Damian dan Aletha adalah saudara sepupu, bahkan mereka bekerja di kantor yang sama dengan Damian sebagai CEO dan Aletha asisten pribadinya.
Aletha menyukai Damian secara terang-terangan, tetapi Damian sama sekali tak pernah peduli akan hal itu.
Damian pernah menikah, tapi pernikahannya hancur dan berakhir dengan perceraian dengan Damian yang masih perjaka.
Meskipun Damian berstatus sebagai duda, tetapi Aletha tetap menyukainya, bahkan secara terang-terangan mengajak Damian menikah.
Entah takdir atau hanya kebetulan, suatu hari Damian memutuskan untuk menikahi Aletha demi menyelamatkannya dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Aletha.
Apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik?
Apakah Damian akan mencintai Aletha dan melupakan kenangan pahitnya bersama Bella, mantan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam ini?
Beberapa Hari Kemudian...
[Kantor]
Aletha duduk di kursinya, memegang tablet dengan mata fokus. Ia tampak sibuk di ruangannya, memeriksa beberapa hal dan juga mengatur jadwal kesibukan Damian untuk minggu ini dan minggu depan.
"Kayaknya Damian bakal sibuk banget beberapa hari kedepan," gumamnya.
Pagi itu kantor masih terasa tenang, suasana belum ramai karena jam kerja baru saja dimulai.
Ruangan Aletha terlihat rapi seperti biasa. Meja kerjanya dipenuhi beberapa tumpukan dokumen yang sudah ia kelompokkan berdasarkan prioritas, sticky notes kecil warna pastel menempel di pinggir monitor, berisi jadwal rapat, follow-up klien, dan pengingat lainnya. Aroma kopi susu yang baru saja ia seduh masih mengepul tipis di mug putih bertuliskan "Monday won’t stop me".
Di dinding belakang meja kerja Aletha, papan jadwal besar terlihat penuh coretan dan garis penanda, menunjukkan banyaknya agenda Damian beberapa hari ke depan. Ada rapat bersama investor, kunjungan lapangan, presentasi bulanan, hingga makan siang bersama rekan bisnis. Aletha mencatat semuanya dengan detail, memastikan tidak ada yang terlewat.
Sesekali suara printer dari ruang luar terdengar, bercampur suara telepon meja karyawan lain yang mulai berdering.
Aletha menarik napas kecil, matanya kembali fokus pada tablet.
"Meeting jam sebelas dipindah jadi jam satu… Oke, nanti aku konfirmasi ke Damian," gumamnya sambil menggeser jadwal.
Sambil mengetik email tindak lanjut ke beberapa mitra bisnis, ia juga membuka aplikasi kalender dan menyusun ulang jam perjalanan Damian, memastikan waktu antar agenda tidak berbenturan.
Tak lama, pintu ruangannya diketuk pelan. Seorang resepsionis masuk membawa beberapa dokumen.
"Ini data untuk agenda sore nanti, Bu Aletha."
"Terima kasih. Aku cek dulu nanti sebelum dikirim ke Pak Damian," jawab Aletha sopan.
Begitu pintu kembali tertutup, ia langsung meraih dokumen tersebut, membukanya, lalu menandainya dengan stabilo hijau.
Ruangan itu terasa tenang, hanya suara ketikan di keyboard dan bunyi kecil notifikasi email yang muncul sesekali. Di luar, para karyawan juga mulai sibuk dengan tugas masing-masing, namun Aletha tetap fokus, seperti pusat kendali dari semua kegiatan Damian hari ini.
Di meja sebelah laptopnya, sebuah agenda kulit terbuka dengan tulisan tangan rapi:
"Prioritas Hari Ini:
Konfirmasi meeting investor
Kirim laporan bulanan
Siapkan dokumen presentasi
Follow up tim marketing"**
Aletha tersenyum tipis.
"Pagi yang panjang…" ujarnya pelan, sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.
_________
Beberapa menit kemudian...
Telepon di ruangan Aletha berdering. Aletha yang masih sibuk pun teralihkan pada telepon di depannya. Dengan cepat ia meraih gagang telepon dan menerima panggilan.
"Halo, selamat pagi," sapanya ramah.
