Kebencian yang melekat erat pada diri Xiao Feng Ni, telah membuat dirinya mendirikan sebuah kerajaan maha adi kuasa. Di bawah kepemimpinannya, para kaum wanita tidak tertindas lagi. Apakah penyebab dari kebencian itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Penjahat pun pada berlarian dengan luka gigit, dan cakaran sekujur tubuh mereka. Tidak ada seorang pun penjahat yang tewas di tempat, tapi tidak akan tau kelanjutannya setelah menjauh.
Beberapa anjing yang tersisa dengan luka kecil, membantu seperti apa yang diarahkan kembar itu.
Ada anjing yang mengambilkan pedagang untuk mereka,dan ada juga yang gigit tali jaring jala berperekat.
"Terima kasih kalian telah menolong kami," ucap kembar kurus membungkuk hormat layak seperti sesama makhluk hidup.
Guk...Guk....
Seekor anjing yang mengadu pada mereka akan kekasih dan temannya yang telah jadi korban kekejaman manusia, memohon untuk dapat keadilan.
"Kamu yang sabar. Mereka semua cepat atau lambat segera akan menerima akibatnya," ucap geram tertahan kembar sedikit gemuk, sambil elus punggung anjing yang sedih.
Keadilan yang sudah lama terpendam, kejahatan yang kian merajalela membuat hati kecil orang yang terzolimi berteriak untuk segera terbuka mata keadilan tersebut.
Atas kejadian yang menimpa agen kembar, mereka semakin tidak bergerak bebas di luar istana.
"Jika begini, Yang Mulia raja tidak akan secepatnya tau siapa balik di layar panggung," keluh kembar kurus, menopang malas kepala di meja makan rumah mereka.
"Sepertinya begitu. Kita harus cari cara lain untuk menyelinap keluar dan masuk istana," sahut kembar sedikit gemuk berbaring memandang tiang-tiang penyangga atap rumah mereka.
Keduanya melamun keras memikirkan cara mereka keluar masuk tanpa ketahuan siapa pun.
***
Di tempat pelatihan, keempat murid So Po Ta semakin latihan keras guna mewujudkan harapan semua orang.
"Berani sekali pejabat dan bangsawan sekarang yang menindas kaum lemah," ucap marah Ling Ni pada 3 pria yang sedang latihan bersama.
Da Min dan Bapao tersindir, biar bagaimanapun mereka juga pernah menjabat status yang disebut.
"Sudah, latihan saja. Percuma saja bicara tanpa bukti," celetuk Fun Cin lihat raut 2 adik seperguruan seakan terpojok.
"Tapi Feng Ni sekarang latihan dimana,ya?. Apa dapat guru baru ? Atau jangan-jangan sekarang berperang sendiri," gumam Ling Ni bertanya bertubi-tubi.
"Tidak usah banyak berpikir.Yang penting latihan, setelah waktunya tepat kita akan jadi perisai keadilan Feng Ni," jawab bijaksana Fun Cin malas dengan pertanyaan adik perempuan seperguruan.
Walau Feng Ni dan Ling Ni sama-sama wanita, tapi karakter mereka tetap saja beda jauh.
Musim telah berganti lagi,dari musim panas, gugur dan sekarang mulai musim dingin.
Keempat murid So Po Ta telah meningkat kemajuan akan keahlian mereka. Mereka juga hidup layak orang normal. Makan minimal 2 kali sehari, mandi, tidur, sampai berpakaian sesuai musim yang tiba.
"Salju turun!!" seraya Ling Ni mengulurkan tangan terbuka menampung butiran salju pertama di hari pertama musim itu.
"Pakai jubah tebal," Da Min memakaikan Ling Ni jubah yang dia ambil untuk saudara lainnya juga.
"Tunggu!!" Ling Ni menahan tangan Da Min pergi.
"Apa?"
"Kabar Feng Ni sekarang gimana ya? Apa punya jubah tebal?" tanyanya yang suka bertubi-tubi.
"Mana ku tau. Lagian ngapain kamu cemas, pastinya Feng Ni sudah dapat kiriman makan, pakaian tebal dari istana," jawab Da Min secara logika.
"Benar juga, ya" Ling Ni ngangguk manggut.
"Tentu saja," berbalik dan berjalan kembali.
"Tunggu!!" Ling Ni kembali memanggil.
"Apa lagi, sih?" tanya kesal Da Min.
"Bang Fun Cin pasti tau tempat latihan, atau orang istana juga tau. Mari kita kunjungi Feng Ni," ucapnya ngerocos lumayan panjang.
Huufff.....
"Bang Fun Cin tidak tau. Tapi guru sudah pasti tau" jawab malas Da Min.
