Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26. Sakit dan berdarah.
Diary of Jane 26.
"Buat apa bang?" Jane tersentak karena Kay menyodorkan bunga mawar itu padanya, tuh kan, baper gue.
"Gue sayang lo."
"..."
"Tapi bo'ong." Kay mengetuk hidung Jane dengan bunga mawar itu.
"Ish, bang-ke!" Plak, Jane memukul lengan Kay kesal, setelah itu pergi dengan mulut menggembung dan mata sinis di arahkan pada Kay yang masih terkekeh geli.
"Mudah banget di tipu lo."
Jane mencebik.
"... Huh." Seseorang yang tadinya ingin menghampiri Kay dan Jane memundurkan langkahnya, bohongan ternyata.
***
Hari terakhir ujian semester akhirnya selesai,
Jane tersenyum melihat lokernya, coklat.
"Uwuuu, siapa yang ngasih?" Jane mengambil coklat itu dan menutup pintu lokernya.
"Suka?"
Perlahan Jane menoleh, "Lo yang ngasih?" No baper Jane dia cowok orang.
"Yoi." Arka tersenyum. Sementara Jane muram,, "lo ambil aja lagi, gue takut sakit gigi makan coklat." Jane meraih tangan Arka dan meletakkan kembali coklat di tangan cowok itu.
"Lo kenapa? Gue liat lo menghindar dari gue terus. Kalo lo punya masalah lo bisa cerita sama gue."
Masalah gue itu lo. "Gak kok, gue cuma mau sendiri." Ujar Jane sambil tersenyum pada Arka.
"Tapi gue bisa bantu lo, sekarang lo itu sahabat gue." Susul Arka, ia mensejajarkan jalannya dengan Jane, "terkadang, manusia ketika menghadapi masalah tidak harus selalu dibantu, biarkan dia menemukan caranya untuk membantu dirinya sendiri." Jane menarik tangannya dari genggaman Arka.
"Lo kok gini?"
"Gue emang gini perasaan. Gue dari dulu gini. Lo sama cewek lo deh, si Jeara, gue gak mau jadi orang ketiga diantara kalian."
"Hahaha." Fix, Arka gila, bukannya kasihan sama Jane yang broken heart dia justru tertawa lebar, Jane yang melihatnya hanya menampakkan wajah bingung serta jengkel.
"Lo cemburu kan?"
"..." Jane merinding merasakan hembusan nafas di telinganya, "gak. Buat apa juga?" Jane mendorong tubuh Arka yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Denger ya, gue sama Jeara itu gak pacaran. Mungkin, gak akan pacaran."
Kenapa?
"Gue sama dia sahabatan sejak kecil, orang tua kita temenan." Jelas Arka masih tertawa.
"Oh. Lucu, ha, ha." Gerutu Jane, "gak pacaran tapi bisa aja nanti pacaran, nantinya, gak tau kapan."
Sakit.
Memang sakit, tapi Jane harus kuat, gimanapun dia harus mampu buat melalui ini semua. Cinta memang bukan prioritas, tapi semua orang butuh cinta, cinta dari keluarga, teman, guru, dan dari si istimewa lawan jenis.
Ah, apalah arti cinta buat Jane. Kesialan justru lebih nikmat dari cinta baginya, gak apa-apa sial tiap hari daripada harus jatuh cinta sekali dan cinta itu mematahkan hati. Seperti lirik lagu Justin Bieber my first love, broke my heart for the first time, seperti itu juga hati Jane yang patah di cinta pertamanya di SMA.
Perutnya sakit, dan ini udah masuk pertengahan bulan.
"Gue ke toilet bentar," Jane bangkit dan menuju ke toilet untuk memastikan kedatangan hal istimewa nya bulan ini. Sebenarnya sakitnya sudah dari tadi, tapi ini kan ujian, jadi Jane tahan buat beberapa saat.
"Oke, true. Gue bocor." Omelnya pada dirinya sendiri menatap noda merah yang sudah menjejak di rok abu-abu miliknya.
Seharusnya Jane udah duduk manis di mobil sambil dengerin lagu Justin Bieber yang belakangan ada di list favoritnya dan selalu dia putar, bahkan dari album awal debut cowok bule itu.
Tapi enggak, dia justru duduk di atas dudukan kloset sambil lihat kakinya yang udah keram dan punggungnya yang mendadak sakit karena hal istimewa.
