WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Digerebek Bestie Pas Lagi Mode "Suami-able"
.........
Sabtu pagi di penthouse Arkeas biasanya adalah waktu yang sakral. Hanya ada suara mesin kopi, gumaman Alisya, dan sesekali suara Zolla yang lagi nyanyi lagu galau TikTok di dapur. Tapi hari ini, ketenangan itu hancur berantakan oleh bel pintu yang berbunyi brutal tepat pukul delapan pagi.
Arkeas, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang dan kaos singlet hitam yang memperlihatkan otot punggungnya, mengerutkan kening. "Zolla! Jangan buka pintu! Itu pasti kurir paket kamu yang nggak tahu waktu!"
Zolla yang lagi sibuk menggendong Alisya sambil memegang botol susu, malah sudah telanjur menekan tombol unlock. "Mana ada kurir jam segini, Mas? Mungkin paket pampers darurat!"
Pintu terbuka, dan masuklah seorang pria dengan gaya sangat stylish, kacamata hitam bertengger di kepala, membawa sekotak donat mewah dan dua gelas kopi artisan. Dia adalah Biyan, sahabat Arkeas sejak zaman kuliah sekaligus pemilik agensi iklan yang mulutnya lebih licin dari oli motor.
"Woi, Keas! Happy Weekend! Gue tahu lo pasti lagi—" Ucapan Biyan terhenti seketika.
Matanya tertuju pada Zolla yang berdiri di depan pintu dengan daster motif beruang dan rambut yang dicepol asal pakai pulpen. Lalu matanya turun ke Alisya yang lagi gumush di pelukan Zolla. Dan terakhir, matanya tertuju pada Arkeas yang berdiri mematung di tengah ruangan dengan penampilan yang... sangat tidak "CEO Dingin".
"Biyan? Ngapain lo ke sini?" Arkeas bertanya dengan nada rendah, mencoba menutupi rasa paniknya.
Biyan perlahan melepas kacamata hitamnya, mulutnya menganga. "Bentar... bentar. Ini gue salah masuk unit apa gimana? Keas, sejak kapan penthouse lo berubah jadi tempat penitipan anak... dan sejak kapan ada 'Ibu Negara' di sini?"
.........
"Dia Zolla. Asisten saya. Sudah, jangan banyak tanya," Arkeas segera masuk ke kamar untuk memakai kemeja, meninggalkan Zolla yang canggung menghadapi Biyan.
"Halo, Kak Biyan. Saya Zolla," sapa Zolla ramah, meskipun dia merasa ingin menghilang karena penampilannya yang sangat "rumahan".
Biyan meletakkan donat di meja makan dengan mata yang berbinar nakal. "Zolla? Wait, jadi ini alasan Arkeas mendadak susah diajak nongkrong malam Minggu? Karena dia lagi asyik simulasi rumah tangga?"
Arkeas keluar dari kamar dengan kemeja flanel yang dikancing asal-asalan. "Biyan, kalau lo cuma mau bahas sampah, mending balik sekarang. Gue sibuk."
"Sibuk apa? Sibuk ganti popok atau sibuk merhatiin asisten lo yang gemoy ini?" goda Biyan sambil duduk di kursi bar dapur. "Zol, lo tahu nggak? Arkeas ini dulu dijuluki 'Kulkas Dua Pintu'. Dingin, kaku, dan nggak pernah mau ada cewek yang nginep di sini. Tapi lihat sekarang... ada daster beruang di sofa gue yang mahal ini."
Zolla tertawa kecil, wajahnya memerah. "Mas Arkeas emang masih dingin kok, Kak. Cuma ya... sekarang mungkin suhunya udah naik jadi suhu ruangan."
Arkeas mendekat, mengambil paksa satu donat dari kotak Biyan. "Makan tuh donat, jangan banyak cincong."
.........
Kehadiran Biyan justru membuat sisi Bapak-able Arkeas makin terlihat menonjol. Saat Alisya mulai rewel karena minta makan, Arkeas secara otomatis mengambil alih bayi itu dari Zolla.
