NovelToon NovelToon
EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno / Masuk ke dalam novel / Mengubah Takdir
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Bulan

Seorang wanita modern Aira Jung, petinju profesional sekaligus pembunuh bayaran terbangun sebagai Permaisuri Lian, tokoh tragis dalam novel yang semalam ia baca hingga tamat. Dalam cerita aslinya, permaisuri itu hidup menderita dan mati tanpa pernah dianggap oleh kaisar. Tapi kini Aira bukan Lian yang lembek. Ia bersumpah akan membuat kaisar itu bertekuk lutut, bahkan jika harus menyalakan api di seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Rumor dibayar rumor

Malam itu, udara di istana terasa aneh.

Bukan dingin, tapi berat seperti ada sesuatu yang tak terlihat, menyelimuti setiap langkah dan napas.

Elara duduk di ruang bacanya.

Tumpukan dokumen di depannya belum tersentuh, matanya hanya menatap satu titik di meja kayu.

Bayangan wajah Kaelith siang tadi terus terlintas di pikirannya.

Cara pria itu menatapnya… bukan seperti kaisar kepada bawahannya.

Ada sesuatu di sana sesuatu yang berbahaya.

“Kau mulai kehilangan kendali,” gumamnya, mengulang kata-katanya sendiri.

“Tapi siapa yang sebenarnya kehilangan kendali, Kaelith… aku atau kau?”

Kaen masuk membawa baki berisi teh hangat dan beberapa kue almond kesukaan Elara.

Namun tatapannya langsung menangkap sesuatu yang berbeda dari wajah tuannya.

“Kau tidak membaca satu pun laporan malam ini,” ujarnya datar.

Elara tersenyum samar.

“Kau sekarang jadi pengawas kerjaku ya?”

“Bukan. Aku hanya tahu kapan seseorang sedang berpikir terlalu dalam… terutama kalau pikirannya bukan tentang kerjaan.”

Elara menatap Kaen sekilas.

“Kau terlalu banyak bicara akhir-akhir ini.”

Kaen mengangkat alis.

“Kalau kau diam terlalu lama, istana akan berpikir kau sedang menyembunyikan sesuatu.”

Elara terdiam sejenak.

Lalu ia berdiri, melangkah ke jendela besar yang menghadap taman tengah istana.

Dari sana, lampu-lampu menara terlihat berkelap, dan di kejauhan bayangan hitam berjalan di sisi barat halaman.

“Itu paviliun Valen…” bisik Kaen, yang kini berdiri di belakangnya.

Elara menyipitkan mata.

“Dia tidak akan diam. Sidang kemarin membuatnya kehilangan pijakan, dan wanita seperti dia tidak hidup tanpa kekuasaan.”

“Kau mau aku perintahkan pengawal mengawasi?”

“Tidak,” jawab Elara pelan. “Aku ingin tahu langkah pertamanya. Kadang untuk menang, kau harus biarkan musuh percaya bahwa kau lengah.”

Sementara itu, di paviliun timur, Selir Valen berdiri di tengah ruangan penuh dupa harum.

Beberapa pelayan menunduk, sementara seorang wanita berkerudung hitam berlutut di hadapannya.

“Apakah semuanya siap?” tanya Valen.

“Ya, Nyonya. Surat dari keluarga barat sudah dikirim. Mereka akan mengguncang istana lewat isu tentang keturunan Permaisuri.”

Valen tersenyum kecil.

“Keturunan? Elara bahkan belum mengandung. Tapi biarkan rumor itu tumbuh dulu. Kaisar akan mulai mempertanyakan banyak hal…”

“Dan ketika kepercayaannya goyah—”

“—aku akan datang untuk ‘menenangkan’ hatinya.”

Pelayan itu menunduk dalam-dalam.

Valen melangkah ke depan cermin, menatap bayangan dirinya.

“Kau mungkin membuatku jatuh di hadapan istana, Elara… tapi aku akan membuatmu runtuh di hadapan sejarah.”

Keesokan paginya, Elara dipanggil ke aula dalam.

Kaisar sudah menunggu di sana bukan dengan ekspresi dingin seperti biasanya,

melainkan tatapan yang sulit diartikan antara marah dan… khawatir.

“Elara,” katanya pelan, “aku mendengar kabar aneh.”

“Tentang apa, Yang Mulia?”

Kaelith berdiri dari singgasananya, lalu berjalan mendekat perlahan.

“Tentang garis keturunanmu.”

Elara mengangkat dagunya sedikit, matanya tetap tenang.

“Rumor, tentu saja.”

“Kau tahu dari siapa?”

“Aku punya tebakan.”

Kaelith menatapnya tajam.

“Aku ingin kau tahu… aku tidak percaya rumor itu.”

“Aku tidak butuh kepercayaanmu,” jawab Elara datar,

“aku hanya butuh kau tidak bodoh mempercayai orang yang ingin menjatuhkanku.”