"Bawakan saya kopi kemari. Saya butuh sesuatu untuk menghalau kantuk..." Suara yang datar itu tak asing bagi Aletha. Siapa lagi kalau bukan Damian.
Aletha menghela napas panjang. "Saya masih sibuk, Pak. Tolong minta yang lain saja, ada OB juga yang tugasnya memang untuk itu."
"Saya minta kamu yang bawakan," jawab Damian tetap dengan nada datarnya, seolah alasan Aletha tak membuatnya bergeming sedikit pun.
Aletha memejamkan mata sejenak, menahan keluhan di ujung lidah. Rasanya ia ingin memaki suaminya itu karena sangat mengganggu di saat dirinya sibuk. Tangannya yang memegang pena berhenti bergerak.
"Tolong cepat," tambah Damian sebelum menutup teleponnya lebih dulu, tanpa menunggu jawaban.
Aletha menatap layar laptopnya, lalu dokumen yang masih terbuka. Jadwal yang ia susun, beberapa email yang belum terkirim, dan tanda-tanda pekerjaan lain yang menunggu.
Dengan helaan napas pelan, ia meletakkan pena, menutup tablet dan berdiri.
"Ya Tuhan… Padahal ini semua demi dia juga. Dasar, pengen banget ganggu orang kayaknya," gumamnya setengah kesal sambil meraih mugnya yang masih berisi kopi panas.
Ia melangkah keluar dari ruangannya dan langsung menuju dapur kecil kantor. Di area itu sudah ada beberapa karyawan lain, namun semuanya hanya menunduk sibuk dengan urusan masing-masing.
Aletha menuangkan kopi hitam baru ke dalam gelas kaca khusus yang biasa Damian pakai. Menambahkan sedikit gula seperti yang ia hafal betul, lalu menutupnya rapat.
Selesai dari dapur, Aletha berjalan menuju ruangan Damian. Sepanjang lorong, ia menata ekspresi agar tetap terlihat profesional meski tadi sempat kesal.
Sesampainya di depan pintu ruangan Damian, ia mengetuk pelan.
Tok tok.
"Masuk," terdengar suara dalam itu.
Aletha membuka pintu dan melangkah masuk. Damian terlihat bersandar pada kursinya, mata sedikit tertutup, kemeja hitamnya tampak rapi namun kantung matanya menunjukkan jelas betapa kurang tidurnya dia.
"Ini kopinya, Pak," ucap Aletha sambil meletakkan gelas itu di meja.
Damian tidak langsung menatapnya. Ia hanya meraih gelas dengan tangan kiri, menghirup aromanya, lalu akhirnya membuka mata pelan.
"Cuma kamu yang tahu kopi yang saya suka," katanya pelan, seolah kalimat itu adalah klarifikasi dari permintaan mendadaknya.
Aletha berdeham kecil. "Kalau begitu lain kali, tolong beri tahu lebih awal. Saya sedang menyusun agenda Bapak untuk minggu depan. Setidaknya jangan mengganggu ketika saya sibuk."
Damian menatapnya sekilas, datar seperti biasa.
"Kalau kamu sibuk, tinggal bilang. Tapi kamu tetap datang."
Aletha menatapnya beberapa detik, tak tahu apakah itu sindiran atau pujian. Kata-kata itu terdengar menyebalkan, apalagi Damian sendiri yang memaksanya untuk membawakan kopi untuknya.
"Baiklah jika sudah tidak ada yang Bapak perlukan, saya akan kembali ke ruangan," ujar Aletha singkat.
Aletha memutar badan untuk keluar dan kembali ke ruangannya. Tapi tiba-tiba Damian menahan pergelangan tangannya. Tarikannya tidak keras, namun cukup kuat untuk menghentikan langkah Aletha.
"Mau ke mana?"
"Saya mau kembali ke..." Aletha belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Damian menariknya sedikit, membawanya masuk dalam pelukannya dalam posisi duduk.
"Dam, aku lagi sibuk… lepasin," pinta Aletha pelan, berusaha mendorong dada suaminya, namun pelukan itu justru mengencang.
"Aku cukup mengantuk pagi ini gara-gara kamu semalam, tahu," bisik Damian tanpa membuka mata, suaranya terdengar manja dan berat. "Harusnya kamu bisa bantu aku mengusir kantuk itu. Bukan malah sibuk sendiri."