"Sini, Zol. Kamu sarapan dulu sama Biyan. Biar Alisya sama saya," ucap Arkeas tenang.
Ia duduk di sofa, memangku Alisya, lalu dengan telaten menyuapkan bubur bayi ke mulut Alisya menggunakan sendok kecil. Arkeas bahkan sesekali menghapus sisa makanan di pipi Alisya dengan ibu jarinya, lalu mencium dahi anaknya itu.
Biyan yang melihat itu hampir tersedak kopinya. "Demi apa?! Arkeas InjitAsmo nyuapin bayi?! Keas, kalau klien lo di Prancis lihat ini, mereka bakal ngira lo lagi kena guna-guna!"
Arkeas melirik Biyan dengan tatapan tajam. "Namanya juga orang tua, Yan. Lo yang jomblo abadi mana paham."
"Gue emang jomblo, tapi gue nggak buta," balas Biyan sambil melirik Zolla yang lagi asyik makan donat. "Lo berdua ini vibrasinya udah kayak pasutri baru yang lagi capek urus anak pertama tapi tetep saling cinta. Vibe-nya dapet banget, sumpah!"
Zolla tersedak donatnya. "Kak Biyan! Jangan ngomong sembarangan, saya cuma asisten!"
"Asisten yang dipandangin Arkeas kayak mau dimakan gitu?" Biyan menunjuk ke arah Arkeas.
Tanpa sadar, Arkeas memang sedang menatap Zolla dengan tatapan yang sangat dalam saat Zolla tertawa. Menyadari dirinya tertangkap basah, Arkeas langsung berdehem kencang. "Biyan, mending lo pergi. Gue ada urusan keluarga."
.........
"Urusan keluarga atau urusan 'ehem'?" Biyan berdiri, bersiap pergi setelah puas menggoda sahabatnya. Sebelum keluar, dia berbisik ke telinga Arkeas. "Keas, jujur aja. Lo naksir kan sama dia? Mata lo nggak bisa bohong, Bro. Dia beda dari mantan lo. Dia... bikin lo jadi manusia lagi."
Arkeas terdiam, membiarkan Biyan keluar dari pintu. Setelah hening kembali menyelimuti ruangan, Arkeas menatap Zolla yang masih sibuk merapikan bekas sarapan Biyan.
"Zol," panggil Arkeas.
"Ya, Mas?"
"Jangan dengerin omongan Biyan. Dia itu otaknya isinya cuma skenario iklan," ucap Arkeas, mencoba mengembalikan wibawanya.
Zolla berjalan mendekat, berdiri di depan Arkeas yang masih menggendong Alisya. "Tapi apa yang Kak Biyan bilang soal Mas jadi 'manusia lagi'... itu bener?"
Arkeas menatap Zolla lekat-lekat. Ia menarik Zolla agar duduk di sampingnya di sofa. Keheningan pagi itu terasa sangat intim. "Mungkin. Sejak kamu ada di sini, rumah ini nggak lagi kerasa kayak museum. Dan saya... saya nggak lagi kerasa kayak patung."
Arkeas menyandarkan kepalanya di bahu Zolla—sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi pria seangkuh dia. "Zol, janji sama saya satu hal."
"Apa, Mas?"
"Jangan pernah dandan cantik kalau ada Biyan atau temen saya yang lain ke sini. Pakai aja daster beruang itu. Saya nggak mau mereka lihat apa yang seharusnya cuma saya yang lihat."
Zolla tertawa geli, tangannya mengusap lengan Arkeas yang kekar. "Mas Arkeas ini beneran deh... posesifnya nggak ada obat."
"Obatnya cuma kamu. Dan saya nggak mau berbagi dosisnya sama orang lain," bisik Arkeas sebelum akhirnya ia memejamkan mata, menikmati momen sederhana namun bermakna itu di pagi hari yang cerah.
...
(Bersambung ke Episode 21...)