Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Happy Reading...
.
.
.
"Kenapa?" Tanya Rora saat tidak mendengar jawaban dari Dika. "Apa kamu ingin membatalkan pernikahan kita?"
"Bukan kita Ra tapi pernikahan kamu.. Kamu akan tetap menikah.. Aku yakin dia akan menjadi sosok suami yang lebih baik dariku untuk kamu.."
"Apa maksud kamu?" Tanya Rora tidak mengerti.
"Dia tidak akan menyakiti kamu. Dia sayang kamu.. Dia pasti akan lebih bisa mengerti kamu.."
"Aku tidak mengerti.."Ucap Rora lagi.
"Turuti apa yang di minta mamaku nanti.. "
"Aku tidak mau." Potong Rora. "Jangan pernah pergi.. jangan pernah tinggalkan aku sendiri."
"Kamu harus tahu aku akan selalu ada untuk kamu.. Aku akan selalu melindungi kamu.. Aku akan selalu menemani kamu untuk melihat indahnya dunia." Ucap Dika.
Rora menggelengkan kepalanya berulang- ulang.
"Raa... "
Rora menutup telinganya dengan menggunakan kedua tangannya.
Perasaan Rora benar- benar tak menentu. Hati Rora terasa sangat sakit sekali saat mendengar ucapan Dika. Ia tak suka saat Dika mengatakan perkataan seperti itu.. Bagaimana hidup Rora kedepannya jika harus hidup tanpa Dika? Ia tidak akan bisa.. Ia tidak akan sanggup jika harus hidup tanpa Dika. Membayangkannya saja ia sudah sangat takut.
Rora merasakan usapan lembut di punggungnya, tapi semakin lama usapan pada punggunggnya semakin tidak terasa.
"Dik.. Dika.." Rora memanggil- manggil nama Dika berulang kali. Namun sosok yang ia panggil sudah tidak ada lagi di belakangnya.
Rora terbangun dari tidurnya dengan nafas yang sedikit tersengal. untuk sesaat ia hanya burusaha untuk beradaptasi dengan kondisinya.
"Dika.." Ucapnya lirih.
.
.
.
Sebelum pulang, dokter mengunjungi Rora untuk membantunya membuka perban di kedua matanya. Jantung Rora kembali berdegup kencang karena saking gugupnya, hingga seseorang meraih tanggannya untuk di genggam sehingga membuatnya semakin merasa gugup. Rora tahu yang menggenggam tangannya sekarang bukanlah Elina tapi Citra, mama Dika.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya dokter sebelum menggunting perban.
Rora sedikit ragu tapi ia lalu menganggukkan kepalanya. Dokterpun mulai menggunting perban Rora.
"Sekarang kamu bisa membuka kedua mata kamu secara perlahan. Jika terasa silau kamu pejamkan lagi mata kamu." Titah sang dokter.
Rora membuka matanya secara perlahan. Dan sesuai perintah dokter ia kembali menutup kedua matanya saat merasakan silau. Ia melakukan itu berulang- ulang sampai kedua matanya bisa beadaptasi dengan cahaya. Meskipun masih sedikit samar tapi kini ia bisa melihat dan hal pertama yang ia lihat adalah seorang wanita yang sedang menangis tanpa suara tepat berada di dekatnya.
"Tante.." Panggil Rora lirih.
"Kamu melihat.. Kamu benar- benar sudah bisa melihatku?" Tanya Citra dengan suara yang sedikit tercekat.
Rora menganggukkan kepalanya dengan sedikit senyuman. Citra menakup wajah Rora lalu menatap kedua mata Rora bergantian. "Kamu sudah melihat. Operasinya berhasil. Kamu sudah bisa melihat." Ucapnya berulang- ulang.
Citra memeluk Rora erat.
.
.
.
Sampai sekarang Rora masih tidak mengerti kenapa hampir setiap orang seolah mengalihkan paertanyaan yang ia ajukan tentang Dika. Bahkan Citra pun selalu berusaha untuk menghindar. Hingga malam itu tiba. Malam dimana dunianya terasa terbalik dan benar- benar hancur.
Rora melangkahkan kakinya secara perlahan.
"Lalu sampai kapan? Sampai kapan kita akan menutupinya?" Tanya Citra. "Pernikahan mereka kurang dua minggu lagi."
"Aku tahu mbak.. Tapi aku mohon tunggu.. " Pinta Elina.
"Tapi sampai kapan?" Tanya Citra lagi. "Aku hanya ingin segera memenuhi permintaan terakhir anakku. Apa itu salah." Ucap Citra lirih.
"Permintaan terakhir." Potong Rora yang membuat semua orang yang berada di sana terkejut. "Permintaan terakhir siapa maksud tante?"
"Sayang." Ucap Elina sambil berjalan menghampiri Rora.
