Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Andra benar-benar serius dengan Nadien, setelah perkenalan itu Nadien dan Andra bertunangan. Kini Nadien tengah makan malam di rumah Andra. Sejak resmi bertunangan walau acara itu dulu sebatas kekeluargaan, Nadien sering datang kerumah Andra. Menghabiskan waktu bersama Sovia ibu Andra juga Nirmala adik Andra.
Nadien berjalan seorang diri, karena Nirmala dan Sovia ada kesibukan, langkah kakinya mengantarnya ke balkon rumah Andra, dia memandangi pemandangan yang tersuguh di depan matanya.
"Aku kira kamu kemana, aku cari-cari kamu lho," Andra memeluk Nadien dari belakang.
"Aku mencari udara segar, rasanya paru-paruku sesak, maaf aku masih grogi bertemu keluarga kamu,"
Tidak sengaja Gurazi melewati mereka yang larut dalam pelukan mereka sambil bicara banyak hal, wajah Gurazi masam melihat pemandangan itu. Dia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Nadien, kita sudah bertunangan, kenapa kamu tidak mau memperkenalkan anakmu? Aku calon papa dia," rengek Andra.
"Maaf Andra, karena pekerjaan aku tidak berani memperkenalkan anakku pada publig, aku janji, aku akan bawa anakku Syafana jika kita sudah menikah,"
"Syafana? Owh jadi nama perusahaan kamu adalah nama anak kamu"
"Iya, suami aku sangat mencintai kami, segala hal pasti ada nama Syafana," tiba-tiba hati Nadien menggemuruh teringat pengorbanan Kevin buatnya dan Syafa juga ibunya.
"Kevin … sesungguhnya karena apa kamu melakukan banyak hal padaku? Jika kamu mencintaiku, aku sangat merasa bersalah jika aku terlanjur menikah dengan Andra," ringis hati Nadien.
"Aku boleh pulang?" Nadien melepaskan diri dari pelukan Andra.
"Pulang, disini aja, temani aku," Andra membelai wajah Nadien, tangannya memijat tengkuk Nadien dan perlahan menarik lembut agar wajah Nadie mendekat pada wajahnya.
"Aku tidak enak pulang terlalu malam, aku pulang ya," Nadien langsung menghindar dari Andra yang ingin menciumnya.
Nadien berjalan menuju ruang tamu bersama Andra.
"Tante, aku pamit pulang ya, Nirmala aku pulang," seru Nadien.
"Yaah … kok pulang," rengek Nirmala.
"Sudah malam, nanti aku kemari lagi, bersama kalian aku merasa punya keluarga," jawab Nadien.
"Makanya kita harus cepat-cepat meresmikan hubungan kita, agar kamu selamanya tinggal di rumah ini," rengek Andra sambil memeluk Nadien.
"Awww …." rengek Nirmala melihat Andra memeluk Nadien.
"Aku mau pulang beb," bisik Nadien.
"Aku antar ya?" Pinta Andra.
"Kalau kamu antar aku, siapa yang antar kamu?"
"Astaga, aku lupa kalau hari ini kamu bawa mobil sendiri." Andra melepaskan pelukannya.
"Cups," satu kecupan hangat dari Nadien mendarat di pipi Andra. "Selamat malam beb, aku pulang," Nadien berjalan ke arah Nirmala dan Sovia, mereka berpelukan.
"Nanti kemari lagi ya kak Nadien," seru Nirmala.
"Iya, kalau gak sibuk pasti," jawab Nadien
Melihat Nadien akan pulang, Gurazi segera turun kebawah lewat ruangan lain.
"Kami antar sampai depan ya sayang," seru Sovia.
"Jangan tante, aku kan bukan tamu, sudah lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku tahu kok di mana pintu keluar," Nadien pergi meninggalkan mereka semua.
Nadien melangkah dengan semangat sambil menuruni tangga rumah Andra. Ketika langkah kakinya sampai di bawah, "Brukkkk" seseorang menyudutkannya.
"Om?" Nadien pura-pura panik.
"Kamu benar mencintai Andra atau hanya hartanya?" Tanya Gurazi.
"Om, aku bukan orang miskin," jawab Nadien santai.
"Baiklah, temui aku di alamat ini, aku ingin mengenal calon menantuku lebih dalam," Gurazi memberikan kartu.
Nadien menerima kartu tersebut, dia sangat bahagia, sepertinya rencananya mulus. Dia pulang kerumah dengan perasaan bahagia.
"Selamat ma---" Nadien tidak meneruskan perkataannya ketika melihat sosok laki-laki yang bermain dengan Syafa.
"Mama …." Seru Syafa ketika melihat Nadien.
"Hai, baru pulang?" Sapa Kevin.
"Kev, kita berhasil," Nadien berlari kearah Kevin, tanpa sadar dia memeluk Kevin.
"Berhasil apa?" Kevin melepaskan pelukan Nadien karena melihat Kinar memandangi mereka.
"Gurazi, dia terlihat jelas ingin mendekatiku, dia memintaku datang ke alamat ini,"
"Bagus, saatnya kita susun rencana selanjutnya, cara Gurazi sama seperti saat menjebak kakakku," seru Kevin.
"Baru pulang sayang?" Tanya Kinar pada Nadien.
