Seharusnya siapapun menginginkan suatu pernikahan yang diawali dengan cinta, dan berakhir dengan kebahagiaan. Kadang pasang surut kehidupan pernikahan begitu rumit, terlebih ada orang ketiga yang hadir. Saat hati mencoba untuk menolak, namun seolah derasnya air menghanyutkan segalanya.
Suatu penyesalan diakhir, akan menjadi bencana yang menghancurkan segalanya. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, mana yang jauh lebih besar, rasa cinta atau sakitnya dikhianati?
“Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku yang terlalu egois, seharusnya aku mengerti, aku tak akan bisa memilikimu sepenuhnya.”
“Siapa yang membuat tanda ini? Tanda dilehermu, siapa yang membuatnya?”
"Jika kau memang ingin selingkuh, tidak bisakah kau mencari yang lain dan bukan sahabatku sendiri? Ini begitu menyakitkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.26. End Up
“Cepat bersih-bersih, kau tidak mau ayah dan ibu melihatmu seperti itu, bukan?”
Jessica membalikkan tubuhnya, didepan pintu kamarnya terdapat Matt yang menatapnya dengan datar. Setelah mengatakan itu Matt pergi dan mengunci pintu kamarnya. Memang, sejak kemarin ia terkurung di kamarnya. Matt tidak memperbolehkan ia keluar satu langkah saja, sialnya disini sudah terdapat kamar mandi dan ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk keluar, sedangkan makan sudah selalu disiapkan Matt tanpa telat semenit pun.
Jessica berjalan lesu kedepan meja rias, ia melihat pantulan dirinya pada cermin besar itu. Ia benar-benar menyedihkan, rambut panjang yang biasanya selalu ia sisir rapi kini sangat berantakan, kantung mata yang menghitam, wajah yang pucat ditambah beberapa luka lebam karena ia memukul dirinya sendiri. Itu yang biasanya ia lakukan jika sedang bersalah, memukul dirinya sendiri membuatnya begitu puas.
Matt menoleh kearah kamar Jessica, sejujurnya ia sungguh tidak tega melihat Jessica seperti itu, ia seperti mayat berjalan. Tapi sungguh, hatinya begitu kecewa karena pengkhianatan Jessica, dan ia belum bisa memaafkan wanita itu, bahkan mungkin tidak akan bisa memaafkannya. Jessica keluar kamar dengan tampilan yang lebih baik, rambut yang rapi dan wajah yang terlihat lebih segar dengan polesan make up tipis, Matt tahu pasti make up untuk menutupi wajah pucatnya.
Jessica menatap meja makan. Apa benar ini semua Matt yang menyiapkannya? Sungguh, sebenarnya ia adalah wanita beruntung mendapatkan pria seperti Matt. Disana terdapat jutaan wanita yang ingin menjadi pendamping Matt. Mengapa ia sangat bodoh seperti ini?
“Ada yang bisa kubantu Matt?”
“Tidak.”
Jawaban singkat Matt membuat Jessica memudarkan senyuman tipisnya. Matt menatap Jessica, dan ia cukup menyesal menghilangkan senyuman tipis itu, toh sebenarnya Jessica hanya ingin membantunya. Mengapa ia menjadi kekanakan seperti ini?
“Mungkin hari ini adalah hari terakhir aku disini, jika aku tidak sempat. Bisakah kau bawakan beberapa baju dan juga buku koleksiku kerumah?”
“Mengapa kau tidak bawa sendiri?”
“Iya, ya. Aku akan membawanya sendiri...
Jika masih bisa hidup.”
Jessica mengatakan akhir kalimatnya dengan berbisik, namun masih bisa didengar oleh Matt. Memangnya akan ada apa? Jangan bilang Jessica akan merencanakan bunuh diri seperti kemarin. Matt mengangkat pundaknya tidak peduli, lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli.
Suara bel rumah membuat keduanya tersadar dari lamunannya masing-masing. Entah karena apa, jantung keduanya berdetak kencang. Mereka tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua mereka mendapat kabar ini. Jessica mengikuti langkah Matt yang bergerak menuju pintu utama. Matt membuka pintu utama dan melihat empat orang paruh baya dengan senyuman hangat.
“Ya Tuhan, aku amat merindukanmu Jessica.”