Aletha mengernyit kecil.
"Sibuk sendiri apanya? Aku sibuk untuk kamu, lho."
Nada kesal dan sayangnya bercampur jadi satu.
"Kalau bukan aku yang mengatur semuanya, lalu siapa?"
Damian menghela napas pelan, lalu menempelkan keningnya di bahu Aletha.
"Ya ya ya… aku tahu," gumamnya. "Tapi sekarang aku butuh kamu. Jadi tetaplah di sini… beberapa saat aja."
"Tapi aku benar-benar sibuk, Damian."
"Aku tahu kok... tapi aku ini lebih penting dari pekerjaan itu, bukan?"
Pelukan Damian mengendur sedikit, namun ia tetap tidak melepaskannya. Kini ia menyandarkan kepalanya di dada Aletha sambil memejamkan mata, seperti mencari ketenangan.
Aletha menatap atas kepala suaminya itu, lalu mengusap pelan rambut Damian yang masih rapi.
"Dam, kalau aku nggak selesaikan agenda kamu, nanti kamu juga yang repot," ucapnya lembut, bukan lagi menolak, hanya mengingatkan.
Damian menggumam pelan tanpa melepaskan pelukan.
"Nanti. Sepuluh menit aja. Habis itu terserah kamu mau kerja sampai kiamat juga."
Aletha mendengus geli.
"Siapa yang mau kerja sampai kiamat sih..."
Damian hanya tersenyum pelan di pelukannya, meski matanya tetap terpejam.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar napas Damian yang mulai teratur.
Sejenak saja, Aletha membiarkan dirinya diam di sana, menjadi tempat damian bersandar, sebelum nanti dunia kerja kembali menarik keduanya.
Aletha menggerakkan tangannya, mengusap kepala Damian dan sesekali menyentuh pipi pria itu. Damian tampaknya memang sangat mengantuk, dari tatapan matanya pun ia seolah terpaksa membuka matanya lebar-lebar pagi ini karena tuntutan pekerjaan.
Aletha tak ingin pergi untuk saat ini dan memilih untuk tetap menuruti permintaan suaminya. Ia ingat bagaimana semalam Damian menemaninya yang dilanda insomnia.
Pria itu awalnya sudah terlelap, namun karena Aletha tak bisa tidur akhirnya Damian pun ikut terbangun. Ia menemani Aletha hingga pukul 02:26 malam, di mana Aletha lebih dulu tertidur daripada dirinya. Namun, Damian justru tak bisa tidur lagi, dan ia baru bisa tidur ketika waktu menjelang subuh.
"Hoooammm..."
Damian menguap kecil seolah baru menyadari betapa berat matanya. Aroma kopi yang tadi ia minta belum disentuh sama sekali, hanya diletakkan di tepi meja seakan bukan itu yang sebenarnya ia butuhkan.
"Aku ngantuk banget, Al," gumam Damian pelan tanpa membuka mata. "Aku cuma bisa tidur sebentar setelah kamu tidur. Sekarang mataku rasanya berat."
Aletha menggeleng pelan, merasa sedikit bersalah.
"Maaf deh... Tapi semalam aku gak minta kamu buat temenin aku. Kamu sendiri yang mau."
"Itu karena aku gak mau kamu begadang sendirian. Memangnya salah?"
"Nggak sih, tapi sekarang kamu jadi ngantuk."
"Iya, tapi yang penting kamu di sini temani aku. Setidaknya aku bisa tiduran sebentar di dada kamu yang empuk ini." Damian dengan sengaja menggerak-gerakkan dagunya di buah dada Aletha.
Aletha terlihat geli hingga tertawa kecil. "Kamu nakal, Dam..."
Damian terkekeh tanpa membuka mata. "Habisnya empuk. Kenyal-kenyal bernutrisi."
Aletha tertawa lagi, tangannya pun spontan mencubit pelan pipi Damian. Tapi Damian tidak merasa terganggu, ia justru tetap menikmati suasana hangat itu seolah tak mau terlewat.
"Dam, aku takut ada yang masuk," ucap Aletha sambil melirik pintu ruangan.
