NovelToon NovelToon
Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:19.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rou Hui

Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.

Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.

"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-

"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Kamu

Malam hari pukul tujuh lewat, Kevin dan Jeany hendak pergi ke mal untuk membeli hadiah ulang tahun Enzo. Bayi itu kini sudah beralih dalam penjagaan kedua orang tuanya.

Karena seharian dihabiskan dengan bekerja di kantor, Marvin dan Winda selalu berusaha menghabiskan waktu sebelum tidur mereka dengan membangun momen berkualitas bersama sang buah hati. Bahkan hari Minggu menjadi hari libur Jeany.

Ketika melewati ruang tengah, terlihat Jovina bersama seorang temannya sedang membongkar barang belanjaan mereka.

"Lho kok jam segini udah pulang, Vina?" Kevin menyapa sang adik.

"Kan Kak Kevin sendiri yang bilang jangan pulang malam-malam."

"Oh iya juga ya hehe ...."

"Kakak sendiri jam segini baru mau pergi, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Jovina bermaksud menyindir kakaknya.

"Besok pagi." Kevin menjawab dengan kalem.

Jeany yang berdiri di samping Kevin tersenyum mendengar percakapan kedua kakak beradik itu.

"Ma-malam, Kak Kevin." Gadis di sebelah Jovina menyapa Kevin dengan terbata-bata. Wajahnya terlihat malu-malu tetapi sebenarnya ia senang karena akhirnya punya kesempatan berbicara dengan Kevin.

"Iya malam," jawab Kevin terlihat tak acuh.

"Oh iya, Tan, kenalin ini Kak Jeany temennya Kak Kevin." Jovina memperkenalkan Jeany pada Tania.

Mereka berdua bersalaman dan saling menyebutkan nama masing-masing. Jeany yang pada dasarnya tidak banyak bicara tidak mengatakan apa-apa lagi pada Tania. Terlebih teman Jovina itu menatapnya seolah-olah sedang menilai dirinya. Setelah puas mengamati Jeany, Tania mengajak Kevin bicara lagi.

"Kak Kevin mau ke mana?"

"Mau temani Jeany beli barang."

"Tania sama Vina boleh ikut gak, Kak?" Tania bertanya penuh harap.

"Kapan gue bilang mau ikut? Bawa-bawa nama gue aja!" Jovina memarahi temannya.

"Lebih baik gak usah ikut ya takutnya kemalaman," tolak Kevin secara halus.

"Iya jangan ganggu orang yang mau malam mingguan," kata Jovina sambil terkekeh.

Tania terlihat kecewa tetapi tidak membantah. Ia kembali sibuk dengan barang-barang yang tengah berserakan di atas meja.

"Vina, kamu beli alat makeup banyak banget?" tanya Kevin dengan wajah heran.

"Iya kan lusa aku mau kursus makeup," jawab Jovina.

"Bukannya kamu gak suka dandan?" Kevin bertanya lagi.

"Gak suka karna gak bisa. Makanya mau kursus. Aku mau jadi makeup artist profesional."

"Halah paling cuma anget anget t*i ayam," ucap Kevin meledek, karena memang kursus apa pun yang diikuti oleh Vina tidak pernah bertahan lama.

"Enak aja, kali ini aku serius. Kak Kevin liat aja ntar, aku pasti jadi MUA terkenal!" jawab Jovina berapi-api.

Gadis itu lalu melihat ke arah Jeany dengan antusias. "Nanti kalo Kak Jeany nikah, aku yang makeup-in ya! Buat Kak Jeany gratis!" katanya pada Jeany sambil tersenyum lebar.

Melihat senyum tulus Jovina, Jeany merasakan kehangatan di hatinya. Ia pun memberi adik Kevin itu semangat.

"Iya. Kamu harus buktiin ke kakak kamu kalo kamu bisa."

"Buat gue juga gratis ya, Vina?" Tania tiba-tiba menyahut.

"Enggalah lo tetep bayar, tapi gue kasih harga teman."

"Kok gitu? Kenapa Kak Jeany doang yang digratisin?"

"Soalnya .... Hihihihi ...." Bukannya menjawab, Jovina malah terkikik sambil melihat ke arah Kevin dan Jeany bergantian.

"Ya udah Kakak pergi dulu ya. Yuk, Jean."

Kevin mengajak Jeany pergi setelah melihat gelagat aneh adiknya. Mereka berjalan meninggalkan dua gadis remaja yang sedang mencari jati diri itu.

"Gila kakak lo ganteng bangeeet ...." Tania berkomentar sambil memandangi punggung Kevin dengan tatapan kagum.

