Selena Putri Himawan seorang gadis yatim piatu berusia 18tahun,yang harus selalu bekerja keras untuk hidupan melanjutkan sekolahnya. Untuk semua alasan itu, gadis yang sehari-hari di panggil Selly itu, terpaksa harus bekerja paruh waktu di sebuah restoran.
Suatu hari, Selly tidak sengaja bertemu dengan Alviandi Wijaya, seorang Ceo muda berusia 25 tahun, yang terkenal dengan kecerdasan, ketampanan dan kesuksesannya dalam memimpin perusahaan milik mendiang sang ayah.Yaitu, Wijaya Group hingga menjadi perusahaan nomer 1 di wilayahnya,dengan cara yang kurang menyenangkan.
Semuanya memang di miliki oleh seorang Alviandi Wijaya,tapi ada satu hal sangat penting yang tidak bisa dimiliki seorang yang nyaris sempurna sepertinya. Yaitu, penglihatan.
Satu hari, terjadi kesalahpahaman antara Selly dan Alvin yang memaksa mereka harus menikah.Apakah yang terjadi sebenarnya???, dan apakah pernikahan yang terpaksa itu,akan bisa bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keisya Putr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berteman
Reta purnama dewi, putri bapak Angga purnama dan ibu sarita dewi, bersediakah kamu menjadi calon istri ku??. " Reta merasa waktu benar benar berhenti ,saat menyaksikan seorang Hans berlutut dihadapannya menyatakan keinginannya dengan menyebut nama kedua orang tuanya.
Sementara itu, tak jauh dari sana empat pasangan mata menyaksikan kejadian tersebut tanpa disadari oleh Reta dan Hans.
" Anda jangan bercanda.!" Ucap Reta melepaskan tangannya yang sedari tadi di genggam oleh Hans.
" Saya tidak bercanda sama sekali.!" Tegas Hans.
Reta membelalakkan matanya setelah ia sadari tidak ada kebohongan di mata Hans, dan sekaligus dia shock dengan situasinya saat ini.
"Maaf, saya harus pergi!!" Reta membalikkan badannya untuk segera pergi dari sana.
" Mau kemana??"Tanya Hans, meraih tangan Reta dengan cepat.
" Pulang.!!" Dingin Reta sambil menepis tangan Hans kasar.
" Biar saya antar."
" Tidak perlu.!!"
" Tapi, ... "
Akhhhh!!!!!
Belum sempat Hans melanjutkan ucapannya, tiba-tiba sebuah teriakkan seorang yang memekakkan telinga terdengar dari ruang keluarga.Dan membuat Hans dan Reta berhambur menuju asal suara tersebut.Begitu pun dengan empat orang yang asik mengintip kegiatan dua orang tersebut.Yang tak lain adalah Rina dan Alice serta dua pelayan setia di rumah tersebut.
" Ada apa ini.?? apa yang terjadi.??" Tanya Rina sangat panik.setelah sampai di ruang keluarga.
" Gak papa ,mi." jawab Alvin datar.
" Tidak apa-apa bagaimana??? bukannya tadi kamu berteriak begitu kencang.??" Tanya Rina heran.
" Ada apa boss??" Tanya Hans, yang baru saja berada di sana bersama dengan Reta.
" Gak papa, tadi ada tikus raksasa nyasar kesini." Sindir Alvin dengan nada datarnya.
" hah.??!" Semua orang menatap ke arah Alvin dan Selly kebingungan.
" ya, maaf... maaf..! habis perih banget Vin..." ucap Selly sambil memegang pergelangan kakinya.
" Gak usah gigit pundak orang juga!!. Dasar anak tikus.!!' Ketus Alvin memegangi pundaknya yang sakit akibat di gigit oleh Selly.
" Apa lo bilang??? kurang ajar, beraninya lo ngatain gue anak tikus.!!"
" terus apa.???, anak singa??. Dasar gak tau terimakasih, seenaknya aja main gigit orang sembarang.!"
"Gue kan udah minta maaf.!"
" Kaki kamu kenapa sayang .?? Tanya Rina yang sudah ada di depan Selly.
