Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Baik-baik Saja
Nara sedikit lega karena sudah bisa melihat adiknya. Gadis itu duduk termangu di sisi ranjang Kiyana sambil sesekali mengusap pipi adiknya yang masih belum sadarkan diri tersebut. Mata sembab gadis itu tidak henti-hentinya memandangi selang-selang yang melekat di hampir seluruh bagian tubuh Kiyana. Kinara menjatuhkan pandangannya pada alat bantu pernapasan yang terpasang di mulut dan hidung Kiyana, dia memejamkan mata menahan rasa sakit yang di hatinya. Rasanya begitu menyakitkan untuk menyaksikan Yana yang harus menggantungkan hidupnya pada alat-alat kesehatan itu.
"Pasti sakit ya, Dek? Jika saja bisa, kakak akan memberikan semua ginjal kakak bahkan hidup kakak untukmu, Dek. Bangun, Yana. Kau bilang ingin bermain-main lagi dengan teman-temanmu, bangunlah, Dek." Nara meraih tangan Kiyana menciumi tangan mungil itu berkali-kali.
Nara tak hentinya memandangi wajah manis Kiyana. Gadis kecil yang masih sangat polos dan tanpa dosa itu terlihat sangat pucat, seolah darah enggan mengalir di tubuhnya. Air mata Nara tak terbendung, terus saja mengalir bahkan saat si pemilik mata ingin menghentikannya.
"Mbak, jam besuk sudah habis. Biarkan pasien beristirahat dulu," ucap salah seorang perawat yang bertugas.
Nara masih enggan untuk melepaskan tangan Kiyana. Sorot matanya juga tidak mau berpaling dari adiknya tersebut. Kinara masih terdiam di tempatnya.
"Kami akan menjaga adik Kiyana, Anda tidak perlu khawatir," ucap perawat tersebut membujuk Nara.
Dengan berat hati akhirnya gadis itu mau beranjak dari duduknya. Langkah gontai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya itu mengisyaratkan betapa rapuhnya dia saat ini.
"Gimana, Ra?" Farel menyusul Nara yang tertatih keluar dari ruangan tersebut.
Pria berbadan tinggi itu memapah gadis malang tersebut untuk duduk di kursi. Saat kulit mereka bersentuhan, Farel dapat merasakan betapa dinginnya tubuh sahabatnya itu saat ini. Bukan karena dia kedinginan, tapi karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tangannya pun tampak sedikit bergetar.
"Tidak baik. Dia tidak baik-baik saja, Rel," jawab Nara dengan tatapan mata kosong.
Farel mengangguk. Dia hanya menepuk bahu sahabatnya itu untuk memberikan kekuatan. Untuk saat ini, Farel tau tidak ada kata-kata apapun yang dibutuhkan oleh gadis itu selain solusi untuk masalahnya. Namun, Farel sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Uang sebanyak itu dan seorang pendonor, dia tidak tahu harus mendapatkan semua itu dari mana.
"Istirahatlah." Pria yang masih mengenakan setelan jas itu menarik tubuh Nara dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar Farel.
Nara masih terdiam seribu bahasa. Pikirannya sedang berkelana berusaha mencari jalan keluar untuk semua masalah hidup yang menimpanya. Otaknya terus berusaha bekerja dan waktu juga terus berputar detik demi detik, hingga saat belahan bumi lainnya mulai menggelap, bumi yang Nara pijaki mulai terang kembali.
Nara mengerjapkan beberapa kali berusaha membuka mata yang masih terasa berat tersebut. Dia mengangkat sedikit kepalanya yang terbaring di tempat yang terasa empuk.
"Astaga!" gumamnya saat tersadar dia tidur di paha Farel semalam dan segera bangkit.
"Pasti kakinya kesemutan, bodoh sekali aku ini," gumam Nara menatap Farel yang masih memejamkan mata.
"Sejak kapan kau itu pintar," sahut pria yang masih dengan mata terpejam.
Gadis dengan wajah yang masih terlihat lelah itupun beranjak meninggalkan sahabatnya begitu saja untuk membersihkan diri. Dia harus segera mencari pekerjaan baru untuk bertahan hidup.
Sementara itu ada seorang pria yang semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Dia terlihat gelisah, membungkus tubuhnya dengan selimut dan membuka kembali selimut tersebut karena tidak juga bisa memejamkan mata. Gema terus saja melakukan hal itu beberapa kali sampai suara kicauan burung liar menyapa telinganya.
"Haishh, sial*n!" geram Gema sambil mengusap kasar wajahnya.
Dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja sebelahnya. Dia menggeser ke atas layar ponsel itu untuk membuka kunci. Rahang pria itu mengeras saat kunci terbuka dan langsung menampakkan sebuah foto, dan sepertinya sudah dari semalam foto itu terpajang di sana.
Bersambung ....
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.