Di dunia yang penuh dengan sihir ini,
seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullah kesenjangan sosial di antara seluruh manusia.
Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.
Diskriminasi, penindasan, perbudakan, hingga peperangan memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.
"Kau kuat maka kau jaya, kau lemah maka binasa."
Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi yang tak terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia busuk ini.
Teleportasi? Telekinesis? Telepati? Menciptakan nuklir? Apapun itu bisa ia lakukan.
Dengan motto, "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasil merubah dunia dan menjadi penguasa tertinggi?
Namanya Aray Kenzie, dan dia adalah seorang pemalas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 serangan terakhir
Setelah menghajar telak Ardika, Aray pergi meninggalkan ruang rapat begitu saja. Rohan, Veda, dan Devdan mengikuti di belakangnya.
"Tepat seperti yang kupikirkan. Sebutan 'The Ten– apalah itu hanyalah lelucon. Dilihat dari manapun, dia sangat lemah." Aray bukan emosi karena tingkah Ardika, tapi lebih kenapa harus pakai sebutan aneh itu segala.
"Jangan membandingkan orang lain denganmu. Itu tidak adil." Rohan menggelengkan kepala.
"Itu benar. Jika kau membandingkan orang lain denganmu, maka semua orang akan terlihat lemah." Veda juga setuju akan hal ini.
Aray memilih tetap diam tak melanjutkan perdebatan. Ia pikir ini hanya akan menjadi perdebatan yang sia-sia.
"Haha ... kemanapun kau pergi pasti terjadi sesuatu yang menyenangkan, ya?"
Yang Devdan inginkan memanglah hal yang menyenangkan. Dan dia selalu menemukannya di sekitar Aray.
Sejak tadi Aray berjalan, ia selalu merasakan ada yang mengikuti mereka, 3 orang. Siapa mereka?
Aray terus menoleh kebelakang menatap 3 orang yang mengikuti mereka.
"Hmm? Apa kau penasaran dengan 3 orang disana? Mereka itu bawahanku. Aku akan memanggil mereka."
Ketiga bawahan Devdan mematung ketika ditatap oleh Aray. Gerak-gerik mereka sangat aneh, seakan malu-malu untuk bertemu.
Tapi Aray melihat Avara disana. Kenapa juga ia harus begitu.
"Hei, kalian! Kemarilah! Akan kukenalkan pada komandan pleton 1."
Setelah dipanggil, barulah mereka mendekat.
"Aray, perkenalkan, ini bawahanku. Yang paling kiri namanya Yuri, dia memang terlalu gugup akan segala hal, pasti kau juga agak terganggu dengannya."
"E-eh ... ma-afkan jika aku terlalu gugup." Kata Yuri sambil cepat-cepat membungkuk.
"Yang tengah namanya Uros. Dia agak santai, tapi aku tidak tau kenapa dia malu-malu. Yang paling kanan pastinya kau sudah tau. Dia begitu pasti hanya karena ikut-ikutan yang lainnya saja."
"Hai." Avara menyapa datar Aray.
"Yo." Aray memang merasa aneh dengan Avara, tapi ternyata dia cuma ikut-ikutan.
"Nah, kini akan kukenalkan kalian pada temanku sekaligus komandan pleton 1, namanya Aray. Yah ... walaupun kalian pasti sudah tau."
Aray sedikit tersentak mendengar kata teman dari mulut Devdan.
"Tunggu sebentar, sejak kapan kita berteman?"
"Sejak pertama kali kita bertemu tentunya. Untuk apa kau menanyakan hal yang sudah jelas begitu? Ckckck .... " Devdan menggelengkan kepalanya sambil merangkul pundak Aray.
Aray ingat jelas apa yang dilakukan Devdan kepadanya saat pertama kali bertemu, dan Devdan menyebutnya berteman. Hal itu membuat Aray jengkel.
"Uros, kenapa kau malu-malu begitu?" Devdan menanyakan hal yang juga membuat Aray penasaran.
"Yah ... aku hanya agak terkejut melihat kekuatannya barusan. Itu mengerikan untuk memikirkan apa yang akan terjadi bila kau membuat masalah dengannya."
Jujur saja, saat ini Aray agak tersanjung mendengar pujiannya. Karena orang-orang hanya bisa meremehkannya selama ini.
Tak lama kemudian selusin prajurit kerajaan biasa berlari tergesa-gesa dilorong. Mereka terlihat sangat panik, entah apa penyebabnya.
Saat para prajurit itu berlari melewati rombongan Aray, karena penasaran apa yang sedang terjadi, Rohan menarik satu dari mereka.
"Hei! Apa yang sedang terjadi?"
Prajurit itu agak gelagapan karena tiba-tiba ditarik begitu saja keluar dari rombongannya.
