"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"
"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Ada apa gerangan wanita cantik ini muring saja? Apa cuti yang aku berikan masih kurang?" Gavin tiba-tiba saja ada di hadapan Mery.
Hari itu Mery tidak mau lagi mengambil cuti, karena dia bukan orang yang suka menganggur. Namun saat Gavin keluar dari ruangannya, dia melihat Mery sedang merenung sembari melihat ponsel, bahkan mungkin Mery tidak menyadari jika Gavin lalu lalang di sana.
Gavin pun memutuskan membuat kopi 2 cangkir, serta memberikan 1 cangkir pada Mery.
Mery hanya menatap Gavin yang sedang meletakkan satu cangkir di atas mejanya, sembari memainkan bibir. "Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gavin.
"Entahlah.” Mery menarik nafas dalam dan mengangkat kedua bahu.
“Sepertinya kopi ini enak," ucap Mery, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu ingin melihat sesuatu?" tanya Gavin yang tetap berdiri di sebelah meja Mery.
"Sesuatu yang menyenangkan, atau menyedihkan?" tanya Mery.
"Sesuatu itu sangat menyenangkan bagiku," jawab Gavin.
"Jadi sudah sepantasnya kamu berbagi kebahagiaan denganku kan?" tanya Mery dengan tatapan menyelidik. Gavin pun meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi dibawanya ke atas meja Mery, lalu dia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, serta menunjukkan sesuatu pada Mery.
Terlihat Mery mengulas senyum saat melihat hal yang baru saja ditunjukkan oleh Gavin di ponselnya. "Bagaimana? Apa itu cukup menyenangkan bagimu?" tanya Gavin.
"Sangat menyenangkan," jawab Mery yang tidak henti-hentinya mengulas senyum, sembari menggeser layar ponsel Gavin. Disana, dia melihat ada fotonya dan foto Arya saat membeli jajanan di depan komplek perumahan.
"Bukankah ini membuktikan, bahwa kebahagiaan itu sangat sederhana?" tanya Mery.
"Memang, tapi kami baru kali ini melihat senyum Arya yang seperti itu," ucap Gavin.
"Kami?" tanya Mery.
"Hmb, kami. Aku dan Ayah Handoko," jelas Gavin.
"Jadi Ayah Hans juga sudah tahu?" tanya Mery.
"Informasi yang sangat penting seperti ini, tentu saja aku harus segera memberitahukannya pada Ayah Handoko," ucap Gavin sembari mengulas senyum.
"Good job," ucap Mery sembari memicingkan matanya, melihat ke arah Gavin.
Mereka berdua bercengkrama cukup lama sembari berdiri di depan meja Mery yang ada di seberang pintu ruangan Gavin, mereka tertawa bersama sembari melihat ponsel Gavin, serta Mery pun menceritakan sedikit cerita di balik foto yang diambil oleh Gavin itu. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Arya sudah memantau dari jauh.
"Sepertinya dia memang punya kemampuan untuk bisa akrab dengan lelaki lain," gumam Arya sembari menyunggingkan sudut bibirnya ke atas, sembari melihat Mery yang terus tersenyum.
Perlahan Arya pun segera berjalan mendekat. "Apa yang terlihat sangat mengasyikkan? Sehingga dua orang yang bukan muhrim ini saling berdekatan?" Suara Arya yang tiba-tiba saja muncul, mengagetkan Mery dan Gavin, sehingga Mery segera menekan tombol di ponsel bagian kanan dan membuat ponsel Gavin layarnya menghitam.
"Kami... " Gavin nampak gugup.
"Apapun yang kami bahas itu, kamu pasti tidak ingin tahu. Karena kamu orangnya tidak suka mengurusi urusan orang lain," timpal Mery.
"Benar itu, kenapa kamu jadi ingin tahu urusan orang lain," ucap Gavin.
"Wah... sepertinya kalian sudah mulai kompak," ucap Arya.
"Tentu saja, kita adalah pasangan bos dan sekretaris yang selalu kompak untuk memajukan perusahaan," ucap Mery yang membuat Arya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Gavin, ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani," ucap Arya yang seketika berjalan lebih dulu masuk ke ruangan Gavin dan menutup pintu dengan sedikit kasar. Mery dan Gavin pun segera mengulas senyum bersama.
***
"Kenapa kamu bersikap seperti itu di depan istrimu?" tanya Gavin yang baru saja masuk ke ruangannya, setelah sebelumnya dia mengembalikan ponselnya ke menu awal.