Tanpa Jane rasakan pun, dia tau rok belakangnya udah basah dan membentuk sebuah peta, lembab dan gak nyaman banget, sejak dia pertama kali haid 5 bulan lalu, gak pernah tuh sesakit dan sederas ini.
Pengen banget dia nelpon seseorang tapi sial, ponselnya raib tertelan mulut kloset, ceroboh. Kesialan yang dikiranya udah lenyap dan jarang muncul, seakan sudah lama tertahan sekarang justru meledak dan dia sial, banget.
Johan. Ah, mungkin pangeran sikil itu lagi santai santai di depan TV liat acara talk show atau lagi nge-game di kamarnya. Gak tau kalo kakaknya lagi kesakitan sampai mukanya hampir biru karena datang bulan yang tiba-tiba ini.
Heran. Kenapa tidak ada yang mencarinya? Padahal Jane udah dua jam terduduk di kloset, Raya kemana? Gak tau deh, Jane cuma berharap dia gak pingsan dan di temukan besoknya dalam keadaan semenjijikan ini.
"Aihsshh." Nyeri sialan dari perutnya menyiksa, "anj*r, gue gak akan mati kan gara-gara datang bulan."
Jane terdiam saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke lorong kloset, "huwaa, jangan hantu, udah magrib ini, huhu..." Jane menutup wajahnya ketakutan.
"Jane, lo di dalam? Jawab gue." Gedoran pintu dan suara itu membuat Jane tersentak, sempat ragu buat jawab, takut itu hantu.
"Lo gak hantu kan?"
Hening. Tuh kan, hantu. "anj*r, gue bukan hantu kali!" Seru hantu yang mengaku manusia itu.
Oke, fix, bukan hantu.
"Buka pintunya Jane."
"Kalo lo hantu gimana? Gue gak enak sumpah buta dimakan, gue itu kurus, gak ada dagingnya, gak enak di makan, lo pergi aja deh ntu, gue gak enak di makan. Oh, ya satu lagi, gue jomblo. Orang aja gak suka sama gue, lo yang hantu pasti gak suka juga kan?"
"JA-NE! GU-E BU-KAN HAN-TU, udah lah, cepetan buka atau gue dobrak, keluar!" Perintah orang itu, orang gak sih?
"Oke, tapi..."
"Satu..."
"Eh?"
"Dua..."
"Iya, iya gue keluar." Secepat kilat Jane membuka pintu kamar mandi dan mendapati sosok cowok yang masih memakai almater dongker dan dasi yang sudah longgar serta keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Lo..." Ucapan cowok itu terhenti saat melihat kondisi Jane yang pucat dan keringat di pelipis Jane akibat menahan sakit dari perutnya.
"Lo duluan aja, gue..." Ucapan Jane terputus saat cowok di depannya itu melepaskan almaternya dan mengikatnya di pinggang Jane, "ayo pulang."
Jane gak bisa menolak, bahkan tasnya yang tadi berada di lokernya ada di tentengan cowok yang sekarang sedang mengandeng tangannya.
Arka Bramasta Hardikha.
📝📝📝
Gue nangis.
Iya, gue nangis.
Nyesel banget, kesekian kalinya gue salah nilai orang.
Kesekian kalinya gue, jatuh.
Gue lupa sama catatan sebelumnya.
Gue lupa pernah bilang 'jangan menilai orang dari luar'
Gue justru melakukan hal sama lagi, emang bodoh, lo boleh bilang gue bodoh. Gak apa-apa, gue terima, emang gue bodoh, terlalu bodoh cuma menilai sesuatu, seseorang dari pertama lihat.
Sorry.
Gue cuma bisa bilang itu, gue gak bisa ngasih kalimat imbuhannya, karena cuma sorry dan maaf yang mewakilkan semua penyesalan atas kesalahan yang gak bisa di sebutin satu per satu.
📝📝📝
"Sorry."
"Maaf."
"Hh." Arka mengusap rambutnya kebelakang lalu meremas setir mobilnya, "gue gak tau masalah lo apa, karena itu gue pengen tau, tapi kenapa lo selalu tertutup dan gak mau ceritain masalah lo ke siapapun?" Tegas Arka.
"Perasaan lo juga gitu." Jane tersenyum sarkas.
"..."
"by the way thanks ya,"
"hmm." Arka tersenyum, pahit.
Bersambung.
Horeee gak ada yang bener jawab kuis😂
Kay gak ada apa-apanya sama Jane 😙
Jane cuma di kadalin.
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