Alhakhan Jose Purnomo 27 tahun adalah seorang laki-laki tampan, dingin dan galak. Dia memiliki trauma saat kecil di culik oleh seorang wanita cantik yang menyukai ayahnya. Dia memimpin perusahaan CEO yang behasil tetapi akan berkeringat dingin dan menggigil saat bertemu atau berhadapan langsung dengan wanita cantik.
Sampai dia bertemu tanpa sengaja dengan seorang wanita berpenampilan tomboy pimpinan panti asuhan bernama Vena Fatmala. Pertemuan keduanya saat Vefe membantu Khan di keroyok oleh perampok di pinggir jalan tol. Hanya bersama dengan Vefe, Khan tidak mengalami trauma karena awalnya menyangka Vefe adalah laki-laki.
Tanpa di sadari Khan jatuh cinta pada Vefe. Hanya saja banyak yang menghalangi cinta mereka karena wanita-wanita cantik yang mengincar harta dan ketampanan Khan. Dan ada perbedaan kesenjangan sosial yang membuat Vefe tidak percaya diri bersama dengan Khan.
Bagaimana Khan meyakinkan Vefe untuk tetap bersamanya. Apakah Vefe menerima cinta Khan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muda Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Rasanya Tetap Asin
Asisten Satria saat ini sedang duduk di dasbort mobil milik Khan yang ada di depan panti asuhan. Dia memilih tidak memberitahukan kepada Bunda Fatia tentang Vefe. Memilih mencari aman agar tuannya itu tidak marah lagi karena berpesan untuk merahasiakan tentang Vefe.
Sedangkan yang didalam ruang makan, Khan saat ini sedang minum air putih menghilangkan rasa asin di mulutnya. Baru tahu rasanaya ikan asin sekarang ini. Khan sama sekali tidak menyukai makanan yang asin seperti Bunda Fatia.
"Mas ... Bukan begitu cara makan ikan asin, caranya seperti ini!"
Vefe memotong kecil-kecil ikan asin menggunakan sendok. Di taburkan ikan asin itu diatas nasi dan sayur asem. Ditambah sambal terasi yang ada di depan Khan,
Dia langsung menyendok satu nasi yang sudah tercapur sayur dan ikan asin. Disuapkan satu sendok ke dalam mulut Khan, "Begini cara makannya coba sekarang Mas rasain, pasti enak!"
Khan Langsung membuka mulutnya dan mengunyah satu sendok nasi dan sedikit ikan asin. Rasanya tetap saja asin. Karena makan dari tangan Vefe dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana enak?" tanya Vefe.
Khan mengangguk dan tersenyum. Dia memilih menjawab dalam hati. Rasanya enak karena di suapi tetapi ikan asin tetap saja rasanya asin.
"Mau coba sekali lagi?" tanya Vefe sekali lagi menyuapkan nasi plus sayur asem dan ikan asin.
Khan kembali membuka mulut dan tersenyum. Vefe baru menyadari telah menyuapi Khan dua kali. Dia meletakkan sendok di depan Khan dan tersipu malu.
"Mengapa Ve jadi nyuapi Mas Khan?"
Khan tergelak setelah mengunyah dan menelan suapan kedua dari tangan Vefe. "Rasanya enak banget karena langsung dari tangan Vefe, apalagi satu piring." Khan langsung menggoda Vefe karena melihat wajahnya yang memerah seperti tomat.
"Mas sudah besar, seperti si Ai saja minta disuapin." Vefe ikut menaggapi dengan bercanda untuk menguragi kegugupannya.
Kembali Khan tergelak sambil memandangi wajah Vefe yang tersenyum. Melanajutkan makannya sambil berpikir bagaimana cara mengurangi rasa asin saat mengunyah ikan asin? Dia melihat sambal terasi yang masih banyak di depannya.
"Apakah Mas boleh tambah sambal terasinya?"
"Silahkan Mas, ikan asin juga boleh tambah, itu di dapur masih banyak."
"Mas suka makan pedas, tambah sambalnya saja. Terima kasih."
Khan mengambil satu sendok sambal terasi. Makan sesuap demi sesuap. Rasanya dominan pedas dan tidak asin lagi. Sampai menu nasi sayur asem pindah ke dalam perut.
"Terima kasih, Mas sudah kenyang sekarang."
"Sama-sama."
Vefe langsung mengambil piring kotor yang ada di depan Khan. Dibawa ke wastafel cucian piring. Mencucinya bersama piring kotor miliknya dan gelas air minum.
Khan berdiri mengikuti Vefe berjalan kearah wastafel, "Mas duduk saja Vefe mau cuci piring sebentar!"
"Mas mau cucu tangan."
"Ooo silahkan Mas!"
Khan berdiri disamping Vefe. Sengaja tubuhnya berdiri berejajar. Dan lengannya hampir bersentuhan karena wastafel yang sempit. Dia mencuci tangan, Vefe yang membuka dan menutup kran.
Khan berpamitan pulang setelah berbincang di teras sebentar. Berpamitan setelah melirik mobil miliknya ada sosok laki-laki yang dikenalnya duduk di dashbord mobil miliknya.
Khan bergegas meninggalkan panti asuhan setelah Vefe masuk dan menutup pintu. Mendekati Asisten Satria yang sedang duduk dan konsentrasi melihat ponsel tanpa melihat sekelilingnya.
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Khan dengan jutek.
"Menunggu Anda, Tuan." Asisten Satria langsung turun dan berdiri menghadap Khan.
"Mengapa menyusul ke sini, apakah kamu sudah melaksanakan tugas yang aku berikan?"
"Menghubungi Nyanya Bunda sudah, tetapi tentang orang tua Nona Eno belum."
"Pergi sana jangan menemuai aku sebelum tugasmu selesai!"
"Maaf .. Tuan. Anda harus pulang sekarang, di rumah Anda sudah di tunggu oleh Nyonya Bunda!"
terima kasih untuk cerita kak Anna yg selalu bisa bikin aku baper ..kadang bikin emosi dan kadang bikin ketawa ngakak..ceritanya selalu bisa me refresh pikiran aku di dunia nyata yg capek setelah kerja..di tunggu cerita Aaron dan Khanza kak..semangat..sehat dan sukses selalu 😘😘🥰🥰
Maksh atas karyanya kak sngat mengibur untk kaum rebahan spertiku🤭
sehat sllu dan tetep semangat berkarya👍💪
yg beakhir bahagia Khan dan Ve di karuniai putra dan putri yg tampan dan cantik di tunggu episode Aaron dan Khanza
sekarang lanjut dulu Juan dan El yg makin seru bye....