Kaelith berhenti di depannya, begitu dekat hingga Elara bisa mencium aroma khas jubahnya.

“Kau pikir aku mudah dipermainkan, Elara?”

“Tidak,” jawabnya cepat, “tapi aku tahu kau mudah terguncang oleh orang yang kau anggap istimewa.”

Diam.

Tatapan mereka saling mengunci tajam, panas, penuh makna yang tak bisa diucapkan.

Lalu Kaelith menarik napas pelan.

“Kau berubah terlalu banyak.”

“Dan perubahan itu menyelamatkan istana ini,” balas Elara.

Kaisar menatapnya lebih lama dari seharusnya.

Lalu dengan suara yang nyaris seperti bisikan:

“Atau mungkin… kau yang membuat istana ini terasa hidup.”

Elara terdiam.

Sekilas, ia ingin tertawa. Tapi jantungnya justru berdebar tak beraturan.

“Hati-hati dengan kata-katamu, Yang Mulia,” katanya akhirnya.

“Kata-kata seperti itu bisa menjerat.”

Kaelith tersenyum samar.

“Mungkin aku memang sudah terjerat.”

Dan tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi, meninggalkan ruangan dengan langkah tenang.

Namun Elara tetap berdiri di sana tak bisa bergerak, tak bisa bernapas dengan normal.

Di luar, angin bertiup membawa aroma bunga sakura.

Tapi bagi Elara, semua terasa seperti jebakan yang indah… dan berbahaya.

Malamnya, Kaen masuk membawa surat bersegel emas.

“Surat dari Dewan Barat,” katanya serius.

Elara membuka dan membaca cepat.

Isinya membuat alisnya menegang.

“Mereka mempertanyakan garis keturunan Permaisuri karena catatan keluarga Elara hilang.”

Kaen menatap tuannya.

“Ini permainan Valen.”

Elara menatap api lilin yang bergetar pelan.

“Kalau dia maunya perang, maka peranglah yang akan dia dapatkan.”

Tiga hari setelah isu garis keturunan itu menyebar, suasana di istana berubah drastis.

Para pelayan berbisik-bisik setiap kali Elara lewat.

Bangsawan mulai berhati-hati bicara.

Dan beberapa selir menahan tawa kecil di balik kipas mereka.

Rumor itu tumbuh cepat seperti api yang membakar udara tapi tak meninggalkan asap.

“Kau dengar? Permaisuri bukan dari keluarga bangsawan sejati.”

“Katanya ia diangkat karena utang jasa Kaisar.”

“Tidak heran sikapnya terlalu berani.”

Elara mendengar semuanya, tapi tidak sekali pun ia menunjukkan kemarahan.

Ia hanya diam, memperhatikan, mencatat, dan menunggu waktu yang tepat.

Kaen mendekatinya di ruang kerja.

“Kau benar-benar akan diam saja mendengar fitnah seperti ini?”

“Diam bukan berarti menyerah,” jawab Elara tenang sambil menulis di atas kertas.

“Kau tahu apa yang paling mematikan dari rumor?”

“Apa?”

“Kebenaran kecil yang dicampur dengan kebohongan besar.”

Kaen menatap tulisan di kertas itu.

“Apa yang kau tulis?”

“Kisah yang akan mereka percayai lebih cepat daripada kebenaran.”

Malam itu, Elara memerintahkan beberapa pelayan kepercayaannya orang-orang yang dulu ia bantu saat mereka dituduh mencuri makanan dapur.

Mereka kini loyal padanya, bahkan nyawa pun siap mereka pertaruhkan.

“Sebarkan cerita ini,” kata Elara lembut,

“bahwa Permaisuri Elara sebenarnya berasal dari keluarga yang menyelamatkan Kaisar muda ketika pemberontakan utara pecah dulu.”

“Tapi Yang Mulia… itu—”

“Tidak sepenuhnya bohong,” potong Elara,

“karena keluarga Elara memang pernah membantu tentara istana. Kita hanya... memperluas cerita.”

Ia menatap pelayan-pelayannya satu per satu.

“Pastikan cerita itu beredar di pasar, bukan di istana. Karena jika rakyat yang mempercayai, bangsawan tak akan berani menyangkalnya.”

Mereka menunduk, lalu pergi cepat.

Kaen yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas.

“Kau benar-benar tidak berpikir seperti wanita istana biasa.”

Elara tersenyum tipis.

“Karena aku bukan wanita istana biasa.”

Dua hari kemudian, efeknya mulai terlihat.

Pedagang di pasar ibu kota mulai menceritakan “kisah heroik” keluarga Elara.

Beberapa tentara tua bahkan mengaku pernah mendengar nama keluarganya disebut di antara pasukan lama.

Rakyat mulai berbicara bukan tentang fitnah, tapi tentang jasa.

“Kalau benar begitu, Permaisuri pantas dihormati.”

“Mungkin karena itu Kaisar menaruh kepercayaan padanya.”

Dan seperti yang Elara rencanakan,

rumor melawan rumor.