"Kalau ada yang mau masuk pasti ketuk pintu dulu," jawab Damian santai. "Gak akan ada yang bisa masuk sembarangan tanpa izin dariku."
Aletha geleng-geleng kepala. Terkadang memang Damian sering menganggap enteng sesuatu ketika tak mau diganggu.
"Beberapa menit lagi," ucap Aletha, melirik jam tangan suaminya.
Damian hanya menjawab dengan suara rendah yang terdengar seperti hmm, pelan dan malas.
Suasana ruangan terasa hangat dan tenang. Tirai terbuka lebar, membiarkan sinar matahari pagi masuk dengan lembut. Pendingin udara menghembuskan angin tipis, membuat suasana terasa nyaman. Di sudut meja Damian, tumpukan dokumen menunggu untuk diperiksa, monitor komputer menyala menampilkan beberapa grafik laporan, semuanya menunggu disentuh.
Namun Damian tampak malas, dan kemungkinan pria itu akan lakukan pekerjaannya sesuka hati mengingat dirinya bos di kantornya.
"Al," panggil Damian pelan, suaranya sedikit serak.
"Hm?"
"Kapan aku bisa membuktikan kalau aku pria normal?"
Aletha tertegun. Ia hampir melupakan permintaan Damian untuk membuktikan dirinya pria normal. Apalagi beberapa hari lalu ia menstruasi, sehingga tak bisa memberikan Damian kesempatan untuk membuktikan.
"Sekarang kamu udah gak haid lagi, kan?" tanya Damian. "Jadi... kapan kamu siap untuk itu?"
Aletha tidak menjawab. Ia hanya diam sambil memikirkan kapan dirinya akan siap.
Sebenarnya, Aletha masih ragu untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada Damian. Bukan tanpa alasan, tapi yang ia tahu Damian masih dekat dengan Bella, dan juga Damian belum dengan jelas mengatakan bahwa ia mencintai dirinya.
Damian menarik kepalanya dari dada Aletha dan mendongak menatap wanita itu dengan tatapan manja. "Kenapa diam, Al? Katanya aku harus menunggu sampai kamu selesai haid. Artinya... sekarang udah waktunya."
Aletha masih tak menjawab, hanya menatap mata Damian dengan menelan ludah susah payah. Pertanyaan Damian terdengar seperti sebuah tuntutan berat yang harus ia penuhi.
Aletha menundukkan pandangan, menarik napas pelan, lalu menatap kembali suaminya dengan senyum ringan yang perlahan terukir.
"Ya udah…" ucapnya akhirnya.
"Kalau kamu mau… boleh malam ini."
Damian sempat terdiam. Seakan memastikan apakah yang ia dengar benar.
"Serius?" suaranya pelan, tapi nada di dalamnya berubah, ada binar kecil di mata yang semula lesu itu.
Aletha mengangguk pelan. "Iya."
Damian langsung tegak, pelukannya pun mengendur agar bisa melihat wajah Aletha lebih jelas.
"Malam ini?" ia menegaskan lagi, seperti seorang anak yang baru tidak sengaja diberi izin bermain petasan.
"Iya, Damian..." tambah Aletha lembut.
Damian tersenyum kecil, senyuman yang jelas menggambarkan kepuasan dan antusiasme.
"Jadi, kamu siap dengan seberapa liarnya aku?" tanya Damian genit.
Aletha menepuk dada suaminya pelan. "Damian."
"Hahaha, oke, oke..." Damian tertawa kecil dengan hati gembira. "Aku pastikan kamu ketagihan setelahnya."
Aletha memukul pelan dada suaminya dengan pipi memerah. "Ih, apaan sih. Nakal banget."
Damian terkekeh sambil mencubit gemas pipi Aletha.
Ia kemudian mendekat kembali, menyandarkan kepala di pundak Aletha.
"Kalau gitu…" gumam Damian, "siang ini aku harus tidur nyenyak supaya nanti malam gak ngantuk karena aku akan begadang semalaman."
Aletha mendengus kecil. "Tidurnya nanti sore aja, kamu masih ada jadwal buat siang ini."
"Pending aja deh," jawab Damian seenaknya.
