Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Radit terdiam, kedua matanya seketika berkaca-kaca, tidak menyangka Aqilla akan mengatakan hal seperti itu. Ia yang hendak melangkah meninggalkan kamar seketika mengurungkan niatnya, kembali duduk lalu meraih telapak tangan wanita itu seraya menatapnya dengan sayu.
"Sekarang kita fokus sama anak-anak dulu, ya. Untuk masalah itu, kita pikirin nanti, Qilla," ucapnya dengan lembut. "Hidup dan mati manusia sudah ada yang ngatur. Saya pasrah sama ketentuan Tuhan, Aqilla. Saya serahkan hidup dan mati saya sama Tuhan."
"Tapi aku mau kamu tetap hidup, Mas Radit," rengek Aqilla dengan lemah dan bergetar.
"Saya juga pengen berumur panjang, Qilla, tapi ada hal lain yang penting sekarang. Anak-anak kamu dan pernikahan kita, kita fokus dulu sama semua itu, oke?"
Aqilla menganggukkan kepala, memeluk tubuh Radit, mengusap kedua mata yang mulai berair. "Aku beruntung karena mengenal kamu, Mas. Terima kasih karena udah hadir dalam hidupku."
Radit menganggukkan kepala, balas memeluk tubuh Aqilla erat seraya menahan air mata. "Terima kasih juga karena kamu udah hadir dalam hidup saya, Qilla. Meskipun Tuhan harus mengambil nyawa saya, saya ikhlas karena setidaknya, Tuhan sudah memberi saya kesempatan untuk merasakan memiliki keluarga kecil yang bahagia."
Aqilla menganggukkan kepala lalu kembali mengurai pelukan. Telapak tangan Radit perlahan bergerak, mengusap kedua sisi wajah Aqilla, menyingkirkan buliran bening yang membasahi kedua sisi wajahnya. Satu kecupan pun seketika mendarat di kening wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tanpa pernyataan cinta, tanpa kata-kata gombal yang biasa diucapkan oleh kaum pria, hati keduanya terpaut dan saling mengikat kuat. Bagi manusia dewasa yang sudah memakan asam garam kehidupan, cinta tidak butuh kata-kata, kalimat manis atau ungkapan perasaan satu sama lain, cukup dengan pembuktian, sikap yang mencerminkan perasaan masing-masing. Maka itu sudah cukup bagi keduanya, bahwasanya mereka memiliki perasaan yang sama yaitu, saling mencintai.
"Sekarang sarapan dulu. Setelah itu siap-siap dan kita berangkat ke rumah Ilham untuk menemui anak-anak kamu," kata Radit, dengan senyum tulus dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Aqilla.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mobil yang dikendarai oleh Radit akhirnya tiba ditempat tujuan. Mobil tersebut berhenti di tepi jalan tepat di depan rumah minimalis milik Ilham dan istri barunya.
"Ini rumahnya?" tanya Radit, seraya menatap keluar kaca jendela mobil.
"Iya, Mas. Kita keluar sekarang, ya. Aku udah gak sabar pengen ketemu sama anak-anak," jawab Aqilla, hendak membuka pintu mobil.
"Kamu yakin gak akan membawa mereka pulang?"
Aqilla sontak menahan gerakan tangannya, lalu kembali memandang wajah Radit. "Nggak, Mas. Biarkan saja mereka tinggal di sini beberapa hari lagi, h-1 pernikahan kita, aku akan jemput mereka."
"Hmm ... baiklah kalau begitu," jawab Radit.
Keduanya membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya secara bersamaan. Berdiri di depan mobil seraya menatap rumah dengan desain modern bercat putih dengan halaman yang tidak terlalu luas tersebut.
"Rumahnya kecil, apa mereka nyaman tinggal di rumah sekecil ini?" celetuk Radit, rumah tersebut berukuran 10 kali lebih kecil dari rumah pribadinya.
Aqilla hanya tersenyum ringan, lalu melangkah menuju halaman dengan perasaan tidak sabar ingin segera mengobati kerinduan kepada anak-anaknya. Padahal, mereka baru berpisah satu hari saja, tapi rasa rindu itu sudah terasa begitu menggebu.