"Iya bu, lumayan pekerjaan hari ini, terus aku kerumah Gurazi bu"
"Oh ya, aku pamit ya," seru Kevin.
"Kok pamit, makan malam dulu disini," rengek Nadien.
"Aku ada janji malam ini dengan klien ku, maaf ya lain kali," seru Kevin.
****
Keesokan harinya, setelah selesai bekerja Nadien segera menelpon Kevin menanyakan rencana mereka.
"Semua sudah siap, kamu hati-hati, janga lupa bawa perekam, hidupkan nanti setelah sampai di villa Gurazi," seru Kevin.
Nadien melanjutkan perjalanannya, namun hatinya merasa was-was. Dia meraih ponselnya lalu menelpon Andra.
"Hallo beb," sapa Andra.
"Beb, aku ini masih kurang meyakinkan ya?"
"Meyakinkan apalagi?" Tanya Andra manja.
"Papa kamu, kenapa papa kamu memintaku menemui dia di sebuah villa di alamat," Nadien menyebutkan alamat villa tujuannya.
"Kami tidak punya villa di sana, aku segera kesana," seru Andra.
Setelah menutup teleponnya, Andra langsung menuju mobilnya, dia mengebut di jalanan, hatinya resah memikirkan apa yang Gurazi lakukan pada calon istrinya. Teringat kembali pada masa lalunya, saat dia melihat ayah tirinya itu bercinta dengan Kayla kekasihnya.
Nadien masih melamun dalam mobil yang dia parkirkan di pinggir jalanan. Tiba-tiba "wushhhhh" sebuah mobil melaju kencang lewat.
"Andra?" Nadien mengenali mobil itu. Dia segera melanjutkan perjalanannya.
****
Andra menepikan mobilnya, karena villa itu di jaga banyak orang. Andra berpikir keras, memikirkan cara untuk masuk ke villa itu. Dia melihat di kejauhan sebuah mobil melaju kearah villa itu, Andra tersenyum karena itu mobil Nadien.
Setelah mobil Nadien berhenti di gerbang karena di periksa petugas, Andra segera turun dari mobilnya dan mencari jalan masuk alterbatif ke villa itu.
***
Nadien sudah masuk kedalam villa sebut, ketika Nadien masuk, penjaga Gurazi langsung keluar. Nadien meletakkan tas yang dia bawa di meja di dekatnya, memastikan kamera yang sudah menyala itu bisa merekam di sudut yang benar.
Melihat sekilas bayangan Andra dari arah jendela Nadien tersenyum kecil.
"Aku tahu om, aku tidak pantas mendampingi Andra, secara aku sudah janda, aku memiliki anak pula," seru Nadien membuka pembicaraan.
"Kenapa kalian ingin menikah secepat ini? Aku belum selesai memindahkan semua harta kekayaan Sovia atas namaku," seru Gurazi.
"Apa maksud om?"
"Jika Andra menikah, maka semua yang aku pegang harus aku kembalikan pada Andra, secara harta yang aku miliki masih atas nama Andra, karena semua milik orang tua Andra," seru Gurazi.
"Terus, apa hubungannya dengan saya? Kenapa om meminta saya kemari?" Nadien pura-pura panik.
"Aku hanya bermodal beberapa ratus juta untuk membeli villa kecil ini demi menyelamatkan semua perusahaanku," seru Gurazi.
"Aku masih belum mengerti," ringis Nadien.
"Villa ini milikmu Nadien, kamu yang mengundang aku kemari," seru Gurazi.
Gurazi mulai mendekati Nadien.
"Om … om itu sakit, itu teguran om, tolong jangan ganggu saya," Nadien pura-pura panik.
"Aku akan menggauli kamu, seolah kamu yang meminta dan Andra akan meninggalkan kamu," seru Gurazi.
Andra yang bersembunyi tiba-tiba terkejut, dia teringat Kayla lagi. "Kay, jika kamu benar di perkosa papa, maka aku yang sangat bersalah," ringis hati Andra.
"Tidak akan aku biarkan Andra menikah secepat ini, sebelum semua hartanya berpindah atas namaku," seru Gurazi.
Darah Andra mendidih mendengar semua perkataan Gurazi.
"Om jangan!" Teriak Nadien ketika Gurazi menarik kasar bajunya, seketiak baju Nadien robek.
"Waw, tubuhmu indah juga, apa kamu dan Andra sudah melakukannya?" Gurazi terus berusaha mendekati Nadien.
"Bougggghhhhttt!" Satu tinjuan melayang kewajah Gurazi.
Gurazi terkejut melihat kehadiran Andra.
"Dasar! Selama ini kamu pura-pura baik dan sekarang kamu ingin memfitnah calon istriku lagi?"
"Boghhh! Boghhhh! Boughhh!" Andra melayangkan bogem mentahnya ke wajah Gurazi.
Gurazi yang tidak terlalu kuat terkapar di lantai.
Melihat Nadien yang menangis sambil memeluk dirinya yang tidak berpakaian sempurna, Andra langsung menutupi tubuh Nadien dengan jas yang dia kenakan.
"Jangan takut, aku percaya padamu dan aku melindungi kamu," Andra menenggelamkan Nadien yang terus menangis kedalam pelukannya.