan bakar yang bersenyawa dengan tamengmu.”
Joan mencengkeram kepalanya sendiri. Pendar perak di lehernya berkilat semakin terang.
“Buka gerbang intimu!" perintah Lucian, semakin intens. “Bayangkan tubuhmu sebagai wadah kosong. Biarkan partikel perak nano itu melebur dengan zat antivirus hitam di tubuhmu. Rasa sakit dari seluruh serigala yang mati di Paris, ketakutan mereka, dn dendam manusia, tarik semuanya masuk ke dalam dirimu. Jika kamu mampu mengasimilasi rasa sakit kosmik ini, tubuhmu akan melampaui batas lycanthrope biasa. Kamu akan menjadi bapak dari segala rasa sakit dan sebuah hibrida yang kebal terhadap sihir dewa sekaligus kebal terhadap racun perak manusia. Perak tidak akan lagi mengenali dirimu sebagai target, melainkan sebagai sesama perusak.”
Mendengar instruksi dari bayangan Lucian, Joan memejamkan matanya yang menyala merah. Di bawah sana, di atas puing-puing kota Paris, ia bisa mendengar gema lolongan kawanannya yang meregang nyawa di tangan Unit H.A.R.T. Ia bisa merasakan kepedihan Riven yang telah menanggung kutukan reinkarnasi selama ribuan tahun akibat perselisihan darah dengan adiknya.
Joan berhenti meronta. Ia membuka dadanya dan membiarkan kabut pekat Ag-V masuk sepenuhnya ke dalam sistem peredaran darahnya, membiarkan racun militer itu menyatu dengan sisa-sisa ramuan antivirus Lucian yang mengalir di nadinya.
"Arghhhhhhh!"
Sebuah jeritan yang bukan lagi suara manusia ataupun serigala keluar dari tenggorokan Joan. Udara di stratosfer bergetar hebat. Alih-alih membeku menjadi patung perak kaku seperti serigala-serigala di bumi, tubuh Joan justru mulai mengalami metamorfosis kedua. Struktur anatominya bergolak keras, anyaman pelindung hitam dari antivirus Lucian sekarang mengikat dan menyerap partikel nano-perak, dan mengadopsi karakteristik musuhnya ke dalam genetik baru.
Pembuluh darahnya yang menonjol sekarang memancarkan perpaduan warna hitam legam yang pekat dan pendar ungu-perak yang berkilauan dari Ag-V.
Ia sedang menelan rasa sakit dunia. Energi kimia pemusnah massal yang diciptakan oleh Jenderal Reed kini dipaksa bertekuk lutut dan diadopsi oleh sistem biologis Joan yang terus berevolusi menjadi wujud yang tak tertandingi di bawah bimbingan rahasia Lucian.
Selena terbelalak menyaksikan fenomena di hadapannya. Mahluk di depannya ini tidak lagi sekadar monster tiruan dengan menyatukan zat antivirus pelindung dewa dan racun pembunuh serigala, Joan telah bertransformasi menjadi sebuah anomali kosmik baru yang mampu mengonsumsi senjata pemusnah dewa.
"Kamu, bagaimana mungkin mahluk fana sepertimu bisa menampung kebencian sebesar ini?" desis Selena dan langkahnya mundur satu langkah di udara.
Joan membuka matanya. Tidak ada lagi warna merah, mata itu sekarang sedalam ruang hampa dengan lingkaran perak keunguan di sekeliling pupilnya. Asap hitam dan perak mengepul dari setiap helai bulu dan sisik di tubuhnya yang sekarang berkilau layaknya zirah logam cair.
"Karena aku tidak bertarung untuk menghancurkan, Selena," suara Joan sekarang bergaung ganda, berat, dan sarat akan otoritas yang mutlak. "Aku menampung rasa sakit ini agar mereka yang di bawah sana, kakakmu, dan bagian manusiamu tidak perlu merasakannya lagi!"
Dengan kecepatan yang melampaui ledakan misil H.A.R.T, Joan menerjang kembali. Kali ini auranya yang telah berasimilasi dengan Ag-V tidak lagi tertolak oleh dinding pertahanan Selena. Tangan Joan yang bersisik legam dan berkilau perak mencengkeram pergelangan tangan sang dewi dengan erat.
Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut instan langsung ke dalam kesadaran Selena. Sang Pencipta tersentak hebat saat rasa sakit, memori perburuan Unit H.A.R.T, dan tangisan emosional Jessy dari permukaan bumi membanjiri pikirannya seperti air bah yang meruntuhkan bendungan. Melalui Joan, Selena dipaksa menyaksikan bagaimana ego dan kemarahannya telah menciptakan neraka bagi manusia dan kaum lycanthrope.
Di batas pandangan mereka, gelombang misil ketiga dari Pegunungan Cheyenne telah menembus awan, siap meledakkan hulu ledak Ag-V skala penuh yang dapat mengkristalkan seluruh atmosfer Eropa dalam hitungan menit.
"Lihatlah, Selena!" Joan menunjuk ke arah ratusan titik api yang mendekat dengan tangan satunya yang bebas. "Apakah kamu akan membiarkan keangkuhanmu membunuh abangmu yang telah menderita ribuan tahun atau kamu akan turun dan menerima kembali kemanusiaanmu?!"