Menceritakan pemuda bernama Shiji yang tiba-tiba saja di panggil Oleh Dewi untuk menyelamatkan dunia.
Saat Shiji mendapatkan satu permintaan Ia tidak memilih kekuatan ( overpower ) atau pun senjata cheat, melainkan Dewi itu sendiri.
Bagaimana kisah Shiji selanjutnya, dimana ia harus mengalahkan raja iblis yang masih belum di ketahui keberadaannya di tambah ia juga harus melawan Dewi kegelapan beserta para penyihir Agung.
Kisahnya akan terus berlanjut....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Mengalahkan Orang Bernama Lucifer Ini
Pagi berikutnya aku bersama yang lainnya mulai menyusuri seluruh kota, alasannya sederhana kami harus menemukan orang bernama Lucifer itu, menurut ciri cirinya, ia seorang laki laki dengan rambut lurus panjang, wajahnya tertutup kain perban layaknya sebuah mumi.
Aku berlari ke sebuah gang bersama Rosalin, hanya Eris dan Lita saja yang kusuruh menunggu di masion. Ini sangat berbahaya untuk mereka berdua.
Rosalin berlari di antara gang dengan arah zig-zag, sementara aku mengikuti dari bawah.
"Aku tidak bisa menemukan jejaknya," berkata itu, aku kembali keluar dari sisi gang lainnya.
Di depanku orang orang ramai berbelanja, padahal baru saja kami menemukan orang yang mencurigakan namun kini kami kehilangan dirinya.
Rosalin mendarat di dekatku.
"Master, kurasa master harus melihat ini."
Aku mengikuti Rosalin ke dalam salah satu gang dan yang kulihat sebuah mayat membusuk di ujung gang.
Rosalin belutut lalu memeriksanya dengan seksama.
"Mereka semua menjadi korban ritual sihir hitam," Rosalin mengatakannya dengan sedih, padahal dulunya dia orang jahat, dia bahkan berusaha menghancurkan dunia, namun digagalkan oleh Eris. Saat dia dikalahkan dia meminta Eris untuk mengampuni dirinya dan jadilah sebuah katana sebagai gantinya.
Jika bisa di ibaratkan kekuatannya setara dengan Raja Iblis, dialah kartu As ku.
"Untuk saat ini kembali saja dulu."
Titik pertemuan kami adalah sebuah kedai tak jauh dari lokasi, aku dan Rosalin memesan teh untuk menunggu kedua orang lainnya.
"Dibanding teh, aku lebih suka darah master."
Dia menganggapku sebuah makanan, jika aku melihat dari sudut pandangnya, Rosalin pasti melihatku seperti kantong darah berjalan.
Itu pasti...
"..ini sangat mengecewakan karena master belum pernah menyentuhku."
Jika ku lakukan aku pasti akan bernasib seperti pemiliknya yang sebelumnya, dia pernah bilang di tempat si pria tua, bahwa dia sudah membunuh majikannya karena menyentuh tubuh indahnya.
Membayangkannya membuatku merinding.
Melihatku seperti itu Rosalin tertawa.
"Apa master takut aku akan marah jika master menyuntuh tubuhku."
"...."
Topik ini sedikit melenceng dari yang aku pikirkan, jadi aku mengubah pembicaraan.
"Rosalin, apa ini sudah terlalu lama untuk mereka kembali."
"Ku pikir master benar juga."
"Mari cari mereka, aku merasakan firasat buruk tentang ini."
Mengutarakan isi hatiku, aku dan Rosalin menyusuri jalan yang di lalui Floria dan Anita.
Itu adalah distrik di sebelah utara dekat tembok perbatasan.
Dari kejauhan aku melihat dua orang itu sedang melawan seorang pria dengan wajah tertutup perban.
Dia memunculkan bayangan di depannya, lalu bayangan itu seakan hidup dan menyerang musuhnya.
"Apa itu Rosalin."
"Sihir terlarang, pengendali boneka.... master ingat orang yang mati di gang itu."
Aku menganguk mengiyakan.
"Mereka sudah menjadi mahluk bayangan seperti itu, sementara tubuh aslinya membusuk."
Jadi begitu dia harus membunuh manusia untuk membuat pasukan bayangannya.
Untunglah Anita seorang pendeta jadi lawannya cocok untuk di hadapinya.
Tapi sesaat pandangan ku berubah salah satu bayangan berhasil mengambil alih tubuh Floria, ia sekarang menyerang Anita.
"Gawat.... Rosalin mode bertarung."
"Baik."
Aku berlari ke arah Floria selagi memegang Rosalin yang sudah berubah menjadi katana.
Aku memukul perut Floria sekaligus memasukan air mata Eris ke dalam mulutnya, melihat itu Anita terbelalak kaget.
"Yang barusan."
"Ini hanya air dari Eris," jawabku.
Anita mulai menyembuhkan luka Floria, aku sepertinya terlalu kuat memukulnya hingga ia pingsan.
Sekarang tinggal orang bernama lucifer.