"Aku rasa dia sedang marah padaku," ucap Arya.
"Kenapa?" tanya Gavin yang saat ini sudah duduk di kursinya, sementara Arya ada di hadapannya, dengan terhalang meja.
"Kemarin aku melakukan kesalahan," ucap Arya.
"Kesalahan apa?" sahut Gavin. Arya pun segera menjelaskan perihal tragedi mawar pink kemarin, yang malah menjadi bahan tawaan oleh Gavin.
"Apa itu lucu?" kesal Arya setelah dia selesai bercerita.
"Ya kamu kan tinggal ganti aja nanti bunganya," ucap Gavin.
"Lagian kenapa kamu bisa sefrontal itu? Apa kamu sedang cemburu?" tanya Gavin dengan tatapan menyelidik.
"Cemburu? Itu tidak mungkin. Aku hanya mencintai Hany, tidak ada wanita lain di hatiku," tegas Arya.
"Hmb, ya, ya, ya… " ucap Gavin sembari mengangguk beberapa kali.
"Tapi kamu tetap harus mengganti bunga itu kan?" tanya Gavin.
"Tentu saja aku harus menggantinya, aku ini lelaki yang sangat bertanggung jawab," ucap Arya dengan bangga.
"Ya oke, kamu memang sangat bertanggung jawab. Maka dari itu, cobalah bertanggung jawab terhadap pernikahanmu," ucap Gavin dengan malas.
"Aku selalu bertanggung jawab atas pernikahanku, aku sudah memberinya tempat tinggal, sudah memberinya pakaian, nafkah setiap bulan, bahkan selalu aku lebihi," ucap Arya dengan antusias.
"Bagaimana dengan nafkah batin?" sahut Gavin yang seketika membuat Arya berhenti berbicara.
"Apa,"
"Apa kamu?"
"Wah... "
"Jadi kamu belum memberinya nafkah batin?" cecar Gavin dengan tidak percaya.
"Kenapa? Apa kamu tidak bisa melakukannya? Apa perlu aku ajari?" Gavin terus saja meledek.
"Diamlah!" sentak Arya dengan nada pelan, tapi penuh dengan penekanan.
"Ceraikanlah saja dia," ucap Gavin tiba-tiba.
"APA KAMU GILA!" pekik Arya.
"Jika kamu tidak bisa membahagiakannya, banyak orang yang bisa," ucap Gavin yang seketika malah mendapat tatapan tajam dari Arya.
"Kenapa? Kamu lakukan survei saja kalau tidak percaya," ucap Gavin.
"Cepat kamu tandatangani berkasnya," ucap Arya yang tidak ingin lagi meladeni ucapan Gavin. Gavin mencebikkan bibirnya, dia lantas segera menandatangani berkas yang ada di mejanya sedari tadi, lalu Arya segera mengambil map itu dan berjalan keluar dengan muka masam.
Mery yang melihat pun hanya bisa mencebikkan bibir sembari mengangkat kedua bahunya. "Ada apa sebenarnya dengan dia?"
"Apa dia sedang bertengkar dengan pacarnya?" gumam Mery yang terus melihat punggung Arya, hingga dia tidak terlihat lagi.
***
Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dari ruangannya dan menghampiri Mery lagi. "Apa kalian kemarin bertengkar?" tanya Gavin tanpa basa basi.
"Tidak," jawab Mery singkat.
"Apa ada hal yang mengganjal di hatimu?" tanya Gavin.
"Tidak ada," jawab Mery.
"Berarti Mery tidak mempermasalahkan tentang bunga mawar yang dikhawatirkan oleh Arya itu," monolog Gavin dalam hati.
"Mungkin dia sedang PMS," ucap Mery dengan cuek.
"Hmb, iya, mungkin saja," jawab Gavin yang segera masuk lagi ke ruangannya.
***
'Arya, setidaknya jangan buat dia tersiksa di pernikahan ini, urus dia dengan benar, luangkan waktu dan banyak-banyaklah berdiskusi. Hal itu mungkin bisa membuatnya lebih tenang menjalani hidup bersama. Nafkah batin tidak melulu tentang berhubungan badan, tapi membuat hati pasangan lebih tenang itu juga termasuk nafkah batin yang sangat dibutuhkan. Aku paham jika kamu belum bisa melakukannya bersama Mery, karena kalian berdua belum cukup saling mengenal,'
Send.
Tiba-tiba saja pria kulkas 7 pintu itu memberikan wejangan pada adik keponakannya.