"Aku lelah, aku lelah mengejar dan mengemis cinta mu. Mulai sekarang aku akan berhenti, berhenti mengharap cinta yang tidak mungkin bisa ku gapai".
Amanda, seorang gadis muda yang terjerat cinta seorang dokter, cinta nya bertepuk sebelah tangan, namun ia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan cinta itu. Berharap suatu saat nanti cinta itu akan membalas cintanya.
Akankah manda bisa mendapatkan cinta itu? atau hanya akhir yang menyakitkan karena cinta tak kunjung terbalas?
Nantikan kisahnya di "Mengejar cinta dokter tampan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi ayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Seharian belajar membuat mata dan pikiran Manda lelah, ia meregangkan ototnya agar sedikit rileks. "Akhirnya selesai, Capek banget gue" Ucapnya mengeluh kemudian memutar pinggangnya kekiri dan ke kanan..
"Gue juga" Sahut Sinta, hari ini memang tugas mereka begitu banyak, setengah hari ini mereka menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membuat tugas yang diberikan salah satu dosen mereka dan besok harus dikumpul. Mau tak mau mereka harus menyiapkan nya hari ini juga,bahkan mereka melewatkan makan siang mereka.
"Yuk ah, laper banget gue." Sambung Manda sembari membereskan buku-bukunya dan memasukkan laptop kedalam tas nya.
Mereka pun keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju parkiran dimana tempat mobil Sinta diparkir. Mereka memasuki mobil dan Sinta langsung menjalankan mobilnya.
"Gimana kisah Lo sama dokter tampan?" Tanya Sinta menoleh sebentar pada Manda kemudian kembali fokus melihat kedepan.
"Entahlah, tapi sepertinya ada kemajuan, dia udah gak judes-judes amat." Sahut Manda tertawa kecil. Memang benar belakangan ini hubungan mereka sedikit membaik, Julian sudah tidak terlalu jutek padanya ya meski masih dingin kalo bicara, tapi ia yakin seiring nya waktu Julian akan luluh dan membalas cintanya.
"Bagus dong, gue doain moga langgeng Ampe pelaminan." Balas Sinta tersenyum, ia ikut bahagia jika sahabat nya Manda bahagia.
"Aamiin" Balas Manda mengaminkan.
Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita dan berbagi cerita, tanpa terasa kini mobil Sinta sudah memasuki area restoran. Tanpa menunggu lagi Langsung saja mereka keluar dan masuk ke restoran, perut mereka sudah demo minta diisi. Mereka mencari kursi kosong karena memang pengunjung sangat ramai. Mata Sinta menangkap dua orang yang duduk di sudut menghadap luar, terlihat mereka bertiga tetapi hanya dua orang yang Sinta kenal.
"Itu bukannya dokter tampan ya" tunjuk Sinta di seberang sana membuat Manda melihat arah tunjuk Sinta. Dan benar ternyata Julian juga sedang berada di restoran ini, Dengan senyum mengembang Manda langsung menarik Sinta menghampiri dimana Julian berada.
"Hy kak." Sapa Manda menatap Julian tersenyum.
Merasa namanya dipanggil Julian langsung menoleh, begitupun dengan dua orang yang bersama dengan Julian.
"Hy cantik. Kamu disini juga.?" Ben langsung berdiri sembari tersenyum menyapa Manda. Ternyata teman Julian adalah Ben dan Hilda.
"Hy om." Sahut manda.
"Kalian mau makan kan? gabung aja sama kita ya kan jul." Ucap Ben riang. Beda halnya dengan Julian yang merasa tidak senang.
"Gak." Sahut Julian datar tanpa menoleh. Hilda mengangguk setuju, ia juga terlihat tidak suka dengan kehadiran Manda dan Sinta.
"Gak usah dengerin, kalian gabung aja sini." Sambung Ben tidak mempedulikan tanggapan Julian.
"Tapi Ben, kursi kita gak cukup!" Hilda menimpali, ia pikir Manda akan sadar dan akan segera pergi tetapi salah. Ben malah meminta pelayan menambahkan kursi di meja mereka sehingga Manda dan Sinta ikut bergabung. Seketika nafsu makannya terhenti. Padahal ia sangat semangat menyambut makanan nya tetapi baru saja ia makan sesuap Manda hadir dan merusak nafsu makannya.
Ben juga memesankan makanan untuk Manda dan Sinta, sembari menunggu makanan siap, ia mengajak Manda dan Sinta berbicara sebagai basa basi. Hanya pembicaraan ringan. Sesekali Julian melirik arah Manda, Hilda yang menyadari itu merasa jengkel ia semakin khawatir jika Julian akan menyukai Manda. Tapi apa yang harus ia lakukan untuk merebut hati Julian.