Ini menjadi situasi yang buruk, barusan adalah botol terakhirku.
Aku bertanya pada Anita tanpa melihatnya.
"Apa kau punya sesuatu untuk mengalahkan orang ini."
"Ada satu jurus yang bisa mengalahkannya, hanya saja aku butuh waktu memakainya."
"Berapa lama."
"Lumayan lama, aku menyebutnya penghakiman dari Dewi Eris."
"Terdengar menjanjikan, bisakah kau rapalkan untukku dari sekarang."
"Bagaimana dengan Floria."
"Biarkan saja dulu, setelah selesai baru sembuhkan dia."
"Baiklah."
Anita menyetujui rencanaku ia berdiri selagi memegang tongkatnya bersamaan dengan itu cahaya suci mengelilingi tubuhnya membentuk lapisan sihir yang indah.
"Master, di depanmu."
Lucifer menerjang ke arahku selagi mengayunkan kain perbannya yang ntah kenapa bisa sekeras pedang.
"Kau hebat juga.."
"Terima kasih pujiannya, walau aku tidak perlu mendapatkannya darimu."
Kami saling menubruknya senjata kami di udara, aku berlari ke kiri ia mengikutiku dan terus menerus sampai kami sedikit menjauh dari keberadaaan Anita.
Tanpa ku sadari Tali perban mengikat kakiku, membawaku berkeliling lalu menghantam tanah dengan kecepatan tinggi.
"Ugh."
Hal itu cukup untuk membuatku memuntahkan darah.
"Rosalin, kau tidak bisa memotong kain perban itu."
"Maaf master, sepertinya senjatanya terlindungi sihir."
Ia kembali menyerang, beberapa tebasan mengenai tubuhku. Gerakannya sangat cepat hingga mataku sulit mengimbanginya, yang ku tahu dia berputar-putar ke arahku selagi menebaskan perbannya.
"Master."
"Ini hanya luka kecil.."
Aku menusukan katana ke dalam tanah, bersamaan dengan itu petir mengalir dengan cepat, tidak hanya Lucifer aku juga terkena dampaknya.
Dari awal aku tidak ingin menggunakannya.
Lucifer terhunyung ke belakang namun di saat itu lah sebuah lingkaran terbentuk di bawah kakinya.
"Apa-apaan ini."
Cahaya itu mampu menghentikan pergerakan nya, layaknya sebuah magnet.
"Jadi ini penghakiman nya," aku menoleh ke arah Anita yang bermandikan cahaya.
Dan selanjutnya.
"Holy strike."
Bola cahaya tercipta jauh di langit yang biru, yang mana terarah ke arah Lucifer yang tidak bisa bergerak. Kekuatan ini hampir setara dengan seorang Dewi, benar juga dia itu pengikut setia Eris.
Bola cahaya itu menembus awan - awan dengan kecepatan luar biasa lalu menghantam telat Lucifer yang hanya bisa berteriak, sosoknya benar-benar menghilang seutuhnya.
Dengan begini semuanya sudah selesai.
Rosalin berubah menjadi dirinya dan apa yang dia lakukan selanjutnya hanya menghisap darahku.
"Harusnya kau menunggu, lihat kau membuat gadis suci terkejut."
"Ah benar, apa dia akan membasmiku juga."
"Rosalin vampir...Hehh."
Aku turut kasihan padanya, anggota kami memang paling aneh, terbentuk dari seorang dewi, Succubus, vampir, benar benar sesuatu yang sangat langka di dunia ini...
Aku menepuk pundak Anita.
"Tak apa, Rosalin vampir yang baik jika dia berani macam macam denganmu kau hanya harus memberinya bawang putih.
"Master jangan katakan itu..."
"Dia baru menggigitmu, apa tidak apa-apa ."
"Aku cuma akan kekurangan darah."
"Aku cuma meminum sedikit koq," bantah Rosalin.
Rosalin menatap Anita.
"Kamu masih perawan kan, boleh aku meminum darahmu."
"Oi, hentikan... kau membuatnya takut."
"Maafkan aku, aku cuma bercanda aku hanya meminum darah laki-laki saja."
Anita terlihat gemetaran, melihat itu aku sedikit merasa kasihan padanya jadi kupustuskan untuk mentratirnya makan siang.
Tempat yang kami pilih bar di guild, alasan sebenarnya aku memilih disini bukan karena makanannya melainkan Silviana lah yang menjadi pelayannya tapi dimana dia, ah itu dia..
"Apa yang mereka lakukan."
Kulihat empat orang petualang sedang menggodanya, inilah waktunya Hero untuk beraksi.
Aku melipat lengan jerseyku dan berjalan ke arah ke empat orang itu.
"Berjuanglah master," Rosalin berkata demikian membuat Floria yang tadi tertidur membuka matanya.
"Aku dimana, kenapa aku tertidur di lantai."
"Kau ketiduran tadi, cepatlah duduk makanannya keburu dingin, Anita makan juga."
"Tapi,Shiji."
"Tak apa master bisa mengatasinya."
