*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Reuni
“Tunggu dulu, Rui!” Jay menghapus air matanya dan berdiri
“Apa?”
“Tentang apa yang pernah Dion katakan, katanya kau akan segera mati, apakah itu benar?” dengan serius Jay menanyakannya tanpa ragu.
Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari Jay, hanya saja kupikir ini tidak layak untuk dibicarakan maka dari itu aku terus bersama Jay sejak dari kecil dan mencoba melupakan masalah ini, tapi nampaknya aku sudah mendekati batasku.
“Aku pikir membicarakan hal ini denganmu membuatku sedikit tidak enak.”
“Sudah jawab saja, kau itu bukan orang asing. Kita ini adalah sahabat sejak kecil untuk apa kau merasa tidak enak.”
“Terima kasih..”
Aku pun berbicara sambil berjalan menuju kelas kita untuk bersembunyi,
“Sebenarnya, aku mengidap penyakit yang sama seperti adikmu itu.”
Jay langsung menghentikan langkahnya,
“Ta-Tadi kau bilang apa?”
“Tapi jangan khawatir aku sudah cukup bahagia kok, mungkin aku adalah orang yang sangat beruntung bisa memiliki sahabat yang hebat, teman – teman yang dipercaya serta keseharian yang begitu menyenangkan. Semua hal yang selalu ku impikan dari balik jendela rumah sakit kini sudah ku dapatkan.” Ku berbalik dan tersenyum ke arah Jay,
“Maka dari itu, aku tak memiliki penyesalan yang lain.”
Sesaat Jay yang berdiri didepanku memukul pelan ke dadaku,
“Ingatlah! Saat ini kau tidak sendiri, kini senymanmu, energimu, dan bahkan nyawamu kini sudah bukan menjadi milikmu sendiri, itu semua bagian dari kita semua. Dan berjanjilah satu hal padaku, jangan pernah pergi tanpa berpamitan denganku.”
Jay melanjutkan perjalanan dan berbisik kecil padaku,
“Maafkan aku.”
Dengan tersenyum lebar ku tepuk punggung Jay lalu tertawa.
“Apa – apaan sok keren begitu. Hahahaha, seperti biasa kau memang menjijikan.”
“Diamlah.” Wajah Jay memerah
“Tentu saja, aku berjanji. Tapi dengan satu syarat yaitu kau harus menyatakan Cintamu pada Tiana setelah ini.”
“HA-HAH?! Apa yang kau bilang?!” wajah Jay semakin memerah dan mempercepat jalannya
“Kau pikir aku tidak menyadarinya? Hehe..”
“Baiklah! Aku hanya harus melakukannya kan! Baiklah aku Janji!”
(Dengan begini kita sudah kembali menjadi sahabat lagi.)
“Hey...” Ku kepalkan tanganku dan ku arahkan ke Jay, saat ia menoleh kebelakang ia langsung paham dan melakukan Tos seperti biasanya,
“Selamat datang kembali, Kawan lamaku.” Ucapku sambil tersenyum bahagia
“Diamlah!”
“Eh Tiana!” Sebutku sambil memandang kebelakang Jay
“HAH?! EH?! H-HI TIANA!!” Lagi – lagi wajah Jay memerah dan salting
Saat Jay kembali menghadap depan dan membuka matanya,
“Sayang sekali, aku bukan Tiana.” Diana Muncul didepan kami berdua
“Di-Diana?” Jay sangat terkejut melihat Diana
“Ternyata Dion benar, kau masih hidup ya.” Jay meneteskan Air mata saat melihat Diana
“HAH? Tentu saja aku masih hiduplah, kenapa kau berfikir aku sudah mati?” dengan jutek Diana menjawab Jay
“Karena ada upacara pemakaman untukmu jadi kupikir kau benar – benar....” Jawab Jay sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
“HAH?! Siapa yang membuat acara gila itu?”
“Gadis ini kecil ini...” jawabku sambil menunjuk Lina.
“Siapa Dia?” Diana mendekatkan wajahnya untuk memastikan, karena terlalu gelap ia tak bisa meliatnya
“Namanya Lina....EH bukankah dia adikmu sendiri kenapa bisa tidak tau..”
“Lina? Adikku?.....” setelah loading beberapa saat Diana mengingatnya
“OH IYA! ELINA! Ku kira siapa, ternyata Lina itu Elina ya.”
“Adik sendiri bisa lupa gimna sih.” Jawabku sambil menghela nafas panjang
“hahaha, maaf bukannya lupa Cuma wajahnya tidak keliatan dan juga aku biasa memanggilnya Eli kamipun juga sudah bertahun – tahun tidak bertemu karena saat masuk SMP dia tinggal di tempat yang berbeda dariku.” Diana menjelaskan sambil membelai lembut rambut Lina.
“Jadi begitu ya, jadi dia Elina kecil itu...... Dia sudah besar ya sekarang.” Gumamnya sendiri
“Tunggu – tunggu! Aku baru sadar kalau Lina ini adikmu berarti Ibo...!” Sela Jay.