" Gak papa kok cuma kegores beling sedikit.." ringis Selly
F**lash back on**
Selly dan Alvin masih sibuk dengan piring dan gelas di depan mereka, dan tak menghiraukan pertujukan yang terjadi tidak jauh dari tempat mereka.Namun berbeda dengan Alvin, yang pasti mendengar semua percakapan antara Hans dan Reta tanpa harus menguping
Prang !!!
Tiba-tiba saja gelas yang ia pegang jatuh begitu saja.
" Akhh!!" Pekik Selly ,saat serpihan beling sedikit menggores kakinya.
" Kenapa.? Tanya Alvin datar.
" Vin,tolong Vin! kaki gue kena beling.." ringis Selly.
" Tck, dasar ceroboh,!!!" Sinis Alvin, segera membopong tubuh Selly menuju ruang keluarga.
Selly sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi antara Hans dan Reta. padahal, Alvin membopong Selly melewati mereka dengan posisi membelakangi mereka.mungkin karena terlalu konsentrasi dengan rasa perih di kakinya.
F**lash back off**
" Awh! perih Vin!!.Lo kasih obat apa sih sebenarnya?. Kenapa jadi tambah perih??" ketus Selly.
" Diem!" Bentak Alvin, seketika Selly terdiam.Membuat semua orang terkekeh kecuali Ret yang sibuk dengan pikirannya sendiri dan Alvin yang dengan telaten mengobati luka di telapak kaki Selly.
" Terimakasih!" Ucapan yang keluar dari mulut Selly setelah Alvin selesai mengobati lukanya ,dan sudah Alvin tutup menggunakan plaster dan kain kasa.Namun tak ada jawaban dari Alvin.
" Tante Reta permisi pulang dulu ya ! " Ucap Reta, yang sudah di depan Rina yang masih berdiri menyaksikan perdebatan antara Selly dan Alvin.
" Eh, iya.biar Hans yang antar."
" Tidak usah tante biar Reta pulang sendiri saja.!" Tolak Reta..
" Tidak, ini sudah malam. Jadi, biarkan Hans yang mengantar mu"
" Tidak per, ..."
" Udah, lo pulang aja sama si Hans. Lagian lo ,juga gak bawa mobil kan?!" Celetuk Selly.
" Benar apa yang dikatakan Selly, jadi tante mohon biarkan Hans mengantar mu pulang!"
" Iya Tante." Reta mengangguk pasrah.
" Kalo gitu ,Alice juga mau pulang ya tan, udah malem."
" Iya nak, terimakasih ya sudah mau main kesini!." Ucap Rina memeluk lembut Alice.
" Sama-sama tante," Alice membalas pelukan Rina." Oh ya, Sell lo mau pulang atau nginep disini??" Lanjut Alice bertanya pada Selly.
" Eh, iya.Tante Selly juga harus pulang,makasih ya udah ngajak selly sama temen-temen Selly makan malam bareng, Selly seneng banget! " Ucap Selly tersenyum manis dan berdiri untuk memeluk calon mertuanya.
" Sama-sama sayang!"
" Kalo gitu, Selly pulang dulu ya." Selly melepaskan pelukannya .
" Iya., Hans kamu antar Selly dan teman-temannya pulang!" Perintah Rina.
"Baik tante!"
Akhirnya ketiga gadis cantik itu pulang diantar oleh Hans.Selama perjalanan, hanya keheningan yang menemani mereka.Alice yang biasanya tidak mau diam kini hanya menatap Reta dan Hans yang berada di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tumben banget si Alice diem aja ??.Tapi, kok ada yang aneh sama tuh bocah.Dia lihatin apa sih.??. Bodo amat ahhh!, kaki gue kok masih perih ya, sebenarnya tuh setan ngasih gue obat apaan sih??? . Awas aja kalo sampe kaki gue tambah parah bakal gue bejek-bejek tuh orang!!.
Selly terus bergumam dalam hati hingga tak menyadari mobil yang ditumpangi sudah ada di depan rumahnya.
" Kakak ipar sudah sampai, ayo turun biar Hans yang ganteng ini membantu mu."Selly memutar bola matanya malas, eneg juga lama-lama dengan gaya bicara cowok ganteng satu ini.
" Udah bantu gue aja gak usah kebanyakan drama."
" Hehe." Hans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Udah, cepetan kenapa masih di situ..??!"