Aku berdiri di depan ke empat pria itu, mereka hendak menyentuh Silviana namun aku segera mencekram tangannya.
"Apa yang kau lakukan, sialan."
"Aku yang harus mengatakan itu pada kalian, kalian berani sekali menyentuh Silviana...apa tangan kalian mau aku potong."
Dengan pura-pura menakutkan aku harap mereka mau berhenti menggangu Silviana.
"HAH! kau berani juga, kami peringkat S."
"Kau berani."
Percuma orang-orang ini terlalu kuat bahkan Mereka tak mendengarkanku.
"Memangnya siapa gadis ini untukmu."
"Dia temanku."
"Teman, haha sepertinya temanmu terlihat jijik dengan mu."
"Tolong jangan katakan itu, aku bisa terluka disini."
"Kami lebih kuat dari mu, jadi berikan gadis itu untuk kami."
"Maaf, itu mustahil... bagaimana kalau kau bawa gadis disana itu," yang ku tunjuk itu Rosalin.
Dia nampak cemberut melihatku sementara aku meminta maaf dari kejauhan.
Ia menghembuskan nafas seakan mengetahui situasi yang ku hadapi.
Dia tersenyum tipis. Sementara ke empat orang ini bangkit lalu berjalan kearah Rosalin.
"Hey! Temanmu baru saja menjualmu demi keselamatannya sendiri, sekarang ikutlah denganku."
"Dia bukan temanku, dia masterku."
"Hahaha orang lemah itu."
"Dia hanya pura-pura saja, padahal dia sangat kuat loh."
Apa yang dikatakan Rosalin, sekarang ke empat orang itu menatapku, untunglah hanya sekilas.
"Jangan bercanda," salah satu pria itu memegang tangan Rosalin.
Anita yang melihat situasi itu dari dekat nampak takut, sementara Floria melambaikan kedua tangannya seakan berkata, "Jangan lakukan," dengan wajah gelisah
"Kau berani juga menyentuh tubuhku, hanya master yang boleh melakukannya," Rosalin tersenyum sadis, ekpresi yang belum pernah ku lihat.
Alamak mereka pasti mati.
Rosalin mengangkat meja dengan satu tangannya lalu menghantam kepala orang yang memegangnya sampai tak sadarkan diri.
Ketiga temannya berusaha menyerang Rosalin tapi dia jauh lebih cepat.
Rosalin mencekik dua orang lalu melemparnya ke atap guild, dan mereka bergantung disana, untuk satunya lagi ia di pukul terbang menembus dinding guild hingga ke tengah jalan.
"Master, apa ada sesuatu yang harus master katakan."
Aku berlutut di depannya.
"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."
"Syukurlah."
Berikutnya Rosalin menjatuhkanku di lantai, ia menindih tubuhku.
"Sekarang master harus membayarnya."
Harusnya aku tidak melibatkannya, sekarang aku benar-benar terkena anemia.
Setelah mengganti kerugian pada Layla, kami melanjukan makan siangnya, semua telihat tak peduli dan hanya menganggap kejadian barusan tidak pernah terjadi.
Siviana di depanku berterima kasih tapi bukan padaku melainkan Rosalin.
"Aku juga membantu loh," kataku.
"Tuan hanya melemparkan masalah pada nona Rosalin"
"Aku menyesal."
"Dan tolong jangan menatap rokku terus."
Anita berbisik pada Floria.
"Apa Shiji itu sangat mesum."
"Begitulah, dia sangat menyukai gadis perawan, berhati-hatilah."
"Oi, aku bisa mendengarmu, jangan menyebar fitnah tentangku."
Silviana mundur beberapa langkah dari ku.
"Menakutkan sekali."
"Yang menakutkan disini adalah kesalah pahaman."
"Tenang saja master, apa yang kau lakukan dengan tubuhku, aku akan terus mengikuti master."
"Berisik, kau hanya menambah hal ini semakin parah...Lupakan soal menyelamatkan dunia, setiap wanita di guild menatapku dengan tatapan membunuh, sebelum melawan raja iblis aku sudah mati di tusuk salah satu orang disini."
Ketika aku mengatakan Raja Iblis semua orang menahan nafas.
"Shiji kau yakin ingin bertarung dengan raja iblis."
"Tentu saja," aku menjawab pertanyaan Anita dengan bangga dan ia membalas dengan singkat.
"Begitu."
Aku berkata pada Silviana.
"Oh yah, kakakmu sedang berada di rumahku kalau kau punya waktu kunjungi saja dia, dia tinggal di tempatku selama..."
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku Silviana sudha mengganti pakaiannya, ia berteriak ke arah dapur.
"Bos, aku pulang cepat sekarang."
"Ya, berhati-hatilah."
Dengan cepat Silviana menghilang dari pandangan kami.
"Apa dia tahu rumah kita dimana?" orang yang bertanya itu adalah Floria.
"Biarkan saja paling dia akan kembali lagi."
Dan akhirnya kami pulang bersama Silviana.