Manda, Sinta dan Ben terus berbincang, diselingi dengan tawa dan canda, Julian dan Hilda hanya diam sebagai pendengar yang baik akan cerita -cerita mereka, seolah Hilda dan Julian tidak ada di antara mereka.
"Wah, kenapa gak mau tinggal di Korea? padahal negara Korea indah loh." Tanya Ben penasaran kenapa Manda lebih memilih tinggal di indonesia sedangkan kedua orang tuanya berada di Korea.
"Karena pangeran aku ada disini kak." Jawab Manda santai. Tetapi membuat Hilda sakit kepala. Hilda langsung tersedak saat mendengar Manda mengatakan jika pangerannya berada disini. Ia sangat yakin siapa yang dimaksud Manda.
"Dokter Hilda, ini minum" Sigap Manda memberikan segelas air pada Hilda yang masih terbatuk-batuk. Hilda langsung meneguknya hingga beberapa saat barulah lega. Hilda menarik nafas dalam kemudian mengeluarkan nya, ia kembali memasang wajah anggun nya..
"Dokter gak papa?" Tanya Manda khawatir dan Hilda hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Oh ya, tadi kamu bilang pangeranmu ada disini? Di negara ini?" Tanya Ben memastikan apa yang ia dengar tadi. Jika benar apa yang ia dengar berarti Manda sudah punya kekasih, dan ia tidak ada kesempatan untuk mendekati Manda. Hatinya sedikit gusar.
Baru saja Manda hendak menjawab tetapi ponsel Manda berdering dan membuat Manda harus menjeda ucapannya. Ia langsung mengangkat panggilan.
Tak lama ia mematikan sambungannya dan menatap Julian, ia hendak berbicara tapi tiba-tiba ponsel Julian berdering membuat Manda mengurungkan niat untuk bicara.
"Kompak banget hp kalian." Ucap Sinta tertawa kecil.
"Ya ma" Hanya itu yang terdengar dari bibir Julian. Julian menatap Manda dan menunggu Manda menghabiskan makanannya. Melihat Manda yang lamban makan membuat Julian tidak sabar. "Cepat habiskan, dan ayo pulang." Ucap Julian menatap Manda..
"Kakak ngajak pulang bareng?" Tanya Manda penasaran. Namun tidak dijawab oleh Julian. Walaupun begitu Manda tahu apa jawabnya hingga ia tersenyum lebar.
"Kalau mau aku bisa mengantar Manda pulang kok jul, Lo duluan aja." Ben menimpali
Julian langsung berdiri hingga kursinya bergeser. Tanpa kata ia berjalan membuat mata Manda membola. Ia langsung bangkit dan menyusul Julian. "Tunggu kak." Ucapnya berlari.
Ben dan Hilda kompak memanggil Julian dan Manda, Ben ingin mencegah Manda tetapi Manda keburu berlari. sedangkan Hilda ingin mencegah Julian, tapi tetap saja Julian tidak respon.
Hilda mengepalkan jarinya merasa geram, niat hati ia ingin pulang bersama Julian tapi semua hanya angan. dan itu semua karena Manda. Dengan perasaan marah ia bangkit dari duduknya kemudian juga pergi.
Sinta melongo melihat kejadian di depan matanya, semuanya pergi hanya tinggal ia dan Ben. Apakah Ben juga akan pergi? Terus siapa yang akan bayar makanan nya. Pikirnya mulai resah.
"Loh kok semua pergi? Siapa yang bayar?" Ucapnya cemas. Merasa takut jika Ben juga akan pergi, ia berpikiran untuk pergi terlebih dahulu namun cepat Ben menghalangi.
"Sebaiknya habiskan dulu makanan nya, mubazir" Ucap Ben tertawa kecil.
"Tapi kak," Gugup Sinta melihat makanan juga kearah luar.
"Tenang saja, saya yang bayar semua ini." Sambung Ben tertawa kecil. Menurut nya Sinta sungguh lucu.
Mata Sinta langsung berbinar. "Benarkah?" Tanya nya semangat dan Ben hanya mengangguk. Jika pun Sinta yang membayar, sebenarnya ia mampu membayar semuanya, tapi ia merasa enggan saja membayar makanan orang-orang yang tidak dikenal nya.
Sinta kembali melahap makanan nya.
"Kamu lucu ya" Ucap Ben dan langsung membuat Sinta tersedak.
.
Bersambung
Hallo readers 😊 sorry y author lama gak up🙏
Insyaallah kedepannya author akan sering lagi up.
Makasih udah selalu setia menunggu😊
Sarangheo ♥️🥰
Happy reading 😊
kayak nya
para pembaca...
pasti itu bukan julian...
lanjut thor ceritanya
terimakasih sudah up
di tunggu kelanjutan nya
ceritanya
semoga tripel up...
yg donorin...
semoga Manda hamil
Manda...
Dasar suami plin plan...
nyesel belakang Julian...
lucky, biar julian tau rasa...