"Saat ini, puluhan ribu prajurit negara Utara sedang bergerak menuju istana kerajaan. Mereka sudah masuk kedalam kota."
"Apa? Kenapa kami tidak diberitahukan hal seperti ini?" Uros menarik kerah prajurit itu.
"Ka-kami juga baru tau. Ini terjadi sangat tiba-tiba."
"Kalau begitu, apa para penduduk sudah di evakuasi? Apa ada Laksamana Madya di sana?" Kali ini Devdan ikut bertanya.
"Ya. Ada beberapa Laksamana Madya di sana, mereka telah mengevakuasi seluruh warga sipil."
Setelah mendengar bahwa ada laksamana madya di sana, dan para warga sudah di evakuasi, mereka menjadi sedikit tenang.
Uros melepaskan kerah prajurit itu. Prajurit yang sudah tertinggal oleh rombongannya mulai berlari menyusul.
"Avara, kau kembalilah keruang rapat dan beritahukan mereka tentang hal ini. Kita harus secepatnya berangkat. Karena ini pasti akan menyenangkan .... " Devdan tersenyum miring.
Avara mengangguk kecil lalu berlari kembali ke ruang rapat. Aray yang sudah mengerti situasinya segera berkata,
"Kita berangkat sekarang."
.
.
.
Tembakan-tembakan sihir dari puluhan ribu tentara kerajaan utara berterbangan di langit kota.
"Semuanya, buat pelindung!!"
Abner sebagai laksamana madya memerintahkan seluruh pasukan kerajaan.
Secara bersamaan, seluruh prajurit bergerak membuat perisai raksasa. Puluhan ribu serangan pasukan kerajaan utara dapat di tahan dengan sempurna.
"Hm ... untuk ukuran seorang sampah kau lumayan." Pria dari kerajaan utara yang tingkatannya sama dengan Abner 'memujinya'.
Di sana Abner hanya bertugas untuk mengatur dan memerintahkan para prajurit, sedangkan untuk menyerang diserahkan pada Aya. Dia juga seorang laksamana madya dengan kemampuan penghancur yang hebat.
Di atakan bahwa dia bisa menghancurkan satu kota sekali tebas. Kekuatan penghancur yang sangat dahsyat.
"Abner, mundur sedikit. Sekarang giliranku." Aya mendorong dada Abner ke belakang.
Dengan seragam militer, Aya terlihat sangat menawan. Bagaikan bunga mawar ditengah tumpukan mayat.
Aya menarik pedangnya lalu mengayun secara vertikal.
"Greek sword god."
Tebasan itu membelah bumi dan langit tempat para prajurit kerajaan utara berkumpul, membunuh ratusan dari mereka. Jumlah yang banyak untuk sebuah serangan.
Tapi Aya agak terkejut ketika pemimpin mereka masih berdiri anggun didepannya.
Pria bernama Raka yang setingkat dengan Abner dan Aya terlihat begitu tenang saat para bawahannya mati. Entah apa yang dipikirkannya.
"Kau lumayan, tidak seperti temanmu." Katanya sambil menepuk-nepuk pundaknya yang terkena debu Medan tempur.
Aya memasang kuda-kuda, kini dia agak waspada setelah melihat Raka sama sekali tak terluka saat terkena serangannya.
"Tapi bukannya ini kurang adil? Dua lawan satu. Aku akan menunggu temanku datang membantu."
Panjang umur, baru saja dibicarakan temannya datang dari belakang barisan pasukan kerajaan utara. Mereka membuka jalan hanya untuk satu orang yang Aya dan Abner pikir pastinya orang ini sangat dihormati.
"Ah ... dia datang. Kalau begini baru adil. Akhirnya kau datang, Bara." Raka tersenyum.
"Maaf aku terlambat. Aku ada urusan." Orang yang di panggil Bara itu terlihat agak dingin.
"Dia gila. Bagaimana bisa dia bilang adil jika dia terkena seranganmu dan tak terluka sama sekali?" Abner berbisik pada Aya.
"Itu hanya kebetulan. Daripada itu, lebih baik kau mengatur formasi pasukan kita. Aku akan menghadapi mereka berdua sendiri. Kau sangat tidak berguna dalam pertarungan seperti ini."
Walau menyakitkan, yang dikatakan Aya pada Abner adalah fakta. Jadi Abner hanya bisa menuruti perintah Aya.
"Semuanya, dengarkan! Berkumpullah di satu tempat agar lebih mudah bertahan, serangan dapat kita serahkan sepenuhnya pada Laksamana Aya."
"Baik!"
Teriak para prajurit serempak. Setelah itu mereka berkumpul di satu tempat seperti apa yang diperintahkan oleh Abner.