Baik Aqilla maupun Radit, menghentikan langkah tepat di depan pintu bercat coklat. Menatap permukaannya seraya menghela napas panjang sebelum akhirnya mengetuknya pelan dan beraturan.
"Permisi!" seru Aqilla dengan suara lantang, tapi hanya keheningan yang tercipta di dalam sana. Bahkan tidak terlihat maupun terdengar tanda-tanda keberadaan anak-anaknya di dalam sana.
"Ko rumahnya sepi banget? Kamu yakin ini rumahnya Ilham?" tanya Radit seraya mendekatkan wajah ke permukaan kaca jendela, mencoba menembus ke dalam sana.
"Iya bener, Mas. Aku yakin ini rumahnya karena aku pernah memergoki mereka di rumah ini," jawab Aqilla, kembali mengetuk pintu dengan sedikit bertenaga.
"Iya sebentar," seru seseorang dari dalam sana, tidak lama kemudian pintu pun dibuka dari dalam.
Dona dengan mengenakan daster bermotif bunga seketika terkejut melihat Aqilla dan Radit. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar. Ia tahu bahwa kedatangan Aqilla ke rumahnya untuk menemui anak-anak, sementara Ilham suaminya masih belum menemukan kedua bocah itu.
"A-Aqilla," gumamnya sontak memundurkan langkah dengan gugup dan takut.
"Aku ke sini mau ketemu sama anak-anak. Di mana mereka," tanya Aqilla dengan dingin.
"Eu ... anak-anak masih tidur."
Aqilla mengerutkan kening. "Tidur? Masa jam segini masih tidur? Emangnya mereka gak sarapan?"
Dona hanya tersenyum canggung seraya mengusap perut bulatnya.
"Cepat bangunkan mereka, bilang aja aku datang," pinta Aqilla, masih dengan ekspresi wajah yang sama.
"Besok aja kamu ke sini lagi. Se-semalan anak-anak gak bisa tidur, makannya sekarang belum bangun. Aku gak mau ngeganggu istirahat mereka."
Radit yang hanya diam tanpa sepatah katapun, menatap wanita itu dari ujung kaki hingga rambut. Ekspresi wajahnya terlihat meragukan. Kebohongan nampak jelas dari sorot matanya serta gestur tubuh Dona yang terlihat gelisah dan ketakutan. Tanpa basa-basi lagi, Radit tiba-tiba melangkah memasuki rumah seraya menyerukan nama anak-anak.
"Kaila, Keano, kalian di mana, Sayang? Om Radit sama Ibu ada di sini!" serunya, membuat Dona terkejut, wajahnya semakin memucat.
"A-Anda mau ngapain, Pak Radit? Nggak sopan masuk ke rumah orang tanpa izin," ucap Dona dengan ketakutan, mengikuti Radit dari belakang.
Aqilla melakukan hal yang sama. Berteriak memanggil anak-anaknya, perasaanya mulai tidak enak. "Kaila, Keano, ini Ibu. Kalian di mana?"
Baik Radit maupun Aqilla sontak menghentikan langkah tepat di tengah-tengah rumah, di mana satu buah televisi berukuran 39inc nampak menyala. Namun, mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Kaila dan Keano.
"Katakan di mana anak-anakku, Dona? Kenapa mereka nggak ada di sini!" tanya Aqilla dengan suara lantang, mulai emosi.
Dona hanya terdiam, mulai panik dan tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya semakin memucat dan terlihat gelisah.
Aqilla semakin panik, mencengkram kedua sisi bahu Dona dengan keras seraya menatap wajahnya tajam. "Jawab pertanyaan aku, Dona. Di mana Kaila dan Keano? Kenapa mereka nggak ada di sini? Kalian bawa ke mana anak-anakku!" bentaknya penuh emosi.
"Tenang, Qilla. Kita bicara baik-baik. Jangan emosi kayak gini," pinta Radit seraya mengusap kedua sisi bahu Aqilla dengan lembut.
"Se-sebenarnya, anak-anak nggak ada di sini. Ke-kemarin mereka kabur, Aqilla," jawab Dona dengan terbata-bata.
"A-apa?"
Bersambung ....