"Gak bisa, Dam. Itu udah terjadwal. Kamu bisa tidur setelahnya."
"Oke."
Damian akhirnya duduk tegak lagi, mengangkat tangan, meraih pipi Aletha dan menepuknya pelan.
"Ingat, malam ini gak boleh ada alasan ini dan itu. Aku ingin malam ini benar-benar terjadi, Al. Kalau sampai gagal lagi, aku bakal kecewa banget," ancam Damian setengah bercanda.
Aletha memutar mata.
"Iya, iya... Pak Damian Alexander," jawabnya. "Awas aja kalau kamu yang alasan, aku pastikan kamu gak akan pernah bisa buktiin apapun ke aku." Aletha balik mengancam.
"Nggak dong. Aku pastikan aku gak akan menyia-nyiakan malam ini. Makanya hari ini aku harus tidur biar gak ngantuk dan gak ketiduran."
"Tapi bisa aja nanti malam kamu masih ngantuk, terus aku dibiarkan nungguin."
"Gak akan. Kalau untuk yang satu itu…" Damian tersenyum kecil sambil menurunkan Aletha dari pangkuannya, "…aku nggak akan ketiduran."
Ia berdiri, melepas genggamannya pada Aletha.
"Sekarang kamu boleh kerja lagi," katanya datar lagi, kembali menjadi versi CEO-nya.
Aletha menatapnya, sedikit bingung dengan perubahan ekspresi yang cepat.
"Barusan kamu butuh aku. Cepat banget berubahnya."
"Udah cukup. Apa yang bikin aku segar udah aku dengar dari kamu. Jadi, aku gak butuh kamu lagi," jawab Damian sambil mengambil gelas kopinya.
"Baru beberapa menit lho."
"Nggak perlu lama-lama. Kamu udah bikin aku melek lagi."
Aletha mengerutkan kening. "Katanya mau tidur sepuluh menit."
"Nggak jadi," jawabnya datar sambil menyeruput kopi.
Aletha mendesis kecil. "Seenak jidat..."
Damian melirik sebentar sambil duduk kembali di meja kerjanya.
"Karena kamu udah janji," ucap Damian tanpa menoleh, "…jadi aku semangat lagi dengan cepat."
Aletha merapikan kemejanya sendiri.
"Ya udah, aku balik kerja dulu."
"Hm."
"Aku tinggal ya."
"Hm."
"Aku keluar nih."
"Hm."
"Yakin gak bakal butuh apa-apa lagi?"
"Hm."
Aletha mendengus pelan, cukup sebal dengan sikap Damian saat ini yang langsung berubah drastis.
"Jadi takut nanti kalau udah dikasih bakal jadi manusia kulkas kayak gini seterusnya," batin Aletha, sedikit cemas dengan apa yang akan terjadi nanti. "Semoga aja nggak seperti yang aku bayangkan."
Tanpa banyak bicara lagi, Aletha berjalan keluar, menutup pintu perlahan. Damian duduk di kursinya sambil menatap pintu yang tertutup rapat..
Ia menyandarkan kepalanya ke kursi sambil tersenyum kecil membayangkan malam nanti. "Ahhh... akhirnya malam ini akan terjadi juga..."
"Jadi gak sabar buat unboxing Aletha."
BERSAMBUNG...
akhirnya kesalahpahaman Aletha dan Damian berakhir
semoga setelah ini mereka berdua hidup bahagia walaupun ada kerikil kerikil kecil yang menghadang
biar tau kebenaran ucapan Damian dan Erik
bukan untuk menyebarkan aib tapi terlebih untuk membuat Aletha percaya apalagi saat pernikahanmu yang pertama usai pun kamu masih jejaka
dengarkan Damian dulu
baru ambil keputusan
tapi jangan lama-lama ya mbak🤭🤭🤭
harus ada yang nyentik Damian dulu biar dia sadar
cinta Aletha terlalu berharga untuk diperjuangkan
siapa tahu bang Erik bisa bantu ato paling nggak beban hatimu agak berkurang
baru setelah kamu siap menghadapi Damian, balik lagi dengan kondisi terbaikmu
tenangkan hatimu dulu meskipun akan sulit tapi kamu gadis yang tangguh
kami kuat Aletha