Jessica tersenyum dan membalas pelukan Chelsea Boltom, ibu dari seorang Matt. Memang, Jessica dengan ibu Matt bisa dibilang sangat dekat. Sedangkan ibu Jessica yang melihat mereka berpelukan hanya tersenyum hangat.
“Silahkan masuk, aku dan Jessica sudah memasakkan makanan enak untuk semua.”
Matt masuk dan diikuti semuanya. Keempat orang paruh baya itu menatap kagum makanan makanan yang tersaji, makanan khas Italia dan dikombinasi dengan khas Asia. Keempatnya menatap Matt dan dibalas senyuman lebarnya dan beralih menatap Jessica yang hanya bisa menunduk. Sesungguhnya ini bukan masakannya, hanya Matt yang menyiapkan ini semua.
“Silahkan makan semua.”
“Kau yang memasakkan Risotto ini Matt?” Pertanyaan Tuan Villegas membuat semua menatap Matt, termasuk Jessica. Ia ingin tahu apa yang akan Matt jawab.
“Itu Jessica yang buat.”
“Benarkah Jess?”
Jessica tersentak atas jawaban Matt. Mengapa Matt bicara seperti itu? Apakah dia sedang menyindirnya atau malah menolongnya? Entahlah, pokoknya ia hanya bisa mengikuti bagaimana rencana Matt. Jessica hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis pada pertanyaan ayahnya itu.
“Wah, pasti kau yang mengajarkan Jessica masakan Italia ini.” Kali ini suara decak kagum Nyonya Villegas. Matt hanya bisa tersenyum membalasnya.
\\_
Suasana hening, hanya ada suara televisi yang mencairkan dua keluarga itu. Matt terlalu bingung memulainya dari mana, sedangkan suara cekikikan ibunya itu terus terdengar karena televisi lawak dihadapan mereka. Matt menatap Jessica, wanita itu hanya menunduk dalam, seolah berusaha untuk siap entah kapan ia mengucapkannya.
“Ada apa Matt kau mengundang kami? Atau jangan-jangan Jessica sudah isi?”
Nyonya Boltom nyaris menyemburkan teh hangat yang ia minum, sedangkan Nyonya Villegas yang mengatakan seperti itu hanya tersenyum-senyum tanpa rasa bersalah. Kali ini mata Nyonya Boltom membulat, mengapa ia tidak berpikiran seperti itu?
“Benarkah Jess kau telah isi? Benarkah aku akan mempunyai cucu?”
Jessica tersentak saat tiba-tiba Nyonya Boltom menghampirinya dan mengguncang pundaknya. Sungguh, ia tidak bisa mengatakan apapun. Sedangkan Matt ikut panik karena reaksi berlebihan ibunya itu, ini bukan seperti yang mereka kira.
“Ibu, ibu tunggu dulu!”
“Kulihat dari awal kau sangat pucat Jess dan begitu lemas. Memang begitu jika sedang hamil, mood tidak pernah baik. Sungguh, aku senang sekali akhirnya memiliki cucu.”
Kali ini Nyonya Boltom memeluk Jessica dengan erat. Sedangkan Jessica hanya bisa pasrah, sungguh ia ingin menangis sekarang juga. Ia tidak hanya mengkhianati Matt, tapi mengkhianati keluarga Boltom, bahkan juga mengkhianati keluarganya. Ia dapat melihat sang ibu hanya melihatnya dengan senyuman hangat saat ia berpelukan dengan ibu mertuanya itu.
“Ibu tunggu dulu, sebenarnya aku dan Jessica akan bercerai.”
Semua tersentak, termasuk Jessica. Apakah bisa Matt mengatakannya tidak saat momen seperti ini? Nyonya Boltom melepaskan pelukannya dan menatap Jessica dengan dalam. Jessica hanya bisa menunduk, ia takut, sangat takut.
“Ada apa?”
Dari semua keheningan hanya ada suara Tuan Boltom yang mewakili. Jantung Jessica berdegup kencang, sudah tamat semuanya. Dan ia harus siap, siap bagaimana reaksi semuanya, siap bagaimana pandangan semuanya.
“Jessica berselingkuh dibelakangku.” Kali ini empat orang paruh baya itu menatap Jessica. Jessica hanya dapat menunduk dalam, ia terlalu takut hanya sekedar menegakkannya kepalanya.