Yang satu menghancurkan, yang satu memulihkan.

Di menara utama, Kaisar Kaelith menerima laporan dari kepala pengawal.

Ia membaca cepat, lalu menatap langit malam.

“Jadi dia membalas tanpa darah, hanya dengan kata-kata…”

“Permaisuri memang berbeda, Yang Mulia,” jawab kepala pengawal.

Kaelith menatap jauh ke arah paviliun selatan tempat Elara tinggal.

Ada rasa bangga yang aneh menggelayut di dadanya rasa yang sulit ia akui.

“Dia tidak hanya melindungi dirinya… dia melindungi tahta ini dengan caranya sendiri.”

Sementara itu, Selir Valen mendengar kabar terbaru di ruangannya.

Wajahnya pucat marah, tapi tidak bisa menunjukkan amarah itu di depan pelayan.

“Jadi sekarang rakyat mulai menyebutnya ‘Permaisuri Penyelamat’?”

“Ya, Nyonya,” jawab pelayan dengan suara kecil. “Bahkan beberapa pedagang menolak menyebut rumor lama.”

Valen berdiri mendadak.

Porselen di tangannya pecah di lantai.

“Perempuan itu… berani melawan aku dengan cara seperti ini?”

Ia berjalan mondar-mandir, napasnya tersengal.

“Kalau istana tak bisa menumbangkannya, aku akan pakai tangan rakyat itu sendiri.”

Malam itu, Kaen kembali menemui Elara di taman.

Ia membawa kabar bahwa rumor lama mulai mereda dan rakyat kini lebih berpihak pada mereka.

“Kau berhasil. Tapi… apa kau yakin tidak akan ada serangan balasan?”

Elara menatap bintang di langit.

“Akan ada. Selalu ada.”

“Lalu apa langkahmu selanjutnya?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata pelan:

“Sekarang bukan waktunya menyerang balik. Sekarang waktunya membuat Kaisar benar-benar percaya… bahwa tanpa aku, istana ini tidak akan bertahan.”

Kaen terdiam.

Dalam cahaya rembulan, wajah Elara tampak tenang, tapi matanya… dingin dan tajam seperti belati.

Dan di kejauhan, di menara Kaisar, Kaelith berdiri di balkon, menatap arah yang sama.

Ia belum tahu apa yang sebenarnya Elara rencanakan tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia takut kehilangan seseorang bukan karena cinta… tapi karena rasa hormat yang tumbuh terlalu dalam.

1
saniamycloe
kerennn gt cerita nya❤️❤️❤️
Senja Bulan: arigato 😍😍
total 1 replies
Tya Yulianti
the best
Tya Yulianti
novel favorit, alur cerita yg aku suka bgt,, love author 😍
Senja Bulan: makasih kk😍🤭
total 1 replies
mummy_aling
puas hatii..silkan terus berkarya author 👍
Senja Bulan: makasih dukungannya 😍
total 1 replies
Karo Karo
jangan lama upnya
Senja Bulan: oke kk 😍🤭
makasih ya udh komen
total 1 replies
Karo Karo
🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
Karo Karo
nah kan
Karo Karo
maksud nya apa tuh
Senja Bulan: maksudnya Elara ini terlalu 'hidup' dan terlalu kuat untuk dunia yang penuh dengan sandiwara dan kebusukan. Bisa dibilang si kaelith mulai mengangumi si Elara karena dia tidak seperti dia yang lalu.
total 1 replies
Karo Karo
mampir
Dede Mila
agak gimana gitu 😐😐😐😐
Senja Bulan: maksudnya
total 1 replies
Dede Mila
jadi gak nyaman mau komen ini.🤔
Senja Bulan: knp kk🙏
total 1 replies
Dede Mila
apa itu yg komen kasar sekali 🫵🤣🤣
Qiqi Maryam
waw gila gila permaisuri hebattt sekaliii
Qiqi Maryam
Apa cerita ini bakal sad ending kah??!!!!
Qiqi Maryam: masih panjang kah baiklah
total 2 replies
Awkarin
ORANG HIDUP MINIMAL BISA BILANG MAKASIH TOLONG DAN MAAF!!! Loo gak punya semua nyaaa
Awkarin: Maaf ke siapa ? Kenapa gk bisa bilang maaf di grup ? Kmu kan bikin salah nya disana ?
total 4 replies
Awkarin
MINIMAL JANGAN KEK ANJING LUU ABIS COMOT KOTAK GAK BILANG MAKASIH MAIN PERGI AJA DR GC . ADAB LUUU DIMANEEE ?
Qiqi Maryam
up lg thor
Senja Bulan: setiap hari aku up kok😍
total 1 replies
Qiqi Maryam
Keren banget ceritanya , Tokoh utama tidak mudah ditindas
Senja Bulan: iya dong aku paling benci wanita lemah
total 1 replies
Qiqi Maryam
cerita nya keren thor aku suka
Senja Bulan: makasih 😍🙏
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!