" Siap bu bos!!"
Hans segera membopong Selly dan mendudukkannya di kursi yang ada di depan rumahnya.
" Udah sini aja! ,gue bisa masuk sendiri . Lagian ngapain sih pake gendong gue segala??!" Sungut Selly.
" Ya maaf, kan biar cepat kalo di papah kelamaan "
" Hem ,ya udah makasih!"
" Sama-sama kakak ipar!"
Hans kembali ke dalam mobil yang masih saja bening.ia menatap Reta tapi dengan cepat Reta memalingkan wajahnya.Ia mengarahkan pandangannya ke jok belakang dimana Alice duduk dengan nyaman.
" Alice nanti kasih tau alamat kamu ya." ucapnya pada Alice.
" Oke bang!!" Alice bersikap senormal mungkin, walaupun ia sangat merasa canggung setelah kejadian antara Hans dan Reta yang ia lihat tadi.
Setelah mengantar Alice, mobil itu kini melaju ke arah rumah Reta.Keduanya terlihat sangat canggung dan memilih diam hingga sampai di depan rumah yang mewah yang cukup besar namun tak sebesar mansion milik keluarga Alvin.
Tanpa pikir panjang Reta langsung turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah yang berpagar tinggi tersebut.
" Tunggu sebentar!" Hans menarik tangan Reta dari belakang saat akan masuk ke halaman rumahnya setelah membuka kunci pagar.
" Maaf ini sudah malam saya mau istirahat dan silahkan anda pulang. Terimakasih sudah mengantar saya." ucapnya menepis tangan Hans dengan cepat.
" Kumohon sebentar saja.! "
Reta menghela nafasnya
": Dua menit,cepat katakan apa mau anda jangan bertele-tele, saya ingin segera beristirahat!!."Hans tersenyum mendengar ucapan Reta.
" Baiklah, sebelum aku minta maaf pada mu.Mungkin aku terlalu cepat mengatakan itu, tapi percayalah meskipun dari luar aku orang yang suka bercanda bahkan aku orang yang sama sekali tidak bisa diajak serius. Tapi, untuk kali ini aku benar-benar serius dengan ucapanku."
" Waktu sudah habis silahkan anda pulang sudah malam!!" Ucap Reta tanpa ekspresi, memotong penjelasan Hans.
" Tunggu! aku tidak akan memaksa mu untuk menjawab pertanyaan ku tadi.Tapi,apa bisa kita bisa berteman??" Tanya Hans penuh harap.
" Hmmm," Hanya itu yang menjadi jawaban Reta. entiah kenapa ia tidak bisa menolak permintaan Hans. Tapi, juga sangat berat agar kata" iya" keluar dari mulutnya.
" Aku anggap itu'ya' .Jadi ,mulai sekarang kita berteman.Dan satu lagi jangan panggil aku' anda'. Panggil saja Hans atau, kamu atau, Abang juga tidak apa-apa." Canda Hans yang mendapat tatapan pembunuh dari Reta.
" Ah, maaf.Ya udah senyamannya kamu saja tapi, jangan' anda' kurasa itu terlalu formal." Ucap Hans, sambil mengusap tengkuknya yang sedikit merinding setelah mendapat tatapan leser dari Reta.
Reta tidak merespon ucapan Hans dan segera masuk ke dalam meninggalkan Hans yang tersenyum penuh arti di tempatnya.
" Selamat malam ,selamat istirahat!" Ucap Hans setengah berteriak.Meskipun tidak ada jawaban dari dalam sana namun, senyum bahagia terpancar jelas dari wajahnya.Sedetik kemudian kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Reta dengan senyum yang tak pernah berhenti menghiasi wajahnya.
Perlahan tapi pasti, aku yakin bisa meluluhkan hati mu.Cukup dengan aku bisa berteman dengan mu,maka semakin mudah aku mendapatkan hati mu. Tidak perlu memaksa mu untuk menerima ku. Perlahan tapi pasti, jika cinta akan tumbuh karena terbiasa.Oleh karena itu aku akan berusaha menjadi teman terbaik untuk mu agar kamu terbiasa dan menerima ku sepenuhnya, tanpa bisa berpikir untuk meninggalkan ku.
Hans Angkasa Putra.