"Kini serahkan padaku, kau mundur saja lindungi para prajurit." Aya tersenyum, matanya menajam. Dia memegang erat pedangnya.
"Hanya orang bodoh yang berjalan langsung menuju kematian."
Raka dan bara juga bersiap.
Aya mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dulu. Ia berlari langsung menuju Raka dan Bara.
Melihat Aya berlari langsung menuju mereka, Raka dan Bara agak terkejut. Mereka pikir gadis ini masih punya otak walau sedikit, tapi ternyata tak tersisa sama sekali.
"Gadis bodoh.
Angel wings."
Dua sayap berwarna putih bersih tumbuh di punggung Raka, kemudian dia mengepakkannya sehingga muncul pusaran angin besar dan kuat menerjang tubuh Aya.
Walaupun Aya kurang persiapan, tetapi dia tidak akan membiarkan dirinya di dorong mundur semudah itu.
"Greek sword god".
Tebasan penghancur milik Aya membelah pusaran angin tak karuan itu menjadi dua bagian dan akhirnya menghilang.
Tak berhenti disitu, Aya tetap berlari dan memberikan serangan lanjutan.
"Whip of hell."
Pedang Aya berubah menjadi panjang dan elastis. Tujuannya sangat pasti, yaitu menebas kedua musuhnya. Karena pola yang tak beraturan itu, seharusnya serangan itu sangat sulit dihindari.
"Raka, mundur sedikit."
Saat Raka mundur selangkah, bara maju dan mengayunkan tangannya, menepis serangan Aya begitu saja.
Tubuh Aya menegang. Tidak ada hal lain yang lebih mengejutkan dari serangannya yang ditepis dengan tangan kosong.
"Pressure."
Dengan satu kata yang keluar dari mulut Bara, tubuh Aya terjatuh berlutut, lalu telungkup menempel di tanah. Tekanan yang sangat kuat diberikan oleh Bara.
"A-apa ... i-ini?"
Aya tidak dapat bergerak sama sekali. Serasa ada bangunan yang menimpa punggungnya.
Tapi Bara belum selesai,
"Clumps of solar fire."
Gumpalan-gumpalan api kecil menari-nari di atas telapak tangannya, mencari pasangan demi membentuk gumpalan api yang lebih besar.
Saat gumpalan itu sudah menyerupai ukuran matahari kecil, Bara melemparkannya pada Aya.
"Mu-mustahil! Bagaimana bisa dua jurus dalam waktu yang sama?"
Menyerang dengan dua jurus pada saat yang sama bukanlah hal biasa, bahkan bisa di bilang mustahil.
Tapi saat ini Aya menyaksikannya, seseorang yang bisa melakukannya. Dalam keadaan ditekan seperti itu, Aya tidak bisa melakukan apapun.
"Aya!" Abner berteriak mengkhawatirkannya.
Apa aku akan mati disini?
Itulah yang dipikirkan oleh Aya saat ini. Gumpalan api itu semakin dekat dengannya.
Orang bilang saat seseorang mendekati ajalnya, seluruh kenangan hidupnya akan teringat, seperti sedang menonton seluruh kehidupannya sendiri. Dan itulah yang dirasakan Aya.
"Tamat sudah riwayatmu." Kata Bara dingin pada Aya.
Di saat dia sudah pasrah akan segalanya, gelembung berukuran sedang muncul dan meletus di hadapannya. Dari gelembung itu keluar seseorang yang tidak dikenal oleh Aya. Wajah yang sangat lesu dan terlihat malas.
"Sapling of the sun."
Orang tak dikenal itu mengeluarkan bola api kecil dari ujung jarinya, menembakkannya, dan secara ajaib bola api kecil itu melahap habis jurus milik Bara.
Hal ajaib terus terjadi hari ini. Dimulai dari pengguna dua jurus pada saat yang sama, sampai orang yang muncul tiba-tiba dengan bola api kecilnya. Hal ini jelas membuat Bara dan Raka tercengang.
Lalu mereka segera bertanya,
"Dari mana kau datang? Siapa sebenarnya kau?"
Pria dengan wajah malas itu tak menjawab. Dia hanya menatap mereka datar.
Hal itu semakin membuat Aya penasaran, sehingga ia menanyakan pertanyaan yang sama.
"Siapa sebenarnya kau ini?"
Kini pria dengan muka malas itu menatap Aya, tentu saja dengan ekspresi yang sangat datar, ia menjawab,
"Aku ini juniormu."
Eh, pas lagi buka buka perpustakaan gw ternyata baru tau author balik, tapi pas liat tanggal ternyata juga udah kurleb 2 tahun up nya😔💔
Kira-kira bakal dilanjutin ga thor?👉🏻👈🏻
Btw, time flies so fast ya thor, gw juga ga nyangka udah sampai di titik ini
semangat terus min/Good/