"Kalau begitu, kamu tanya guru.Biar kita pergi berkunjung," usul Ling Ni dengan senyum sejuta 'Ada Apanya?'.
Ctakk.....
"Ngawur kamu!" Da Min berbalik dan sentil kening saudarinya yang merasa terintimidasi dengan gender beda.
"Aaa... Ku adukan kau ke Bang Fun Cin!!" rengeknya sambil nunjuk dan usap kening.
"Lapor sana! Wekkk...." Da Min menjulur lidah terima tantangan Ling Ni yang manja semenjak di tinggal Feng Ni tanpa kabar.
Da Min dan Ling Ni berlomba jalan cepat hampiri Fun Cin yang merapikan alat latihan sebelum disimpan pada tempatnya.
"Pergi kau!!" ujar ketus Ling Ni menarik mundur Da Min di depan langkahnya.
"Awas saja kalau ke kota minta aku temani!" Da Min mengancam canda.
"Aku bisa minta Bapao saja," tandasnya terus mendahului.
"Kalian latihan jadi ninja ya?" tanya Bapao dengan mulut mengunyah batang tebu.
Da Min dan Ling Ni mengerem dadakan, sejak kapan Bapao ngikutin mereka.
"Bang Bapao..., Da Min tadi sentil aku," adu manja Ling Ni memperlihatkan jejak sentilan.
"Benjol loh!" jawab polos Bapao melihat dekat bekas sentilan.
"Ayo pergi sebelum banyak maunya," bisik Da Min pusing dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Ok," jawab Bapao setuju.
"Ihhh.....Bapao!! Da Min !! Ku lapor kalian ke Abang !!" pekik kesal Ling Ni tidak ingin tercuekin.
Sebagai abang seperguruan mereka berempat, kadang terasa bagai memikul beban tambahan sepanjang hidupnya. Jika berkaitan dengan keadilan lumrah, itu bukan beban melainkan tanggung jawab. Tapi, menghadapi pertengkaran canda ketiga saudara yang bersama saat ini, itu memusingkan kepala 10 putaran keliling pulau.
Mereka bertiga sudah muncul di depan Fun Cin yang menyarung semua peralatan latihan terbuat dari besi dengan kain hitam.
"Ada apa ?" tanya dingin Fun Cin memberikan kain hitam pada 3 adik untuk bantu pekerjaan.
Terasa ada aura lebih dingin extrim dibandingkan salju pertama turun di musim ini.
***
Ling Ni,Da Min dan Bapao sambil menyenggol tangan orang disebelah mereka untuk mulai bicara.
"Ada apa, hemphh ?" tanya dingin Fun Cin memandang kekakuan mereka.
"Sana kamu ngadu," ketus Da Min senggol Ling Ni.
"Iya, iya," jawab kaku Ling Ni ditatap dingin si abang.
"Letakkan itu di lumbung padi," titah tegas Fun Cin pada Da Min.
"Baik," jawab tegang Da Min, mengambil pedang bertutup kain hitam.
"Ini berikan ke guru," titahnya pada Ling Ni.
"Aku?" Ling Ni galau.
"Iya. Kamu" tegas Fun Cin, meletakkan gulungan bambu berisi ilmu beladiri.
"Tapi....Aku...." Ling Ni serba salah untuk nurut.
"Aku saja," celetuk Bapao, mengambil ahli gulungan bambu.
"Mmm..." dehem Fun Cin biarkan Bapao ambil ahli. "Mau ngomong apa?" tanya datar menyerahkan sapu lidi untuk bantu bersihkan sisa daun berguguran sebelum tertutup timbunan salju tebal.
"Abang tau dimana Feng Ni berlatih, kan?" tanya lugas Ling Ni deg-deg'an.
"Tidak..." jawab datar Fun Cin, memang tidak tau kemana adik perguruan satunya lagi.
"Yahhh ... Kita tidak menjenguk dia," keluh sedih Ling Ni, mengetuk ujung sapu lidi.
"Sapu saja. Nggak usah banyak ngeluh," ujar Fun Cin, harus memastikan batas tempat mereka berlatih sudah aman dari gangguan.
Sambil nyapu mulut Ling Ni merat merot gerutu gak karuan. Berharap bisa pergi keluar untuk berlibur, eh berujung tetap menetap dalam lingkungan latihan mereka.
ketinggian gak ya, 3 meter
itu lumayan tinggi pakai banget lo
pada kata jepit
dalam situasi terjepit kayaknya lebih tepat ya daripada kejepit enak hahaha
itu mungkin sudah bekal manusia dari alam kelahiran ya,
kalau gak memahami memang bikin pusing