"Yang sabar ya. Kakak gue udah ada yang punya." Jovina menepuk-nepuk pundak sahabatnya penuh simpati.

Sementara itu, di dalam mobil Jeany melihat Kevin ragu-ragu sebelum mengutarakan keinginannya.

"Vin, boleh gak putar lagunya Naff yang kapan hari?"

"Kamu juga suka lagu mereka?" tanya Kevin terkejut.

"Iya, lagu yang dulu kamu putar enak soalnya."

Kevin tersenyum dan menuruti permintaan Jeany. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk larut dalam manisnya irama lagu tersebut.

"Vin, kayaknya Tania suka kamu ya." Lagu yang mengisahkan seorang pria yang tengah jatuh cinta itu mengingatkan Jeany pada tatapan penuh cinta Tania kepada Kevin.

"Biasa orang keren banyak yang ngefans," canda Kevin.

"Sejak kapan kamu jadi narsis gini?" kata Jeany sambil tertawa.

"Bukan narsis. Tapi kenyataan. Kadang risih juga kalo ada yang terang-terangan nunjukin kayak gitu."

Dalam hati Jeany mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak menunjukkan perasaan sukanya pada Kevin. Ia tidak ingin Kevin merasa tidak nyaman dengannya. Dekat seperti ini saja sudah membuatnya cukup bahagia.

"Kata Vina kamu dulu gak mau pacaran ya? Beda ama Kak Marvin. Boleh tahu kenapa?" tanya Jeany berhati-hati.

Kevin diam sejenak. Ia ingin mengambil kesempatan ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan gadis itu. Tidak masalah menukarnya dengan kisah aib keluarga yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Sungguh ia tidak keberatan bila Jeany yang mengetahui kisah tersebut.

"Sorry pertanyaanku lancang. Gak usah dijawab gapapa kok," ucap Jeany cepat-cepat karena mengira diamnya Kevin dikarenakan tidak suka dengan pertanyaan darinya.

Kevin menggeleng perlahan. "Jean, mau gak aku ceritain satu rahasiaku?" ucapnya sambil tetap memandang lurus ke depan.

Jeany seketika menolehkan kepalanya. Ia memandangi wajah Kevin yang terlihat begitu sempurna di matanya, walaupun hanya dari samping. Demi Tuhan ia sangat mencintai pemuda itu. Ia ingin mengetahui segala sesuatu tentangnya, sekecil apa pun itu.

"Iya aku mau."

"Tapi aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kamu, tentang keluargamu."

Jeany tertawa getir. "Buat apa, Vin? Hidupku gak ada menariknya diceritain."

"Aku ingin tahu."

"Iya tapi jangan salahin aku ya kalo ntar kamu bosan. Aku udah bilang gak menarik."

"Deal ya. Habis beli kado kita cari tempat yang enak buat cerita."

Kevin begitu senang dengan kesepakatan mereka hingga tanpa sadar menginjak pedal gas lebih dalam untuk mempercepat laju kendaraannya. Ia ingin cepat-cepat sampai, ingin segera membeli hadiah untuk Enzo, lalu mengajak Jeany ke tempat dimana mereka dapat saling bertukar cerita.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di mal karena lokasinya yang dekat dengan rumah Kevin. Mereka langsung menuju toko perlengkapan bayi. Terlihat banyak pengunjung yang sebagian besar merupakan pasangan muda. Jeany begitu takjub melihat begitu banyak baju bayi dengan berbagai macam model yang semuanya terlihat menggemaskan.

Kevin membantu memilihkan satu set pakaian bayi yang menurut pramuniaga toko merupakan model terbaru. Jeany menurut saja karena ia tahu selera berpakaian Kevin memang bagus. Kevin juga membelikan mainan untuk keponakannya itu.

Ketika berjalan menuju kasir, mata Jeany melihat sepasang sepatu bayi yang menurutnya sangat lucu. Ia mengambil sepatu tersebut dan mengamatinya dengan mata berbinar.

"Aku boleh beli ini gak?" tanyanya pada Kevin.

"Boleh aja tapi kayaknya kekecilan deh di kaki Enzo."

"Itu ukuran newborn, Ibu. Kalau mau yang ukuran lebih besar juga ada." Pramuniaga toko yang berdiri tidak jauh dari mereka memberitahu.

"Bukan buat Enzo," ucap Jeany.

"Oh? Trus buat siapa?" tanya Kevin tak mengerti.

Jeany tidak menjawab karena ia sendiri juga bingung untuk siapa ia membelinya. Ia hanya merasakan dorongan yang begitu besar untuk membeli sepatu tersebut.