"Tante.. Jawab pertanyaan Rora.. Dika baik- baik saja kan?" Tanya Rora sambil meremat tangan Elina. Ia beralih mendekati Citra saat Elina tidak memberikan jawaban. "Tante.. Dika baik- baik sajakan? Jawab Rora tante.. Dika baik- baik saja kan?" Tanya Rora pada Citra.
"Sayang.. Kita bicarakan ini besok ya.. Tante janji, tante akan memberitahukan semua yang ingin kamu tahu selama ini." Ucap Elina.
"Elina.."
"Aku mohon jangan sekarang mbak, ini bukan waktu yang tepat. Aku janji besok kita akan membahas semuanya dengan Rora."
.
.
.
Pagi ini Rora terbangun dengan mata sembabnya. Ia tahu seharusnya ia tak boleh menangis karena kedua matanya yang masih beradaptasi. Tapi setelah mendengar sedikit perdebatan antara Elina dan Citra semalam membuatnya semakin merasa takut. Rora takut bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Dika? Bagaimana jika Dika sedang tidak baik- baik saja saat ini? Sungguh ia sangat takut. Ia takut kehilangan Dika. Ia takut apa yang pernah ia mimpikan itu benar nyatanya.
Setelah sarapan Rora memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan cermin sambil menatap kedua matanya. Entah kenapa kedua matanya seolah mengingatkan dirinya pada seseorang. Ia berharap semoga apa yang ada di pikirannya ini tidak benar.
Semua sengaja di kumpulkan di ruang keluarga oleh Elina. Citra memilih untuk duduk di sisi Rora.
Hampir lima belas menit mereka semua duduk dan tidak ada yang ingin memulai pembicaraan membuat Rora menghela nafasnya.
"Apa tidak ada yang ingin memulai berbicara?" Tanya Rora membuka percakapan.
Elina menghela nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kamu ingin tahu yang mana dulu sayang?"
"Dika.. Aku ingin tahu tentang Dika." Ucap Rora.
Citra berdiri dari duduknya lalu meraih tangan Rora. Ia seduikit menariknya hingga membuat calon menantunya itu berdiri.
"Ikut tante."
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, mereka semua terdiam dengan pikirannya masing- masing. Perasaan Rora semakin tidak enak, jantungnya berdegup kencang saat mobil yang di kendarai Rendra berbelok ke arah pemakaman.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Rora tapi tidak ada seorangpun yang menjawab sampai mobil berhenti. Citra membukakan pintu lalu kembali meraih tangan Rora. Tanpa Rora sadari ia balas menggenggam erat tangan Citra saat merasakan tangan mama Dika itu sedikit gemetar.
Kedua mata Rora kembali di genangi air mata saat mereka berhenti tepat di sebuah makam yang tanahnya masih belum mengering. Pandangan Rora semakin mengabur dengan badan tang gemetar dan kaki yang tiba- tiba melemas saat membaca nama yang tertera di atas batu nisan. Jika saja Bara tidak menahan berat tubuhnya, mungkin saat ini Rora sudah jatuh terduduk di tanah.
Andika Pratama Wijaya
Dunia Rora benar- benar terasa hancur. Apalagi saat menyadari tanggal kematian Dika bertepatan dengan dirinya melakukan operasi mata.
"Apa.. Apa.. Dika.. Dika yang mendonorkan matanya untukku?" Tanya Rora dengan terbata.
Citra menganggukkan kepalanya dan membuat Rora kembali terdiam. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Fakta yang membuat hatinya terasa sakit.
Ini masih siang, tapi langit terlihat menggelap karena mendung seolah mewakili perasaan Rora saat ini. Sudah hampir satu jam Rora bersimpuh sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama kekasih hatinya itu. Air mata Rora tidak berhenti mengalir. Satu hal lagi yang membuatnya semakin merasakan sakit adalah ia tidak di beri kesempatan melihat Dika bahkan untuk yang terakhir kalinya.
Langit yang semakin gelap menandakan akan segera turun hujan membuat Elina memutuskan untuk mengajak Rora pulang.
"Sayang.."
"Tante kalau ingin pulang, pulang saja. Rora masih ingin disini.." Potong Rora.
"Dika tidak akan suka jika melihat kamu seperti ini." Kali ini Bara yang berbicara.
"Sudah mau hujan sayang." Tambah Elina sambil mengusap punggung Rora yang bergetar akibat menangis.
"Rora mohon.. Tinggalkan Rora disini.. Rora masih ingin disini.. " Tolak Rora dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Rora menundukkan kepalanya saat menyadari nada bicaranya. Sungguh ia tidak bermaksud untuk berbicara seperti itu kepada Elina.
"Maaf." Ucap Rora lagi. "Rora tidak bermaksud untuk membentak tante. Tapi sungguh Rora masih ingin disini. Rora mohon izinkan Rora untuk tetap disini.. Sebentar saja." Mohon Rora.
.
.
.
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