Key, adalah gadis ceria. Perempuan bernama asli Zakiyya Ghaada Adiyaksa masih duduk di bangku SMA di usianya yang sudah berusia dua puluh tahun disaat saudara kembarnya justru hampir menyelesaikan kuliahnya.
Key, tidak sepintar dua saudaranya. Namun, dibalik kekurangannya, ia merasa beruntung karena keluarganya tak pernah membedakannya dengan saudaranya yang lain. Begitu pula dengan orang-orang di sekitarnya yang bersikap baik padanya.
Namun, semua berubah saat ia tahu bahwa orang-orang itu bermuka dua. Hal ini membuat luka di hati kecil Key yang saat itu masih kecil.
Saat baru lulus SMA, Key memilih menerima pinangan seorang laki-laki yang awalnya hanya Ingin mengajaknya pacaran.
Malik Prayoga, dialah laki-laki yang akhirnya bisa menjadi suami Key.
Namun, apa jadinya dengan pernikahan keduanya yang baru seumur jagung saat satu dan lainnya merasa sama-sama tak pantas saling memiliki dengan alasan yang berbeda?
Happy Reading 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KYHT 27 Hanya Tinggal Rencana
Key, Hati Yang Terluka (27)
Malik tak bosan, ia terus menggoda Key bahkan saat mereka kini sedang naik sepeda.
" Jadi, mas beneran tampan ya?!,"
Key tak menggubris ucapan Malik. Padahal, tadi ia jelas-jelas sudah menjawab sesuai keinginan Malik. Walaupun sebenarnya memang sesuai kenyataannya.
" Pegang lebih erat, sayang,"
Malik langsung menggoda sepedanya dengan cepat. Key yang terkejut langsung mengeratkan pegangannya. Malik hanya tertawa karena merasakan Key semakin erat memeluk pinggangnya.
Ini tujuan Malik. Bisa lebih 1ntim dengan sang istri.
" Mas, pelan-pelan. Kenapa ngebut?," kesal Key
" Biar kamu pegangannya erat." jawab Malik tanpa dosa.
Key hanya berdecak. Ternyata suaminya sedang modus.
...******...
Pesawat yang di tumpangi keluarga Malik sudah mendarat dengan selamat. Semua turun dengan suka cita kecuali satu orang. Siapa lagi kalau bukan Bela.
Ia terus menggerutu di dalam hati. Ia tahu ini pasti ulah adik dari Malik. Dia pasti mengatakan sesuatu yang membuat Malik membatalkan rencananya pergi bersama keluarganya.
Karena sebelumnya, ia tahu kalau Malik dan Key akan ikut rombongan keluarga Malik. Tidak mungkin rencana itu berubah mendadak tanpa sebab.
Awas saja kalau aku sudah jadi kakak iparmu. Aku akan .....Batin Bela mengepalkan tangannya.
Maura yang melihat sikap aneh Bela hanya membuang muka. Tak peduli sama sekali.
" Kita berpisah disini ya," ucap Erika memeluk Andini.
" Kenapa kita berpisah disini, Tan?,' tanya Bela saat Erika sudah melepaskan pelukannya.
" Kamu tidak dengar dari tadi Tante Erika ilang apa?," tanya Andini mengerutkan keningnya.
Karena Erika berbicara panjang lebar tentang tempat resepsi nanti. Juga tempat dimana keluarga dan tamu menginap nantinya.
Bela dengan polosnya hanya menggelengkan kepalanya. Sepanjang jalan sejak keluar dari pesawat, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga tidak mendengarkan apapun.
" Kamu akan naik jemputan yang di khususkan untuk keluarga. Sementara kami akan naik jemputan untuk tamu," jelas Erika.
" Memangnya tujuan kita berbeda, Yang?,"
" Haish, makanya punya telinga itu ya, di pakai. Ibu kan sudah bilang kalau kalian akan menginap di hotel yang sudah di booking untuk tamu. Sedangkan kami akan menuju Vila yang di khususkan untuk keluarga," jelas Maura jengkel sambil masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi samping kemudi.
" Apa?," Seru Bela kaget. " Jadi, kita tidak menginap di tempat yang sama?,"
" Tidak" Maura masih menjawab sambil menutup pintu mobil.
Brakkk
" Ya, sudah. Kami duluan."
Bela masih mematung melihat kepergian Erika dan keluarganya dengan mobil berbeda.
" Ayo cepat masuk" ajak Andini pada sang putri
Sambil bermuka masam, Bela mengikuti orangtuanya masuk ke dalam mobil.
Kenapa rencanaku tidak ada yang berjalan lancar? Batin Bela kecewa.
Di mobil yang berbeda, Maura langsung tertawa.
" Hush,, kamu itu kenapa?," Lerai Erika yang sedikit terkejut saat Maura tiba-tiba tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.
" Ibu dan Ayah tidak lihat apa seperti apa wajah Maura tadi?,'
Bukan tiba-tiba, Maura justru sudah menahan tawa dari tadi. Namun, tadi ia masih menahan diri.
" Tidak baik tertawa seperti itu, Ra" Maura hanya nyengir saat di ingatkan sang ayah.
" Habisnya Bela itu tak sadar diri. Masih saja berharap padahal jelas-jelas dia sudah di tolak dari awal."
" Panggil yang betul,"
Maura mendengus. Kalau ia sudah kenal, ia selalu memanggil Bela dengan hanya nama tanpa embel-embel 'Kak'.
Dalam hati Maura kembali menertawakan Bela. Aku akan selalu menggagalkan rencanamu, Kak. Batin Maura yang tak sadar sudah kembali memanggil dengan embel-embel 'Kak' walaupun hanya dalam hati.
TBC