"Beli aja gapapa," putus Kevin.

"Makasih, Vin!"

Kevin melihat Jeany tersenyum begitu ceria. Ada kegembiraan yang muncul di hatinya karena ini pertama kalinya gadis itu meminta dibelikan sesuatu olehnya. Hanya membeli sepatu bayi saja sudah senang sekali, pikirnya. Padahal ia tidak akan keberatan seandainya Jeany meminta dibelikan tas atau barang lain yang lebih mahal.

Namun, ia juga tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang aneh. Kevin paham sudah menjadi kodrat perempuan menyukai barang-barang lucu. Itu tandanya Jeany juga sama seperti perempuan lainnya. Ia jadi bertanya-tanya mengapa gadis itu kini menjalani hidup dengan keterbatasan, membuatnya tidak mampu membeli barang-barang yang mampu dibeli dengan mudah oleh perempuan lain.

1
Nona En En
g tau udah berapa kali aku baca novelmu ini thooor,,,,
Rou Hui: Bahagia sekali baca komentar ini. Makasih ya Kakak masih ingat novelku 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hutami Putri Wulandari
walau udah berkali2 baca tp tetep kangen sama novel ini ... novel yg bawa aku jadi suka baca sedari anak pertama aku bayi dan sekarang udah SD masih balik lagi kesini tengok siapa tau ada karyawan baru...
Rou Hui: Ya ampun kayaknya anak kita seumuran. Aku nulis ini pas anakku masih bayi. Sekarang dia udah kelas 1 SD. Makasih banyak ya, Kak, udah suka ama novelku 🥰🥰🥰
total 1 replies
Starry💫
Hai, Thor. Aku balik lagi kesini, entah untuk ke berapa kalinya, karena sudah lebih dari tiga kali aku baca novel ini 🤩
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
Rou Hui: Ya ampun makasih sekali, Kak. Aku senang karya lamaku masih diingat ❤️❤️❤️
total 1 replies
Monica Gendut Gendut
aku udah baca novel ini 2 Kali Thor, tp novel satunya kenapa ndak diselesaikan
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang
Rou Hui: Maaf, Kak. Semoga saya bisa lanjut nulis lagi. Makasih udah suka sama karya saya.
total 1 replies
ken darsihk
Rika teman nggak ada akhlak 😠😠😠
ken darsihk
Syukak sama pesan nya author bijak bngtt 😍😍
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Kevin Masih aja percaya sama mamanya,Sedangkan dia tau mamanya dr dulu gak suka dan gak restu hubungan mereka,Bukannya cari tau,Malah lebih membela mamanya,Untung aja mamanya sekarang udah mati,Jadi dia bisa bersama dgn Jeany dan anaknya,Ciba aja kalo mamanya masih ada..ckk
Qaisaa Nazarudin
KENNY=KEvin jeaNY
Qaisaa Nazarudin
Lisa..Lisa..Dengan kamu tahu dengan kamu membocorkan semua ini, Secara tak sengaja kamu telah memberi tau Kevin kalo itu bukan anaknya Randy, Berarti itu anaknya Kevin,Maka Kevin akan lebih semangat lagi utk mengejar Jeany..🤣🤣🤣🤣👍👍
Qaisaa Nazarudin
Ternyata banyak banget komplik nya..
Qaisaa Nazarudin
Kan Kevin jadi salah paham,Di sini seperti nya hanya Kevin yg berjuang sendiri..
Qaisaa Nazarudin
Jeany terlalu Egois,Di ahak nikah gak mau,Padahal Kevin udah berjuang demi hubungan mereka,Sanggup di usir dari rumah,Lha Jeany malah anteng2 aja dekat dengan Pria lain..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Gak salah Kevin mikir gitu,Selama ini Jeany selalu melarang Kevin masuk ke kosan,Lha Randy? Hanya alasan SAKIT di bolehin masuk?? ckck..
Qaisaa Nazarudin
Temen yg gak patut di ikutin dan contohin..
Qaisaa Nazarudin
Lha mulai deh DRAMA nya..
Selviana Budi Lestari
Luar biasa
Septi Bklu
jln cerita nya bagus banget tp sayang gak ada kelanjutan nya
Rou Hui: Terima kasih apresiasinya, Kak ❤️
total 1 replies
Kg Mughni Siddiq
Lumayan
Dewi Sri
/Good//Good/
Lusia Emilia Titik Kristiani
beberapa kali baca episode ini selalu mengandung bawang thor....😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!