Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.
Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.
Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Jangan Pergi
Suasana di depan ruang ICU sangat hening, Aisyah dan abah tak henti-hentinya berdoa dan berdzikir untuk keselamatan Deswita.
"Ya Allah, tolong selamatkan Kak Tata. Berikan dia satu kesempatan untuk hidup dan berkumpul bersama suami dan anaknya," batin Aisyah yang berdoa meminta pertolongan pada Sang Pencipta.
Sementara itu di dalam ruangan, dokter sedang berusaha memberikan pertolongan pertama pada Deswita. Berulang kali dokter mengarahkan defibrillator ke dada Deswita dengan harapan detak jantung kembali normal.
Namun, sepertinya harapan mereka harus pupus. Tuhan telah berkehendak lain dan dokter pun hanya bisa pasrah. Dengan wajah lesu, dokter meminta suster untuk melepas semua alat medis yang ada di tubuh Deswita.
Tepat saat dokter membuka pintu, Zidan datang sambil berlari menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja 'kan? Dia masih bisa sembuh 'kan?" cecar Zidan karena pikirannya sudah kalut saat mendengar kabar dari Aisyah tadi.
Dokter menghela napas panjang, lalu menepuk pelan bahu Zidan.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Pasien tidak bisa diselamatkan," ungkap dokter.
Zidan mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin! Istri saya nggak mungkin meninggal! Dia pasti masih hidup!"
Aisyah yang berdiri di dekat dokter tak kuasa menahan tangis. Dia tak percaya jika orang yang begitu disayangi telah pergi untuk selamanya.
"Kak Tata," gumam Aisyah sambil menutup mulutnya.
"Tolong selamatkan istri saya, Dok! Dia pasti masih hidup. Dia nggak akan ninggalin saya dan anak kami," racau Zidan sambil menarik kerah baju dokter.
"Nak Zidan Istighfar. Jangan begini." Abah berusaha menenangkan Zidan yang terlihat frustrasi dan putus asa.
"Istri saya masih hidup, istri saya masih hidup." Seolah tubuhnya tak bertulang, Zidan berjalan tertatih memasuki ruang ICU untuk melihat sang istri yang terakhir kalinya.
Dia dapat melihat jelas, alat medis yang menempel di tubuh sang dilepas satu persatu.
"Deswita." Dengan suara yang bergetar Zidan memanggil nama sang istri. Tangannya terulur memegangi pinggiran brankar lalu duduk menghadap sang istri.
"Kenapa kamu tinggalin aku, Ta? Kenapa kamu menyerah? Apa kamu tidak ingin berkumpul bersamaku dan anak kita? Aku mohon kembalilah, Ta. Jangan pergi! Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu dan anak kita."
Zidan meracau sambil menangis tergugu di samping tubuh sang istri. Hingga bunyi dari monitor mengalihkan perhatiannya. Terlihat jelas di monitor yang semula garis lurus, kini telah berubah menunjukkan detak jantung kembali normal.
"Aku tahu kamu nggak akan pergi tinggalin aku dan anak kita. Terima kasih sudah berjuang," ucap Zidan lalu menciumi tangan dan beralih ke kening sang istri.
Suster yang melihat hal tersebut segera memanggil dokter. Tak berselang lama, dokter tadi kembali dan segera memeriksa kondisi Deswita.
"Masyaa Allah, ini sungguh mukjizat yang luar biasa. Pasien berhasil melewati masa kritisnya, hanya tinggal menunggu dia sadar," ungkap dokter pada Zidan.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas kuasaMu yang masih memberikan kesempatan istri hamba untuk hidup kembali," batin Zidan.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Pak. Semua ini atas kehendak Yang Maha Kuasa. Kalau begitu saya pergi dulu, pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."
"Baik, Dok."
Setelah dokter dan suster keluar, Zidan tak hentinya menciumi tangan sang istri seraya terus mengucap rasa syukur.
......................
Sementara di lain tempat, Mama Riana yang kini berada di dalam sel terus saja berteriak dan memaki.
"Dasar anak nggak tahu diri, beraninya kalian melaporkan mama ke polisi!"
Mama Riana terus saja meracau hingga membuat salah seorang tahanan yang satu sel dengan beliau merasa terganggu.
"Woi, bisa diem nggak mulut lu! Bisa-bisa tuli kuping gue, gara-gara dengerin suara lu yang teriak-teriak nggak jelas."
"Heh, siapa kamu ngatur-ngatur aku? Terserah aku mau teriak atau enggak. Kalau nggak pengen dengerin suaraku, buang aja kupingmu itu," balas Mama Riana tak kalah sengitnya.
"Berani lu nantangin gue!" Seorang tahanan tadi langsung beranjak berdiri lalu mendekati Mama Riana. Tanpa babibu, rambut Mama Riana seketika ditarik dengan kuat, bahkan wajahnya tak luput dari cakaran dan tamparan.
Mendengar keributan tersebut, seorang polisi segera membuka pintu sel dan melerai keduanya.
Melihat Mama Riana yang acak-acakan, ditambah luka bekas cakaran dan tamparan di kedua pipinya. Polisi tadi langsung membawa Mama Riana ke ruang kesehatan untuk diobati.
menggantung ???