Diana mengangguk,
“Benar, kami adalah 3 bersaudara, tertua kak Ibo, lalu aku dan terakhir Elina. Eh kalian tau dari mana kalau Ibo itu
kakakku?” tiba – tiba Diana curiga,
“OHH GAWAT!! Aku lupa.”
Tiba – tiba terjadi gempa bumi,
“A-apa ini gempa?” aku pun panik
“Bukan, sekarang ikuti aku sebelum ‘dia’ datang!” Diana memandu kami berlari menuju ruang Osis
Saat masuk keruang osis, kami bertemu dengan Tiana dan juga Ketua sedang memandang keluar jendela.
“Ketua, Tiana...”
Perasaan ini... saat melihat mereka berdua aku merasa lega dan bahagia, seakan – akan tidak bertemu bertahun – tahun aku benar – benar merindukan mereka. Saat aku berfikir untuk berlari dan memeluk mereka tiba – tiba Jay melakukannya tanpa pikir panjang.
“Oh kalian sudah datang ternyata, kerja bagus sudah melawan Shadow itu.”
Setelah kubaringkan Lina ke Sofa, lagi – lagi terjadi gempa.
“Ketua, waktu kita tinggal sedikit.” Kata Tiana sambil berusaha melepaskan pelukan dari Jay.
“Waktu?” kataku sambil kebingungan.
“Dari pada menjelaskan mungkin lebih cepat kalian berdua melihatnya sendiri.” Ketua menyuruhku mendekat kearah jendela.
Saat aku dan Jay melihat keluar jendela, terlihat sosok laba – laba raksaya dengan mata merahnya menuju kemari. Jaraknya sudah mulai mendekat.
Ketua pun menjelaskan tentang Dunia apa ini, apa itu Shadow dan tentang makhluk laba – laba yang disebut ‘Got’ itu.... normalnya orang tak akan percaya dengan cerita itu, namun setelah aku dan Jay berhadapan dengan Shadow aku tak punya pilihan selain mempercayai semua itu apalagi yang menceritakannya adalah ketua, orang paling terpercaya dikelas.
Setelah mendengar penjelasan dari ketua aku merasa ada yang janggal, informasi itu, dari mana ketua mengetahuinya? Bukankah Diana lebih dulu yang terjebak disini tapi mengapa pengetahuan ketua jauh lebih banyak sedangkan Diana tidak mengetahui apa – apa. Akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya.
“Ketua, maaf. Bukannya aku meragukanmu, tapi jangan – jangan ketua sudah pernah kemari sebelumnya?”
(Hanya itu yang bisa kusimpulkan mengapa ketua bisa mengetahui semua itu.)
“HAH?! Kenapa kau bertanya seperti itu, Rui!” Jay membentakku sedangkan Tiana dan Diana kaget dengan pertanyaanku.
“hahaha, kau sangat cerdas juga, Rui. Itu benar, dulu sewaktu kecil aku pernah terjebak ke dunia ini.”
Kami bertiga pun terkejut dengan pengakuan ketua, entah bagaiman dia bisa masuk tapi jika dia sampai bisa menjadi ketua kelas di kelas kami pastinya dia mengetahui bagaimana caranya keluar dari dunia ini atau lebih tepatnya kembali ke dunia asli kita.
“Aku tau, kau pasti berfikir kalau aku tau cara kembali ke dunia kita semula kan?”
“Ah....ya..”
“Jadi ketua tau!” Tegas Tiana
“Kenapa ketua tidak mengatakannya dari awal!” protes Diana
“Tidak ada yang bertanya sih, Rui adalah orang pertama yang menyadarinya dan menanyakannya.” Jawab Ketua dengan mudahnya.
“Ketua! Kami sama sekali tidak sedang bercanda!” terdengar Diana sedang kesal
“Hahaha, bukannya aku merahasiakannya, hanya saja sekarang aku tak bisa melakukannya. lagi pula aku datang kemari karena ingin menyelesaikan masalah Dion. Kalau tak diselesaikan walaupun aku mengirim kalian pulang kalian percuma saja nanti kalian akan terpanggil kesini lagi.”
“Ma-MAAF MENYELA!” Jay yang sedari tadi terdiam mulai berbicara
“Sebenarnya kami kemari bersana Dion juga.” Kata Jay
“Hey! Jay!” bisikku pada Jay
“Biarkan Rui! Kita tidak akan bisa terus menyembunyikan fakta ini selamanya!”
Jay memang benar, kita tak bisa membohongi atau menutupi tragedi ini dengan mereka, mereka berhak mengetahui kebenarannya.
“Benarkah?! Lalu lau! Dimana Dion sekarang?” dengan semangat Diana menanyakannya
“Dion....Sudah Meninggal.”
*Bruak!
Tiba – tiba pintu ruang osis terhempas hancur.
“APA MAKSUDMU!”
Muncul sosok gadis cantik berambut panjang dengan marah melototi kami semua. Gadis itu tidak lain adalah Imelda.
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like