“Benarkah itu Jess?”
“M..Maaf.” Jessica sudah tidak sanggup menahan air matanya. “A..Aku minta maaf.”
Suara tamparan keras membuat semuanya tersentak. Cairan merah itu keluar dari sudut bibir Jessica, sedangkan dihadapannya terdapat Tuan Villegas yang menatapnya dengan amarah yang memuncak. Matt menatapnya tidak percaya, sungguh semarahnya ia dengan Jessica, ia tidak berani menyakiti gadis itu.
“Pulang sekarang, ikut aku!”
“Ayah, ayah aku minta maaf. Aku minta maaf.” Tuan Villegas menarik tangan Jessica dengan kasar, membawanya keluar rumah. Nyonya Villegas menatap anaknya itu dengan khawatir. Tersisa keluarga Boltom yang kini menatap Nyonya Villegas.
“Maaf, maaf, tolong maafkan kelakuan Jessica.”
Nyonya Villegas mengikuti langkah suami dan anaknya itu. Matt hanya menatap kosong kearah kepergian keluarga Villegas. Nyonya Boltom menatap anak semata wayangnya itu, ia memeluk Matt dan mengelus punggung Matt dengan lembut.
“Ibu..”
“Sabar sayang, ibu tidak menyangka Jessica adalah gadis yang seperti itu.”
“Ibu..” Nyonya Boltom melepaskan pelukannya dan menatap Matt.
“Apakah Jessica akan baik-baik saja?”
Masalah rumah tangga Matt & Jessie di S2 ini kan cm salah paham. Sangat disayangkan kalau rumahtangga mereka bubar karna salah paham..
Yg menang banyak malah si Mark, dpt Boltom's Company, dapetin pula si Jessie
Enak betul si Corrine, Dia udah bunuh anaknya Matt & Jessie, ambisinya buat miliki Matt seutuhnya tercapai.
Malah hidup bahagia lg.
Sumpah kagak rela Corrine dpt bahagia !!!
Kenapa sih ga ada kesempatan kedua buat Matt & Jessie bersatu ?
Mereka udah sama2 berdarah2 lho..
Padahal Aku msh berharap Matt bersatu lg sm Jessie
Dulu Jessie selingkuh Matt yg terluka, skr Jessie yg nuai karma tp Matt juga ikut ngerasain lukanya.
Sangat disayangkan kalo mereka sampai cerai, padahal kan masalah diantara mereka cuma salah paham.
makin seru.. 👍👍
mskpn Jessie prnh berkhianat, tp dia sdh bertobat,, 😓
semangat thor, ku slalu tunggu upmu.
knp harus meninggal Thor ?
kasian Jessie.. hiks
emg sih kepedihan Jessie skr mjd karma kelakuan jalaangnya di masa lalu.
Udah ga ada lg perekat antara Jessie & Matt dong ? kedua anak mereka meninggal semua.
Kayaknya bakal bubar ini Matt & Jessie
smoga happy ending...
semangat thor...
Matt ga bertindak apa2 gitu buat kasih pelajaran si Iblis betina???
Jangan dipulangin dulu ke Perancis sebelum dia hancur sehancur2nya.
Masa udah bunuh calon bayinya Matt + nusuk Jessie, dia masih bebas berkeliaran, harusnya dia membusuk di Penjara. Enak banget udah ngelakuin tindakan kriminal, tapi hukumannya, cuma diasingin ke Luar Negeri, itupun hukuman dari keluarga, hidupnya masih bisa bernapas lega, masih makan mewah, masih tidur nyenyak dikasur empuk.
Corrine harusnya di penjara Thor.
ternyata Lyn anak kandung Matt...
Aku ikut bahagiaaaa....
aku suka dgn alur cerita novel ini, bagus ...tp knapa yg mampir sedikit?
antara Matt dan Jess itu bener2 krisis komunikasi, parah. Masing2 bertindak sendiri2 dan berujung salah paham.
Nikmati aja karma mu Jess
mksh thor upnya..
ayo jess lbh baik minta cerai, drpd terus disakiti...
mksh thor upnya, smoga up tiap hari
semoga kali ini Matt buka mata lebar2 kelicikan Corrine.